
"Apa? Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Nicole sambil membalikkan badannya dan berjalan ke arah lemari pakaian.
"Orang kepercayaan Tuan Raka dan Sekretaris Tuan Raka melakukan kerja sama." Jawab pelayan tersebut.
"Jangan melihatku memakai baju!" Perintah Nicole sambil menarik jubah handuk.
Walau pelayan itu perempuan tapi Nicole merasa risih jika pelayan tersebut menatap tubuh polosnya terlebih tubuh polosnya banyak bentol-bentol akibat ulah suaminya.
"Baik Nyonya." Jawab pelayan tersebut sambil membalikkan badannya.
"Berkerja sama dalam bidang apa? Kenapa suamiku bisa marah besar dan mengumpulkan semua penghuni mansion?" Tanya Nicole sambil melepaskan jubah handuknya dan memakai bungkusan yang menutupi dua gunung kembar miliknya kemudian berlanjut memakai segitiga bermuda.
"Orang kepercayaan Tuan Raka menginginkan agar Nyonya tidak bisa hamil agar dirinya bisa menjadi Nyonya Raka sedangkan sekretaris Tuan Raka menginginkan semua data perusahaan milik Tuan Raka." Jawab pelayan tersebut menjelaskan.
"Apa?" Tanya Nicole dengan wajah terkejut hingga dress yang akan digunakan jatuh ke lantai.
"Orang kepercayaan Tuan Raka meminta bantuan sekretarisnya untuk membeli obat penggugur kandungan agar Nyonya tidak bisa hamil dan obat itu tidak bisa terdeteksi oleh dokter manapun sedangkan sekretaris meminta orang kepercayaan Tuan Raka untuk mencuri data penting di ruang kerja Tuan Raka." Jawab pelayan tersebut menjelaskan apa yang telah terjadi.
"Darimana kamu bisa tahu semuanya?" Tanya Nicole penasaran sambil mengambil dress-nya kemudian memakainya.
"Waktu mereka mengobrol saya tidak sengaja mendengarnya dan saya ingin mengatakan ini ke Tuan Raka dan Nyonya tapi ternyata Tuan Raka juga sudah ada di tempat itu dan langsung memerintahkan anak buahnya untuk membawanya ke ruang bawah tanah selain itu semua penghuni mansion dikumpulkan di rumah sebelah." Jawab pelayan tersebut menjelaskan apa yang barusan di dengarnya.
"Baik, kalau begitu kita pergi ke sana karena aku tidak ingin orang bersalah terkena dampaknya dan mengenai ke dua orang itu maaf aku tidak bisa membantunya karena mereka sangat kejam." Ucap Nicole sambil berjalan ke luar dari kamarnya dengan diikuti oleh pelayan tersebut.
Nicole tidak memperdulikan nasib ke dua orang tersebut karena dari awal melihatnya Nicole memang tidak menyukai mereka berdua di tambah perbuatan mereka membuat dirinya tidak bisa hamil. Nicole sangat menginginkan keturunan begitu pula dengan suaminya.
"Jika kesalahan mereka tidak berat aku akan memberikan kesempatan ke dua dengan membujuk suamiku tapi karena mereka telah membuatku tidak bisa hamil maka semua keputusan aku serahkan ke Suamiku." Ucap Nicole sambil berjalan dengan langkah cepat begitu pula dengan pelayannya.
"Benar Nyonya, mereka sangat jahat dan sudah sepantasnya di hukum dengan berat. Saya tahu bagaimana rasanya tidak bisa hamil karena saya pun juga tidak bisa hamil hingga suamiku selingkuh dan aku ditinggalkan." Ucap pelayan tersebut dengan wajah sendu.
"Percayalah suatu saat nanti ada seorang pria yang tulus mencintaimu dan mau menerima apapun dirimu." Ucap Nicole sambil menuruni anak tangga dengan berlari.
"Amin. Nyonya jangan berlari nanti jatuh." Ucap pelayan tersebut ikut berlari.
"Aku takut suami ku lagi menghukum orang yang tidak bersalah." Ucap Nicole sambil masih berlari.
