Pura - Pura Miskin

Pura - Pura Miskin
Rencana Jahat


__ADS_3

'Dulu Tio selingkuh dengan adik tiriku dan sekarang Kak Marcel ternyata sudah mempunyai kekasih. Mungkin sudah takdirku untuk tidak bahagia.' Sambung Marimar dalam hati.


Tes


Tes


Tes


Marimar yang tidak bisa menahan agar air matanya tidak keluar akhirnya keluar juga sedangkan Marcel sangat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Marimar membuat Marcel menarik tangannya yang dipegang oleh Riana.


Riana sangat kesal ketika tangannya di tarik membuat Riana membenci Marimar dan berusaha agar Marcel menjadi miliknya.


"Marimar tunggu! Apa maksud perkataanmu?" Tanya Marcel.


"Kak Marcel masih ingat kan perkataanku? Jika Kak Marcel menemukan seseorang maka di saat itu pula aku akan pergi dari kehidupan Kak Marcel." Ucap Marimar mengingatkan apa yang dulu pernah dikatakan sambil menghentikan langkahnya.


"Terima kasih atas semua yang Kak Marcel lakukan padaku dan aku tidak bisa membalas kebaikan kak Marcel. Aku hanya bisa mendoakan dengan tulus semoga Kak Marcel bahagia." Sambung Marimar sambil melanjutkan kembali langkahnya.


Grep


"Jujur Kakak tidak mengerti apa yang kamu katakan." Ucap Marcel sambil menahan tangan Marimar.


"Kakak sangat mencintaimu dan sebentar lagi kita akan menikah tapi kenapa kamu bilang begitu? ... Tunggu... Tunggu... Kekasihku cemburu ... Maaf sayang tadi keasyikan mengobrol dengan teman masa kecilku jadi aku melupakanmu." Ucap Marcel baru tersadar akan kesalahannya.


"Aku tidak cemburu." Ucap Marimar.


"Yakin?" Tanya Marcel dengan nada menggoda sambil membalikkan badan Marimar.


"Yakin." Jawab Marimar sambil menundukkan kepalanya.


Marcel mengangkat dagu Marimar dan matanya membulat sempurna karena melihat mata sembab Marimar. Marcel tahu kalau Marimar habis menangis.


"Maaf, kalau tadi aku asyik bicara dengan teman masa kecilku hingga aku melupakanmu." ucap Marcel sambil menghapus air mata Marimar dengan menggunakan ke dua ibu jari tangannya.


"Kak Marcel, dia siapa?" Tanya Riana sambil menatap tajam ke arah Marimar.


Grep


"Kenalkan ini Marimar, kekasihku sekaligus calon kakak iparmu." Jawab Marcel sambil memeluk pinggang Marimar kemudian menatap Riana yang tersenyum manis berbeda tadi wajahnya yang jutek menatap ke arah Marimar.

__ADS_1


"Calon Kakak ipar? Kak Marcel bukankah waktu kita kecil pernah berjanji jika kita sudah besar nanti kita akan menikah? Kenapa Kak Marcel ingkar janji?" Tanya Riana dengan mata berkaca-kaca.


"Dulu aku bicara seperti itu karena kita masih anak - anak dan tidak mengerti arti ucapan itu, jadi Kakak merasa tidak ingkar janji." Jawab Marcel.


"Tetap saja ingkar janji karena apa yang dikatakan sejak kecil ya harus dituruti kecuali jika tidak mengatakan janji barulah boleh mengatakan hal itu." ucap Riana dengan nada kesal.


"Bukankah dulu kamu yang memaksa Kakak untuk mengatakan hal itu dan minta Kakak untuk mengatakannya? Jika Kakak tidak mengatakan hal itu kamu langsung menangis." Ucap Marcel dengan nada tegas.


"Tapi ..." Ucapan Riana terpotong oleh Marcel.


"Apa kamu sudah lupa?" Tanya Marcel berusaha mengingatkan kembali.


Ketika Riana ingin bicara tiba-tiba datang Mommy Dennisa membuat Riana tidak jadi bicara.


"Kok masih mengobrol, ayo kita makan bersama." Ajak Mommy Dennisa.


"Baik Mom." Jawab Marcel dan Marimar bersamaan.


"Baik Tante." Jawab Riana yang juga bersamaan.


'Si*l, wanita itu memanggil Tante Dennisa dengan sebutan Mommy. Aku harus cari cara agar aku bisa menikah dengan Kak Marcel.' Ucap Riana sambil berfikir.


Selama ini Riana selalu di manja dan mendapatkan apapun yang diinginkannya karena kakek dan neneknya selalu menuruti apapun permintaan Riana. Namun ketika keinginannya tidak terpenuhi membuat Riana mempunyai Rencana jahat untuk mendapatkannya dengan cara licik.


"Maaf lama." Ucap Marcel sambil menarik kursi untuk Marimar.


