Predator jatuh cinta

Predator jatuh cinta
Part . 8


__ADS_3

Jenna makan dengan lahap tampa ada rasa ja'im dan malu sama Jian.


Jian perhatikan cara Jenna makan yang sangat menikmatinya. Bibirnya tersenyum sambil menyantap makanan miliknya.


Jenna melihat Jian tersenyum, ia pun ikut tersenyum sembari mengunyah makanannya.


" Tok...Tok..". Jenna dan Jian melihat ke arah pintu.


" Masuk". Ujar Jian. Yuri masuk sambil membawa maps di tangannya.


Hah, rupanya ada ibu Jenna. Gumam Yuri sambil jalan ke arah Jian.


Yuri melihat Jenna sedang makan bareng sama Jian.


Apa aku tidak salah liat, jadi itu soto buat ibu Jenna. Ujarnya dalam hati Yuri.


" Pak maaf menganggu, ada beberapa berkas yang harus anda tanda tangani, dan ada beberapa juga yang harus anda periksa sebelum berkas ini dikirim" Yuri langsung meletakkan berkasnya di atas meja.


Jian hanya mengangguk. Setelah memberikan map nya Yuri langsung pamit.


" Setelah makan kamu bantu saya, saya belum paham soal berkas-berkas itu. Dengan santainya Jian menyuruh Jenna. Jenna hanya mengangguk karena itu memang tugasnya.


Setelah makan, Jenna hendak merapikan mejanya.


" Stop!, itu bukan pekerjaan kamu, kamu bisa panggil Aji untuk membersihkannya". Ujar Jian menghentikan Jenna.


" Gak papa pak CEO, ini bisa saya bereskan dalam waktu 2 menit". Jawab Jenna sembari membereskan bekas makannya. Jian hanya diam tidak bicara lagi.


Jenna langsung memberi tau Jian apa saja yang harus di periksanya.


Jenna menjelaskannya secara rinci, bukannya mendengarnya Jenna yang sedang menerangkan pekerjaannya. Jian malah memperhatikan wajah Jena yang sudah jadi candu baginya.


" Apa sudah jelas pak?". Jian masih saja menatap wajah Jenna.


" Pak?". Panggil Jenna, namun tidak ada respon.


Dia ini kenapa sih, malah bengong. Gumam Jenna. Jenna mengangkat tangannya.


" Pak!. Pak CEO?". Jian baru sadar dan langsung membenarkan duduknya.


" Iya kenapa?". Tanya Jian.


" Apa bapak Ceo sudah mengerti?”.


" Oh, kurasa hari ini cukup".


" Baik kalau begitu, saya permisi pak". Jenna melangkahkan kakinya keluar ruangan.


" I love you ". Jenna tertegun sejenak mendengarnya, sembari berpikir. Apa!, aku tidak salah dengar kan tadi dia bilang I love you. Jenna langsung membalikkan badannya melihat ke arah Jian.


Jian yang sedang pura-pura pokus sama komputernya tau kalau Jenna sedang memandangi dirinya. Jian pun menatapnya. Jenna langsung melotot ketika Jian menatapnya juga. Jenna membalikkan lagi badannya lalu dia pergi.


" Hahahaha" Jian tertawa konyol karena menurutnya itu sangat lucu. Ini hal yang pertama baginya mengungkapkan perasaan sama perempuan.


Sial!, bahkan aku tidak berani bilang langsung. Ujarnya sembari tersenyum.

__ADS_1


Jenna mempercepat langkah kakinya . Aku tidak mungkin salah dengar tadi, jelas-jelas dia bilang . Jenna bergidik ngeri membayangkan Jian suka kepadanya, Jenna ingat jelas kejadian malam itu di mana Jian dan Erika sedang bercumbu.


Tidak terasa jam pulang kantor.


Jenna segera merapikan mejanya. Ia segera menutup laptopnya lalu jalan keluar.


Jian baru keluar dari kamar mandi dan langsung ke arah ruangan Jenna.


Ruangannya kosong tidak ada Jenna di sana. Jian langsung ke arah Yuri.


Yuri yang lagi asik main ponselnya melihat Jian sedang menghampirinya langsung berdiri.


" Yuri, apa ibu Jenna sudah pulang?".


" Sudah Pak, kebetulan sekali baru pulang ". Jian langsung bergegas pergi.


" Hmmmmm!, aku pikir dia mau ajak pulang bareng. Gerutu Yuri.


Jian langsung melihat ke arah lobby tidak ada Jenna di sana, Ia langsung menyuruh sekerurit untuk menyiapkan mobilnya.


Tidak lama mobilnya sudah ada di depan lobby.


Jian hendak masuk ke mobil, namun pergerakannya berhenti melihat mobil Jenna baru keluar dari parkiran, Jian langsung tersenyum lebar.


Jian mengikuti Jenna dari belakang. Jenna yang tidak sadar menjalankan mobilnya seperti biasa.


" Jadi dia tinggal di sini. Ujar Jian sembari memberhentikan mobilnya di tepi jalan. Mobil Jena baru belok ke lobby apartemen.


Jenna memarkirkan mobilnya di parkiran khusus pengunjung. Jian turun dari mobil dan jalan kaki ke arah lobby. Jian memperhatikan Jenna dari kejauhan.


Melihat Jian menghampiri para resepsionis, salah satu wanita yang kerja di sana mencak-mencak kegirangan.


