Ranjang Panas Sang CEO

Ranjang Panas Sang CEO
Rico dan Karen


__ADS_3

Belum ada satu jam ponsel milik Rico bergetar membuat Rico memaksakan membuka matanya kemudian duduk di samping Karen yang masih berbaring.


"Siapa yang menelepon malam - malam?" Tanya Rico sambil mengambil ponselnya yang tergeletak di meja dekat.


"Rani, tumben adik kembarku telepon malam-malam?" Tanya Rico dengan wajah terkejut.


"Di angkat Kak siapa tahu penting." Ucap Karen.


"Ok." Jawab Rico singkat sambil menggeser tombol berwarna hijau.


("Ada apa Rani?" Tanya Rico sambil menguap).


("Kak Rico, tolong aku datang ke sini." Pinta Rani).


("Ada apa?" Tanya Rico penasaran).


("Aku tidak bisa menjelaskan di telpon, tolong kak datang ke sini dan aku sudah pasang GPS." Ucap Rani).


("Baik, Kakak akan datang." Ucap Rico sambil turun dari ranjang).


Tut Tut Tut


Sambungan komunikasi langsung diputuskan secara sepihak oleh Rani kemudian Rico memakai sepatu pantofel.


"Ada masalah?" Tanya Karen.


"Sepertinya begitu, Kakak akan pergi menemui adik kembarku dan kamu akan di jaga oleh anak buah Kakak." Ucap Rico kemudian mencium kening istrinya.


"Hati - hati di jalan." Ucap Karen.


Rico hanya menganggukkan kepalanya kemudian keluar dari ruang perawatan sambil menghubungi anak buah untuk menjaga Karen.

__ADS_1


Setelah selesai Rico berjalan menuju ke arah pintu lift bersamaan ponselnya berdering. Rico mengambil ponselnya dari saku jasnya dan melihat siap yang menghubungi dirinya dan ternyata Ayahnya.


("Hallo Dad." Panggil Rico).


("Kamu masih di rumah sakit?" tanya Daddy Raka).


("Masih Dad, tapi ini Rico mau pergi ke tempat Rani karena tadi Rani telepon Rico." Jawab Rico).


("Tidak usah, biar Daddy dan Mommy yang pergi ke sana. Lebih baik kamu temani Karen terlebih Karen sedang hamil." Ucap Daddy Raka).


("Tapi Dad ..." Ucapan Rico terpotong oleh Daddy Raka).


("Daddy sudah membawa anak buah, lebih baik kamu temani Karen." Ucap Daddy Raka).


("Baik Dad, nanti kalau ada apa-apa kabarin Rico." Pinta Rico).


("Ok." Jawab Daddy Raka singkat).


Ceklek


Sampai di ruang perawatan Rico membuka pintu dan melihat istrinya sedang menatap dirinya.


"Lho kok belum tidur?" Tanya Rico.


"Aku belum bisa tidur lagi." Ucap Karen.


"Kok kembali? Katanya ingin ke tempat Rani?" Tanya Karen.


"Katanya Daddy dan Mommy yang pergi." Jawab Rico.


"Semoga saja tidak ada masalah yang berat." Ucap Karen penuh harap.

__ADS_1


"Amin." Jawab Rico.


"Sayang." Panggil Karen setelah beberapa saat terdiam.


"Ya." Jawab Rico singkat sambil menguap.


"Tidurlah di sampingku." Ucap Karen sambil menggeserkan tubuhnya ke arah samping.


Rico hanya menganggukkan kepalanya kemudian naik ke atas dan berbaring di samping calon istrinya.


"Sayang." Panggil Karen sambil meletakkan kepalanya di dada bidang calon suaminya dan memeluk tubuh kekarnya.


"Ya." Jawab Rico singkat sambil membalas pelukan calon istrinya.


"Aku sangat mencintaimu jadi aku mohon jangan pernah membuatku terluka karena jika itu terjadi aku akan pergi dari kehidupanmu." Ucap Karen.


Entah kenapa Karen mengatakan ini di mungkin karena efek kehamilan membuat Karen seperti ini.


"Aku juga sangat mencintaimu jadi aku tidak mungkin membuatmu terluka." Ucap Rico.


"Jika ada seseorang yang memfitnahku tolong tanyalah padaku terlebih dahulu, jangan asal percaya dengan apa yang dikatakannya walau ada bukti sekalipun belum tentu itu benar." Ucap Karen.


"Aku akan ingat itu." Ucap Rico.


"Sayang, jika seandainya salah satu dari kita ada yang memfitnah bagaimana kalau kita bersandiwara?" Tanya Karen.


"Maksudnya?" Tanya Rico.


Karen membisikkan sesuatu ke telinga Rico agar para pembaca tidak mendengar nya sedangkan Rico hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju.


"Aku sangat mengantuk kita tidur yuk." Ajak Karen sambil memejamkan matanya.

__ADS_1


Rico hanya menganggukkan kepalanya kemudian ikut memejamkan matanya dan tidak membutuhkan waktu lama mereka tidur dengan pulas sambil berpelukan dan memberikan kehangatan masing-masing.


__ADS_2