
"Rumahku terlalu jauh sedangkan besok pagi kami acara rapat di kampus karena itulah aku menginap di rumah Sandra." Jawab Karen menjelaskan.
Tio menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian pergi meninggalkan mereka sambil menggenggam stir kemudi dengan erat menahan amarahnya.
"Selesai wisuda aku akan melamarnya dan jika di tolak maka aku akan melakukan dengan cara lain agar kamu menjadi milikku." Ucap Tio sambil mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.
xxxxxxxx
Tidak terasa hari ini para mahasiswa dan mahasiswi wisuda. Karen, Sandra dan Kasandra memakai pakaian couple kebaya putih dengan rambut di sanggul.
Mereka bertiga berangkat dengan satu mobil karena mereka menginap di rumah Kasandra sekalian untuk berhias untuk menyambut perayaan kelulusan wisuda.
Orang tua Kasandra dan orang tua Sandra menggunakan mobil masing - masing, mereka berangkat menuju Hotel Western Hall.
Di gedung Hotel Western Hall banyak orang berkumpul dari pemilik kampus, dekan, dosen dan mahasiswa mahasiswi serta para orang tua wisudawan dan wisudawati.
Karen sangat sedih dan melamun karena kedua orangtuanya tidak mungkin datang menghadiri acara wisuda disebabkan dirinya tidak tahu siapa orang tuanya karena Karen hanya tahu dirinya ditinggalkan di depan pintu panti asuhan.
Karen yang ingin mengajak pemilik panti asuhan hanya saja sayang sekali tidak bisa karena pemilik panti asuhan sedang sakit. Sahabatnya Karen siapa lagi kalau bukan Sandra dan Kasandra mengetahui isi hati sahabatnya.
"Karen, jangan sedih karena jika kamu sedih maka kami juga ikut sedih." ucap Kasandra sambil memeluk pinggang Karen dari arah samping.
"Terima kasih Kasandra kamu memang sahabat baikku sambil membalas pelukan sahabatnya.
"Benar apa yang dikatakan oleh Kasandra, kamu jangan sedih karena kita berdua juga ikut sedih." ucap Sandra sambil memeluk Karen dari samping karena Karen duduk di tengah.
"Terima kasih San, kalian berdua selalu ada untukku. Saya tidak tahu bagaimana jika tidak ada kalian." ucap Karen dengan wajah sendu.
"Sttt, kita itu bersahabat dan sahabat harus saling tolong menolong, di saat suka dan duka selalu bersama dan aku sangat harap persahabatan kita abadi sampai maut memisahkan kita." ucap Kasandra
"Amin." ucap Karen dan Sandra bersamaan.
"Aku punya ide, bagaimana kalau nanti kita masing - masing sudah menikah, kita menjodohkan anak - anak kita agar mempererat persahabatan kita dan juga para suami kita nantinya bisa dekat dengan kita jadi kita bisa satu keluarga saling bantu membantu jika salah satu dari kita mengalami kesusahan." usul Karen.
"Boleh juga usulmu La." jawab Kasandra dengan antusias.
" Iya aku setuju." jawab Sandra.
Acara wisuda sudah di mulai satu persatu di panggil. Selesai sudah satu persatu di panggil nama - nama para wisudawan dan wisudawati. Kini pemanggilan nama - nama wisudawan dan wisudawati yang berprestasi.
Seorang maju ke depan memanggil siapa saja nama - nama wisudawan dan wisudawati yang berprestasi di ambil satu jurusan siapa lagi kalau bukan Karen, Sandra dan Kasandra.
__ADS_1
Semua orang bertepuk tangan banyak memuji ke tiga gadis tersebut selain cantik juga mereka sangat pintar. Orang tua Sandra dan Kasandra sangat bangga dan puas melihat anak - anak mereka pintar dan tidak sia - sia mendidik anak - anak mereka.
Selesai wisuda mereka berfoto dengan keluarga, dosen dan sahabat - sahabat mereka. Tio mengucapkan selamat atas prestasi Karen, Kasandra dan Sandra.
"Karen, aku ingin bicara denganmu berdua, bolehkah?" tanya Tio penuh harap.
"Ada apa ya?" tanya Karen
"Aku ingin bicara di taman kampus tidak lama hanya dua puluh menit saja." pinta Tio.
"Sebentar aku bilang ke dua sahabatku dulu ya." jawab Karen.
"Ok, aku tunggu." jawab Tio
Karen menemui ke dua sahabatnya Sandra dan Kasandra kalau Tio ingin bicara dengan Karen. Mereka hanya menganggukkan kepalanya barulah Karen menemui Tio.
"Ayo Tio kita pergi ke taman kampus." ajak Karen.
Karen dan Tio berjalan menuju ke taman kampus dengan berjalan kaki. Dalam perjalanan Karen dan Tio hanya berdiam diri saja, mereka berdua sibuk dengan pikiran masing - masing. Karen sudah tahu apa yang akan ditanyakan Tio. Karen hanya berharap Tio tidak marah akan jawaban Karen nanti.
