
"Ada apa Kak?" Tanya Marimar sambil berjalan ke arah ruang makan.
"Kamu darimana?" Tanya Marcel sambil berjalan ke arah Marimar.
"Mengobrol sama Mommy dan Daddy." Jawab Mommy Dennisa sambil berjalan ke arah mereka.
"Mommy dan Daddy datang bersama Marcelina?" Tanya Marcel dengan wajah terkejut.
"Mommy, Daddy dan tidak sabar melihat calon menantu Mommy." Jawab Mommy Dennisa.
"Mommy apa Daddy?" Tanya Daddy Max.
"Hehehehe."
"Maaf, aku hanya membuat sarapan roti sandwich." Ucap Marimar tidak enak hati.
"Tidak apa-apa santai saja." Jawab Mommy Dennisa.
"Kebetulan sekali aku lapar." ucap Marcelina sambil duduk di kursi makan diikuti dengan yang lainnya.
"Dasar tukang makan." Cibir Marcel.
"Biarin." Ucap Marcelina.
"Kak Marimar, aku punya dosen yang sangat tampan mau tidak aku kenali?" tanya Marcelina.
"Aduh sakit." Ucap Marcelina sambil memegangi telinganya yang ditarik oleh Marcel.
Marcel yang mendengar ucapan adik kembarnya langsung menjewer telinganya membuat Marcelina kesakitan.
"Kak Marimar, Kak Marcel nakal." Adu Marcelina yang kebetulan duduk di sebelah Marimar.
__ADS_1
Saat ini Marimar duduk di tengah-tengah antara Marcel dan Marcelina.
"Kak Marcel." Panggil Marimar.
"Ada apa Sayang?" Tanya Marcel sambil tersenyum manis di depan Marimar dan tangan kanannya mengusap rambut Marimar dengan lembut.
Grep
'Kak Marcel malu ada Mommy dan Daddy,' Bisik Marimar.
"Kamu manggil orang tuaku Mommy dan Daddy?" Tanya Marcel dengan wajah terkejut.
"Mommy yang minta, apakah tidak boleh? Tanya Mommy Dennisa.
"Tentu saja boleh, jadi Marcel secepatnya akan menikahi Marimar." Jawab Marcel sambil tersenyum bahagia.
"Baguslah, bagaimana Minggu depan kalian menikah?" Tanya Mommy Dennisa.
"Apakah tidak terlalu cepat Mom?" Tanya Marimar.
"Betul kata Daddy, lebih cepat lebih baik." Ucap Marcel.
"Besok pun Marcel bersedia untuk menikah." Sambung Marcel penuh semangat.
"Lebih baik Minggu depan dan selama satu minggu Marimar tinggal bersama kami atau tinggal bersama Marcelina." Ucap Mommy Dennisa.
"Tidak bisa." Ucap Marcel tidak terima jika Marimar tinggal bersama ke dua orang tuanya atau dengan adik kembarnya.
"Lebih baik tinggal bersamaku saja Mom, supaya Marcelina ada teman untuk mengobrol." Sambung Marcelina tanpa memperdulikan kalau Kakak kembarnya keberatan.
" Baiklah, kalau begitu mulai hari ini Marimar tinggal bersama Marcelina." Ucap Mommy Dennisa.
"Tapi Mom, Marcel keberatan." Ucap Marcel yang tidak terima jika dirinya jauh Marimar.
__ADS_1
"Kalau kamu keberatan maka Mommy akan menjodohkan Marimar dengan sahabat Mommy atau sahabat Daddy." Ucap Mommy Dennisa dengan nada setengah mengancam.
"Aish Mommy tega banget memisahkan Marcel dengan Marimar." Ucap Marcel dengan wajah cemberut.
"Biarin, agar kamu tidak macam - macam dengan Marimar." Jawab Mommy Dennisa.
"Marimar tinggal sama Marcelina dan tidak ada bantahan." Ucap Daddy Max dengan nada tegas.
"Tapi Dad ..." Ucapan Marcel terpotong oleh Daddy Max.
"Kamu tinggal pilih mana menunggu seminggu atau kami menjodohkan Marimar dengan sahabat Daddy atau sahabat Mommy." Ucap Daddy Max.
Marcel hanya terdiam hanya saja wajahnya terlihat terjelas kalau dirinya sangat dan sangat keberatan karena dirinya tidak bisa jauh dari Marimar.
"Sekarang kita sarapan setelah itu kalian berangkat kerja di restoran." Ucap Daddy Max mengalihkan pembicaraan.
'Karena ada kejutan untuk Marimar.' Sambung Daddy Max dalam hati.
"Betul kata Daddy, mari kita makan." Ucap Marcelina.
Grep
Marcel yang ingin protes langsung diam ketika Marimar menggenggam tangan Marcel tanda supaya Marcel diam dan tidak protes. Marcel langsung menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian merekapun sarapan bersama hingga lima belas menit mereka sudah selesai makan.
"Aduh enak banget buatan Kak Marimar, tidak sabar tinggal bersama Kak Marimar." Ucap Marcelina sambil tersenyum bahagia.
"Kamu enak tapi Kakak tidak enak." Cibir Marcel.
"Maksud Kakak?" Tanya Marcelina.
"Kamu enak setiap hari bisa merasakan masakan Marimar tapi Kakak." Ucap Marcel.
"Hehehehe..."
__ADS_1
"Bagaimana kalau kamu tinggal bersama Kakak?" Tanya Marcel penuh harap tanpa memperdulikan tawa adik kembarnya.