" Ya Tuhan, kita kedatangan pangeran!". Ujar para perempuan yang kerja di sana, semuanya berebut di tempat paling depan agar bisa melihat Jian dari jarak dekat.


" Ada yang bisa saya bantu pak?”. Tanya resepsionis apartemen sembari menebarkan senyuman menggodanya.


Jian merasa risih melihat para perempuan di depannya pada genit.


" Saya mau mengunjungi pacar saya yang bernama Jenna di sini. namun saya belum di kasih tau nomor kamarnya berapa!". Mendengar nama pacar semuanya langsung sedih.


" Ya Tuhan dia benar-benar tampan" . Para perempuan disana malah bengong menatap Jian tampa mengedipkan matanya.


Jian mendengar ucapan mereka yang sedang berbisik. Agar Mereka tidak curiga Jian memberikan alasan kedua.


" Sebenarnya dia udah memberi tahu saya lewat pesan, namun ponsel saya tertinggal di kantor bu, apa anda bisa mengeceknya sekarang juga". Mendengar penjelasan yang kedua dari Jian, resepsionisnya langsung sadar .


" Sebentar ya pak, saya cek dulu. Jian menunggunya sembari matanya mengawasi sekelilingnya.


" Maaf pak, untuk ibu Jenna beliau tidak ada di data kami, hanya ada di data pengunjung.


" Benar dugaan ku, ini bukan tempat tinggalnya". Ujar Jian tampa sadar bicara seperti itu.


" Maksud bapak?".


" Terimakasih ya bu, saya permisi". Jian langsung pergi.

__ADS_1


"Bahkan mereka kagum dengan wajah ini, lalu kenapa dia tidak tertarik kepadaku sih!. Jian mulai kesal dengan wajahnya yang tampan itu.


Di lantai atas Jenna masih saja berusaha membuka pintu kamar Akbar. Dari kejauhan sekerurit yang sedang keliling melihatnya.


" Ada yang bisa saya bantu nona?". Ujar staf keamanan.


" Ini pak, saya lagi berusaha buka kuncinya namun dari tadi susah sekali". Jawab Jenna.


" Coba saya bantu" Jenna memberikan kuncinya.


" Maaf nona,. sepertinya kuncinya sudah di ganti, makanannya pintunya tidak bisa di buka” Jenna terkejut mendengarnya. Staf keamanannya langsung pergi.


Jenna terpaku melihat kunci di tangannya. Jenna sedih hatinya mulai resah. Jenna langsung duduk di ruang tunggu sambil menunggu Akbar datang.


Di tempat yang berbeda. Akbar nongkrong di cafe sama Erika sembari tertawa senang. Mereka menghabiskan waktunya bersama-sama.


" Sayang gimana kalau sabtu nanti kita ke puncak, kebetulan sekali aku punya beberapa fila disana, apa kamu mau?". Mendengar Erika punya banyak fila Akbar terkejut.


" Oh ya, ada berapa fila memangnya?".


" Ada 4 fila ".


Wow rupanya dia bukan orang sembarangan. Gumam Akbar senang. Erika tersenyum melihat ekspresi Akbar yang terkejut.


Malam telah larut, Jenna masih setia menuggu Akbar di apartemennya. Melihat Jam di tangannya hampir jam 8 malam Jenna memutuskan untuk pulang.


Ketika Jenna hendak turun mengunakan lift, Akbar keluar dari lift tersebut. Jenna mengurungkan niatnya untuk turun.


" Sayang, kamu dari mana aja, aku menuggu kamu dari tadi sore!". Akbar hanya acuh mendengar Jenna menyapanya. Akbar terus jalan ke arah kamarnya.


Jenna memegangi tangan Akbar. Lalu ia menghalanginya.


" Sayang kita harus bicara". Akbar menghela nafasnya lalu ia jalan ke arah ruang tunggu. Mereka lalu duduk berhadapan.


” Ayo cepat aku ngantuk!". Jenna sakit hati mendengarnya.


" Kamu gak mau minta maaf sama aku atas kejadian tadi siang di kantor?". Akbar langsung kesal mendengarnya.


" Jadi itu yang ingin kamu bicarakan hah!!". Akbar lagi-lagi kasar sama Jenna.


" Kamu kenapa sih kasar banget sama aku!, dulu kamu tidak seperti itu!". Ujar Jenna sambil menitihkan air matanya. Akbar tidak melihat kesedihan Jenna, ia berusaha mengalihkan pandangannya ketempat lain.


Suara tangis Jenna makin terngiang-ngiang di kuping Akbar membuat dirinya melihatnya. Akbar hendak menghapus air matanya namun ia ingat lagi kejadian di kantor. Akbar mengurungkan niatnya dan menarik tangannya lagi.


” Kamu pulang sana, ini udah malam.". Suara Akbar mulai rendah. Jenna masih sesenggukan, di tambah lagi Akbar benar-benar sudah tidak peduli kepadanya.


Akbar langsung berdiri hendak pergi. Jenna makin nangis di buatannya.


" Kamu benar-benar sudah berubah yang, dulu kamu selalu ada disaat aku butuh, dan kamu selalu setia menghapus air mata di pipiku ini. Akbar tetap saja jalan tampa menoleh lagi ke arah Jenna yang sedang bicara.


Maaf Jen, aku tidak bisa lagi seperti dulu, aku mulai jenuh sama hubungan kita ini. Gumam Akbar sambil jalan meninggalkan Jenna sendiri.


********


Jika suka bantu like dan komen. Lalu kasih 🌟🌟🌟🌟🌟 5 ya. terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2