Ranjang Panas Sang CEO

Ranjang Panas Sang CEO
Awal Pertemuan


__ADS_3

Rico dan Ronald langsung menuju ke Cafe Bikin Lapar dengan PT Hati-hati Company untuk mengadakan meeting dengan klien yang ke dua.


Ronald mengendarai mobil dengan kecepatan sedang karena masih ada waktu satu jam lagi.


Di dalam mobil Rico sibuk membuka ponselnya untuk mengerjakan berkas - berkas yang belum selesai. Tidak berapa lama ponsel miliknya berdering dan tertera Mocan calling kepanjangan dari Mommy Cantik.


"Hallo Mom." panggil Rico.


"Rico, kapan pulang ke mansion?" tanya Mommy Nicole.


"Diusahakan bulan depan Rico pulang Mom." jawab Rico.


"Bisa tidak hari ini pulang?" pinta Mommy Nicole.


"Maaf Mom, Rico banyak pekerjaan bulan depan Rico bisa pulang." jawab Rico.


"Minggu depan tidak boleh lagi tawar menawar!" ucap Mommy Nicole dengan nada setengah memaksa.


"Ada apa sich Mom?" tanya Rico karena dirinya benar - benar bulan ini sangat sibuk sekali.


"Mommy dan Daddy ingin menjodohkanmu dengan Ririn." ucap Mommy Nicole.


"Mom, aku itu tidak suka sama Ririn." ucap Rico dengan nada malas sambil memutar dua bola matanya ke atas.


"Kalian kan teman masa kecil dan kalian berdua sudah kenal sejak lama jadi kami sebagai orang tua sudah setuju tentang acara pernikahan ini." ucap Mommy Nicole.


"Tapi Mom?..." ucap Rico terpotong.


"Tidak ada tapi - tapian minggu depan harus datang untuk membicarakan tentang acara pertunangan." perintah Mommy Nicole.


" Baik Mom, tapi bilang sama keluarga Ririn bulan depan membicarakan tentang acara pertunangan jika tidak bersedia perjodohan batal." tegas Rico.


"Baiklah Mommy setuju nanti Mommy akan membicarakan dengan orangtua Ririn." ucap Mommy Nicole mengalah karena Mommy Nicole sudah tahu sifat keras kepala anaknya.


"Ok. Bye." ucap Rico


"Bye." balas Mommy Nicole


tut tut tut tut tut


Telephonepun terputus, Rico memijat kepalanya karena pusing memikirkan perjodohan dengan Ririn karena Rico tidak mencintainya.


Rico hanya menganggap Ririn hanya teman masa kecilnya dan sudah dianggap sebagai adiknya tidak lebih sama seperti Rani adik kembarnya.


Berulang kali Rico menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ronald yang mendengarkan telephone dan kepusingan tuannya hanya bisa diam karena dirinya tidak bisa memberikan solusi.


Tidak terasa mereka sudah sampai di cafe Bikin Lapar dengan kliennya PT Hati-hati Company.


Ronald sang asisten berjalan ke manajer cafe dan manager menunjukkan ruangan VVIP. Kini Rico dan Ronald duduk sambil menunggu kedatangan PT Hati-hati Company.


Kebiasaan buat Rico dan Ronald datang terlebih dahulu sambil mengamati ruangan dan waspada dengan tatapan elangnya.


Jam empat sore, dua orang baru datang dan duduk berhadapan dengan Rico dan Ronald, seorang laki - laki dan seorang perempuan.


"Kenalkan saya Mr. Rudolf CEO PT Hati-hati Company dan ini sekretaris saya Ms. Valen." ucap Mr. Rudolf sambil memajukan tangannya untuk mengajak salam kenal.


Rico hanya mengangguk sedangkan Ronald membalas uluran tangan pemilik CEO PT Hati-hati Company.


Sekretaris bernama Valen memandangi Rico tanpa berkedip sambil berpura - pura membuka dua kancing kemeja agar terlihat dua gunung kembarnya, tapi Rico tidak memperhatikan sama sekali matanya hanya menatap Mr. Rudolf.


Mereka memesan makanan dan minuman sambil menunggu pesanan datang mereka mengobrol basa basi terlebih dahulu.


Tiga orang pelayan datang membawa pesanan mereka dan di tata di meja makan. Setelah selesai di tata merekapun makan dalam diam. Selesai makan merekapun mulai membicarakan kerjasama bisnisnya.

