
Hari berganti hari, bulan berganti bulan begitu pula tahun berganti tahun hingga tidak terasa ke dua anak mereka Raka bersama istrinya yang bernama Nicole kini genap berusia sembilan tahun.
Putra pertama mereka yang bernama Rico Alexander mengikuti jejak Ayahnya sebagai ketua mafia dan juga ketua CEO sedangkan putri yang ke dua yang bernama Rani Alexander berkerja sebagai model dan artis papan atas mengikuti cita-cita Ibunya yang kandas di tengah jalan akibat ulah sahabatnya dan berakhir Ibunya menikah dengan Ayahnya.
Markas Mafia Dragon Red
Rico sebagai ketua mafia Dragon Red menggantikan Ayahnya sedang duduk sambil memperhatikan dua orang pengkhianat yang telah membocorkan rahasia ke bagian aparat kepolisian tentang penjualan senjata ilegal sehingga mengalami kerugian milyaran rupiah.
Rico berjalan mengelilingi dua orang yang sudah babak belur oleh anak buah Rico.
"Kalian berdua tahu, aku paling benci dengan pengkhianatan, aku memberi gaji kalian yang sangat tinggi dan diberi kepercayaan tapi kepercayaanku kalian khianati, apa permintaan terakhir kalian?" tanya Rico dengan suara dingin dan wajah datar.
"Tuan, maafkan kami." mohon ke duanya serempak.
"Tidak ada kata maaf buat kalian, kalian sudah sepantasnya mati." jawab Rico dengan nada tegas.
"Tuan, kami janji tidak akan mengulanginya kembali, kami berjanji tuan? ampuni kami." mohon keduanya dengan serempak.
"Tidak ada kata maaf buat kalian!!! bentak Rico.
"Ronald." panggil Rico.
"Baik Tuan." jawab Ronald tangan kanan Rico sekaligus wakil CEO.
dor
dor
dor
dor
Ronald mengeluarkan senjatanya dan menembak dada dan kepala ke dua orang pengkhianat tersebut.
Dua pengkhianat tersebut langsung mati di tempat membuat para anggota mafia hanya menelan saliva dengan susah payah melihat ke dua temannya mati dengan mengenaskan.
"Ronald, bawa mereka ke kandang singa." perintah Rico.
"Baik tuan." jawab Ronald sambil membungkukkan badannya.
Ronald pun meminta beberapa anak buahnya untuk membawanya ke kandang singa untuk dijadikan santapan para singa yang kelaparan.
Rico tidak membuang ke sumur tua karena sumurnya sudah hampir penuh membuat Rico menutup sumur tua tersebut dengan cara di cor. Rico menatap satu persatu ke anak buah mafianya sambil mengelilinginya.
"Jika ada salah satu di antara kalian mencoba untuk berkhianat nasibnya akan seperti teman kalian atau aku berikan langsung ke kandang singa biar merasakan kesakitan di gigit hewan kesayanganku." ucap Rico sambil menatap satu persatu anak buah mafianya.
"Kami tidak mungkin mengkhianati Tuan." Jawab para anak buahnya.
Tanpa menjawab Rico berjalan ke arah kamar pribadinya dan sampai di depan pintu, Rico membuka pintu kamarnya kemudian masuk ke dalam kamar dengan diikuti oleh Ronald. Rico duduk di kursi kebesarannya sambil memijat kepalanya.
"Tuan, lusa ada pesanan senjata dari negara XXX kita akan melakukan traksaksinya di kapal pribadi milik Mr. X." ucap Ronald menjelaskan jadwalnya.
"Kamu selidiki mereka apakah mereka berkhianat dengan kita atau tidak? Kalau ternyata berkhianat langsung tangkap atau tembak mati di tempat." jawab Rico dengan nada dingin.
"Baik tuan." jawab Ronald sambil membungkukkan badannya.
"Aku mau mandi dulu setelah itu kita pergi ke perusahaan." Ucap Rico.
"Baik tuan." jawab Ronald sambil membungkukkan badannya.
Rico pun mandi karena badannya penuh dengan keringat dan debu. Setelah lima belas menit kemudian akhirnya Rico sudah selesai memakai pakaian baru. Mereka berdua berangkat menuju ke perusahaan PT Raka Wow Keren milik orang tuanya.