'Nyonya memang sangat berbeda dan aku hanya bisa berdoa semoga Nyonya bisa hamil dan hidup bahagia dengan Tuan.' Ucap pelayan tersebut dalam hati.
Lima menit kemudian mereka sudah sampai di sebuah rumah samping mansion.
"Maaf Nyonya, saya sangat takut di hukum ma ti jika saya memberitahukan Nyonya." Ucap pelayan tersebut dengan tubuh gemetar.
"Saya masih ada orang tua dan adikku yang masih membutuhkan biaya tapi jika Nyonya takut saya akan menemani Nyonya." Sambung pelayan tersebut walau dalam hatinya sangat takut.
"Tidak perlu, kamu bersembunyi lah biar aku masuk ke dalam," jawab Nicole.
"Baik Nyonya," jawab pelayan tersebut sambil mencari tempat persembunyian.
Nicole perlahan membuka pintu hingga Nicole mendengar suara samar-samar berteriak kesakitan membuat Nicole memberanikan diri untuk masuk ke dalam ruangan tersebut.
Mata Nicole membulat sempurna ketika suaminya yang selama ini bersikap romantis dan memberikan limpahan kasih sayang kini dilihatnya seperti monster yang tidak punya perasaan. Raka menulikan teriakan kesakitan ketika Raka mencambuk salah satu penjaga cctv.
Grep
Nicole berlari menuju ke arah suaminya kemudian memeluk suaminya dari arah belakang sambil terisak.
"Hiks ... Hiks ... Hiks ... Sayang aku mohon jangan menyiksa mereka." Mohon Nicole sambil terisak di punggung kekar suaminya.
Deg
Deg
Jantung Raka berdetak kencang di tambah Raka sangat terkejut begitu pula dengan anak buahnya namun mereka hanya bisa menundukkan kepalanya karena mereka sangat takut dengan kekejaman Tuan Raka.
Raka membuang asal cambuk tersebut kemudian melepaskan pelukan istrinya lalu membalikkan badannya. Raka menghapus air mata istrinya dengan menggunakan ke dua ibu jarinya.
"Kamu tahu Sayang, aku menghukum orang itu karena dia sebagai petugas cctv tidak tahu apa yang menjadi tugasnya." Ucap Raka dengan suara yang lebih lembut berbeda dengan anak buahnya sambil menatap wajah cantik istrinya dengan tatapan sendu berbeda ketika Raka menatap orang lain.
"Sayang, jika sayang ku mau marah maka hukumlah ke dua orang itu orang kepercayaan Suamiku dan Sekretaris Suamiku karena mereka telah membuatku sulit mendapatkan keturunan." Ucap Nicole sambil memegang rahang suaminya.
Grep
"Sayangku sudah tahu?" Tanya Raka dengan wajah terkejut sambil menggenggam tangan istrinya.
"Sudah, sekarang bebaskanlah mereka dan berikan kesempatan ke dua. Untuk yang terluka tolong di bawa ke rumah sakit untuk di obati." Pinta Nicole sambil tersenyum menatap wajah tampan suaminya.
"Baik." Jawab Raka singkat.
Grep
"Bawa dia ke rumah sakit!" Perintah Raka sambil memeluk pinggang istrinya.
"Baik Tuan." Jawab mereka bersamaan.
"Kalian dengar perkataan istriku?" Tanya Raka.
"Dengar Tuan." Jawab mereka bersamaan lagi.
"Bagus, aku akan memberikan kesempatan ke dua dan aku harap kalian jangan sia-siakan kesempatan itu." Ucap Raka dengan nada dingin dan wajah datar.
"Baik Tuan dan terima kasih banyak Tuan dan Nyonya." Ucap mereka bersamaan lagi karena mereka terbebas dari hukuman.
"Sama-sama." Jawab Nicole sambil tersenyum dan membalas pelukan suaminya.
__ADS_1
'Sungguh beruntung Tuan Raka mendapatkan Nyonya, sudah cantik dan perduli dengan orang rendahan seperti kami.' ucap mereka dalam hati secara bersamaan.
