
"Apartemen ini milik Kak Marcel kan?" Tanya salah satu gadis untuk lebih memastikan.
"Setahuku apartemen ini bukan milik Kak Marcel tapi milik teman Kak Marcel." Jawab Marimar dengan wajah bingung.
"Milik teman Kak Marcel?" Tanya ke tiga gadis tersebut.
"Be ..." ucapan Marimar terpotong oleh ucapan seorang gadis yang tiba - tiba datang.
"Kenapa kalian tidak masuk ke dalam apartemen?" Tanya seorang gadis sambil berjalan ke arah mereka.
"Marcelina, katanya Kakak mu menumpang di apartemen ini?" Tanya gadis tersebut tanpa menjawab gadis tersebut yang bernama Marcelina.
Marimar menatap ke arah Marcelina dan matanya membulat sempurna karena wajah Marcelina sangat mirip dengan Marcel.
"Marcelina." Panggil Marimar.
"Ya, Maaf Kakak siapa ya?" Tanya Marcelina.
"Aku Marimar, wajahmu sangat mirip dengan Kak Marcel." Ucap Marimar.
"Tentu saja karena kami saudara kembar." Jawab Marcelina sambil mencari Kakak kembarnya.
"Maaf, silahkan masuk." Ucap Marimar sambil membuka pintu dengan lebar.
"Terima kasih, Kak Marimar siapanya Kakakku ya?" Tanya Marcelina sambil masuk ke dalam dan diikuti oleh ke tiga temannya.
"Calon istriku." Jawab Marcel yang tiba-tiba datang.
Deg
Deg
Deg
Jantung ke tiga gadis tersebut berdetak kencang ketika Marcel mengatakan hal tersebut membuat ke tiga gadis tersebut menatap sinis ke arah Marimar.
'Si*l percuma aku dandan cantik ternyata Kak Marcel sudah mempunyai calon istri.' Ucap gadis pertama dalam hati.
'Wanita ini pasti perempuan mu x ra x han karena serumah dengan Kak Marcel.' Ucap gadis ke dua dalam hati.
__ADS_1
'Bagaimanapun aku akan merebut Kak Marcel dari gadis mu x ra x han itu.' Ucap gadis ke tiga dalam hati.
"Kak Marcel serius mau menikah dengan Kak Marimar?" Tanya Marcelina dengan wajah terkejut.
"Kakak serius." Jawab Marcel.
"Apakah Kak Marcel sudah mengatakan ke Mom ... Mphhhffttt .... " ucapan Marcelina terputus karena Marcel membekap mulut adiknya.
"Sayang, Kak Marcel ingin bicara dengan adikku dulu." Ucap Marcel sambil tersenyum menatap ke arah Marimar.
"Ok." Jawab Marimar singkat sambil membalas senyuman Marcel.
Marcel berjalan sambil menarik adik kembarnya namun sebelumnya menatap tajam ke arah ke tiga gadis tersebut seakan memberitahukan untuk tidak mengatakan yang tidak-tidak ke Marimar.
Setelah agak menjauh Marcel melepaskan bekapan mulut adik kembarnya yang sejak tadi memukul-mukul lengan kakaknya agar melepaskan bekapan nya.
"Hah .... Hah ... Hah ..." Marcelina mengambil dan mengeluarkan udara sebanyak - banyaknya karena kurangnya pasokan oksigen.
Bugh
"Kalau aku mati, bagaimana?" Tanya Marcelina dengan nada kesal sambil memukul lengan Kakaknya.
"Tidak mungkin ma ti, tumben kamu sudah pulang dan langsung ke apartemen Kakak?" Tanya Marcel.
Selama ini Marcelina tinggal di luar negri untuk mengurus perusahaan milik orang tuanya bersama ke tiga temannya yang sekarang ada di sini.
"Ke tiga temanku ingin berkenalan dengan Kak Marcel lebih dekat dan baru sekarang kami bisa libur selama beberapa hari." Jawab Marcelina menjelaskan.
