Pura - Pura Miskin

Pura - Pura Miskin
Sentuhan Marcel


__ADS_3

"Marimar." Panggil Marcel setelah beberapa saat dirinya berpikir tanpa menjawab pertanyaan Marimar.


"Ya." Jawab Marimar singkat.


Marcel menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian menatap wajah cantik Marimar .


"Jika seandainya Kakak anak orang kaya, apa tanggapanmu?" Tanya Marcel.


"Pffftttt..."


"Kenapa kamu tertawa?" Tanya Marcel dengan wajah kesal.


"Habis Kakak lucu." Jawab Marimar.


"Lucu kenapa?" Tanya Marcel sambil menatap tajam ke arah Marimar namun Marimar hanya tersenyum tanpa ada rasa takut sedikitpun.


"Kalau memang Kak Marcel anak orang kaya kenapa mesti menyamar menjadi pria ..." Ucap Marimar menggantungkan kalimatnya.


Marcel yang mengerti kalimat selanjutnya dari perkataan Marimar membuat Marcel kembali menghembuskan nafasnya dengan perlahan.


"Karena Kakak mencari seorang gadis yang benar-benar tulus sama Kakak dan Kakak sudah menemukannya yaitu kamu." Jawab Marcel.


"Jika ada seorang gadis dan gadis itu melakukan hal yang sama, apakah Kak Marcel juga menerima gadis itu?" Tanya Marimar sambil memundurkan tubuhnya agak menjauh.


"Tentu saja tidak, Kakak sudah memilih dirimu jadi mana mungkin hati kakak diberikan untuk gadis lain." Jawab Marcel dengan tegas sambil memiringkan tubuhnya untuk menatap Marimar karena Marimar melepaskan pelukannya.


"Jika ternyata aku sama seperti gadis lainnya, apakah Kak Marcel akan tetap memilihku? Atau mencari lagi seseorang yang benar-benar tulus dan lebih baik dariku?" Tanya Marimar sambil turun dari sofa.

__ADS_1


"Kak Marcel tahu, aku sangat membenci pria kaya di mana mereka bisa merendahkan orang tanpa memikirkan perasaan apakah orang itu terluka atau tidak?" Tanya Marimar sambil menatap ke arah Marcel dengan mata berkaca-kaca.


"Tidak semua orang seperti itu." Jawab Marcel.


"Aku tahu tapi dari sekian banyak orang yang aku kenal hampir semuanya sama." Ucap Marimar.


"Dulu orang tuaku sangat bahagia dan pekerja keras hingga ke dua orang tuaku kaya tapi apa yang aku dapat? Ayahku selingkuh hingga membawa selingkuhannya bersama anak selingkuhannya hingga membuat ibuku meninggal padahal sebagian harta yang dimiliki milik ke dua orang tua dari Ibuku." Ucap Marimar.


"Saat itu aku hanya berharap bisa bertemu dengan pria kaya agar aku bisa keluar dari neraka di mana aku diperlakukan tidak adil oleh Ayahku. Hingga akhirnya aku dipertemukan tapi apa? Dia selingkuh dengan adik tiriku." Sambung Marimar.


"Aku yang tidak mendapatkan keadilan membuatku pergi dari rumah. Aku melamar kerja tapi hampir semua pemilik restoran menghina diriku karena pakaianku jelek." Sambung Marimar.


"Ketika aku sudah mendapatkan pekerjaan dan nunggu besok akan dijadikan koki tetap dan gaji akan dinaikkan tapi itu hanya sebuah mimpi. Aku di fitnah dan orang kaya itu merendahkan aku, menghina diriku. Aku yang sangat kecewa pergi dari restoran tersebut namun datang keluargaku mereka juga sama merendahkan ku bahkan pria brengs*k itu ikut merendahkan aku." Sambung Marimar.