Raka dan Nicole keluar dari ruangan tersebut menuju ke arah mansion mereka sambil masih berpelukan.
"Sayang, hukuman apa yang pantas untuk mereka?" Tanya Raka.
"Mengenai hukuman yang pantas, aku membebaskan suamiku untuk menghukum mereka karena mereka sangat jahat dan keji dengan membuatku sulit mendapatkan keturunan." Jawab Nicole sambil menahan amarahnya.
"Apakah istri tersayang ku ingin menghukum mereka?" Tanya Raka.
"Tidak, Suamiku saja yang melakukannya." Jawab Nicole sambil melepaskan pelukannya begitu pula dengan suaminya.
"Ok." Jawab Raka dengan singkat.
"Kalau begitu aku tunggu di kamar kita." Ucap Nicole sambil melangkahkan kakinya menuju ke arah tangga.
"Ok, siap." Jawab Raka sambil tersenyum menyeringai.
"Senyum Kak Raka jelek." Ucap Nicole sambil menaiki anak tangga satu demi satu tanpa membalikan badannya.
"Sayang, dari mana istriku tahu kalau aku tersenyum?" Tanya Raka terkejut karena istrinya bisa tahu kalau dirinya tersenyum padahal Nicole berjalan menaiki anak tangga.
"Tahu dong," jawab Nicole.
Raka hanya tersenyum kemudian berjalan ke arah tangga lainnya yang menuju ke lantai bawah tempat biasanya dirinya menyiksa musuhnya hingga meregang nyawa.
Teriakan kesakitan tidak akan di dengar karena Raka merancang khusus agar ruangan itu kedap suara.
Raka menuruni anak tangga satu demi satu hingga akhirnya Raka melihat orang kepercayaannya dan Sekretaris tersebut di ikat di tiang ke dua tangan dan ke dua kakinya.
Raka yang awalnya tersenyum dan menatap istrinya dengan tatapan penuh cinta dan sayang mendadak langsung berubah dengan tatapan yang sangat mengerikan bagi siapa saja yang menatapnya.
"Siapa yang menyuruhmu melakukan ini?" Tanya Raka ke arah sekretaris barunya sambil berjalan ke arah dinding untuk mengambil cambuk.
Hening
Hening
Ctas
"Akhhhhhhhh..." Teriak sekretaris tersebut ketika cambukan itu mengenai tubuhnya.
Raka menghentikan cambukan nya kemudian menatap tajam ke arah orang kepercayaannya..
"Suntik wanita itu dengan obat perang x sang dosis tinggi agar dia mati karena tubuhnya akan sangat tersiksa karena tidak mendapatkan sentuhan dari pria lain!" Perintah Raka dengan nada dingin dan wajah datar.
"Baik Tuan," jawab salah satu anak buahnya sambil berjalan ke arah kotak kecil yang berisi obat-obatan berbagai jenis racun termasuk juga ada obat perangsang.
"Tuan, maafkan aku ... Aku mohon berikan aku kesempatan ke dua." Mohon orang kepercayaannya sambil mengeluarkan air mata buayanya.
"Padahal semua penghuni mansion tahu kalau istriku sangat menginginkan seorang anak tapi kamu dengan keji menyuruh sekretaris ku untuk membeli obat agar istriku tidak bisa hamil. Sekarang kamu minta kesempatan ke dua? Tidak akan aku berikan karena kesalahanmu sangat fatal." Ucap Raka sambil menatap tajam ke orang kepercayaannya seakan ingin mencekiknya.
"Berikan obat perang sang sekarang!" Perintah Raka.
"Baik Tuan." Jawab anak buahnya sambil mengambil suntikan dan ampul.
Anak buahnya memasukkan suntikan ke dalam ampul kemudian menarik suntikan agar obat perang sang masuk ke dalam suntikan.
Dela berusaha memberontak namun ikatan rantai ke dua tangan dan ke dua kakinya sangat erat membuat pergelangan nya memerah baik tangan maupun kaki.
