Ranjang Panas Sang CEO

Ranjang Panas Sang CEO
Rico dan Karen


__ADS_3

"Baiklah tapi sebentar ya aku sudah mengantuk banget mau istirahat." jawab Karen.


"Ok, oh ya kemarin aku pergi ke luar negri dan membawa oleh - oleh minuman yang sangat menyegarkan, minumlah?" pinta Tio sambil memberikan satu botol ke Karen.


"Ok." jawab Karen singkat sambil menerima botol tersebut.


Tanpa ragu dan curiga sedikitpun Karen meminum sedikit karena merasa enak Karen meminum sampai habis sedangkan tanpa sepengetahuan Karen kalau Tio tersenyum dengan licik.


Namun ketika Karen tanpa sengaja melihat wajah mesum Tio membuat Karen langsung tersadar kalau minuman yang diberikan Tio mengandung sesuatu.


'Kenapa wajahnya Tio mesum? Apa jangan - jangan minumannya mengandung obat perangsang? Gawat aku harus pergi dari sini sebelum obatnya berkerja, aku harus kuat menahan gairahku. Sial kamu Tio kamu jahat sekali padaku.' Ucap Karen dalam hati.


"Tio, maaf aku sangat lelah aku masuk kamar dulu." Ucap Karen bersikap biasa saja agar tidak dicurigai oleh Tio sambil tersenyum.


"Tunggulah di sini sebentar saja." Pinta Tio.


'Sebentar lagi obat itu berkerja karena obat itu sangat tinggi jadi aku harus bisa menahannya selama mungkin.' sambung Tio dalam hati.


"Maaf, aku tidak bisa apalagi aku sudah di tunggu ke dua sahabatku. Sekali lagi maaf ya." Ucap Karen sambil berjalan ke arah lift meninggalkan Tio sendirian.


" Ok." jawab Tio singkat sambil tersenyum menyeringai.


'Tidak apa - apa deh yang penting aku tunggu di depan pintu kamarku.' ucap Tio dalam hati sambil tersenyum bahagia karena sebentar lagi Karen menjadi miliknya.


Karen berlari dengan cepat sebelum obat itu berkerja sedangkan Tio berjalan dengan santai. Karen menekan tombol lantai hingga tombol lift terbuka dan Karen pun masuk ke dalam kotak persegi empat.


Ketika Karen akan menekan tombol lantai enam tiba-tiba Karen sudah mulai merasakan gairah membuat Karen tanpa sengaja menekan tombol lantai delapan sambil mengigit bibirnya hingga berdarah untuk menahan kesadarannya.


"Sampai di kamar aku harus mandi air dingin untuk menghilangkan efek obat perangsang." Ucap Karen.


Ting


Pintu lift terbuka Karen pun keluar dari kotak persegi empat tersebut kemudian Karen berjalan ke arah kamarnya.


"Sial kenapa pintunya di kunci? Kenapa aku lupa bawa kartu sih.! gerutu Karen kesal.


Karen mengutak atik pin pintu hotel karena Karen menguasai bidang it akhirnya tidak berapa lama pintu itupun berhasil terbuka.


Karen masuk kedalam kamar hotel dan berjalan sambil menahan sesuatu bersamaan pintu itupun langsung tertutup dengan rapat.


klik


Pintu otomatis terkunci kembali, Karen masuk ke dalam kamar tapi Karen merasa asing ketika masuk ke dalam kamarnya karena kamarnya lebih luas.


Karen tidak memperdulikan hal itu yang penting bisa mendinginkan hawa panas dalam tubuhnya. Karen masuk ke dalam kamar mandi dan membuka seluruh pakaiannya hingga polos tanpa sehelai benangpun dan mengguyur seluruh tubuhnya dengan air shower walau airnya dingin tapi efek obatnya setidak - tidaknya bisa mengurangi.


Karen terkejut ketika ada seseorang yang memeluk tubuhnya, Karen mendongak ke atas karena orangnya lebih tinggi dari Karen, Karen menatap pria itu dengan wajah terkejut.


"Kak Rico," Panggil Karen dengan mata sayu dan mengharapkan lebih dari sekedar pelukan.


"Karen, kenapa kamu ada di kamar mandi ku?" Tanya Rico dengan wajah terkejut sambil melepaskan pelukannya kemudian membalikkan badannya agar dirinya melihat wajah Karen dengan jelas sambil menahan gairah yang mulai memuncak terlebih melihat tubuh polos Karen.


