Pura - Pura Miskin

Pura - Pura Miskin
Veni, Vena dan Venu


__ADS_3

"Kata mereka kalau aku tidak pantas mendapatkan Kak Marcel tapi salah satu dari mereka bertiga yang pantas mendapatkan Kak Marcel, benar bukan?" Tanya Marimar sambil melirik dan tersenyum manis ke arah ke tiga gadis tersebut.


"Betul sekali, dia gadis kumuh dan tidak pantas mendapatkan Kak Marcel seorang pria yang ka ..." Ucapan gadis pertama terpotong oleh Marcel.


"Marcelina, bisa bawa ke tiga temanmu untuk keluar?" Tanya Marcel sambil menatap tajam ke arah adik kembarnya dan memeluk pinggang Marimar.


"Veni, Vena dan Venu ayo kita pergi." Ucap Marcelina dengan nada tegas.


"Tapi ..." Ucapan ke tiga gadis tersebut terpotong oleh Marcelina.


"Kalian bertiga mau di pecat?" Tanya Marcelina sambil menatap tajam ke arah ke tiga temannya.


Ke tiga gadis tersebut menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian melirik sinis ke arah Marimar bersamaan Marcel menatap tajam seakan ingin menguliti kulit ke tiga gadis tersebut.


Ke tiga gadis itupun langsung melengos dan pergi meninggalkan apartemen milik Marcel bersama Marcelina sambil menahan amarahnya terhadap Marimar yang jelas-jelas tidak bersalah.


Setelah mereka pergi Marimar melepaskan tangan Marcel yang masih memeluk pinggangnya namun di tahan oleh Marcel.


"Cemburu?" Tanya Marcel sambil menarik pinggang Marimar agar menabrak tubuhnya yang kekar.


"Kenapa aku mesti cemburu? Kalau Kak Marcel suka kejar saja mereka." Jawab Marimar sambil berusaha melepaskan pelukan Marcel.

__ADS_1


Cup


"Aku sangat suka kalau calon istriku cemburu." Ucap Marcel kemudian mengecup kening Marimar tanpa menjawab ucapan Marimar.


"Kak Marcel." Panggil Marimar.


"Ya." Jawab Marcel singkat.


"Bisa tidak melepaskan pelukannya?" Tanya Marimar.


"Memangnya kenapa?" Tanya Marcel yang tidak ingin melepaskan pelukannya.


"Pertama jika kita dekat seperti ini membuat jantungku tidak sehat dan yang ke dua bisa membuatku ingin melakukan lagi seperti semalam." Jawab Marimar sambil mendorong perlahan tubuh Marcel.


"Jika aku di peluk sama Kak Marcel membuat jantungku berdebar kencang karena itulah aku tidak mau terlalu lama di peluk dan mengenai yang kita lakukan semalam ... ( Menjeda kalimatnya ) ... Membuatku ingin merasakan ..." Ucap Marimar menggantungkan kalimatnya.


'Jari Kak Marcel masuk ke bagian privasiku dan takutnya aku ingin merasakan adik kecil Kak Marcel.' Sambung Marimar dalam hati.


"Membuatmu ingin merasakan apa?" Tanya Marcel yang masih pura-pura tidak tahu.


"Lepaskan dulu pelukannya." Ucap Marimar.

__ADS_1


Marcel menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian melepaskan pelukannya sedangkan Marimar yang tidak di peluk membalikkan badannya dan berlari ke arah kamarnya.


"Rahasia." Jawab Marimar sambil masuk ke dalam kamarnya kemudian menutupnya.


"Marimar kamu memang sangat menggemaskan, sebenarnya Kakak juga ingin melepaskan pelukannya karena Kakak juga ingin merasakan tubuhmu." Ucap Marcel.


"Haruskah aku mandi lagi? Tadi mandi karena adik kecilku mengeluarkan laharnya karena mimpi melakukan hubungan suami istri dan sekarang adik kecilku tegang lagi gara-gara memeluk Marimar." Sambung Marcel dalam hati.


Marcel berjalan ke arah tangga menuju ke arah kamarnya karena seperti yang dikatakan Marcel waktu itu kalau atas untuk kamar Marcel sedangkan Marimar berada di lantai satu.


Mereka berdua sama-sama berbaring di ranjang dan tidak membutuhkan waktu lama mereka tidur dengan pulas di kamar yang berbeda.


Di tempat yang berbeda di mana Marcelina dan ke tiga gadis berada di dalam mobil dengan wajah cemberut dan kesal terhadap Marimar dan ucapan Marcelina.


"Marcelina, aku tuh suka banget sama Kakak mu tapi kenapa Kakakmu malah mau menikah wanita yang tidak punya malu itu?" Tanya Veni.


"Jangankan kamu, aku juga." Ucap Vena dan Venu bersamaan.


"Aku tidak bisa memaksa Kakak untuk menyukai salah satu dari kalian karena cinta itu tidak bisa dipaksakan." Ucap Marcelina.


"Tapi kan wanita itu tidak pantas menjadi istri Kakak mu." Ucap Vena.

__ADS_1


"Kenapa tidak pantas?" Tanya Marcelina.


__ADS_2