
Tiga jam kemudian Marimar membuka matanya dirinya terkejut karena duduk di pangkuan seorang pria membuat Marimar mendongakkan kepalanya ke atas dan menatap Marcel yang masih setia memejamkan matanya.
'Sejak aku tidur bersama dengan Kak Marcel entah kenapa aku sangat nyaman dan merasa di lindungi.' Ucap Marimar dalam hati sambil meletakkan kembali kepalanya di dada bidang Marcel.
Tiba-tiba Marimar teringat ketika dirinya tinggal bersama ke dua orang tuanya dan hidup bahagia namun ketika Ibunya mulai sakit-sakitan Ayahnya mulai berubah hingga akhirnya Ibunya meninggal ketika melihat suaminya membawa wanita selingkuhannya bersama anak selingkuhannya.
Sejak kehadiran Ibu tiri dan adik tirinya hidupnya tidak pernah bahagia bahkan Marimar terpaksa pindah dari kamar kesayangannya karena adik tirinya menyukai kamarnya.
Parahnya lagi calon suaminya di rebut oleh adik tirinya dengan cara melakukan hubungan suami istri padahal pernikahan mereka sebentar lagi.
Tes
Tes
Kamar Marimar pindah yang lebih kecil bahkan Marimar diperlakukan seperti pelayan sedangkan Ayahnya sama sekali tidak perduli. Hal itu membuat Marimar mengeluarkan air matanya hingga membasahi pakaian milik Marcel.
Sebenarnya Marcel sudah bangun namun ketika Marimar bangun membuat Marcel pura-pura tidur. Marcel yang merasakan dadanya basah membuat Marcel membuka matanya dan mendorong perlahan tubuh Marimar.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Marcel dengan nada lembut sambil menghapus air mata Marimar.
"Tiba-tiba aku teringat ketika aku hidup bahagia bersama ke dua orang tuaku hingga Ibuku sakit, Ayah mulai berubah hingga Ayah membawa wanita selingkuhannya bersama anak selingkuhannya." Jawab Marimar sambil masih mengeluarkan air matanya.
"Sstttttt... Sudah jangan di ingat lagi." Ucap Marcel sambil kembali menghapus air mata Marimar dengan menggunakan ke dua ibu jarinya.
"Oh ya, Kakak tahu kamu tidak boleh bekerja di restoran itu karena itu mulai besok kamu kerja di restoran milik temanku dan kita berangkat bersama." Ajak Marcel untuk mengalihkan pembicaraan yang bisa membuat Marimar sedih.
"Kak Marcel." Panggil Marimar tanpa menjawab ucapan Marcel.
"Darimana Kakak tahu kalau aku tidak boleh bekerja di restoran itu?" Tanya Marimar sambil menatap wajah tampan Marcel dari jarak sangat dekat karena dirinya duduk di pangkuan Marcel.
"Karena ketika Kakak pertama kali melihatmu sedih dan minta duduk di pangkuan Kakak membuat Kakak menebak pasti kamu di tolak." Ucap Marcel berbohong.
"Kak Marcel." Panggil Marimar lagi sambil menatap mata Marcel.
"Ya." Jawab Marcel singkat sambil ikut menatap mata indah Marimar.
__ADS_1
"Kak Marcel, menganggap diriku sebagai apa? Kekasih atau sekedar teman?" Tanya Marimar sambil menundukkan kepalanya.
Marimar sangat takut yang semalam dikatakan oleh Marcel hanya sebuah kebohongan terlebih mereka hampir saja melakukan hubungan suami istri.
"Sebelum Kakak menjawab, kamu menganggap diriku sebagai apa? Kekasih atau sekedar teman?" Tanya Marcel balik.
"Aku ingat semalam Kak Marcel mengatakan : Mulai sekarang dan seterusnya kita menjadi pasangan kekasih. Kakak janji untuk selalu melindungi, menjaga dan kita tidak akan melakukan hubungan suami istri sebelum kita resmi menikah." ucap Marimar tanpa menjawab pertanyaan Marcel.
"Aku tidak mungkin mengatakan hanya teman karena kita hampir saja melakukan hal itu dan jawabannya aku menganggap Kakak sebagai kekasihku walau jujur aku ingin percaya dengan apa yang aku dengar tapi aku sangat takut untuk terluka kembali." sambung Marimar.
Grep
"Kamu tidak perlu takut karena Kakak sangat tulus mencintaimu, menyayangi dirimu dan melindungi dari orang jahat." Ucap Marcel sambil memeluk tubuh Marimar.
"Kak Marcel, kalau memang Kak Marcel sangat tulus mencintaiku, menyayangi diriku dan melindungi diriku dari orang jahat tapi kenapa Kak Marcel berbohong?" Tanya Marimar tanpa membalas pelukan Marimar.
"Kakak bohong apa?" tanya Marcel yang tiba-tiba merasakan adik kecilnya mulai menegang ketika Marimar tidak sengaja menggerakkan pinggulnya.
__ADS_1