"Maaf aku tidak sengaja masuk ke kamar mandi Kak Rico, aku pikir ini kamarku." Jawab Karen.


Grep


"Kak Rico, tolong puaskan aku." Mohon Karen sambil memeluk tubuh Rico.


Tanpa menjawab Rico mematikan kran air shower nya kemudian menggendong Karen dan berjalan ke arah ranjang. Rico membaringkan di ranjang miliknya dengan perlahan.


Ranjang kamarnya tidak pernah ditempati wanita lain dan hanya baru kali ini seorang wanita yang diperbolehkan masuk ke dalam kamarnya dan itu adalah Karen.


Rico melepaskan satu persatu pakaiannya hingga polos tanpa sehelai benangpun kemudian menaiki tubuh polos Karen. Rico mencium bibir Karen untuk pertama kalinya begitu pula dengan Karen.


Ciuman mereka masih terasa kaku tapi mereka menikmatinya hingga lima menit kemudian Karen menepuk punggung Rico tanda Karen kehabisan nafas.


Rico yang mengerti langsung melepaskan ciumannya sedangkan Karen langsung menghirup udara sebanyak-banyaknya. Rico mencium leher Karen dan memberikan tanda kepemilikan.


"Sstttttt .... Sayang ... " Ucap Karen tanpa sadar.


Deg


Jantung Rico berdetak kencang ketika Karen memanggilnya dengan sebutan sayang. Dirinya seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Karen.


"Coba ulangi sekali lagi?" Pinta Rico.


"Sayang." Ucap Karen sambil mengalungkan ke dua tangannya ke arah leher Rico.


"Kamu tahu siapa aku?" Tanya Rico.


"Sayangku Rico." Jawab Karen sambil memeluk Rico karena dirinya sangat malu.


"Katakan seperti itu karena Kakak sangat suka." Bisik Rico.


Rico kembali mencium leher Karen dan meninggalkan banyak jejak hingga akhirnya Rico memasukkan mulutnya ke salah satu gunung kembar milik Karen sedangkan tangan satunya memainkan salah satu gunung Karen yang menganggur.


"Ahhhhhhh... Terus sayang." Racau Karen ketika merasakan tubuhnya seperti mendapatkan sengatan listrik.


Hingga akhirnya tubuh Karen dinaikkan ke atas tanda mendapatkan pelepasan untuk pertama kalinya.


"Enak?" Tanya Rico.


"Banget." Jawab Karen sambil mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.


Rico tersenyum bahagia kemudian kembali melanjutkan pemanasan dan setelah di rasa cukup Rico melanjutkan ke permainan inti. Yaitu menuntun tombak saktinya ke dalam goa yang paling terdalam di mana sekelilingnya ada rumput hitam.


Dihentakan pertama Rico gagal dan dihentakan ke dua baru masuk kepalanya Karen menangis karena bagian privasinya terasa sangat perih.


"Hiks ... Hiks ... Hiks ... Sakit Kak...." Ucap Karen menangis terisak.

__ADS_1


Rico yang tidak tega menghapus air mata Karen kemudian menarik tombak saktinya.


"Maaf." Ucap Rico untuk pertama kalinya meminta maaf.


Walau dirinya ingin sekali menuntaskan hasratnya tapi dirinya tidak tega melihat kesedihan Karen membuat Rico menggulingkan tubuhnya ke arah samping.


Grep


Ketika Rico ingin turun dari ranjang tiba-tiba Karen menahan tangan Rico.


"Aku akan menahannya." Ucap Karen.


"Kamu yakin?" Tanya Rico sambil memejamkan matanya.


"Yakin." Jawab Karen singkat.


Rico membalikkan badannya dan menatap wajah cantik Karen.


"Kamu tidak menyesal? Karena jika tidak menyesal aku tidak akan pernah berhenti walau kamu menangis untuk memintaku berhenti." Ucap Rico.


"Aku tidak akan pernah menyesal." Jawab Karen dengan nada yakin terlebih pengaruh obat perang sang belum juga hilang.


Rico kembali menaiki tubuh Karen kemudian kembali memberikan pemanasan setelah di rasa cukup Rico kembali menyatukan tubuhnya.


Dihentakan pertama Rico tidak berhasil kemudian dihentakan ke dua kepala tombak saktinya berhasil masuk membuat Karen mencengkram sprei untuk menahan rasa perih pada bagian privasinya.


"Sayangku yakin?" Tanya Rico.


