
"Dengar ya, itu hanyalah rumor. Kau tak perlu mendengarkan apa kata orang lain tentang mu. Mau satu dunia mereka bilang kau peri terkutuk, peri pembawa sial jika tak ada bukti yang menyatakan itu semua berarti mereka hanya berbohong."
"Tapi jika terbukti aku adalah peri terkutuk itu?" Suara Miyuki sedikit bergetar.
Raja Brayen tersenyum lembut, "walaupun kau adalah peri, aku percaya bahwa kau bukanlah peri terkutuk itu." Raja Brayen mengusap kepala Miyuki.
"Aku yakin, di dalam lubuk hati mu yang terdalam kau menyangkal bahwa dirimu adalah peri terkutuk." Senyum lembut terlukis di wajah Raja Brayen.
"Coba untuk percaya pada dirimu sendiri. Katakan pada dunia bahwa dirinya salah memilih target seperti mu." Sambungnya lagi.
"Ray.." Perasaan Miyuki sedikit lega karena kata - kata Raja Brayen.
Raja brayen terkekeh, "tidak perlu merasa terharu."
"Kau ini tidak bisa melihat situasi ya."
"Dari pada kau mengeluarkan air mata dari mata cantik itu, itu akan membuat hati ku seperti tersayat oleh pisau yang tajam."
Dasar Raja gombal, batin Miyuki.
Raja Brayen tertawa, "aku bisa mendengarnya loh."
"..."
"Kau ingin mendengar cerita ku tidak?" Ucap Raja Brayen.
"Cerita apa?" Jawab Miyuki sembari mengunyah makanannya.
"Sebenarnya, aku tak menginginkan tahta Kerajaan Layen."
"Kenapa?" Tanya Miyuki penasaran.
"Karena tahta ini sebenarnya milik Frayen."
__ADS_1
"Duke Frayen Vercia?" Miyuki sedikit terkejut dengan kebenaran itu.
Raja Brayen mengangguk, "benar. Mendiang ayah Frayen sekaligus paman ku beliau adalah seorang Raja Kerajaan Layen. Setelah beliau wafat, istrinya yaitu Ratu Kerajaan Layen menyerahkan kekuasaan nya dan menyerahkan kekuasaan Putra Mahkota yang di miliki oleh Frayen lalu kembali ke Duchy, tepat nya ke kediaman Duke Vercia.
Saat itu aku yang masih berumur delapan belas tahun harus menggantikan posisi Raja Kerajaan Layen, karena ayah ku juga wafat di hari yang sama dengan paman ku. Memang tak masuk akal seorang anak yang baru saja melewati hari kedewasaannya harus memimpin suatu negara.
Awalnya aku menolak mati - matian untuk tidak menjadi Raja di usia muda. Tapi, para dewan bangsawan bersikeras memaksa ku untuk menjadi Raja muda. Aku yang masih baru dengan kehidupan Kerajaan merasa sendirian di tengah kekangan itu.
Ketika aku sudah mulai berdamai dengan keadaan, mereka mengatur pernikahan politik ku tanpa persetujuan ku. Ibu ku yang haus kekuasaan menyetujuinya saja, tapi sayangnya istriku meninggal setelah melahirkan anakku, ah bukan anakku tapi anak istriku dengan selingkuhan nya."
Raja Brayen bercerita tapi pandangan nya masih berfokus pada teh nya.
Miyuki terdiam sejenak sebelum mengutarakan kata - katanya, "pasti sulit bagi mu menjalani hari-hari yang penuh kekangan itu. Tapi kau hebat Ray! Kau bisa menjalani nya walau itu pasti tidak mudah. Mungkin masa kecil mu penuh kekangan, tapi sekarang aku yakin kau bisa menjadi orang luar biasa seperti ini karena proses mu itu." Miyuki tersenyum kepada Raja Brayen.
Raja Brayen meminum teh nya lalu tersenyum dibalik cangkir teh itu. Kau memang selalu mengejutkanku, Miyuki. Batin nya.
Keluar sedikit air mata dari Raja Brayen, "eh kau menangis?" Tanya Miyuki yang kebingungan.
