
"Sayang, lihat itu." Tunjuk Nicole ke arah dua pria yang masih memantau mansion milik Daddy Wijaya.
Tanpa menjawab arah pandang Raka yang tadi menatap istrinya kini menatap ke arah yang di tunjuk oleh Nicole. Raka melihat ada dua pria berpakaian serba hitam sedang memantau mansion milik mertuanya membuat Raka menaikkan salah satu alis matanya.
"Siapa mereka? Apakah Daddy mempunyai musuh?" Tanya Raka.
"Aku tidak mengenalnya Kak, apakah kita ke sana untuk menanyakan siapa mereka dan apa tujuan memata-matai mansion Daddy?" Tanya Nicole balik bertanya.
"Biar Kakak saja ke sana." Jawab Raka yang tidak tega jika istrinya terluka.
"Tidak kita sama-sama ke sana." Ucap Nicole.
"Baiklah tapi kamu harus berhati-hati." Ucap Raka.
"Ok." Jawab Nicole singkat dan padat.
"Kamu duluan yang lompat baru Kakak." Usul Raka.
"Ok." Jawab Nicole singkat lagi.
Nicole melompat dari satu pohon ke pohon satunya seperti tupai ️ begitu pula dengan Raka mengikuti apa yang dilakukan oleh istrinya.
Hap
"Siapa yang menyuruh kalian?" Tanya Nicole ketika Nicole melompat ke tanah dalam posisi berlutut kemudian berdiri dengan tegak.
Ke dua pria berseragam hitam-hitam sangat terkejut dengan kedatangan Nicole yang tiba-tiba tapi langsung bersikap biasa saja. ke dua pria berseragam hitam-hitam tersebut langsung mengeluarkan pistol dari saku kemejanya.
Duag
Duag
"Akhhhhhhhh... " Teriak mereka berdua bersamaan.
Ke dua pria berseragam hitam-hitam tersebut langsung mengeluarkan pistol dari saku jasnya bersamaan kedatangan Raka sambil menendang ke dua tangan pria tersebut yang memegang pistol dengan keras membuat mereka berteriak kesakitan.
Bruk
Bruk
Selesai menendang Raka melakukan salto lalu berdiri membelakangi mereka lalu memukul ke dua bahu pria tersebut hingga mereka langsung ambruk sambil berteriak kesakitan secara bersamaan karena mendapatkan serangan yang mendadak.
Raka membalikkan badannya dan menatap tajam ke arah mereka yang sedang bangun sambil memegang tangan dan bahunya yang terasa nyeri secara bergantian.
Bugh
Duag
Bugh
Duag
Tanpa banyak bicara Raka menyerang salah satu pria tersebut dan di susul oleh Nicole yang ikut menyerang pria satunya. Serangan yang mendadak di tambah Raka dan Nicole yang bisa bela diri membuat mereka terdesak dan akhirnya mereka babak belur.
"Siapa yang menyuruh kalian?" Tanya Raka dengan nada dingin dan wajah datar.
Sangat berbeda ketika Raka memandang istrinya dengan tatapan lembut dan penuh kasih sayang.
Hening
Hening
Krek
Raka yang tidak sabaran mendekati salah satu pria tersebut kemudian mengangkat kaki kanannya dan menginjak tangan pria itu hingga terdengar suara tulang retak.
"Akhhhhhhhh..." Teriak pria itu kesakitan.
Nicole memalingkan wajahnya antara tidak tega dan tega secara bersamaan. Tidak tega karena Nicole mempunyai sifat yang tidak tega melihat orang terluka dan tega karena ke dua pria itu telah berani memata-matai mansion milik orang tuanya.
Seandainya saja tadi dirinya tidak berdiri di atas pohon bisa saja di saat lengah mereka mencelakai Ayah dan suami yang sangat disayanginya.
"Siapa yang menyuruh kalian?" Tanya Raka mengulangi perkataannya dengan nada yang lebih dingin hingga terasa sekali hawa dingin di sekitarnya.