Salah satu anak buahnya memegangi tangan anak buah kepercayaan Raka dan satunya lagi menyuntikkan ke lengannya.. Raka tersenyum devil kemudian pandangan arah matanya ke arah sekretaris tersebut yang sedang meringis menahan rasa sakit akibat di cambuk.
Ctas
"Akhhhhhhhh...." Teriak sekretaris tersebut ketika cambuk itu mengenai kembali tubuhnya.
"Katakan siapa orang yang menyuruhmu?" Tanya Raka dengan suara menggelegar.
Hening
Hening
"Baiklah karena tidak mengaku, berikan dia suntikan beracun di mana seluruh tubuhnya akan melepuh!" Perintah Raka dengan kejam.
"Baik Tuan." Jawab anak buahnya sambil berjalan kembali ke arah kotak kecil tersebut setelah selesai menyuntik orang kepercayaan Raka.
'Tuan Raka sudah lama tidak menyiksa orang lain kali aku akan berkerja keras agar Nyonya Raka selalu kami jaga walau nyawa kami menjadi taruhannya terlebih Nyonya Raka sangat baik pada kami." Ucap salah satu anak buah Raka dalam hati.
'Lain kali aku tidak akan lengah dan menjaga Nyonya Raka terlebih berkat kebaikan Nyonya Raka, kami semua selamat dari hukuman." Ucap salah satu anak buah lainnya dalam hati.
Semua anak buah Raka berbicara dalam hati yang intinya berjanji akan melindungi Nicole dari orang yang berbuat jahat. Salah satu anak buah Raka mengambil jarum dan ampul yang berisi racun kemudian memasukkan jarum tersebut ke dalam botol ampul dan menarik isinya.
"Aku mohon jangan lakukan itu, aku akan katakan siapa orang yang menyuruh ku." Ucap sekretaris tersebut dengan wajah ketakutan ketika ke dua buah anak buah Raka berjalan ke arah dirinya.
"Siapa yang menyuruhmu?" Tanya Raka dengan nada dingin dan wajah datar.
"Tapi Tuan harus janji untuk membebaskan aku." Pinta Sekretariat tersebut.
"Baik, katakanlah." Ucap Raka.
"Tuan Ferguson yang menyuruh ku." Jawab sekretaris tersebut.
"Tuan Ferguson? Rival bisnis ku yang berkerja sekaligus pemilik di perusahaan Ferguson Co-op." Ucap Raka memastikan.
__ADS_1
"Benar Tuan." Jawab Sekretaris tersebut.
"Suntik dia dan ketika mereka mati buang ke sumur tua!" Perintah Raka sambil melempar cambuk kemudian membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan ruangan tersebut.
"Baik Tuan." Jawab mereka bersamaan.
"Tuan ... Tuan sudah janji padaku untuk membebaskan aku tapi kenapa saya tetap di hukum?" Tanya sekretaris tersebut.
Raka langsung menghentikan langkahnya tanpa membalikkan badannya.
"Aku memang membebaskan mu dalam arti membebaskan mu dalam dunia ini dan tinggal di dunia lain." Jawab Raka sambil melanjutkan langkahnya.
Jleb
"Akhhhhhhhh ... Sial ... Semoga istrimu benar-benar tidak bisa hamil." Ucap sekretaris tersebut ketika suntikan tersebut menusuk lengannya.
"Walau istriku tidak bisa hamil aku akan tetap mencintai nya dengan tulus." Ucap Raka dengan nada tegas.
Raka berjalan tanpa memperdulikan teriakan kesakitan sekretaris tersebut ketika racunnya bereaksi terlebih suara ******* dari mulut orang kepercayaannya yang membutuhkan sentuhan.
Raka berjalan menaiki anak tangga menuju ke arah kamarnya untuk menemui istri yang sangat dicintainya.
Ceklek
Raka membuka pintu kamarnya kemudian masuk ke dalam dan tidak melihat istrinya di ranjang.
"Sayang." Panggil Raka.
"Sayang, aku ada di balkon." Jawab Nicole.