Karen hanya menganggukkan kepalanya membuat Rico tersenyum kemudian menghentakkan pinggulnya kembali hingga Rico merasakan ada penghalang hingga penghalang itu berhasil di tembus bersamaan Karen berteriak kesakitan.


Rico mendiamkan tombak saktinya yang berada di dalam goa milik Karen agar bisa beradaptasi sambil memasukkan mulutnya ke salah satu gunung kembar milik Karen dan tangan satunya memainkan gunung satunya yang menganggur.


Rasa sakit kini beralih rasa nikmat setelah di rasa cukup Rico mulai menggoyangkan pinggulnya secara perlahan dan tidak berapa lama Karen mengeluarkan suara merdunya.


Rico mulai menggoyangkan pinggulnya secara berulang-ulang hingga hampir setengah jam kemudian Rico mempercepat gerakannya hingga terdengar suara lenguhan dari mulut mereka berdua.


Rico memasukan benihnya ke dalam rahim Karen hingga beberapa saat Rico menarik tombak saktinya kemudian menggulingkan tubuhnya ke arah samping.


Grep


"Kakak berjanji untuk bertanggung jawab." Ucap Rico sambil menyelimuti tubuh polos mereka kemudian memeluk tubuh polos Karen.


Karen hanya menganggukkan kepalanya sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang Rico dan tidak membutuhkan waktu lama Karen tidur dengan pulas.


'Aku akan memberikan hukuman buat orang yang telah berani mencelakai kita." Ucap Rico dalam hati sambil memejamkan matanya.


Tidak membutuhkan waktu lama Rico tidur dengan pulas. Tiga jam kemudian Karen dan Rico sama-sama membuka matanya. Karen membuang selimutnya dengan asal kemudian menaiki tubuh polos Rico.


"Biarkan aku yang memimpin." Ucap Karen yang tahu kalau Rico yang akan memimpin.


Rico hanya menganggukkan kepalanya kemudian Karen memainkan tombak sakti milik Rico membuat Rico merem melek menikmati apa yang dilakukan oleh Karen. Setelah menegang barulah Karen menuntun tombak sakti milik Rico ke dalam privasinya.


Jleb


Karen menggoyangkan pinggulnya secara berulang-ulang hingga lima menit dirinya mendapatkan pelepasan untuk pertama kalinya.


Bruk


"Sayang, gantian aku cape." Ucap Karen dengan tubuh ambruk di atas tubuh Rico.


Tanpa menjawab Rico membalikkan tubuhnya tanpa melepaskan tombak saktinya dan kini Rico berada di atas tubuh Karen.


Rico menggoyangkan pinggulnya secara berulang-ulang sambil memainkan dua gunung kembar milik Karen membuat Karen memalingkan wajahnya ke arah kanan dan kiri menikmati apa yang dilakukan oleh Rico.


"Sayang .... Terus .... Terus ..." Racau Karen.


Rico mempercepat gerakannya sambil tersenyum bahagia hingga akhirnya keluarlah lahar miliknya dan lagi-lagi dimasukkan ke dalam rahim Karen.


Rico menggulingkan tubuhnya kemudian mengambil selimut yang berada di lantai kemudian menyelimuti tubuh polos mereka.


Mereka berdua saling berpelukan hingga beberapa saat mereka tidur dengan pulas. Dua jam kemudian Karen merasakan bagian privasinya ada yang mengganjal membuat Karen memaksakan untuk membuka matanya dan melihat Rico sedang menggoyangkan pinggulnya secara berulang-ulang.


"Maaf sudah mengganggu tidurmu." Ucap Rico sambil tersenyum.


Karen membalas senyuman sambil mengalungkan ke dua tangannya ke arah leher Rico.


Hingga lima belas menit kemudian Rico  kembali mengeluarkan laharnya ke dalam rahim Karen. Karen yang sangat lelah kembali memejamkan matanya sedangkan Rico menggulingkan tubuhnya kemudian memeluk Karen sambil menyelimuti tubuh polos mereka.


Karen membalas pelukan Rico dan tidak berapa lama Rico tidur dengan sangat pulas. Mereka memberikan kehangatan masing-masing.


Jam menunjukkan pukul tujuh pagi Rico perlahan membuka matanya dan melihat Karen yang masih setia memejamkan matanya sambil masing-masing saling berpelukan memberikan kehangatan.


Karen menyandarkan kepalanya di dada bidang Rico sambil memeluk pinggangnya sedangkan Rico memeluk pinggang Karen.