"Buat apa kenalan sama Kakak?" Tanya Marcel.
"Siapa tahu salah satu temanku bisa jadi jodoh Kakak tapi ternyata Kakak sudah mempunyai kekasih. Kakak dan kekasih Kakak tinggal serumah?" Tanya Marcelina kepo.
"Ya." Jawab Marcel singkat.
"Apa Kakak melakukan hubungan suami istri? Apa ke dua orang tua kita sudah tahu?" Tanya Marcelina penasaran.
Ctak
"Aduh, kenapa keningku di sentil?" Tanya Marcelina dengan nada protes sambil mengusap keningnya.
__ADS_1
"Kamu masih kecil tidak boleh ngomongin orang dewasa dan mengenai ke dua orang tua kita tentu saja tahu." Jawab Marcel.
"Aish .... kita itu saudara kembar dan aku lahir terakhir karena aku mengalah sama Kakak yang ingin minta duluan lahir makanya selisih umur kita hanya lima menit." Ucap Marcelina.
"Pintar saja ngelesnya." Ucap Marcel.
"Hehehehe..."
"Oh ya, kenapa tadi mulutku di bekap dan kata Kak Marimar kalau Kakak menumpang di apartemen milik teman Kakak, bukannya apartemen ini milik Kakak?" Tanya Marcelina yang masih bingung dengan ucapan Marimar.
"Karena Kakak menyamar menjadi pria miskin, cerita lebih detail nanti aku ceritakan di mansion milik orang tua kita." Jawab Marcel.
"Intinya kamu jangan mengatakan kalau kita keluarga kaya dan mansion ini milik Kakak." Sambung Marcel.
"Aku masih bingung tapi aku tunggu penjelasan Kakak." Ucap Marcelina.
"Kalau begitu kita kembali ke ruang keluarga dan Kakak harap ke tiga temanmu jangan bikin masalah dengan kekasih Kakak." Ucap Marcel.
"CK ... Ke tiga temanku tidak pernah mencari masalah." jawab Marcelina dengan nada kesal.
"Kita lihat saja." ucap Marcel sambil berjalan ke arah ruang keluarga dengan diikuti oleh Marcelina.
Di tempat yang sama hanya berbeda ruangan di mana ke tiga gadis tersebut duduk sebelum Marimar mengatakannya.
"Mau minum apa?" Tanya Marimar yang berusaha menjadi tuan rumah yang baik mengingat ke tiga gadis tersebut adalah teman calon adik iparnya.
"Tidak usah, kalian tinggal bersama?" Tanya salah satu gadis tersebut dengan wajah sinis.
"Ya." Jawab Marimar singkat.
"Apa kamu tidak malu tinggal bersama seorang pria? Di mana harga dirimu sebagai seorang gadis eh salah pasti kamu sudah tidak gadis lagi mengingat kalian sudah tinggal bersama otomatis sudah pernah tidur bersama dan bisa dipastikan sudah sering melakukan hubungan suami istri." ucap gadis ke dua dengan wajah sinis.
"Paling kalau Kak Marcel bosan tinggal di tendang." celetuk gadis ke tiga.
"Kamu itu tidak pantas mendapatkan Kak Marcel tapi salah satu dari kami yang pantas mendapatkan Kak Marcel." Sambung gadis pertama.
"Kalau salah satu dari kalian merasa pantas mendapatkan Kak Marcel, silahkan dekati Kak Marcel dan katakan pada Kak Marcel kalau kalian lebih cocok dari aku." Ucap Marimar dengan nada santai.
"Ok, kamu jangan menyesal jika Kak Marcel memilih salah satu dari kami." Ucap ke tiga gadis tersebut secara bersamaan.
__ADS_1
"Kenapa namaku di sebut?" Tanya Marcel tiba-tiba datang dengan diikuti oleh adik kembarnya.