
Miyuki merasa di bagian kaki nya sedikit sakit setelah hampir terjatuh ketika dansa tadi, ia terus melihat kaki nya.
"Kau kenapa?" Tanya Khan Freedlay.
"Kaki ku sedikit sakit." Ucap Miyuki yang masih menunduk melihat kakinya.
Tiba - tiba Khan Freedlay mengangkat Miyuki lalu mendudukkan nya di pinggiran teras. Setelah itu ia melepas sepatu hak milik Miyuki dan melihat kaki Miyuki yang terkilir.
"Kaki mu terkilir, sudah dibilang kan ini akibat sepatu gratis." Ucap Khan Freedlay, lalu ia memijat kaki Miyuki.
"Apaan sih, kau masih saja membahas itu." Gerutu Miyuki.
Terdengar suara kembang api yang meledak di langit, Miyuki menoleh ke arah kembang api, "wah."
Setelah memijat, Khan Freedlay pun ikut duduk di pinggiran teras di samping Miyuki.
"Kau tak pernah melihat kembang api ya?" Tanya Khan Freedlay.
"Pernah kok." Jawab Miyuki yang masih menatap kembang api, lalu ia bersandar di pundak Khan Freedlay, "aku teringat ketika kita di danau menerbangkan lampion. Saat itu apa harapan mu?" Sambung Miyuki.
Khan Freedlay terdiam sejenak, "yah.. aku berharap aku bertemu dengan seseorang yang sedang ku tunggu, tapi jika memang aku tidak di takdir kan bertemu dengan nya aku harap ia dapat bahagia di suatu tempat." Jawab nya.
"Apa itu kekasih mu?"
"Bukan."
"Apa itu seseorang yang kau cintai?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Ia adalah seseorang yang sangat berharga untuk ku. Seseorang yang tak dapat digantikan oleh orang lain."
"Gak asik deh kamu mainnya rahasia - rahasia an!" Ucap Miyuki sedikit jengkel.
Khan Freedlay terkekeh, "lalu apa harapan mu?" Tanya nya.
"Aku harap, aku dapat bertemu dengan keluarga ku lagi," bagaimana dengan kondisi ayah ya? apa kah dia masih gila dengan penelitian nya?
"Kau pasti sudah tahu kan jika sudah bekerja di Kerajaan Khan kau tak dapat keluar lagi." Sahut Khan Freedlay.
"Iya aku tahu."
"Akan ku usahakan kau dapat bertemu dengan keluarga mu lagi." Ucap Khan Freedlay.
"Itu sulit." Ucap Miyuki.
"Tidak akan ada kata sulit jika kita berusaha. Jika di rasa sulit, ingatlah lagi dengan keinginan mu, kau tak ingin keinginan mu hanya akan menjadi sebuah harapan belaka kan?" Ucap Khan Freedlay.
"Benar," benar yang dikatakan Freedlay, aku masih memiliki harapan, batin Miyuki.
__ADS_1
"Apa kau bisa sihir?" Tanya Miyuki.
"Tidak." Jawab Khan Freedlay.
"Sayang sekali." Ucap Miyuki.
"Walau tanpa sihir pun aku bisa membahagiakan mu." Sahut Khan Freedlay.
Miyuki tertawa, "waktu kecil aku ingin sekali miliki sihir." Miyuki teringat keinginan masa kecilnya yang konyol.
"Bukan kah kau bisa sihir?" Tanya Khan Freedlay.
Sontak Miyuki pun langsung bangun dari sandaran nya dan menatap Khan Freedlay, "apa maksud mu?" Tanya Miyuki.
"Kau kan bisa menggunakan alat sihir, ingat? kau bisa menggunakan panah sihir kan?" Ucap Khan Freedlay.
"Apakah alat sihir itu akan berguna jika penggunanya memiliki sihir?" Tanya Miyuki.
"Iya."
Pernyataan itu membuat Miyuki terkejut, aku bisa menggunakan sihir? Jangan bilang waktu di tempat senjata Freedlay berpikir keras waktu itu karena memikirkan hal ini? batin Miyuki.
"Kenapa wajahmu terlihat terkejut begitu? apa kau tidak tahu?" Tanya Khan Freedlay.
"Tidak, aku tidak tahu. Apa aku memiliki sihir?" Ucap Miyuki yang masih tidak percaya.