Raka tersenyum kemudian berjalan ke arah balkon dan melihat Nicole sedang menatapnya sambil tersenyum.
"Sayang, aku ingin pergi ke mansion Daddy." Ucap Nicole.
"Boleh, besok kebetulan Kakak libur kita bisa berkunjung ke mansion Daddy." Ucap Raka sambil duduk di samping istrinya.
"Aku ingin menginap dan lusanya pulang, apakah suamiku juga mau ikut menginap?" Tanya Nicole penuh harap sambil meletakkan kepalanya di bahu Raka.
"Tentu saja." Jawab Raka sambil membelai rambut istrinya dengan lembut.
"Terima kasih." Jawab Nicole.
"Terima kasih untuk apa?" Tanya Raka.
"Untuk semuanya, aku sangat bersyukur suamiku mencintaiku dan mau menerimaku apa adanya." Jawab Nicole.
"Aku juga sangat bersyukur karena istriku mau mencintaiku dan juga mau menerima suamimu ini apa adanya." Ucap Raka.
"Sayang," panggil Nicole.
"Kapan rencana jalan-jalannya?" Tanya Nicole.
"Secepatnya kalau urusan Kakak sudah selesai kita pergi jalan-jalan sekalian kita bulan madu." Ucap Raka.
'Karena Kakak ingin memberikan perhitungan dengan Tuan Ferguson karena telah berani mengirimkan mata-mata ke perusahaan ku." Ucap Raka dalam hati.
"Oh ya Kak, jika sekretaris Kakak di hukum lalu penggantinya siapa?" Tanya Nicole.
"Kakak akan membuka lowongan kerja tapi Kakak akan menyeleksi calon sekretaris agar kejadian ini tidak terulang." Jawab Raka.
"Bagaimana kalau aku melamar kerja menjadi Sekretaris?" Tanya Nicole.
"Apakah kamu kekurangan uang makanya mau melamar menjadi Sekretaris?" Tanya Raka sambil menaikkan salah satu alisnya.
"Aish ... Suamiku sangat kaya jadi aku tidak mungkin kekurangan uang." Jawab Nicole dengan wajah cemberut.
"Lalu kenapa ingin berkerja di perusahaan Kakak? Kan istriku pemilik perusahaan jadi tidak perlu berkerja menjadi Sekretaris Kakak." Ucap Raka.
"Bosan Kak di rumah terus, kalau kerja kan bisa mengisi kesibukan dan bisa melihat pria tampan." Ucap Nicole usil.
"Bilang sekali lagi?" Tanya Raka dengan suara berbeda.
"Senangnya bisa menggoda suamiku yang sangat tampan dan cemburu." Ucap Nicole sambil tersenyum dan memegang ke dua pipi Nicole.
Raka mengacak-acak rambut istrinya membuat wajah Nicole langsung cemberut dan merapikan rambutnya yang berantakan akibat ulah suaminya.
"Sayang, berantakan." Ucap Nicole dengan nada setengah protes.
Grep
"Salah siapa kamu menggoda Kakak? Sudah tahu kalau Kakak orang nya cemburuan." Ucap Raka sambil memeluk tubuh istrinya dari arah samping.
"Hehehehe ... Kak makan yuk aku lapar." Ajak Nicole.
"Satu ronde ya." Pinta Raka.
"Habis makan ya? Aku lapar banget." Ucap Nicole sambil turun dari sofa.
"Janji ya." Ucap Raka.
"Iya janji." Jawab Nicole.
Nicole dan Raka berjalan menuju ke arah pintu kamar sambil saling berpelukan. Di tempat yang berbeda seorang pria paruh baya mendapatkan laporan kalau mata-mata yang di kirim belum kembali ke perusahaan milik Raka.
__ADS_1
"Sial, apa ketahuan? Tapi bagaimana mungkin? Rencana ku sudah sangat sempurna jadi tidak mungkin kalau ketahuan." Ucap pria tersebut.
"Besok aku akan hubungi mata-mataku dan aku harap ada berita baik." Sambung pria tersebut sambil berbaring di ranjang.