PT Raka Wow Keren
Tap
tap
tap
tap
Rico dengan diikuti di belakangnya oleh Ronald memasuki lobby perusahaan PT Raka Wow Keren. Banyak wanita memandang tanpa kedip melihat dua laki - laki yang sangat tampan satu Ceo dan satunya wakil CEO.
"Pagi tuan."
"Pagi tuan."
"Pagi tuan."
__ADS_1
Rico dan Ronald berjalan dengan angkuh tanpa menjawab sapaan para pegawainya. Sampai di depan pintu lift tiba - tiba muncul karyawati berjalan dengan terburu - buru dan tanpa sengaja menabrak Rico sehingga gadis itu jatuh sedangkan Rico tidak karena tubuhnya kuat dan kekar.
Kilatan amarah tampak jelas dimukanya walau tidak jatuh tapi anti baginya bila ada orang yang menyentuh tubuhnya. Rico langsung memberikan kode ke arah Ronald. Ronald yang mengerti langsung menarik tangan karyawati tersebut agar berdiri.
Plak
Plak
Semua pegawai sangat kaget dan tidak tega melihat nasib karyawati tersebut membuat sudut bibirnya terluka bekas tamparan Rico yang sangat keras.
"Aku paling benci kalau ada orang yang menyentuh tubuhku!" bentak Rico sambil mencengkram dagu gadis tersebut.
"Maaf Tuan saya tidak sengaja saya tadi buru - buru." ucap gadis itu sambil berlutut meminta maaf dengan kaki gemetaran.
Gadis tersebut berlutut sambil berusaha memegang sepatu Rico namun Rico langsung memundurkan kakinya karena Rico tidak mau kakinya disentuh oleh gadis itu.
"Ronald pecat gadis ini dan jangan beri gaji ataupun pesangon selain itu tidak diterima bekerja dimanapun." Ucap Rico dengan nada naik satu oktaf.
"Baik tuan." jawab Ronald sambil membungkukkan badannya.
"Tuan, maafkan saya." Mohon karyawati tersebut.
Rico tidak memperdulikan permohonan gadis tersebut hingga Ronald menjentikkan jarinya. Seorang bodyguard langsung datang kemudian menarik tangan Karyawati itu dengan paksa dan sepanjang jalan karyawati itu berteriak meminta maaf tapi Rico tetap tidak perduli karena baginya dirinya paling benci jika ada yang berani menyentuh tubuhnya.
Ketika Rico memasuki kotak persegi empat karyawati itu berteriak dan menangis sambil meminta maaf karena tadi dirinya terburu - buru naik tangga menuju ke ruang HRD untuk minta ijin ke bagian hrd untuk pulang karena ibunya mendadak sakit dan masuk ke rumah sakit.
Namun Rico menulikan penjelasan Karyawati tersebut hingga pintu lift tertutup dengan rapat. Karyawati tersebut ditarik keluar dari lobby dan mendorongnya dengan kasar.
Bruk
Karyawati tersebut langsung jatuh ke lantai membuat Karyawati tersebut sangat marah dan membenci terhadap bosnya yang arogant membuat dirinya dendam dan suatu saat nanti ingin membalas sakit hatinya.
'Tunggulah pembalasanku hei bos arogant.' Ucap karyawati tersebut dalam hati yang penuh dendam dan amarah secara bersamaan.
Karyawati itu pun menaiki angkutan umum menuju ke rumah sakit.
Rico masuk ke ruangan CEO kemudian duduk di kursi kebesarannya. Mengerjakan berkas - berkas yang menumpuk, mengecek dan jika sudah benar barulah ditanda tangani begitu terus hingga berkas - berkas tersebut selesai dikerjakan. Rico penggila kerja karena itulah perusahaannya menyebar di berbagai kota dan beberapa di luar negri.
tok
tok
tok
Pintu terbuka dan muncullah wakil CEO yang bernama Ronald.
"Maaf tuan jam dua siang ada jadwal meeting dengan PT. Ngapain Aja di hotel Semangat Jaya dan jam empat ada meeting di restoran Bikin Lapar dengan PT Hati-hati Company." ucap Ronald memberitahukan jadwal yang harus dikerjakan oleh Rico.
