
"Wahhh turun temurun dong keahlian kak Cey membuat cake" ujar Ziva dengan tersenyum.
"Kak Cey itu idaman banget tau, udah cantik, baik hati, penyayang dan jago masak lagi, pokok nya kak Cey the best deh" ujar Ziva sambil menunjukan dua jempol nya.
Ceyda tersenyum mendengar penilaian dari Ziva tentang dirinya.
"Aku mau jadi seperti kak Cey pokok nya" ujar Ziva.
"Iya Ziva sayang, adik kakak ini juga cantik kok" goda Ceyda sambil mencolek dagu Ziva.
"Tapi lebih cantik kak Cey, andai saja kak Cey menikah dengan kak Zev dan kak Cey akan menjadi kakak ipar ku, aduhhh senangnya" goda Ziva sambil menaik turun kan alis nya.
"Hm kau ini, ini sudah hampir selesai tinggal di masuk kan ke oven" ujar Ceyda untuk mengalihkan topik pembicaraan.
"Iya kak Cey yang cantik" goda Ziva.
Setelah selesai dengan kegiatan nya di kediaman Winston, Ceyda pun pergi pamit untuk pulang ke rumah nya karena takut hari makin larut malam.
_
_
_
Keesokan harinya, pagi hari seperti biasa di rumah Ceyda keluarga kecil itu sedang sarapan bersama di meja makan.
"Nak bagaimana dengan pekerjaan mu?" tanya Ayah nya.
"Semua nya baik-baik saja ayah" ujar Ceyda tersenyum.
"Lalu bagaimana dengan keluarga Winston apa kabar nya baik-baik saja?" tanya Ibu Aylin.
"Baik ibu, sama seperti sebelum-sebelum nya semua baik-baik saja" ujar Ceyda menjawab pertanyaan dari Ibunya.
__ADS_1
"Oiya sudah lebih dari seminggu nak Ziva belum main ke sini lagi, apa dia sedang sibuk?" tanya Ibu Aylin.
"Hum entah lah bu, mungkin dia sedang banyak kegiatan dan tugas dari kuliahnya, apalagi dia kan masih mahasiswi baru" ujar Ceyda menjelaskan.
Yah sudah beberapa kali Ziva main ke rumah Ceyda, bahkan hampir setiap satu kali dalam seminggu mengunjungi rumah Ziva karena ingin bertemu dengan Ibu Aylin.
"Lalu bagaimana dengan kabar Nyonya Laura?"
"Oma Laura juga sehat dan baik-baik saja ibu"
"Lalu bagaimana dengan Zev?" tanya Ibu Aylin lagi.
"Seketika Ceyda terdiam dan menghentikan makan nya. Karena dia teringat dengan permintaan Oma Laura mengenai pernikahan nya dengan Zev.
"Mmm, Ayah Ibu aku ingin mengatakan sesuatu hal yang serius" ujar Ceyda ragu-ragu.
"Hal yang serius? apa itu nak?" tanya Ayah nya.
"Be-benarkah nak?" tanya Ibu Aylin terkejut.
"Iya Bu"
"Akhirnya ada laki-laki yang mau serius dengan mu nak" ujar Ibu Aylin tersenyum, mengingat bagaimana Ceyda yang sudah lama berpacaran tetapi belum juga ada keseriusan mengenai kelanjutan hubungan putri dan pacar nya itu.
"Tapi ibu aku sudah memiliki Rendy" ujar Ceyda menunduk.
"Iya itu terserah padamu nak, kamu mau menunggu Rendy yang entah kapan ingin serius dengan mu atau memilih dengan Zev yang langsung ingin menjalin hubungan serius" ujar Ibu Aylin.
"Bagaimana menurut ayah apakah ucapan ibu benar?" tanya Ibu Aylin pada suaminya.
"Iya ucapan Ibu benar tapi itu semua kembali pada keputusan dan bagaimana perasaan putri ayah ini, coba lah untuk memikirkan baik-baik nak, coba tanya kan ke hati mu" ujar Ayah nya dengan bijak. Karena dia tahu putri nya sedang kebingungan untuk mengambil keputusan.
"Hum baiklah ayah ibu, aku akan memikirkan nya baik-baik" jawab Ceyda.
__ADS_1
"Aku juga harus menyampaikan hal ini pada Rendy, karena aku tidak mau mengkhianati perasaan nya dan membuat perasaan Rendy terluka" gumam Ceyda dalam hati.
"Baiklah ayah ibu aku berangkat dulu ke kedai" pamit Ceyda dan mencium kedua tangan orang tua nya.
"Hati-hati dijalan sayang" ucap Ibu Aylin.
Kemudian Ceyda berlalu keluar rumah dan mengendarai sepeda motor nya ke kedai cake.
Kembali ke rumah Ceyda.
"Ibu seneng ayah jika sudah ada mau yang mempersunting putri tunggal kita satu-satu nya" ucap Ibu Aylin sambil membereskan meja makan.
"Hum iya bu"
"Ayah kenapa? apa ayah tidak senang karena putri kita sebentar lagi akan menikah?" ujar Ibu Aylin bingung.
"Bukan begitu bu, Ayah hanya tidak tega melihat Ceyda sepertinya kebingungan untuk mengambil keputusan apalagi ini keputusan untuk masa depan nya" jawab Ayah.
"Tapi lebih baik jika putri kita menikah dengan Tuan Zev, lagi pula menunggu Rendy untuk memberikan keseriusan itu tidak pasti dan yang Ibu lihat Rendy seperti tidak terlalu tulus dengan putri kita, sedangkan putri kita mencintai dan tulus padanya" ujar Ibu Aylin panjang lebar.
"Huft, ayah juga sedih jika sebentar lagi putri kita menikah lalu putri kita akan jauh dari kita" ujar Ayah dengan sendu.
"Sudah lah suamiku, kita doa kan yang terbaik buat masa depan Putri kesayangan kita" ujar Ibu Aylin sambil memeluk suaminya menenangkan.
"Hm semoga saja putri kita lebih dewasa dan mengambil keputusan dengan tepat" ujar Ayah sambil menerawang jauh.
.
.
.
Tbc
__ADS_1