"Tuan Fer ..." Ucapan pria tersebut terputus dan berubah menjadi teriakan kesakitan ketika timah panas mengenai ke dua pria tersebut.
Dor
Dor
"Akhhhhhhhh...." Teriak ke dua pria tersebut secara bersamaan.
Ke dua pria berseragam hitam-hitam tersebut tubuhnya kejang-kejang ketika peluru tersebut mengenai kening mereka dan tidak membutuhkan waktu lama mereka meninggal di tempat.
Nicole membalikkan tubuhnya dan menatap sekitar untuk mencari penembak misterius sedangkan Raka mengambil pistol dari saku jasnya barulah menatap sekitar namun mereka tidak melihatnya.
"Siapa yang menembak mereka berdua?" Tanya Nicole sambil masih menatap sekelilingnya.
"Kakak tidak tahu sepertinya ..." Ucapan Raka terputus ketika mata elangnya melihat seorang pria berseragam hitam-hitam bersembunyi di rimbunan pohon.
Dor
"Akhhhhhhhh...." Teriak penembak jitu tersebut.
Bruk
__ADS_1
Raka langsung mengarahkan pistol ke arah pohon tersebut dan langsung menarik pelatuk hingga terdengar letusan tembakan bersamaan pria tersebut jatuh dari pohon dan jatuh ke jalan aspal.
Raka dengan langkah cepat menuju ke arah pria tersebut dan di susul oleh Nicole untuk melihat pria tersebut. Pria tersebut meringis menahan rasa sakit akibat bahunya terkena tembak dan tulang-tulangnya terasa patah akibat jatuh dari pohon. Hingga darah segar keluar dari tubuh, mulut, hidung dan kepala.
"Siapa yang menyuruhmu?" Tanya Raka.
Hening
"Si*l." Umpat Raka ketika mengecek nadi dan nafas pria tersebut.
Ketika Raka bertanya pria tersebut memilih menggigit lidahnya dan langsung ma ti seketika membuat Raka kesal karena tidak mendapatkan informasi yang diinginkan.
"Sudahlah lain kali kita berhati-hati lagi dan aku akan memanggil anak buah Daddy untuk mengubur mereka." Ucap Nicole.
"Tapi aneh kenapa anak buah Daddy tidak mendengar suara tembakan?" Tanya Raka sambil membalikan badannya dan berjalan ke arah gerbang utama.
"Betul juga, kenapa aku baru sadar." Jawab Nicole sambil ikut membalikkan badannya dan menyusul suaminya.
"Buka pintu!" Teriak Raka.
Dua bodyguard langsung berlari dengan langkah cepat menuju ke arah gerbang. Ketika melihat Raka dan Nicole ke dua bodyguard langsung membuka pintu gerbang.
Nicole dan Raka berjalan memasuki mansion dan ke dua bodyguard langsung menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat.
"Apakah kalian tidak mendengar suara tembakan?" Tanya Raka dengan nada dingin dan wajah datar.
"Maaf Tuan, kami mendengarnya tapi kami tidak keluar karena kami hanya bertugas di dalam mansion bukan di luar gerbang mansion." Jawab salah satu bodyguard milik Daddy Wijaya beralasan.
Grep
Ketika Raka ingin mengatakan sesuatu istrinya menggenggam tangan kanannya sebagai tanda untuk diam dan Raka hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan perlahan untuk menghilangkan amarahnya.
"Ada tiga mayat pria di luar, aku minta tolong kuburkan mereka!" Perintah Nicole.
" Baik Nyonya muda." Jawab ke dua bodyguard tersebut dengan patuh.
Nicole menarik tangan suaminya dan berjalan ke arah pintu utama membuat Raka dengan patuh mengikuti langkah istrinya namun ke dua mata elangnya melihat ke dua bodyguard milik mertuanya seperti menyembunyikan sesuatu.
