
Jenna dan Jian jalan bersama menuju keruanganya.
" Kapan bapak kembali?". Tanya Jenna.
" Sepertinya ada yang rindu?". Ejek Jian. Jenna langsung terdiam tidak bertanya lagi.
Jenna masuk keruangan Jian, ia segera duduk disana. Jian ingin sakali memeluk istrinya namun ia takut Jenna menolaknya dan hatinya sakit lagi.
" Ada hal penting apa pak?". Tanya Jenna kembali.
" Suamimu ini sangat merindukan istrinya". Jenna melongo.
" Jadi bapak ngerjain saya??".
" Tidak sayang, memang itu penting. kan harus di ungkapkan langsung". Wajah Jenna langsung berubah kesal.
”Dasar mesum, dia pikir aku sama dengan mantan-mantan nya yang mudah kelepek². Gumam Jenna dihatinya. Jenna segera berdiri. " Kalau tidak ada hal yang penting masalah pekerjaan saya pamit ya pak".
__ADS_1
Jenna berjalan ke arah pintu, dengan cepat kilat tangan Jian menghalanginya lalu melingkari tubuh Jenna. Jenna terkunci sama tangan Jian. Posisi mereka berhadapan.. Jantung Jian berdegup kencang.
Jenna sangat ketakutan, ia pun memejamkan matanya ia sangat takut Jian menciumnya.
Jian memainkan rambut Jenna yang menghalangin wajahnya. " Cantik, wajah ini yang selalu aku rindukan setiap hari, setiap saat, setiap menit bahkan setiap detik". Jenna membuka matanya. Tubuhnya gemetar hebat. Jenna terpaku di balik tembok ia seperti patung yang tidak bergerak.
Jian meraih tangan Jenna lalu menciumnya. Jenna merasakan sesuatu di hatinya.
" Sayang, aku suamimu bukan penjahat, jadi kamu gak usah takut seperti ini”. Jenna mengigit bibir bawahnya ia mulai merasakan tubuhnya panas menahan malu. Perlahan Jian mendekatkan wajahnya ke wajah Jenna. Wajah mereka hampir menempel. Jian menyatukan hidungnya dengan Jenna.
" I love you sayang". Jian mencium bibirnya. Jenna terdiam, perlahan-lahan Jenna mulai membuka mulutnya dan membalas ciumannya. Mendapati Jenna membalas ciumannya Jian bahagia ciumannya di balas Jenna. Napasnya hampir habis Jenna melepaskan ciumannya lalu segera pergi dari ruangan Jian.
" Ko bisa sih aku membalasnya tadi". Jenna ngomong sendiri, ia lupa di ruangannya ada orang lain. Meri yang sendari tadi memperhatikan Jenna merasa aneh.
" Ibu kenapa?". Tanya Meri membuat Jenna kaget.
" Meri!, dari kapan kamu ada di sini??".
__ADS_1
" Dari tadi saya memang disini bu".
" Apa!". Jenna terdiam sembari berpikir. Apa dia dengar yang tadi aku ucapkan. Gumam Jenna.
" Ibu tenang saja, saya bisa ko jaga rahasia ibu". Mendengar ucapan Meri Jenna sadar kalau tadi Meri mendengarnya. Jenna memilih diam
Sekali lagi Jenna bengong sesekali ia memegangi bibirnya. Apa Jangan-jangan tadi aku di hipnotis makanya aku membalas ciumannya. Guman Jenna.
Jian keruangan Jenna tampa mengetuk pintunya. Jenna kaget dan langsung berdiri. " Ada yang bisa saya bantu pak"
Ujar Meri. Jenna melihat ke arah Meri. Jian menatap Jenna. Jenna langsung menduduki kepalanya merasa canggung.
Jian ke arah meja Jenna ia duduk di sudut meja Jenna. Jenna hanya tersenyum tipis. " Pak anda ditanya sama sekertaris bapak, kenapa anda malah diam?". Jian makin memperdalam tatapannya sama Jenna.
Kenapa tatapannya harus ke gua sih. Jenna mulai gusar. "Boleh deh tolong buatin saya kopi". Pinta Jian. Meri segera pemit membuatkan kopi. Sementara Jian masih tetap menatap Jenna.
" Tadi lumayan!".. Jenna tidak bergeming ia tetap mengalihkan pandanganya. Maksudnya lumayan apa coba. Ucap Jenna di hatinya.
__ADS_1
Terimakasih semoga suka.. Tolong bantu like dan comen🙏