"Baik, siapkan semua berkasnya." jawab Rico.
"Baik Tuan." ucap Ronald sambil membungkukkan setengah badannya.
Ronald pun keluar dan masuk ke ruangannya mengerjakan pekerjaan yang sama banyaknya. Ronald pun sama seperti bosnya yang bernama Rico sama - sama penggila kerja.
Selain itu mereka juga mempunyai persamaan yaitu sama - sama tidak pernah namanya tertarik dengan wanita karena bagi mereka wanita hanya membuang waktu mereka.
Banyak wanita yang terkadang berani menggodanya tapi berakhir terluka atau menjadi santapan peliharaan binatang kesayangan Rico yaitu buaya dan singa.
********
Kampus Karen Sandra
"Karen." panggil Sandra.
"Kenapa San?" tanya Karen.
"Kasandra sakit, pulang kuliah kita ke rumah sakit yuk? nanti aku beli buah - buahan kamu langsung jalan saja?" pinta Sandra.
"Ok." Jawab Karen singkat.
Mereka mengikuti pelajaran yang diberikan oleh dosen pembimbing. Hingga waktunya istirahat merekapun makan siang di kantin.
Banyak mahasiswa yang menyukai mereka tetapi Karen dan Sandra hanya menanggapi dengan senyum. Karena bagi mereka pacaran hanya membuang waktu mereka karena mereka ingin segera lulus dan bekerja.
Masalah pacaran pikirkan nanti kalau sudah mulai kerja apalagi umur Karen, Sandra dan Kasandra masih muda. Jadi prinsip mereka bertiga menikmati masa muda karena jika sudah menikah tidak ada waktu untuk bersenang - senang karena mengurus suami dan anak - anak. Itulah prinsip mereka bertiga.
Karen dan Sandra makan siang bersama sambil mengobrol walau terasa kurang karena sahabatnya sedang sakit.
Mata kuliah ke dua sudah di mulai mereka masuk ke dalam ruangan dan duduk di kursi masing - masing. Karen dan Sandra berpisah karena mereka berbeda jurusan. Karen mengambil kuliah jurusan bisnis, Sandra jurusan designer dan Kasandra jurusan kedokteran.
__ADS_1
Seorang dosen masuk ke dalam ruangan menerangkan mata kuliah. Mereka mendengarkan dan mencatat di buku kuliah.
Tidak terasa waktu berjalan dengan cepat jam kuliah pun selesai mereka berdua keluar kampus dan berjalan ke tempat parkiran mereka membawa mobil masing masing menuju rumah sakit menengok Kasandra sahabatnya.
Sandra mengendarai mobil sambil mencari toko buah setelah ketemu Sandra menghentikan mobilnya.
Sandra membeli buah - buahan dan meminta pedagang buahnya untuk membungkusnya di keranjang buah. Setelah di bungkus dan di bayar Sandra melanjutkan perjalanan menuju ke rumah sakit.
XXXXX
Di dalam perjalanan Karen melihat dari kejauhan seorang gadis memakai pakaian kantor duduk di pinggir jalan sambil menunduk. Karen memperhatikan gadis tersebut sambil mengendarai mobil dengan melambat ketika mengetahui gadis itu menangis membuat Karen menghentikan mobilnya. Karen turun dari mobil dan menghampiri gadis itu.
"Maaf Kak, kenapa menangis?" tanya Karen lembut sambil memberikan tissue ke gadis tersebut.
Gadis itu terdiam sambil mengambil tissue yang diberikan oleh Karen kemudian memperhatikan agak lama setelah agak tenang gadis tersebut mulai menceritakan semua kejadian yang sangat menyakitkan. Sedangkan Karen dengan setia mendengarkan keluh kesah gadis tersebut.
"Jangan membalas dendam karena dendam itu bisa merusak diri kita." ucap Karen dengan nada lembut.
"Tapi perbuatan bosku tidak bisa dimaafkan hanya gara - gara aku tidak sengaja menyenggolnya aku di tampar hiks.. hiks..hiks.. " jawab gadis itu sambil terisak.
