Rahim Untuk Majikan Kejam

Rahim Untuk Majikan Kejam
16


__ADS_3

''Siapa yang di maksud anak kecil itu ? ada siapa di rumahnya Vino ? cepat katakan ?'' desak jenny ia sangat penasaran.


''hm itu.. saya juga tidak tahu apa yang di maksud arka'' Aksa mengelabui


''hah Jangan anggap aku ini anak kecil ya! yang bakal percaya saja . ayo jelaskan siapa yang tadi kau sebut itu Ar ?'' kini jenny meminta jawaban dari Arkana


''ar juga gak tahu siapa. tapi saat Ar main ke rumah...''


''itu anaknya pembantu. bi Susi '' Aksa cepat-cepat memotong perkataan Arkana.


''oh ya? benarkah ?'' dengan tatapan memicing Jenny bicara


''ya! untuk apa saya berbohong ''


dahi jenny tampak mengernyit. ''jadi itu benar anak pembantu ?'' tanya Jennny lagi


''hm!''


''terus ngapain kamu tadi jawab gak tahu hah?''


''oh itu.. ya aku lupa, ku kira ada lagi wanita yang lain gitu di rumahnya si Abang. kalau wanita itu mah ya, dia anaknya bi Susi '' jelas Aksa . dengan penuh keyakinan. tentunya agar jenny percaya. dan tak banyak bertanya lagi


''Aksa?'' Jenny memanggil


''ya!'' Aksa menoleh lalu fokus menyetir lagi


''cantikkan mana sih itu cewek dengan gue?'' tiba-tiba tanya jenny


Aksa cukup terkejut dengan pertanyaan si Jenny ini


''cantikkan kamu kok '' jawab Aksa


namun dalam hati tapi itu bohong. karena sebenarnya wanita itu yang lebih cantik.. ah aku jadi ingin bertemu lagi dengan nya.. lanjut hatinya bicara.. Aksa sampai senyum-senyum sendiri dengan membayangkan wajah Melisa..


diam-diam Jenny tersenyum bangga saat Aksa mengatakan bahwa dia lah yang paling cantik daripada wanita yang belum dia lihat itu.


Jenny menatap ke arah Aksa. di sana rupanya Aksa juga tengah senyum-senyum.. Jenny pikir Aksa tersenyum karena dirinya yang cantik ini..


lebih bangga lah si Jenny..


si Aksa saja sampai senyum-senyum gitu. saat sebut gue lebih cantik.. tapi si Vino kenapa dia cuek banget ya.. sial !



Tubuh Melisa sudah lebih baik sekarang dia pun tak mau memakan gaji buta. maka dia sekarang mulai lagi melakukan tugas pekerjaannya..


"melisa" panggil Vino setengah berteriak


"ya pak" Melisa pun menghampiri


"cepat kesini. dan pakaikan dasi ini'' suruh nya sambil memberikan dasi pada Melisa


"hah" Melisa melongo mendengar nya


Vino menoleh lagi pada Melisa. "kenapa masih diam. CEPAT"


""i-iya baik pak" Melisa berjalan mendekat. lalu ia mengambil dasi dari tangan Vino.


"maaf pak" ijin nya saat ia akan memasangkan dasi di leher Vino


dengan jarak sedekat ini. Vino bisa mencium aroma wangi tubuh nya Melisa..


diam-diam justru Vino menikmati aroma wangi ini. yang sepertinya sangat menenangkan pikirannya..


Tak sengaja tangan Melisa menyentuh kulit Vino. bagai tesengat listrik. mendadak Vino jantungnya berdegup CEPAT.. Ah sial, burungnya juga mendadak ikut hidup.


Vino menatap wajah Melisa dengan intens.. wajahnya yang entah kenapa Vino baru sadar bahwa wajah Melisa tampak manis. . bulu mata yang lentik. bibir yang merah ranum.


tak sadar Vino menarik tubuh Melisa ke pelukannya. tatapan mata mereka bertemu.


"pak" pekik Melisa tertahan. ia terkejut dengan perlakuan Vino


Vino mendekatkan wajahnya pada wajah Melisa. Vino menatap pada mata dan turun ke bibir Melisa

__ADS_1


ditambah Melisa ini kenapa menggigit tipis bibirnya


Sial... hasratnya Vino semakin mendesak


tak tahan. Vino dengan cepat melabuhkan bibirnya di atas bibir Melisa..


Cup . .


Vino awalnya mengecup tapi lambat laun ia ********** juga!


Melisa sangat terkejut ia membulatkan matanya ..


"emhh . emh! " Melisa coba melepaskan perlakuan Vino itu


namun Vino justru semakin menekuk tubuh Melisa. dan ia juga semakin menikmati..


Hah... hah! nafas Melisa kehabisan.. setelah bibirnya di Serang oleh bibir Vino..


Melisa menatap tajam pada Vino.. dan Plakk Melisa langsung menampar pipi Vino dengan keras.


"Awh" pekik Vino terkejut. wanita ini berani sekali menampar pipinya. pikirnya


Vino balas menatapnya dengan tajam. "kau!" tunjuuk Vino


"apa? mau memarahi ku? silahkan! tapi asal Kau tahu ya pak! aku ini memang orang susah tapi aku tidaklah murahan"


"apa maksudmu?" sungguh Vino tak mengerti


"jangan mentang-mentang aku ini orang gak punya bapak bisa se enaknya melakukan itu pada saya . bapak sudah merebut ciuman pertama saya" jelas Melisa bahkan tiba-tiba ia menangis sesenggukan..


