Pura - Pura Miskin

Pura - Pura Miskin
Dua Pasang Mata


__ADS_3

"Aku takut gendut." Jawab Riana.


"Puding ini tidak mungkin membuat kita menjadi gendut." Ucap Marimar.


"Puding itu pasti sangat manis jadi selain gendut bisa membuat orang terkena diabetes." ucap Riana yang ingin membuat Marimar malu.


"Tenang saja, aku menggunakan gula rendah kalori jadi tidak mungkin membuat orang gendut." Ucap Marimar sambil masih tersenyum dan dengan nada lembut.


"Kalau Riana tidak suka jangan makan dan jangan komentar yang nantinya mempermalukan dirinya sendiri." Celetuk Marcel yang sejak tadi menahan kesal akan perkataan Riana.


"Calon istriku sangat menyayangi ke dua orang tuaku dan juga keluarga besar ku jadi bisa dipastikan Marimar memberikan yang terbaik tanpa ada niat menyakitinya." Sambung Marcel.


Riana yang ingin membalas ucapan Marcel tidak jadi bicara. Riana hanya bisa menahan amarahnya terhadap Marimar yang jelas - jelas tidak melakukan kesalahan.


"Sayang kita mengobrol di taman belakang yuk." Ajak Marcel yang malas melihat Riana.


'Aku tahu Kak Marcel kesal tapi tolong di sini ada Oma dan Opa serta ada Mommy dan Daddy jadi tolong kita hargai mereka. Jangan perdulikan Riana dan anggap saja tidak ada.' Bisik Marimar tepat di telinga Marcel.


Marcel menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian menganggukkan kepalanya sedangkan Mommy Laras mendekatkan wajahnya ke Riana.


'Sekali lagi mengeluarkan suara Oma tidak segan menyuruhmu untuk pulang.' Bisik Mommy Laras dengan nada mengancam.


Glek


Riana menelan saliva nya dengan kasar sambil menahan amarahnya.


"Marcel dan Marimar kalian mengobrol lah di taman karena Mommy dan Daddy ingin bicara dengan Oma dan Opa." Ucap Mommy Dennisa.


"Baik Mom." Jawab Marcel dan Marimar bersamaan sambil berdiri.

__ADS_1


"Aku ikut." Ucap Riana sambil ikut berdiri.


Grep


"Kamu mengobrol lah dengan Angela karena kami ingin bicara penting." Ucap Marcel sambil memeluk pinggang Marimar.


Marimar yang merasa malu melepaskan pelukan Marcel tapi Marcel dengan sengaja memperat pelukannya. Marimar akhirnya membiarkan Marcel memeluknya sedangkan Mommy Laras, Daddy Alvonso, Mommy Dennisa, Daddy Max dan Angela hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya dengan ke bucinan Marcel. Sedangkan Riana hanya bisa menahan amarahnya dan berpikir untuk merebut Marcel dari tangan Marimar.


"Kak Marcel malu." Ucap Marimar dengan wajah memerah.


"Marcel mirip seperti Opa kalau lagi bucin sama Oma." celetuk Mommy Laras.


"Kata Mommy benar, Marcel mirip Daddy dan suamiku kalau menyukai seseorang yang lainnya ngontrak." Sambung Mommy Dennisa.


"Kan ada kata pepatah Mom, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Apapun pasti meniru sifat Opa dan Daddy." Ucap Marcel.


Kini mereka berada di taman belakang, Marcel dan Marimar duduk di bangku taman sambil menatap bunga-bunga yang bermekaran.


"Marimar." Panggil Marcel.


"Ya." Jawab Marimar singkat sambil memalingkan tubuhnya untuk menatap wajah tampan Marcel.


"Ada yang ingin Kakak tanyakan padamu." Ucap Marcel dengan wajah serius.


"Apa itu Kak?" Tanya Marimar penasaran.


"Kenapa tadi kamu mengatakan ingin pergi dari kehidupan Kakak ketika Kakak lagi bicara dengan Riana?" Tanya Marcel.


"Aku merasa Riana pantas berdampingan dengan Kak Marcel karena itulah Marimar mundur dengan cara pergi dari kehidupan Kak Marcel. Aku melakukan itu karena aku merasa tidak pantas berdampingan dengan Kak Marcel." Jawab Marimar apa adanya.

__ADS_1


"Kenapa tidak pantas?" Tanya Marcel.


"Aku seorang gadis miskin sedangkan Kak Marcel pria terkaya nomer satu dan sudah sepantasnya Kak Marcel mendapatkan seorang gadis yang juga kaya dan sederajat." Jawab Marimar.


Grep


Marcel menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian memeluk Marimar dari arah samping.


"Kakak mencintaimu apa adanya, walau mereka kaya tapi tidak ada yang tulus mencintaiku ketika aku menyadari menjadi pria miskin. Mereka memanfaatkan aku untuk memanas-manasi kekasihnya sedangkan kamu, Kamu sangat tulus mencintaiku dan menyayangi Kakak ketika Kakak sedang sakit." Ucap Marcel.


"Harta bisa di cari tapi cinta yang tulus paling susah di cari. Selama ini Kakak mencari gadis yang benar-benar tulus dan Kakak menemukan seorang gadis yang sangat baik, perhatian dan rela di bully ketika kamu merawat Kakak yang lagi sakit." Sambung Marcel.


"Jadi jangan pernah kamu mengatakan kamu tidak cocok berdampingan dengan Kakak karena cocok atau tidaknya Kakak yang menentukannya." Ucap Marcel dengan tegas.


"Jangan perdulikan perkataan mereka karena mereka hanya iri dengan apa yang kamu miliki." Ucap Marcel.


"Iya Kak." Jawab Marimar.


"Keluarga besar Kakak menyetujui hubungan kita itu berarti kamu adalah gadis yang cocok untuk dijadikan istriku karena tidak semua gadis atau wanita bisa masuk dalam keluarga besar Alvonso." Ucap Marcel.


"Terima kasih." Ucap Marimar sambil memeluk Marcel dengan erat.


"Untuk apa berterima kasih?" Tanya Marcel.


"Aku berterima kasih karena Kak Marcel sangat tulus mencintaiku dan mau menerima aku apa adanya." Ucap Marimar dengan tulus.


"Kakak juga berterima kasih karena kamu sangat tulus mencintai Kakak apa adanya bukan ada apanya." Ucap Marcel sambil mengusap bahu Marimar.


Marimar tersenyum kemudian meletakkan kepalanya di dada bidang Marcel sambil menatap ke arah taman bunga. Tanpa sepengetahuan mereka dua pasang mata menatap ke arah Marimar dengan tatapan kebencian.

__ADS_1


__ADS_2