Kini mereka sudah sampai di taman belakang kampus. Karen duduk sedangkan Tio berdiri mereka berdua memandang taman kampus yang penuh dengan bunga - bunga indah.
"Aku sudah lama menyukaimu sejak awal aku masuk kuliah, kamu sangat berbeda dari gadis - gadis yang aku kenal. Setiap kamu menolakku aku berusaha mencari penggantimu tapi tidak ada yang berhasil, hatiku hanya ada namamu. Kini kita sudah lulus kuliah, maukah kamu menikah denganku?" pinta Tio sambil berlutut dan memberikan kotak merah dan ketika di bukanya berisi cincin emas putih yang sangat indah.
"Maaf Tio, bukannya aku menolakmu sungguh aku sangat bahagia tapi sekali lagi aku minta maaf, aku belum ada niat untuk menikah karena banyak cita - cita yang ingin kugapai." ucap Karen dengan suara lembut.
"Kamu bilang ingin kerjakan? kamu bisa kerja denganku walau kita sudah menikah nantinya." ucap Tio.
"Bukan itu saja Tio, aku belum berpikir untuk menikah, kalau kita memang jodoh pasti akan dipersatukan. Jika dirimu menemukan seseorang yang lebih baik dariku aku tidak akan marah, sekali lagi maafkan aku." ucap Karen sambil berjalan meninggalkan Tio seorang diri.
Tio sangat kecewa dengan Karen karena dirinya lagi - lagi di tolak oleh Karen.
'Karen, bagaimanapun caranya kamu harus jadi milikku walau harus secara paksa sekalipun aku tidak perduli yang penting kamu harus jadi milikku.' ucap Tio dalam hati sambil memandangi Karen sampai tidak terlihat dan mengepalkan ke dua tangannya dengan erat.
'Kamu selalu menolakku jadi tunggu saja pembalasanku kamu tidak akan bisa pergi dariku karena aku akan melakukan segala cara agar kamu menjadi milikku.' Sambung Tio dalam hati.
"Jika kamu sudah menjadi milikku, aku akan menyiksamu untuk membalaskan apa yang telah kamu lakukan untukku karena kamu sering menolakku. Selama ini semua gadis sangat tergila-gila padaku bahkan rela menyerahkan tubuhnya untukku.' Sambung Tio lagi.
Obsesi memiliki Karen sangat besar, Tio akan cari waktu yang tepat untuk mendapatkan Karen walau bagaimanapun caranya.
XXXXX
__ADS_1
Karen menemui ke dua sahabatnya yang masih setia menunggunya.
"Karen, gimana?" tanya Sandra kepo.
"Gimana apanya?" tanya Karen pura-pura tidak tahu.
"Aish, maksudku apakah Tio melamarmu?" tanya Sandra penasaran.
deg
Kasandra hanya menunduk hatinya sakit mendengar perkataan sahabatnya Sandra tapi berusaha menenangkan dirinya agar bersikap biasa saja supaya ke dua sahabatnya tidak mengetahuinya.
"Iya Tio, melamarku, darimana kamu tahu Cla?" tanya Karen sambil memandangi sahabatnya Kasandra dengan sendu.
Sungguh Karen tidak tega menyakiti sahabatnya tapi Karen tidak mau berbohong karena persahabatan harus disertai kejujuran walau nanti akhirnya ada yang sakit.
"Tebak aja, berarti benar donk?" tanya Sandra.
"Seratus persen tepat." jawab Karen sambil memandang Kasandra sedangkan Kasandra hanya tersenyum walau hatinya terluka.
"Terus kamu terima?" tanya Sandra kepo.
"Tidaklah, aku bilang padanya banyak yang mesti aku gapai dan aku belum ada rencana niat untuk menikah." ucap Karen.
'Aku mengatakan hal itu karena aku tidak ingin menyakiti perasaan Kasandra. Walau sebenarnya aku ada sedikit perasaan tapi persahabatan kami lebih penting.' sambung Karen dalam hati.
"O." jawab mereka berdua Sandra dan Kasandra bersamaan dengan mulut berbentuk huruf O.
"Kasandra, maafkan aku ya?" pinta Karen sambil menatap sendu
"Kenapa minta maaf?" tanya Kasandra bingung
"Kita berdua tahu kalau kamu menyukai Tio, benar bukan?" tanya Karen sambil menggenggam tangan Kasandra.
"A... aku.." jawab Kasandra dengan gugup.
"Kami tahu Mar, kalau kamu menyukainya, tapi kami mohon lupakan perasaanmu mungkin Tio bukan jodohmu." ucap Sandra yang juga ikut menggenggam tangan Kasandra.
"Benar kata Sandra, buat apa kita mencintai seseorang tapi orang itu tidak mencintai kita." tambah Karen berusaha agar sahabatnya melupakan Tio.
"Terima kasih kalian memang sahabat baikku." ucap Kasandra terharu.
__ADS_1
Mereka saling berpelukan untuk saling menguatkan. Selesai berpelukan mereka pulang ke rumah masing - masing dengan di antar oleh Kasandra.