Pura - Pura Miskin

Pura - Pura Miskin
Haruskah Aku Jujur?


__ADS_3

"Bisa tidak kalau tidur pakai pakaian?" Tanya Marimar.


"Memangnya kenapa?" Tanya Marcel polos.


"Aku sangat malu jika Kak Marcel tidak memakai pakaian terlebih jika seandainya tiba-tiba ada tamu datang dan kak Marcel tidak memakai pakaian." Ucap Marimar sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Ok, nanti Kakak pakai pakaian." Ucap Marcel.


Marimar hanya menganggukkan kepalanya kemudian membalikkan badannya dan berjalan ke arah dapur sedangkan Marcel juga ikut membalikkan badannya dan berjalan ke arah ruang kerjanya.


Tiga puluh lima menit kemudian Marimar sudah selesai masak dan meletakkan masakannya di meja makan. Tidak berapa lama datang Marcel yang sudah memakai pakaian santai.


"Baunya sangat harum bikin Kakak lapar." Ucap Marcel sambil menarik kursi makan kemudian duduk.


"Kak Marcel tidak mandi dulu baru makan?" Tanya Marimar.


"Nanti saja, Kakak sangat lapar." Jawab Marcel sambil mengambil centong nasi 🍚 tapi Marimar menggenggam tangan Marcel.


"Mandi dulu baru makan." Ucap Marimar.


Marcel menghembuskan nafasnya dengan perlahan sambil menatap kesal ke arah Marimar tapi Marimar tanpa merasa takut mendelik kan matanya membuat Marcel cemberut.


"Iya bawel, tidak Mommy .... Tidak Marimar sama aja. Kakak sebel dengan huruf awal M nanti kalau kalau kita menikah jangan pakai huruf M." Ucap Marcel sambil berdiri kemudian membalikkan badannya meninggalkan ruang makan sambil menghentak - hentakkan ke dua kakinya ke lantai seperti anak kecil.


"Lha Kak Marcel kan juga huruf M?" Tanya Marimar dengan nada setengah berteriak.


"Siapa bilang huruf Kakak M, sudah jelas-jelas huruf K Kakak." Jawab Marcel sambil menaiki anak tangga.


Marimar merasakan getaran seperti getaran gempa ketika Marcel masih menghentakkan di setiap Marcel melangkah di anak tangga. Marimar hanya menggelengkan kepalanya kemudian berjalan ke arah kamarnya untuk membersihkan tubuhnya yang lengket.


Lima belas menit kemudian Marimar sudah selesai mandi dan memakai pakaian santai. Marimar berjalan ke arah ruang makan namun tidak melihat Marcel datang. Marimar duduk di kursi makan sambil menunggu kedatangan Marcel.


Hampir lima belas menit Marcel belum juga turun membuat Marimar menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian berdiri dan berjalan ke arah tangga menuju ke arah kamar Marcel.


Tok tok tok tok


Ceklek


Marimar mengetuk pintu namun tidak ada jawaban membuat Marimar perlahan membuka pintu kamar Marcel.


"Kak Marcel." Panggil Marimar.

__ADS_1


Marimar melihat Marcel berbaring di ranjang dengan tubuhnya ditutupi selimut dan membelakangi Marimar. Marcel yang mendengar suara panggilan Marimar hanya tersenyum tanpa diketahui oleh Marimar.


Marimar duduk di sisi ranjang kemudian menyentuh punggung Marcel dan menggoyangkan perlahan.


"Kak Marcel, makan yuk " Ajak Marimar dengan nada lembut.


"Makan saja sendiri, Kakak tidak lapar." Ucap Marcel.


"Kalau Kakak tidak makan maka aku juga tidak makan." Jawab Marimar.


"Terserah." ucap Marcel pura-pura ngambek.


Marimar menghembuskan nafasnya dengan perlahan sambil menarik tangannya yang tadi menyentuh punggung Kak Marcel.


"Baiklah kalau begitu, mulai sekarang dan seterusnya aku tidak akan masak lagi." Ucap Marimar.