"Sabar, mungkin bos Kakak lagi ada masalah, mudah - mudahan ada pekerjaan yang lebih baik, ingat orang sabar itu di sayang Tuhan." ucap Karen dengan nada masih lembut.
Karen memeluk dan menepuk punggung gadis itu supaya menghilangkan kesedihannya. Gadis itu hanya diam dan mencerna kata - kata yang keluar dari mulut Karen.
"Sekarang mau pergi kemana ? sekalian saya antar?" tawar Karen
"Apakah tidak merepotkan?" tanya gadis itu.
"Tidak merepotkan kok, santai saja." jawab Karen lembut
"Tolong antarkan ke rumah sakit Awas Bayarnya Mahal karena saya ingin melihat ibuku yang sedang sakit." pinta gadis itu
"Kebetulan sekali aku juga mau ke rumah sakit Awas Bayarnya Mahal ingin menengok sahabatku yang sedang sakit, ayo kita berangkat bersama." Ajak Karen dengan nada masih lembut.
"Terima kasih." jawab gadis tersebut.
Karen dan gadis tersebut naik ke mobil menuju ke rumah sakit. Karen menanyakan ruangan ibu gadis tersebut karena setelah menengok sahabatnya sekalian mampir menjenguknya.
Merekapun berpisah, Karen berjalan ke tempat ruangan sahabatnya sedangkan gadis itu ke tempat ibunya. Sampai di tempat yang dituju Karen masuk ke dalam ruang perawatan.
Ceklek
"Karen? habis darimana? kok duluan aku yang sampai?" tanya Clarissa heran.
"Tadi pas di jalan ngeliat seorang gadis di pinggir jalan sambil menangis membuat aku berhenti. Terus aku tanyain kenapa menangis, dia cerita kalau ibunya sakit tapi tidak punya uang untuk pergi ke rumah sakit jadinya aku anter ke rumah sakit makanya lama." jawab Karen menjelaskan.
"Oh gitu." jawab mereka berdua serempak
"Oh ya tadi Buto Kuning telepon katanya tidak bisa datang katanya sibuk di perusahaan dan salam buat Kasandra." kata Karen.
"Bilang salam kembali." jawab Kasandra.
"Ok." jawab Karen dengan singkat.
"Oh ya Kasandra, kamu kan calon dokter kok bisa sakit?" tanya Karen usil.
"Yee, yang namanya manusia pasti bisa sakit lah. Gara - gara bikin skripsi membuat maag ku kambuh." jawab Kasandra menjelaskan.
Karen dan Sandra hanya menganggukkan kepalanya kemudian merekapun bercakap - cakap hingga terasa hari sudah sore. Karen dan Sandra berpamitan pulang. Karena keluarga Kasandra juga mulai berdatangan untuk menjaganya.
"San, aku mau lihat gadis itu, kamu mau ikut aku atau pulang." tanya Karen.
"Ikut deh di rumah sepi." jawab Sandra.
"Ok." jawab Karen singkat.
Merekapun menuju ke ruang perawatan kelas tiga di mana ruangan perawatan tersebut ada enam pasien.
Ceklek
Karen membuka pintu ruang perawatan di mana setiap ruangan tertutup dengan tirai membuat Karen melihat satu persatu ruangan tersebut sambil meminta maaf ke pasien karena ingin mencari temannya sekaligus ingin menengok Ibu temannya yang baru di kenal. Setelah bertemu mereka berdua masuk dan melihat gadis itu menangis.
"Ada apa?" tanya Karen.
"Ehh... maaf ibuku sakit parah hiks.... hiks... harus dioperasi sedangkan aku tidak ada uang hiks... hiks...." ucap gadis itu sambil terisak-isak.
Karen dan Sandra saling menatap kemudian menganggukkan kepalanya bersamaan.
"Kak, kenalkan ini sahabatku Sandra, kami berdua akan menanggung biaya operasi ibu Kakak, ayo kita ke bagian administrasi biar sahabatku yang menjaga ibu Kakak." ucap Karen lembut.
__ADS_1
Gadis itu sangat kaget dan berlutut berterima kasih tapi Karen dan Sandra memegang tangan gadis tersebut untuk berdiri kemudian Karen mengajaknya keluar ke bagian administrasi.