__ADS_1


"Bagaimana kalau keuntungannya 40 persen Mr. Rico dan saya 60 persen." ucap Mr. Rudolf.


"Maaf saya tidak setuju, bagaimana kalau keuntungannya 70 persen saya dan 30 persen Mr. Rudolf?" Tanya Rico.


"What? maaf saya tidak setuju." Jawab Mr. Rudolf keberatan karena mendapatkan keuntungannya yang lebih kecil.


"Ok, bagaimana kalau keuntungannya 80 persen saya dan 20 persen Mr. Rudolf?" Tanya Rico dengan nada masih santai.


"What? kenapa menjadi lebih kecil lagi, maaf saya tidak setuju." Jawab Mr. Rudolf yang sangat keberatan karena mendapatkan keuntungannya lebih kecil dari yang pertama.


"Ok, bagaimana kalau keuntungannya 90 persen saya dan 10 persen Mr. Rudolf?" Tanya Rico dengan nada santai.


"Maaf, apakah anda tidak sedang bercanda?" tanya Mr. Rudolf sambil menahan amarahnya.


"Tidak saya serius." jawab Rico tetap santai.


"Tapi kenapa jadi lebih kecil lagi keuntungan saya?" pekik Mr. Rudolf tidak terima.


"Karena pertama semua modal dari saya, ke dua yang mendesain gambar dari pihak perusahaan saya dan yang ke tiga semua pegawai pekerja pembangunan dari pihak saya jadi kalau misalnya ada kecelakaan kerja saya yang bertanggung jawab, sedangkan anda hanya menunjukkan tempatnya." ucap Rico dengan nada tegas sambil memandang Mr. Rudolf dengan tatapan tajam.


Mr. Rudolf sampai menelan saliva dengan susah payah dan berpikir apa yang mesti dijawab.


"Tidak setuju silahkan kerja sama kita batal dan itu tidak masalah dengan saya." ucap Rico dengan nada tegas.


"Bagaimana dengan sekretaris saya?" tanya Mr. Rudolf.


"Maaf maksudnya apa ya?" tanya Rico pura - pura tidak mengerti.


"Saya tawarkan Ms. Valen untuk menemani Mr. Rico secara puas terlebih Ms Valen masih ori atau masih tersegel tapi dengan satu syarat keuntungannya 40 persen Mr. Rico dan saya 60 persen." ucap Mr. Rudolf tanpa mengetahui bahaya sebentar lagi akan mengancam dirinya.


"Anda serius?" tanya Rico yang sudah mulai kesal.


"Ya saya serius." jawab Mr. Rudolf tegas.


"Ronald." panggil Rico.


Ronald langsung menjentikkan jarinya dan empat bodyguard datang dan langsung membawa Mr. Rudolf dan Ms. Valen.


"Tuan, kenapa kami di tangkap?" Tanya Mr Rudolf dengan wajah terkejut.


"Aku paling tidak suka ada orang yang melakukan trik licik seperti ini agar mendapatkan keuntungan yang besar." Ucap Rico sambil mengibaskan tangannya.


Ke empat bodyguard tersebut menarik tangan Mr. Rudolf dan Ms. Valen untuk keluar dari cafe tersebut.


Rico dan Ronald berjalan dengan santai menuju keluar dari ruangan VVIP. Namun baru beberapa langkah datang tiga gadis yang sangat cantik masuk ke dalam cafe sambil tersenyum dan menyapa pelanggan.


"Selamat siang Tuan - Tuan, Nyonya - Nyonya dan Nona-Nona." Sapa gadis pertama yang tidak lain adalah Karen.


"Kami bertiga pemilik cafe ini ingin memberitahukan kalau besok merupakan ulang tahun cafe kami." Sambung gadis ke dua yang tidak lain bernama Sandra.


"Di hari ulang tahun cafe kami, kami memberikan makanan dan minuman gratis untuk para pengunjung." Sambung Kasandra.


"Makan dan minum gratis?" Tanya salah satu pelanggan cafe.


"Betul sekali." Jawab Karen.


"Apa tidak rugi?" Tanya pengunjung lain.


"Kebetulan cafe kami mendapatkan keuntungan karena itulah kami bertiga sepakat memberikan makanan dan minuman gratis untuk para pengunjung." Jawab Sandra.


'Huh, pas giliran ada dua pria tampan dan kaya yang menatap mereka mengatakan makan dan minum gratis. Seakan mengatakan aku gadis dermawan, lihat saja aku akan mempermalukan kalian bertiga.' Ucap gadis tersebut dalam hati sambil berpikir.


