
''Tidak boleh '' tiba-tiba Vino datang menghampiri mereka, dan berucap dengan lantang juga melarang Aksa untuk tak boleh makan masakan hasil buatan Melisa.
''Banggggg, kenapa tidak boleh ?'' rengek Aksa sudah seperti anak kecil yang dilarang ibunya beli ice krim . .
''Ya pokoknya tidak boleh ! '' tegas Vino dan tak menjawab alasannya juga tak mau di Bantah
''Iya tapi kenapa ? orang cuma makanan doang kok ! '' bibir Aksa cemberut
''Jangan ngeyel dan banyak tanya, aku bilang tidak ya tidak.! '' masih seperti itu tetap dengan pendiriannya
''Sejak kapan sih Lo pelit soal makanan bang ?'' tanya Aksa keheranan.
''Sejak hari ini '' jawab Vino singkat namun tegas
Dan sejak ada Melisa yang membuat kan makanan, tidak boleh Aksa memakannya. lanjut di hati Vino sambil menatap Melisa.
''Pak, kasihan itu adiknya, tidak apa-apa di bagi, aku masak nya banyakan kok'' Ucap Melisa memberitahu juga merasa tak enak pada Aksa.
''Kenapa kamu malah bicara begitu ?'' cetus Vino
Melisa mengerjap mata beberapa kali ''Loh salahnya dimana ya?'' tanyanya bingung
''Salah kamu yang membela dia, dan melawan perintah ku, lagian saya tidak meminta persetujuan dari kamu jadi diam lah.'' Ucap Vino sangat kasar
''Tapi kan,'' menatap Aksa kasihan.
''Bangggg, gue juga mau..'' dengan memelas Aksa meminta pada Vino
__ADS_1
''Baiklah, Aksa kau boleh makan masakan dia.'' akhirnya ucap Vino.
''Asikk, thanks bang..'' dengan senang Aksa sekarang
''Tapi .... tunggu sampai gue selesai makan '' lanjut Vino lagi
Aksa melongo
''Maksudnya gue makan sisa Lo ? mending kita barengan langsung bang makan nya.''
''Ya itu sih terserah Lo,Lo maunya kaya apa, mau nunggu sisa gue makan, atau tidak gue kasih sama sekali.'' tegas Vino
Aksa sampai membuang nafas kasar,
Punya kakak satu satunya gini amat sih !
''Gimana,loau pilih yang mana ?'' tanya Vino dengan senyum miring
''Kayaknya Lo demen banget Ak, sama wanita kampung itu,? sampai-sampai Lo pengen banget nyicipi masakannya'' ucap Vino bertanya pada Aksa namun ucapannya itu begitu menyakiti Melisa, dan Vino bicara sangat datar tak berpikir dulu dengan perasaan Melisa.
Apa salahnya dengan wanita kampung? Toh dia pun juga sama punya hati perasaan juga dia sama manusia seperti Vino.. sungguh kali ini Vino sangat melukai hatinya Melisa..
Melisa langsung menunduk sedih,
Apa salahnya dia, yang hidup jadi orang tak berada, kalau boleh memilih, Melisa pun ingin seperti Vino dan yang lainnya, yang sedikit memiliki harta..
Melisa coba menguatkan hatinya yang sangat sakit , harus mendengar perkataan tajam dari mulut Vino..
__ADS_1
Aksa semakin merasa tak enak dengan Melisa,
Karena dirinya lah, sekarang Melisa sampai harus mendengar kata-kata kasar dari Abang nya..
Aksa mendekati Melisa yang tengah menunduk kan kepalanya, mungkin menyembunyikan rasa sedihnya..
''Lisa, kau tenanglah aku disini bersamamu.'' Ucap Aksa pelan di telinga Melisa.
''Bang,'' Aksa pun memanggil Vino
Vino sedari tadi menatap keduanya, sesaat setelah Aksa mendekati Melisa tadi..
''Sorry bang, kalau Lo memang tidak mau membagi makanan itu buat gue, gue gak masalah bang. Tapi asal satu hal yang harus Lo ketahui bang, jangan pernah Lo bicara seperti itu lagi kepada Melisa.. Dia memang dari kampung bang, tapi, dia punya hati, dia manusia sama seperti kita bang, yang bisa merasakan sakit dengan hinaan, sama seperti yang tadi Lo sebutkan pada Melisa, kalau dia orang kampung, tapi, walaupun dia orang kampung, asalkan hatinya baik, tidak jahat seperti Lo..'' balas Aksa panjang lebar dan tak kalah menusuk kata-katanya dari yang Vino ucapkan, juga membalikkan perkataan Vino agar Vino sadar akan hal itu, kalau di mata Tuhan semua manusia itu sama .
Memang sesekali mulut pedas Vino ini harus di balas. Agar tak lagi merendahkan orang lain yang lebih bawah darinya,
Sebenarnya Aksa sudah tahu dengan tabiat kakaknya ini, yang memang suka menyepelekan orang rendah, juga suka berbicara semau nya saja.
Aksa tahu betul dengan sifat asli Abang nya ini, tapi kali ini Aksa tak bisa membuat Vino mengatai Melisa seperti tadi, dengan kata-kata yang begitu sangat menyakiti , rasanya Aksa tidak terima akan hal itu, Vino berbicara kasar pada wanita yang lembut seperti Melisa.
''Ayo, Lisa . Sebaiknya kita pergi,'' ajak Aksa pada Melisa dan memegang tangan Melisa lalu membawa nya pergi.
Vino menatap tajam pada adiknya ini,
''Tunggu Aksa, '' cegah Vino
''Jangan sekali-kali kau coba membawanya pergi.'' kembali Vino melarang
__ADS_1
''Kenapa bang? kenapa jangan? dengar bang, Melisa ini seorang wanita, tidak sepantasnya Abang bicara kaya tadi padanya '' tegas Aksa
Vino semakin marah . .