"Terserah, Kakak bisa menyuruh orang untuk masakin Kakak." Jawab Marcel.


"Baguslah kalau begitu." Jawab Marimar sambil turun dari ranjang.


"Kok bagus?" Tanya Marcel dengan nada kesal karena Marimar tidak membujuk dirinya.


"Karena mulai sekarang dan seterusnya sudah ada yang menggantikan diriku." Jawab Marimar dengan mata berkaca-kaca.


Tes


Tes


Tes


Marimar yang tidak kuat menahan kesedihannya akhirnya mengeluarkan air matanya sedangkan Marcel yang mendengar ucapan Marimar langsung membalikkan badannya.


Grep


Marcel turun dari ranjang dan berjalan ke arah Marimar kemudian memeluknya sedangkan Marimar hanya diam dan tidak membalas pelukan Marcel.


Tes


Tes


Tes

__ADS_1


Air mata Marimar jatuh kembali dan mengenai tangan Marcel membuat Marcel sangat terkejut. Marcel membalikkan badam Marimar agar menghadap dirinya.


"Kenapa kamu menangis? Apa maksudmu dengan mengatakan mulai sekarang dan seterusnya sudah ada yang menggantikan diriku?" Tanya Marcel sambil menghapus air mata Marimar dengan menggunakan ke dua ibu jarinya.


"Kak Marcel bilang bisa menyuruh orang untuk masakin Kakak, berarti Kakak akan mencari pengganti diriku karena itulah aku pergi dari kehidupan Kak Marcel." Jawab Marimar.


"Maaf kalau itu membuatmu menangis, jujur tidak ada di benak Kakak untuk mencari pengganti dirimu karena Kakak sangat mencintai dirimu." Ucap Marcel.


Marimar menatap mata Marcel dan tidak ada kebohongan dimatanya sedangkan Marcel mengusap rambut Marimar dengan lembut.


"Sekarang kita makan karena Kakak sangat lapar." Ucap Marcel.


"Tapi makanannya sudah mulai agak dingin." Ucap Marimar.


"Kakak tidak perduli karena Kakak suka masakan orang yang Kakak cintai." Ucap Marcel sambil memeluk pinggang Marimar dari arah samping.


Marimar hanya menganggukkan kepalanya kemudian mereka berjalan keluar dari kamar Marcel menuju ke ruang makan.


Marimar seperti biasa mengambilkan makanan untuk Marcel setelah itu baru dirinya. Marcel tersenyum bahagia karena Marimar sangat perhatian pada dirinya.


Mereka berdoa terlebih dahulu setelah itu barulah mereka makan. Hingga lima belas menit kemudian mereka sudah selesai makan dan minum.


Seperti biasa Marimar mencuci piring sedangkan Marcel menlap meja makan hingga lima belas menit kemudian mereka sudah selesai dan kini berada di ruang keluarga.


"Kak Marcel." Panggil Marimar sambil duduk di samping Marcel dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Marcel.


"Ya." jawab Marcel singkat sambil memeluk Marimar dari arah samping dan menatap ke arah televisi sama seperti Marimar yang juga menonton televisi.


"Aku baru ingat di lemari ada dress dan tas serta sepatu, semuanya itu milik siapa?" Tanya Marimar.


"Milikmu." Jawab Marcel singkat sambil menggulung rambut Marimar dengan menggunakan jarinya.


"Milikku?" Tanya ulang Marimar sambil mendongakkan kepalanya ke atas.


Cup


"Iya milikmu jadi pakailah." Jawab Marcel.


"Tapi aku lihat pakaian, sepatu dan tas semuanya barang branded terlebih semuanya masih baru. Bukankah Kak Marcel ..." Ucap Marimar menggantungkan kalimatnya.


Marcel yang mengerti kalimat selanjutnya beberapa saat terdiam karena tidak mungkin kalau dirinya mengatakan sengaja membelikan untuk Marimar.

__ADS_1


'Haruskah aku jujur sekarang?' Tanya Marcel dalam hati sambil berpikir.


__ADS_2