"Ah ternyata kau bisa mengeluarkan kalimat-kalimat itu ya, terima kasih." Raja Brayen tersenyum.
"Aku terlalu sibuk dengan urusan negara, bahkan setelah upacara pernikahan aku tidak pernah menemuinya sama sekali, mungkin sebab itu dia selingkuh." Jawab Raja Brayen dengan santai.
Miyuki tak habis pikir dengan jawaban Raja Brayen, "jadi siapa yang harus disalahkan atas kejadian itu?"
"Hahaha salah siapa dia rela menjadi mata-mata dari musuh Kerajaan ku. Rasakan sendiri." Jawab Raja Brayen dengan sedikit mengumpat.
"Lalu, bagaimana dengan anak nya?" Walau anaknya tidak bersalah, tapi dunia ini jahat. Batin Miyuki.
"Aku berencana mengembalikan anak itu kepada keluarga istri ku setelah menyingkirkan beberapa lagi cacing-cacing yang berkedok bangsawan itu."
Miyuki hanya terdiam dan merasa lega karena Raja Brayen sudah melewati masa-masa yang penuh kekangan itu. Seorang anak kecil yang baru mengerti dunia luar sudah menjadi orang dewasa yang bijaksana walau terkadang menyebalkan.
"Berarti kau sekarang statusnya duda dong?" Miyuki bertanya dengan nada main-main.
__ADS_1
"Jangan mengejek ku. Sebentar lagi aku akan terlepas dari status duda itu kok."
"Apa kau akan menikah lagi?" Tanya Miyuki yang masih belum paham.
"Tentu saja, bukankah calon nya sekarang ada di depan ku?" Ucap Raja Brayen dengan nada main-main.
"Hei aku tidak menyetujui nya ya!" Seru Miyuki.
Raja Brayen tertawa, "hahaha."
Setelah sarapan bersama mereka memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar mengelilingi halaman belakang itu.
Raja Brayen melihat jejeran bunga daisy yang sangat indah, ia memetik satu dan menyelipkannya di rambut Miyuki.
"Cantik sekali, cocok dengan rambut merah muda mu," ujar nya sembari menyentuh ujung rambut Miyuki.
"A-apasih, hahaha terimakasih," Miyuki tersenyum dengan pipi yang samar- samar memerah.
"Senyum mu cantik," entah mengapa terkadang aku merasa senyum itu hanya boleh diperlihatkan untuk ku seorang saja, batin Raja Brayen.
"Senyum mu juga cantik kok, hihi." Deretan gigi Miyuki sedikit terlihat.
"Kau bisa saja." Raja Brayen tersenyum tipis, "kau tahu tidak? Orang pertama yang mendengar cerita ku langsung dari diriku sendiri adalah kau." Sambungnya.
"Apa? Selama ini kau memendam semuanya sendiri?" Tanya Miyuki terkejut.
Raja Brayen mengangguk, "benar. Karena sebagai Raja aku di ajarkan untuk tidak pernah memperlihatkan kelemahan ku pada siapa pun."
Miyuki menepuk kedua pipi Raja Brayen, "hup! Dengar ya sekarang semua itu sudah berakhir, kau boleh bercerita pada orang yang menurutmu kau percayai. Tapi juga harus berhati - hati, karena dunia ini hal yang tak dapat di tebak adalah pikiran manusia."
Raja Brayen tersenyum, deretan giginya mulai terlihat, "terimakasih Lady.. Kau selalu mengejutkan ku." Ucap nya sembari menyentuh tangan Miyuki yang ada di atas pipinya.
Senyum Raja Brayen terlihat tulus, di bawah sinar matahari pagi yang membuat nya tampak bersinar seakan-akan bahwa dirinya baru pertama kali tersenyum lepas seperti itu.
__ADS_1
Tapi mengapa aku merasa bahwa aku tidak akan melihat senyum itu lagi? walau begitu aku harap senyum itu tak akan pernah pudar dari wajah nya.
...RAHASIA DIBALIK TIRAI ...