"Jika kau masih ragu, ayo besok kita tes menggunakan bola sihir. Kita bisa mengetahuinya apakah kau memiliki sihir atau tidak." Ucap Khan Freedlay.
Hari semakin larut, acara pesta juga sudah mulai sepi. Miyuki pun pamit untuk kembali ke istana Khan Freedly.
"Ayo ku antar." Ucap Khan Freedlay.
Belum sempat Miyuki menjawab, Raja Brayen menyela dari pintu teras, "tidak perlu, aku yang akan mengantar nya. Karena aku adalah panther nya." Ucapnya dengan menekan kan kata 'panther'.
Oh iya aku tadi datang bersama Ray, "aku pergi dulu Freedlay. Sampai bertemu besok." Ucap Miyuki lalu menghampiri raja Brayen.
"Baiklah." Khan Freedlay hanya terdiam berdiri di sana sambil melihat Miyuki bersama raja Brayen. Ia mencoba untuk menahan dirinya agar tidak menonjok raja Brayen.
"Tenang lah, toh Miyuki tak akan menjadi ratunya." Ucapnya lirih.
.
.
Di perjalanan ke istana Khan Freedly.
"Sepertinya asik sekali pembicaraan kalian berdua, apa yang kalian bicarakan?" Tanya raja Brayen yang seolah - olah tidak mengetahui apa - apa.
"Tidak ada kok, oh iya terimakasih untuk gaun dan barang - barang nya." Ucap Miyuki.
"Tidak masalah kok, jika bukan dengan cara ini kau pasti tidak akan mau menjadi panther ku. Iya kan?" Ucap Raja Brayen.
__ADS_1
Miyuki mengalihkan pandangan, memang benar sih, jika bukan karena bantuan nya aku sudah pasti tidak akan berdiri disini bersama nya, batin Miyuki.
"Tuh kan, sudah aku duga." Ucap Raja Brayen.
"Pasti kau membaca pikiran ku kan!" Ucap Miyuki dengan sedikit nada tinggi.
"Hehe benar~"
"Hargai lah privasi ku."
"Iya - iya my Lady." Ucap Raja Brayen dengan suara yang sedikit jahil.
Miyuki langsung terbelalak karena mendengar ucapan nya Raja Brayen. Mereka pun melanjutkan perjalanan, tetapi tak lama kemudian Raja Brayen melontarkan pertanyaan yang sulit di jawab bagi Miyuki.
"Apa ada orang yang kau sukai?"
Miyuki terdiam sejenak, kenapa ini, bukan kah aku hanya perlu mengatakan tidak? kenapa aku sangat berat untuk mengatakan nya. Batin Miyuki.
"Kenapa diam?"
Miyuki pun tersadar, "oh em yah, entah lah." Jawab Miyuki dengan ambigu.
"Ambigu sekali sih jawaban mu."
"Suka - suka aku dong."
Mereka pun sampai di istana Khan Freedly.
"Sudah sampai, aku pergi dulu." Miyuki langsung pergi meninggalkan Raja Brayen di halaman depan istana.
Ada - ada saja pertanyaan nya, batin Miyuki.
Miyuki pun sampai di ruangannya, ia di sambut oleh kasur nya yang empuk.
"Akhirnya aku kembali ke kasur ku! Yah besok aku harus bekerja lagi. Tidak apa - apa deh." Ucap Miyuki lalu berbaring di kasur nya sesudah berganti baju.
.
.
Keesokan harinya.
Miyuki dihadapi dengan bola sihir di depan nya. Ia bersama Khan Freedlay datang ke tempat khusus untuk mengetes kekuatan sihirnya.
"Sekarang letakkan tangan kanan mu di atas bola sihir ini. Jika muncul sinar dari bola sihir ini berarti dirimu memiliki kekuatan sihir." Ucap petugas yang bertanggung jawab atas bola sihir itu.
Miyuki sedikit ragu untuk menyentuh bola sihirnya, tapi ia juga penasaran apakah dirinya memiliki sihir atau tidak. Miyuki menatap Khan Freedlay, Khan Freedlay hanya mengangguk dan pada akhirnya Miyuki memberanikan diri untuk menyentuh bola sihir itu.
Miyuki meletakkan tangan nya di atas bola sihir, bola sihir pun mulai bereaksi.
"Bola sihirnya-"
__ADS_1
...RAHASIA DIBALIK TIRAI ...