"Hah apa?" Vino terkejut


"ciuman pertama mu?" tanya Vino lagi


"ya!"jawab Melisa. tapi setelah sadar dia malu juga mengatakan hal itu pada pria asing ini . Melisa pun buru-buru melengos pergi dari hadapan Vino


Vino menatap kepergian wanita itu.. namun tak sadar bibirnya melengkung ke atas..


Vino geleng-geleng kepala.. ia rasanya mau gila..


Vino pun berlalu sambil mengacak rambutnya. ini sungguh gila..


bisa-bisanya dia berciuman dengan seorang pembantu. pikirnya


"sial, bisa gila kalau seperti ini terus!"


Melisa memukul kepalanya beberapa kali.."Astaga Mel. kenapa kamu tadi diam saja sih Mel.. coba kamu tadi pukul dia lebih keras. atau ya kau tendang punya dia itu" Melisa mengomel sendiri


"hikss.. kenapa dia menculik ciuman pertama ku ini..eh dia mencuri nya, iyaitu maksud ku.. hikss dia kejam sekali"


Melisa memukul bantal berkali kali..


Melisa meraba bibirnya.. "kenapa bibirku terasah bengkak begini ya. dia itu manusia atau apa sih" Melisa menggerutu



Besoknya.. Melisa coba menghindari Vino. tapi sayang pekerjaannya itu harus melakukan pekerjaan di kamarnya pria itu.


ceklek . Melisa membuka pintu kamar Vino.


Vino rupanya masih tertidur


Lihat dia.. enak banget dia, bisa tidur se nyenyak itu.. tanpa rasa berdosa gitu.. Melisa mengomeli di hatinya..


Melisa berjalan mendekati jendela. lalu dia menbuka gorden kamar Vino..


Vino langsung menarik selimut dan menutupi wajahnya. agar terhindar dari silau matahari.


"Tutup lagi gorden nya" suruh Vino


"maaf. tapi ini sudah siang pak" jelas Melisa


"saya masih mau tidur" kata Vino

__ADS_1


"nanti Anda terlambat" ucap melisa mengingatkan


"tidak masalah.. aku adalah bos nya"


ya ya ya..bos seenaknya.. Melisa bicara tanpa suara dengan mengejek perkataan Vino..


Vino diam-diam bertanya-tanya kok tidak ada lagi suara Melisa. pikirnya . apa dia keluar?


perlahan Vino menyingkap selimut itu. saat ingin memastikan keberadaan Melisa. ia justru terkejut


"Waaaa..." teriak Melisa mengejutkan Vino


"Oh astaga!" Vino kaget . ia mengusap dadanya


"Ya bagus akhirnya mau bangun juga! " Melisa tertawa


"Sialan.. ngapain sih masih disini"


"bapak kira saya sudah keluar ya? tadi saja sayw suruh bangun bilang masih ngantuk.. sekarang saya diam. bangun dengan sendirinya ya!" ejek Melisa


"hei berani sekali kamu....." Vino menatapnya tajam


tapi tiba-tiba


Ting triling...


ponsel Melisa mendadak bunyi dengan nyaring.di tambah itu ponsel jadul..


"hei ponselmu itu berbunyi terus.. mengganggu sekali " ucap Vino dengan cetus


"iya maaf pak. saya permisi untuk angkat dulu telpon dari kampung pak"


"ya !"


Melisa mengangkat sambil berjalan keluar dari kamar Vino


[Ya Bu ada apa?] tanya Melisa dari balik telpon


[Bagaimana kabar kamu disananak?]


[Mel baik Bu.. gimana ibu dengan kakak?]


[Semua juga baik. hanya kakak mu yang masih sama. oh ya


Mel.. kamu sudah dapat pekerjaan ?] tanya ibu Melisa.


[Iya sudah Bu.. Mel sudah dapat kerja] jawab Melisa


[oh baguslah Mel.. tapi nak] tiba-tiba nada suara ibu Melisa tampak Risau


[kenapa Bu ?ada apa ?] Melisa ikut cemas


diam-diam Vino penasaran.. ia pun menguping tanpa Melisa tahu..


[begini nak. ini kakakmu penyakitnya kambuh lagi. dan kata dokter kakakmu. harus di rawat. tapi ibu tidak punya uang nya nak] ucap ibu Melisa menjelaskan


Melisa menghela nafas berat..


[Bu.. maafkan Melisa.. Mel belum punya uang nya Bu]


[ tidak apa-apa sayang.. tapi bisakah kau meminjam dulu pada bos mu?] tiba-tiba ibu Melisa menyarankan


[Apa bu? meminjam uang..] Melisa tampak ragu


[Iya kamu coba dulu saja ya Mel]


[HM ya baiklah Bu.. Melisa coba dulu]


walaupun ia sangat ragu..


Setelah itu panggilan terputus..


Melisa berjalan dengan langkah gontai. seakan ia tak bersemangat lagi melakukan pekerjaan hari ini..!

__ADS_1


__ADS_2