Mereka berjalan hingga mereka berada di ruang keluarga dan melihat Daddy Wijaya sedang duduk sambil menatap mereka berdua. Mereka pun berjalan ke arah ruang keluarga mendekati Daddy Wijaya.
"Kalian darimana? Bukannya tadi ada di kamar?" Tanya Daddy Wijaya dengan wajah bingung.
Raka dan Nicole langsung duduk berdampingan di sofa dan saling berhadapan dengan Daddy Wijaya yang hanya di batasi oleh meja.
Raka menceritakan apa yang telah terjadi sedangkan Daddy Wijaya hanya diam mendengarkan cerita Raka tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
"Itulah yang terjadi Dad, apa Daddy mempunyai musuh?" Tanya Raka.
"Daddy merasa tidak mempunyai musuh" Jawab Daddy Wijaya.
"Salah satu dari mereka menyebut nama Tuan Fer ... Apa jangan-jangan Tuan Ferguson?" Tanya Raka asal tebak.
"Siapa Tuan Ferguson?" Tanya Nicole penasaran.
"Orang yang menyukai istriku." Ucap Raka dengan nada cemburu.
"Menyukaiku? Senang banget ada yang tergila-gila sama aku." Ucap Nicole yang sangat suka menggoda suaminya.
"Nicole!'' Ucap Raka dengan nada kesal.
"Aduh tampannya suamiku kalau lagi cemburu." Goda Nicole sambil memegangi ke dua pipi suaminya.
'Awas kamu ya!' Ancam Raka dengan suara berbisik di telinga istrinya.
'Tidak takut.' Jawab Nicole dengan suara ikut berbisik.
"Ehem ... Benar kata orang kalau sudah jatuh cinta seperti dunia milik berdua dan lainnya ngontrak." Ucap Daddy Wijaya sambil tersenyum bahagia melihat kemesraan putri kesayangannya.
"Hehehehe..." Tawa Raka dan Nicole bersamaan sambil tersenyum malu.
"Daddy senang melihat kalian seperti ini dan Daddy harap selamanya seperti ini sampai maut memisahkan kalian." Ucap Daddy Wijaya sambil tersenyum.
"Amin." Jawab Raka dan Nicole bersamaan.
"Oh ya Dad, Raka baru ingat sesuatu." Ucap Raka dengan wajah serius dan tidak bercanda seperti tadi.
"Apa itu?" Tanya Daddy Wijaya dengan wajah ikut serius.
"Raka curiga dengan ke dua bodyguard yang berjaga di luar." Ucap Raka.
Daddy Wijaya menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian menatap ke arah menantunya.
"Daddy, sebenarnya memang tidak menyukai dua bodyguard itu." Ucap Daddy Wijaya.
"Kalau Daddy tidak suka lalu kenapa Daddy masih memperkerjakan mereka?" Tanya Nicole dengan wajah terkejut.
"Mereka anak buah adik tiri Daddy, kamu masih ingat dengan Paman Donald?" Tanya Daddynya Nicole.
"Ingat Dad, Paman Donald yang menginginkan harta Daddy padahal Daddy sering membantunya tapi Paman Donald dan keluarganya tidak pernah puas dengan apa yang diberikan sama Daddy." Jawab Nicole.
"Betul, beberapa hari yang lalu Paman Donald datang bersama keluarganya untuk meminta perusahaan cabang tapi Daddy tidak memberikannya dan mereka sangat marah sama Daddy dan tidak pernah datang ke sini lagi." Ucap Daddy Wijaya.
"Karena itulah sebelum terjadi sesuatu dengan Daddy, Daddy ingin memberikan semua harta milik Daddy termasuk perusahaan atas nama suamimu agar Paman Donald tidak bisa mengusik mu." Ucap Daddy Wijaya.
"Kok Daddy bilangnya begitu? Daddy pasti baik-baik saja dan Nicole akan selalu melindungi Daddy dari Paman Donald maupun keluarganya." Ucap Nicole.
__ADS_1
"Raka yang akan melindungi Daddy dan Nicole dari orang yang berbuat jahat." Ucap Raka dengan nada tegas.