"Kenapa tidak memberikan makanan dan minuman yang tidak mampu?" Tanya seorang gadis yang merupakan pengunjung.

__ADS_1


"Betul, kami punya duit banyak jadi lebih baik berikan ke orang yang tidak mampu." Ucap gadis ke dua yang ada di sebelahnya sambil melirik ke arah Rico yang masih memandangi Karen.


'Kak Rico, aku sangat menyukaimu dan aku tidak rela jika Kak Rico menyukai gadis lain.' Sambung gadis itu.


"Benar, berikan ke orang yang tidak mampu saja." Ucap pengungsi lainnya.


Ada yang setuju usulan ke tiga gadis tersebut untuk makan serta minum gratis dan ada juga yang tidak setuju karena lebih baik diberikan ke orang yang tidak mampu.


"Maaf tenang dulu." Pinta Kasandra.


"Tentu saja kami sudah menyiapkan seratus paket makanan dan minuman untuk orang yang tidak mampu." Sambung Karen.


"Jika ada yang mau berdonasi silahkan temui orang kepercayaan kami." Sambung Sandra sambil menarik orang kepercayaan mereka bertiga.


'Menarik.' Ucap Rico dalam hati sambil menjentikkan jarinya.


Tanpa banyak bertanya Ronald mengambil sesuatu di dalam jasnya berupa cek kemudian Ronald menulis angka lalu memberikan ke orang kepercayaan ke tiga gadis tersebut.


"Kita pulang!" Perintah Rico sambil berjalan.


"Baik Tuan." Jawab Ronald.


Rico dan Ronald melanjutkan langkahnya hingga mereka sampai di mobil kemudian merekapun melanjutkan perjalanan menuju ke mansion untuk istirahat.


Sampai di mansion Rico dan Ronald masuk ke dalam mansion yang sudah dibukakan oleh pelayan.


Mereka naik ke lantai 3 dan masuk ke kamar masing - masing dan mandi karena badan mereka sangat lelah dan lengket.


Selesai mandi mereka turun ke lantai satu menuju ke meja makan. Mereka makan saling diam tanpa bicara sedikitpun. Selesai makan mereka naik ke lantai tiga dan masuk ke dalam kamar masing - masing untuk istirahat.


xxxxxxxx


Di tempat yang berbeda tepatnya di mansion milik Daddy Raka bersama istrinya yang bernama Mommy Nicole.


"Bagaimana?" Tanya Daddy Raka setelah melihat istrinya sudah selesai menghubungi putra pertamanya.


"Putra kita tidak suka dengan Ririn, apakah kita batalkan saja ya Dad?" Tanya Mommy Nicole.


"Bukankah putra kita berteman baik dengan Ririn terlebih putra kita sering melindungi Ririn sama seperti melindungi adik kembarnya." Ucap Daddy Raka.


"Mungkin putra kita hanya menganggap Ririn tidak lebih sebagai adiknya." Jawab Mommy Nicole.


"Bisa jadi." Ucap Daddy Raka.


"Tapi Mommy sudah janji sama mereka untuk menjodohkan putra kita dengan putri mereka." Ucap Mommy Nicole sambil memijat keningnya yang tidak pusing.


"Nanti Daddy dan Mommy nasehatin putra kita agar menerima perjodohan ini."Ucap Daddy Raka.


"Kenapa sih putra kita sekali-kali menurut permintaan kita? Apa ngikutin sifat Daddy?" Tanya Mommy Nicole sambil berpikir.


Ctak


"Aduh." Ucap Mommy Nicole sambil mengusap keningnya yang disentil oleh suaminya.


"Maaf Mommy, habis Mommy tidak ingat apa yang Mommy lakukan dulu malah menuduh putra kita mengikuti sifat Daddy." Ucap Daddy Raka sambil mengusap kening istriny dan sekali-kali meniupnya.


"Hehehehe ..."


"Sudah ingatkan? Bagaimana dulu Daddy datang untuk melamar Mommy malah Mommy kabur dari mansion. Sifat putra kita sama seperti Mommy." Ucap Daddy Raka.


"Ingat Dad, sudahlah jangan di bahas masa lalu." Pinta Mommy Nicole.


"Tapi Daddy sangat suka membahas masa lalu." Ucap Daddy Raka.

__ADS_1


"Kenapa sangat suka membahas masa lalu?" Tanya Nicole penasaran.


__ADS_2