
"Kalian sungguh tidak mau?" Tanya salah satu pria tersebut yang diberikan kepercayaan oleh Marcel.
"Tentu saja." Jawab mereka bersamaan.
"Enak saja menyuruh kami untuk membersihkan semua kamar mandi yang ada di sini." ucap Ririn.
"Kalian lihat kami itu orang kaya, masa orang kaya membersihkan kamar mandi, dasar kalian orang-orang miskin.' hina Valen.
"Baiklah, aku tidak akan memaksa." ucap pria tersebut dengan nada santai.
"Baguslah kamu memang cerdas, sekarang keluarkan kami dari sini." ucap Valen.
"Kalian tinggallah di sini selama-lamanya sampai kalian ma ti." Ucap pria tersebut sambil tersenyum devil.
"Apa?" teriak mereka bersamaan.
"Kita tinggalkan mereka dengan kondisi kelaparan dan akhirnya mati karena tidak ada makanan." Ucap pria tersebut tanpa memperdulikan teriakan mereka berempat.
Selesai mengatakan hal itu pria tersebut membalikkan badannya begitu pula dengan para bodyguardnya namun mereka berempat menghentikan para bodyguard dan pria tersebut karena tidak mau mati kelaparan.
"Tunggu!" Teriak mereka bersamaan.
Pria itupun menghentikan langkahnya begitu pula dengan para bodyguardnya tanpa membalikkan badannya. Tio dan Ayah mertuanya saling menatap kemudian menganggukkan kepalanya begitu pula dengan Ririn dan Valen.
__ADS_1
Mereka berempat mengambil sapu dan gagang pel dengan serempak karena mereka berencana untuk menyerang ke arah pria tersebut dan para bodyguard yang membelakangi mereka.
"Hiaaaaaa.... !" teriak mereka bersamaan sambil mengangkat sapu dan gagang pel.
Pria tersebut dan para bodyguard yang bisa merasakan ada pergerakan langsung membalikkan badannya.
"Ciattttttt ..." ucap mereka bersamaan.
Tap Tap Tap Tap
Bugh Bugh Duag Duag
"Akhhhhhhhh ...!" Teriak mereka berempat secara bersamaan.
Pria tersebut hanya menatap mereka dengan datar sambil menjentikkan jarinya dan ke empat bodyguard tersebut langsung berteriak sambil tangan kirinya ada yang menangkap sapu dan ada yang menangkap gagang pel kemudian di susul dua bodyguard memukul wajah mulus Ririn dan Valen dengan sangat keras.
Hingga hidung Ririn dan Valen mengeluarkan darah segar membuat ke dua wanita tersebut berteriak kesakitan sambil memegangi wajahnya. Berbeda dengan Ayahnya Marimar sekaligus Ayahnya Valen dan Tio, mereka berdua masing - masing di tendang pada bagian perutnya.
Mereka berempat langsung berlutut menahan rasa sakit yang berbeda. Ririn dan Valen sakit pada wajahnya sedangkan Ayahnya Marimar dan Tio sakit pada perutnya.
"Cihhhhh ... Kalian jangan percaya diri untuk bisa menyentuh kami ataupun mempunyai pikiran untuk melawan kami karena kami tidak segan-segan untuk menghukum kalian." Ucap pria tersebut.
"Dua jam lagi waktunya makan sore jadi bersihkan semua kamar mandi di mansion ini kecuali lantai empat atau kalian tidak akan mendapatkan makanan sama sekali." sambung pria tersebut sambil membalikkan badannya begitu pula dengan para bodyguardnya.
__ADS_1
"Ingat semuanya harus membersihkan kamar mandi jika sampai kami melihat ada yang tidak membersihkan kamar mandi jangan harap mendapatkan makanan." Ucap pria tersebut dengan nada tegas karena pria tersebut bisa menebak apa yang akan dipikiran Ririn dan Valen.
"Oh ya satu lagi jangan pernah berpikiran untuk masuk ke lantai empat. Jika sampai ada yang berani maka bersiaplah untuk menerima hukuman yang tidak pernah kalian bayangkan." sambung pria tersebut.
Selesai mengatakan hal itu mereka pergi meninggalkan tempat tersebut menuju ke lantai empat di mana kamar mereka berada dengan menggunakan lift.
"Bagaimana ini? Aku sudah mulai lapar?" Tanya Ririn.
"Aku juga sama tapi aku tidak mau jika aku harus membersihkan kamar mandi yang sangat bau." Ucap Valen.
"Ayah akan bersihkan karena Ayah tidak mau mati kelaparan." Ucap Ayahnya sambil mengambil sikat.
"Aku juga." Ucap Tio.
Ayahnya dan Tio sebenarnya sangat terpaksa demi dirinya tidak kelaparan karena mereka tidak bisa menahan rasa lapar.
"Pasti bau, aku tidak mau." Jawab ke dua wanita tersebut.
"Terserah kalian karena aku tidak ingin mati kelaparan." Ucap Ayahnya sambil pergi menuju ke arah kamar mandi begitu pula dengan Tio.
Ririn dan Valen menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian mengambil sikat. Mereka tidak mengetahui kalau ini adalah awal dari hukuman pertama mereka berempat karena ada lagi hukuman yang ke dua dan seterusnya sesuai apa yang diperintahkan oleh Marcel.
Marcel melakukan itu agar mereka merasakan apa yang pernah dirasakan oleh Marimar.
__ADS_1