Rico tersenyum menatap wajah cantik yang bernama Karen sambil mengingat pertempuran semalam.


'Kamu tahu sejak pertama kali kita bertemu aku selalu memikirkan dirimu dan mencari identitas dirimu tapi aku mengalami kesulitan. Hingga akhirnya kita bertemu kembali seperti ini, aku akan bertanggung jawab untuk menikah dengan mu.' Ucap Rico dalam hati.


Rico mengambil ponselnya kemudian memfoto wajah Karen sendirian lalu memfoto mereka berdua. Baru kali ini Rico merasakan tidur yang sangat pulas karena biasanya tidur hanya sampai satu jam dan sisanya untuk kerja dan kerja.


Setelah puas memandanginya Rico perlahan melepaskan pelukannya kemudian mengecup bibir gadis tersebut dengan singkat.


cup


"Bibirmu sangat manis, aku cium lagi ya." Ucap Rico sambil berbisik di telinga Karen.


cup


Kemudian Rico turun dari ranjang dan berjalan ke arah kamar mandi. Sebenarnya Karen sudah terbangun ketika Rico menciumnya. Karen pura - pura tertidur menunggu Rico pergi ke kamar mandi.

__ADS_1


Setelah terdengar pintu kamar mandi tertutup Karen membuka matanya dan terkejut melihat sekeliling ruangan.


"Aku dimana? kenapa kamarnya beda? Kamar ini lebih luas." Gumam Karen.


Karen mengangkat selimutnya dan matanya membulat sempurna karena tubuhnya polos tanpa sehelai benangpun membuat Karen berusaha mengingat - ingat kejadian semalam.


"Aku dan Kak Rico melakukan hubungan suami istri? Kak Rico menolaknya tapi aku yang berusaha merayunya untuk menyentuh tubuhku." Ucap Karen setelah dirinya ingat semuanya membuat Karen sangat malu sekaligus dirinya sangat terpukul karena mahkota yang dijaganya terenggut oleh Rico.


"Aku tidak mungkin meminta pertanggung jawaban karena aku yang minta dan aku harus pergi dari sini." gumam Karen.


Karen berusaha bangun walau sangat perih di bagian intinya tapi Karen memaksanya untuk bangun. Karen yang tahu gaunnya basah dan berada di dalam kamar mandi membuat Karen berjalan ke arah lemari.


Karen membuka lemari lalu mengambil kemeja putih kesayangan Rico kemudian memakainya. Setelah selesai Karen  berjalan ke arah pintu kamarnya dan membuka pintu kamar menggunakan pin.


Karen sangat kaget ternyata dia memang salah lantai dan salah kamar.


"Jahat kamu Tio, gara - gara kamu aku kehilangan mahkotaku yang aku jaga selama ini." Ucap Karen sambil menahan amarah sekaligus kecewa dengan perbuatan Tio.


Karen merutuki kebodohannya karena telah mempercayai teman kampusnya yang pura - pura baik tapi ternyata sangat jahat.


Ting


Pintu lift terbuka Karen keluar dari kotak persegi kemudian berjalan ke arah kamarnya. Karen kembali menekan pin hingga terdengar suara klik tanda pintu terbuka.


Karen masuk ke dalam kamarnya dan tidak melihat ke dua sahabatnya dan Karen tahu mereka sudah pergi bersama yang lainnya. Karen langsung membuka kemejanya kemudian meletakkannya di sofa.


Karen mengambil handuk dan berendam di bathtub merenungi nasibnya. Setelah hampir setengah jam berendam, Karen menggunakan jubah handuk kemudian berjalan ke arah lemari dan mengambil pakaian ganti.


Setelah beres Karen mengepak pakaian untuk pergi dari hotel tersebut namun ketika sudah selesai memasukkan pakaian ke dalam koper dan hendak keluar bersamaan kedatangan ke dua sahabatnya. Ke dua sahabatnya sangat terkejut karena melihat Karen membawa koper.


"Karen kamu kenapa? Kemana saja kamu semalam? Kenapa tidak ada di kamar? Kamu mau kemana?" tanya Sandra beruntun.


" A ... aku..." jawab Karen gugup kemudian menangis membuat kedua sahabatnya terkejut dan langsung memeluknya.


Karen menceritakan semua yang telah terjadi tanpa ada yang ditutup tutupi. Mereka berdua sangat kesal dengan Tio dan ingin memukulnya tapi Karen melarangnya dan tidak memperdulikannya karena takutnya malah Tio cerita ke orang lain.