Ketika Marimar ingin duduk tiba-tiba Riana mendorong tubuh Marimar dan nyaris terjatuh karena Riana mendadak mendorongnya membuat Marimar tidak ada persiapan.


Untunglah Marcel menahan tubuh Marimar agar tidak terjatuh dan tanpa dosa Riana langsung duduk membuat Marcel menahan amarahnya.


"Riana, ini kursi untuk Marimar kamu duduk di sana." Ucap Marcel dengan nada kesal sambil menunjuk ke arah kursi.


"Aku ingin duduk di sini." Ucap Riana bersikeras.


Grep


"Sstttttt... sudah aku duduk di sana saja." Ucap Marimar sambil menggenggam tangan Marcel untuk meredakan amarahnya.


Marcel menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian menarik tangan Marimar menuju ke arah kursi yang kebetulan ada dua kursi kosong. Marcel kembali menarik kursi makan kemudian Marimar duduk sambil tersenyum setelah itu barulah Marcel menarik kursi untuk dirinya.

__ADS_1


Riana hanya bisa menatap Marimar dengan kesal dan tanpa sepengetahuan mereka bertiga kalau enam pasang mata melihat kejadian tersebut. Siapa lagi kalau bukan Mommy Laras, Daddy Alvonso, Daddy Max, Mommy Dennisa putri, Marcelina dan Angela.


Daddy Alvonso dan Daddy Max saling memandang begitu pula dengan Mommy Laras dan Mommy Dennisa yang seakan mengatakan tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh Riana.


'Lebih baik putra kami menikah dengan Marimar karena sejujurnya kami tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh Riana.' Ucap Mommy Dennisa dan Daddy Max dalam hati bersamaan.


'Aku akan menasehati Riana untuk menjaga sikap karena jika tetap seperti itu terpaksa aku akan mengajaknya pulang.' Ucap Mommy Laras dalam hati.


'Marimar memang pantas menjadi istri cucuku Marcel karena terlihat jelas Marimar bisa menenangkan cucuku yang mempunyai sifat pemarah dan kejam seperti waktu aku masih muda.' Ucap Daddy Alvonso dalam hati.


"Ayo kita makan." Ucap Mommy Laras sambil mengambil makanan untuk suaminya barulah dirinya.


Setelah selesai barulah Mommy Dennisa mengambil makanan untuk suaminya setelah selesai barulah untuk dirinya. Ketika Marimar ingin mengambil centong nasi namun keduluan Riana mengambil centong nasi karena lebih dekat.


"Kak Marcel, aku ambilkan nasinya." Ucap Riana dengan nada lembut.


"Tidak, kamu ambillah untuk dirimu sendiri karena aku ingin diambilkan oleh calon istriku." Jawab Marcel.


"Bukankah dulu aku yang sering mengambil nasi dan makanan untuk Kak Marcel?" Tanya Riana sambil menahan amarahnya.


"Bisakah kita makan dengan tenang?" Tanya Daddy Alvonso dengan nada tegas dan dingin ketika melihat Marcel ingin bicara.


Tiba-tiba ruang makan tersebut berubah jadi dingin lebih dingin dari AC karena selain Daddy Alvonso bicara dengan nada dingin Daddy Max dan Marcel juga mengeluarkan udara dingin.


Riana dan Marcel langsung terdiam kemudian Riana mengambil makanan untuk dirinya sendiri setelah itu barulah Marimar mengambil nasi untuk Marcel setelah itu barulah untuk Marimar.


Berlanjut Marcelina dan Angel, mereka semua berdoa bersama setelah itu barulah mereka makan tanpa ada yang bicara sedikitpun. Hingga lima belas menit kemudian mereka sudah selesai makan dan minum. Semua makanan yang ada di meja habis tanpa sisa sedikitpun membuat Marimar tersenyum bahagia.


"Kenapa tersenyum? Meledekku ya karena tidak bisa duduk bersebelahan dengan Kak Marcel." Ucap Riana dengan nada kesal.


"Aku tersenyum karena semuanya suka masakanku." Jawab Marimar.


"Kamu yang masak?" Tanya Mommy Laras dan Daddy Alvonso dengan wajah terkejut.


"Tentu saja, Marimar yang memasaknya." Jawab Mommy Dennisa yang menjawab ucapan ke dua orang tuanya.


"Masakan Marimar sama seperti masakan istriku karena itulah lidahku cocok memakan makanan Marimar." Sambung Daddy Max sambil tersenyum.


"Pantas saja kamu sampai nambah makannya sama seperti Daddy sampai dua kali." Ucap Daddy Alvonso sambil mengusap perutnya yang agak membuncit.

__ADS_1


"Mommy juga nambah." ucap Mommy Laras.


"Enak tapi kalau kebanyakan bisa gendut Opa, Oma, Tante dan Paman. Itu tidak baik untuk kesehatan apalagi semua makanan itu mengandung kolesterol tinggi." ucap Riana sambil tersenyum mengejek Marimar.


__ADS_2