
Jian menggeliat ia melihat Erika sedang tertidur lelap di sampingnya sembari memeluknya. Jian menyingkirkan tangan Erika dari tubuhnya lalu ia segera keluar kamar.
" Sial!". Ucapnya sembari menuruni lift.
" Tok... Tok... Jian mengetuk mobilnya. Perlahan keca mobilnya turun..
" Buka pintunya?". Baim yang baru bangun segera menekan tombol kunci mobilnya. Jian segera duduk di samping Baim.
" Im, antarkan Gua ke rumah". Baim segera menyalakan mesinnya dan mulai meninjak pedal gasnya.
" Bro lo yakin mau pulang, bukannya lo sengaja gak pulang agar bini lo merasa kehilangan?". Jian terdiam ia tidak bisa bohong kalau hatinya tidak bisa jauh-jauh dari Jenna.
" Kurasa rencana gua gagal Im". Baim mendengarnya merasa miris.
" Lo tunggu di sini, gua hanya ambil pakaian beberapa". Jian segera turun dan langsung masuk ke rumah.
" Pagi Tuan?". Sapa Bibik.
" Apa nona sudah pergi bik?".
" Sudah tuan, dari jam 7 pagi.. tuan kemarin malam nona bertingkah aneh.
" Aneh gimana bik?". Jian sangat penasaran.
" Nona senyum-senyum sendiri dan beliau duduk di kursi yang anda sering duduki.. Dan tadi pagi juga, nona menuggu anda sarapan pagi beliau bengong sambil menuggu anda. Mata Jian langsung berbinar. Bibik bisa menebaknya kalau Jian sangat senang dengan kabar darinya.
__ADS_1
" Lalu apa lagi bik?". Jian sangat antuas ia ingin sekali mendengar detailnya. Bibik ngeluarin ponselnya dari kantong bajunya lalu ia memperlihatkan sama Jian.
Jian tersenyum lebar di bibirnya..
" Apa pagi ini nona nanya soal saya bik?".
" Iya tuan, beliau nanya apakah anda pulang atau tidak". Jian sangat senang iapun langsung menghampiri Baim yang sedari tadi menuggunya.
" Sudah, ayo jalan". Ajak Baim. Jian menghentikan tangan Baim.
" Berikan ponselku?". Baim segera mengeluarkan ponselnya. Jian menyalahkan ponselnya segera. Benar saja Jenna mengirimkan chat kedapanya.
" Baim!... Lo tau istri gua nanyain gua kapan pulang, dan lo tau itu tandanya dia peduli sama gua!. Ujarnya senang. Baim cuma tersenyum tipis mendengarnya.
" Syukurlah bro rencana lo berhasil, gimna kalau lo ikuti cara gua yang kedua??.
" Lo gila ya, mana bisa gua cuek sama dia bodoh!!. Maki Jian.
" Ya elah itu kan hanya pura-pura bro.. Lo coba dulu kalau dia sedih tandanya dia ada rasa sama lo!". Jian terdiam ia menatap wajah sahabatnya.
" Liat nanti de, hari ini gua mau jemput istri gua dulu, keluar lo dari mobil gua!.
" Lo tega sama gua yan??". Ujar Baim sedih.
" Minggir!". Jian mendorong tubuh Baim turun dari mobilnya dan ia menyuruh Baim naik taksi untuk pulang. Jian segera masuk dan bersiap ke kantor.
__ADS_1
Jian merasa dunia sedang berpihak kepadanya saat ini.
Jenna makan siang di kantin bersama Meri. " Hai Jen?". Jenna menarik napas melihat pria yang sedang tidak ingin di lihatnya.
" Bisa tinggalkan kami berdua?". Pinta Akbar sama Meri. Meri segera pindah kesebelah dan membawa makanannya.
" Mau apa lagi sih??". Tanya Jenna.
" Aku tau ko kamu belum menikah kan?, buktinya semua orang di kantor ini tidak ada yang tau kalau kamu sudah menikah.. Akbar memegangi tangan Jenna di muka umum.
" Jen, aku tau kamu hanya cinta kan sama aku bukan sama dia?". Jenna menarik tangannya.
" Terserah! ". Jawab Jenna seraya berdiri. Akbar ikut berdiri dan hendak meraih tangan Jenna lagi.
" Hai sayangku ". Jenna terkejut melihat Jian sudah ada di hadapannya. Akbar membeku melihat Jian sedang jalan ke arahnya.
" Sayang apa sudah selesai makannya?". Tanya Jian seraya membenarkan anak rambut Jenna. Jian pura-pura tidak melihat ke arah Akbar.
" Sudah selesai ko". Jawab Jenna.
" Kalau gitu ayo ikut aku ada yang ingin aku bicarakan". Jenna mengangguk sembari jalan. Semuanya langsung melihat ke arah Jian dan Jenna.
Akbar hanya bisa diam membeku melihat Jenna pergi dengan Jian.
Jenna menatap Jian yang sama sekali tidak marah kepadanya.
__ADS_1
" Apa tadi dia tidak melihat Akbar, aku harap dia tidak melihatnya". Guman Jenna dalam hati.
Terimakasih semoga suka. Tolong bantu like dan komen 🙏🙏🙏