Hal itu bisa membuat Karen sangat malu apalagi mahkotanya yang mengambilnya bukanlah Tio.


Karen meminta ijin pulang karena tidak ingin ketemu dengan Tio. Ke dua sahabatnya yang tidak tega melihat kesedihan Karen membuat mereka ikut pulang untuk menemani Karen.


Sandra meminta ijin ke dosen pembawa acara kalau dirinya dan ke dua sahabatnya ada sesuatu yang penting sedangkan Kasandra menemani Karen. Setelah Sandra selesai meminta ijin merekapun pergi dari hotel tersebut.


Karen dan ke dua sahabatnya pergi naik pesawat biar cepat sampai ke Jakarta dan rencana Karen serta Kasandra pulang ke rumah.


Rencana mereka akan mengambil barang dan langsung pergi lagi ke Palembang. Kebetulan orang tua Kasandra mempunyai rumah di Palembang. Sedangkan untuk Sandra, Sandra mengurus surat - surat ijasah kuliah milik mereka bertiga kemudian akan menyusul  e dua sahabatnya. Untunglah ke dua orang tua Kasandra dan Sandra tidak masalah jika mereka tinggal di Palembang.


Xxxxxxxx


Ceklek


Pintu kamar mandi terbuka dan ketika keluar dari kamar mandi Rico berencana ingin melakukan seperti semalam karena tubuh gadis tersebut menjadi candu.


Senyum kebahagiaan tiba-tiba berubah menjadi gelap gulita karena Karen hilang dan tidak ada di ranjang tempat tidurnya hanya bekas seprei dan noda darah perawan.


Rico sangat senang karena dialah laki - laki yang pertama melakukannya dan di saat yang bersamaan dirinya marah karena tubuh Karen kini menjadi candunya hilang membuat Rico mengambil laptopnya untuk mengecek kamera cctv.


Rico sangat marah ketika melihat kejadian demi kejadian karena Karen ternyata menjadi korban temannya membuat Rico menghubungi asistennya yang bernama Ronald.


"Ronald datang ke kamarku sekarang!" perintah Rico.


tut tut tut


Tanpa menunggu jawaban Rico langsung memutuskan sambungan komunikasi secara sepihak.


Rico sangat marah terhadap Tio karena telah berbuat jahat terhadap Karen, wanita yang sudah mengisi hatinya. Rico akan menghancurkan dan membunuh orang jika melukai Karen.


tok tok tok


ceklek


Rico membuka pintu kamarnya kemudian Ronald masuk mengikuti bosnya.


"Ada apa tuan?" tanya Ronald dengan wajah bingung karena tidak biasanya Rico seperti itu.


"Kamu hancurkan perusahaan Hantu Kuyang!" perintah Rico.


"Kenapa tuan?" tanya Ronald dengan wajah bingung.


"Jangan kamu tanya!! Setelah itu kamu tangkap CEO tersebut dan bawa ke markas!" perintah Rico.


"Baik Tuan." jawab Ronald.


"Selidiki juga gadis yang bernama Karen dan panggil orang it yang bisa membuka identitas Karen karena aku membuka indentitas datanya tidak bisa!" perintah Rico sambil memberikan foto Karen lewat kamera cctv


"Baik tuan." jawab Ronald patuh.


Ronald pun keluar untuk melaksanakan perintah tuannya namun baru beberapa langkah Ronald membalikkan badannya dan berjalan ke arah Rico.


"Ada apa?" Tanya Rico.


"Bukankah keluarga besar Alvonso bisa membuka data Nona Karen?" Tanya Ronald.


"Ya ampun, kenapa aku bisa lupa? kalau begitu sekarang kamu hancurkan Tio!" Perintah Rico.


"Baik Tuan." Jawab Ronald kemudian membalikkan badannya dan meninggalkan Rico sendirian.


"Karen, kenapa kamu harus pergi? kalau kamu minta aku pertanggung jawab aku pasti akan bertanggung jawab." guman Rico sambil menatap foto yang berada di ponsel miliknya.


"Aku tidak tahu kenapa berada dekat denganmu aku merasa nyaman dan tidurku sangat pulas." guman Rico lagi.

__ADS_1


cup


Rico mengecup foto Karen sambil mengingat semalam di mana dirinya melakukan hubungan suami istri, kejadian yang akan selalu di ingat sampai kapanpun.


__ADS_2