Tes


Tes


"Kak Marcel ingat waktu kita di rumah kontrakan? Di mana semua orang merendahkan aku dan mengusir diriku dengan alasan tidak jelas padahal seumur hidupku, aku tidak pernah mengusik orang lain tapi kenapa aku selalu di usik? Apa salahku?" Tanya Marimar beruntun.


Grep


Marcel yang tidak tega Marimar menangis terlebih ucapan Marimar membuat hatinya sangat sakit sekali sekaligus marah dalam waktu bersamaan. Membuat Marcel memeluk tubuh Marimar sambil mengusap punggung Marimar.


Hatinya sangat sakit dan bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Marimar sekaligus marah terhadap orang-orang yang telah membuat Marimar menderita.


"Kakak pasti ingat dengan perkataan Kakak waktu itu yang mengatakan : Pemilik apartemen ini masih single dan mencari seorang istri, apakah kamu berminat? Kalau berminat Kakak akan memperkenalkan dirimu dengan temanku." Ucap Marimar mengulangi perkataan Marcel sambil membalas pelukan Marcel.

__ADS_1


''Ya Kakak ingat." Jawab Marcel sambil mendorong perlahan tubuh Marimar.


"Lalu aku menjawab : Sayangnya aku tidak berminat karena untuk sementara ini aku ingin berkerja dengan keras dan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya." Ucap Marimar sambil memeluk tubuh Marcel.


Karena pelukan Marcel membuat dirinya nyaman dan terlindungi. Selama ini Marimar menginginkan pelukan seseorang agar mengurangi rasa kesedihan yang teramat sangat.


"Karena Aku tidak ingin di hina oleh keluargaku, mantan kekasihku dan juga orang lain karena aku miskin." Sambung Marimar.


"Sstttttt ... Sudah, jangan di ingat lagi karena mulai sekarang dan seterusnya tidak ada lagi orang yang akan menghinamu lagi." Ucap Marcel dengan nada lembut sambil membalas pelukan Marimar.


"Aku hanya minta satu hal jangan pernah untuk melukai hatiku karena aku sangat lelah." Ucap Marimar sambil memejamkan matanya.


"Kakak janji untuk tidak menyakiti ataupun melukai hatimu." Ucap Marcel dengan tegas sambil membelai punggung Marimar dengan lembut.


Sentuhan Marcel membuat Marimar tenang hingga tidak membutuhkan waktu lama Marimar tidur dengan pulas dalam posisi berdiri.


Marcel yang merasakan tubuh Marimar berat membuat Marcel mendorong perlahan tubuh Marimar.


'Rupanya sudah tidur.' Ucap Marcel dalam hati sambil menggendong Marimar ala bridal style menuju ke arah tangga.


'Kamu sangat percaya padaku dan tidak takut jika seandainya aku melukaimu. Terima kasih atas kepercayaan yang kamu berikan padaku dan percayalah aku bukan pria seperti mereka.' Ucap Marcel dalam hati sambil membuka pintu kamarnya lalu mendorong perlahan pintu kamarnya dengan menggunakan salah satu kakinya.


Marcel berjalan ke arah ranjang kemudian meletakkan perlahan tubuh Marimar ke ranjang. Marcel seperti biasa melepaskan satu persatu pakaiannya hingga menyisakan celana boxernya kemudian berbaring di ranjang.


Marcel memeluk tubuh Marimar dan menjadikan tangannya sebagai bantalan kepala Marimar. Marcel menyelimuti tubuh mereka kemudian mengecup kening Marimar dengan lembut.


'Besok adalah hari pertama kamu akan bekerja dan selama kamu bekerja tidak ada orang yang berani menghina ataupun merendahkan dirimu.' Ucap Marcel dalam hati sambil memejamkan matanya.

__ADS_1


Tidak membutuhkan waktu lama Marcel tidur dengan pulas. Mereka tidur sambil berpelukan dan memberikan kehangatan masing-masing.


__ADS_2