Pura - Pura Miskin

Pura - Pura Miskin
Horor


__ADS_3

Tanpa curiga sedikitpun Marimar hanya menganggukkan kepalanya kemudian Marimar berbaring dengan posisi tengkurap sedangkan Marcel dengan posisi miring menghadap Marimar. Marcel melakukan itu agar dirinya bisa melihat wajah ketakutan Marimar.


Awalnya Marimar bersikap biasa saja namun ketika muncul gambar yang sangat mengerikan di tambah iringan musik menambah kesan horor membuat Marimar berteriak saking takutnya.



"Akhhhhhhhh ..." Teriak Marimar sambil memejamkan matanya dengan menggunakan ke dua tangannya.


"Kenapa berteriak? Itukan hantu bohongan." Ucap Marcel sambil menutupi telinganya karena Marimar berteriak.


"Serem tahu Kak." ucap Marimar sambil memiringkan tubuhnya menghadap Marcel.


Grep


Jantung Marimar berdetak kencang gara-gara melihat hantu di laptop milik Marcel membuat Marimar tanpa sadar memeluk tubuh Marcel. Marcel sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Marimar namun lima detik kemudian dirinya membalas pelukan Marimar.


'Rejeki nomplok.' Ucap Marcel dalam hati sambil tersenyum menyeringai.


Marimar perlahan membuka matanya kemudian menatap ke arah laptop hingga beberapa saat muncul kembali wajah hantu yang memenuhi layar laptopnya.


Membuat Marimar memeluk erat tubuh Marcel dan tidak sengaja bagian privasinya menyentuh adik kecil milik Marcel. Marcel berusaha menahan diri untuk tidak melakukan hubungan suami istri karena dirinya tidak ingin merusak Marimar.


Marimar menghirup aroma tubuh Marcel membuat Marimar merasakan nyaman dan tanpa sadar Marimar menggesek hidungnya ke tubuh Marcel.


"Marimar, apa yang kamu lakukan?" Tanya Marcel.


"Tubuh Kak Marcel wangi dan membuatku sangat nyaman." Jawab Marimar sambil masih menggesek hidungnya ke tubuh Marcel.


"Stop, jangan lakukan itu." Pinta Marcel sambil memejamkan matanya untuk menahan diri.


Sungguh Marcel sangat tersiksa menahan ha x srat x nya namun demi gadis yang dicintainya dirinya rela melakukan apapun. Ya Marcel sudah mulai mencintai Marimar karena itulah dirinya tidak akan merusak Marimar.

__ADS_1


"Kena..." Ucapan Marimar terpotong ketika mendengar suara merdu dari laptop milik Marcel.


Marcel dan Marimar serempak menatap ke arah laptop di mana wanita berada di bawah sedangkan prianya berada di atas dengan menyatukan tubuhnya.


Pria tersebut menggerakkan pinggulnya secara berulang-ulang membuat wanita tersebut berteriak namun wajahnya terlihat enak.


"Apakah seenak itu?" Tanya Marimar polos.


"Maksudnya?" Tanya Marcel pura-pura tidak mengerti.


"Wanita itu berteriak tapi wajahnya seperti menikmati nya dan merem melek begitu pula dengan pria itu." Ucap Marimar menjelaskan.


'Mau mencobanya?' Tanya Marcel dengan suara berbisik di telinga Marimar.


Cup


Marimar memalingkan wajahnya ke arah Marcel dan tanpa sengaja Marimar mencium bibir Marcel secara singkat.


Cup


Marcel menaiki tubuh Marimar sambil tangan kanannya melepaskan satu persatu kancing kemeja Marimar sambil masih berciuman hingga beberapa saat kemudian Marimar menepuk bahu Marcel kalau dirinya kehabisan nafas.


Marcel yang mengerti langsung melepaskan ciumannya kemudian berpindah ke leher mulus Marimar dan memberikan tanda kepemilikan sedangkan Marimar menghirup dan membuang udara sebanyak-banyaknya.


"Ahhhhhhhh ..." Ucap Marimar mengeluarkan suara merdunya ketika Marcel memasukkan mulutnya ke salah satu pucuk gunung kembar himalaya miliknya.


Marcel tersenyum sambil membuka kaitan pembungkus dua gunung kembar milik Marimar yang tadi sempat dinaikkan ke atas kemudian membuangnya secara asal.


Entah bagaimana kini ke duanya tidak menggunakan sehelai benang pun hingga akhirnya masuk ke permainan inti.


"Bolehkah aku masukkan?" Tanya Marcel penuh harap.

__ADS_1


"Tapi ..." Ucapan Marimar terpotong oleh Marcel.


"Kakak akan tanggung jawab terlebih Kakak sudah mulai mencintaimu." Ucap Marcel yang akan menjadikan Marimar sebagai istrinya.


"Aku ..." Ucap Marimar dengan wajah bingung.


"Kakak gesek saja tanpa dimasukkan asal punya Kakak bisa keluar, bolehkah?" tanya Marcel.


Marimar hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju tanpa mengetahui kalau itu bisa membahayakan dirinya yaitu kehilangan harta berharga yang selama ini di jaganya.


Marcel tersenyum kemudian mulai menuntun tombak saktinya ke area depan goa milik Marimar. Gesekan demi gesekan membuat Marimar merem melek dan tidak bisa menahannya.


"Kak Marcel, aku mohon masukkan." Mohon Marimar.


"Kamu tidak menyesal?" Tanya Marcel.


"Tidak, lakukanlah Kak." Pinta Marimar.


"Baik." Jawab Marcel singkat.


Marcel mulai mencoba memasukkan tombak saktinya ke dalam goa milik Marimar yang belum pernah terjamah. Di hentakkan pertama Marcel gagal dan di hentakkan ke dua Marimar meringis sambil mengeluarkan air matanya karena kepala tombak saktinya masuk ke dalam goa.


Hal itu membuat Marcel menarik tombak saktinya kemudian kembali menggesek tombak saktinya ke arah pinggiran goa hingga beberapa saat tombak saktinya mengeluarkan laharnya.


Marcel sengaja menumpahkan laharnya di perut Marimar sambil tersenyum bahagia. Walau belum bisa melakukan hubungan suami istri bagi Marcel sudah lebih dari cukup.


Marcel menggulingkan tubuhnya ke arah samping kemudian membersihkan lahar yang ada di perut Marimar dengan menggunakan tissue yang berada di atas meja dekat ranjang.


"Kak, aku belum ..." Ucap Marimar menggantungkan kalimatnya karena dirinya sangat malu dan wajahnya memerah.


Marcel yang mengerti kalimat selanjutnya membuat Marcel memasukkan jari telunjuk setelah beberapa saat jari tengah ikut masuk dan di susul jari manis.

__ADS_1


Marimar menggoyangkan pinggulnya sambil mengeluarkan suara merdunya hingga beberapa saat Marimar mendapatkan pelepasan untuk pertama kalinya.


"Kak Marcel, kenapa bekas punyaku di jilat?" Tanya Marimar dengan wajah terkejut.


__ADS_2