"Daddy sangat senang mendengarnya." Jawab Daddy Wijaya sambil tersenyum bahagia.
"Nicole." Panggil Daddy Wijaya.
"Iya Dad." Jawab Nicole.
"Apakah kamu tidak masalah jika semua aset milik Daddy dan termasuk perusahaan atas nama suamimu?" Tanya Daddy Wijaya.
"Nicole tidak masalah Dad karena Nicole yakin kalau suamiku tidak gila akan harta tapi hanya gila sama ..." Ucap Nicole menggantungkan kalimatnya dengan wajah memerah.
"Gila sama apa?" Tanya Daddy Wijaya dan Raka bersamaan sambil menatap ke arah Nicole.
"Sama Nicole, Kak Raka itu tidak bisa jauh dari Nicole. Daddy bisa lihat sendiri kan sejak tadi Kak Raka nempel terus kayak lem." Ucap Nicole bangga dan tersenyum bahagia.
"Pffftttt hahahaha.... " Tawa ke dua pria itu bersamaan.
'Aku sangat senang melihat Daddy dan Kak Raka tertawa lepas seperti itu dan aku harap aku bisa hamil agar bisa melihat kebahagiaan di wajah Daddy dan Kak Raka dua pria yang sangat Nicole sayangi. Aku akan melindungi Daddy dan kak Raka dari orang jahat.' Ucap Nicole dalam hati.
Raka mengusap rambut istrinya dengan lembut kemudian memeluknya sambil sesekali mencium kening istrinya karena apa yang dikatakan istrinya memang benar kalau dirinya tergila-gila dengan Nicole istri yang sangat dicintainya.
"Berarti Nicole setuju kalau semua aset berharga Daddy dan perusahaan jatuh ke tangan suamimu?" Tanya Daddy Wijaya.
Entah kenapa perasaannya tidak enak karena itu Daddy Wijaya tidak ingin menunda terlalu lama.
"Nicole setuju Dad," Jawab Nicole.
"Kenapa tidak nama Nicole saja Dad?" Tanya Raka.
"Nicole terlalu baik dan Daddy sangat yakin kalau Paman Donald dan keluarganya setelah tahu Nicole jadi ahli waris pasti mereka melakukan berbagai cara dan akhirnya Nicole menyerahkan semuanya ke mereka tanpa sepengetahuan kita." Jawab Daddy Wijaya menjelaskan.
"Sedangkan kalau namamu mereka akan berpikir dua kali untuk melakukannya." sambung Daddy Wijaya.
"Benar kata Daddy, istriku memang terlalu baik dan tidak tega melihat orang menderita hal itu bisa saja dimanfaatkan oleh mereka." Ucap Raka.
"Mengenai semua aset dan perusahaan atas namaku, Raka tidak masalah tapi semua keuntungan yang diperoleh masuk ke tabungan istriku dan istriku bebas melakukan apa saja dengan uang itu asal jangan memberikan ke orang-orang yang tidak berhak misalnya diberikan ke benalu yang bisanya hanya menggerogoti harta istriku." Sambung Raka dengan tegas dan tidak bisa terbantahkan.
"Kalau itu Daddy setuju." Jawab Daddy Wijaya sambil mengeluarkan ponselnya dari saku kemejanya.
"Daddy mau nelepon siapa?" Tanya Nicole.
"Telepon pengacara untuk mengurus semuanya." Jawab Daddy Wijaya.
"Secepat itukah?" Tanya Nicole.
"Lebih cepat lebih baik." Jawab Daddy Wijaya sambil mencari nomer kontak pengacara keluarga.
Nicole hanya terdiam sedangkan Daddy Wijaya menghubungi pengacaranya untuk mengurus surat-surat perpindahan ahli waris setelah selesai Daddy Wijaya menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku kemejanya.
"Oh ya Dad, mengenai dua bodyguard yang berada di depan lebih baik di ganti dengan bodyguard milik Raka." Ucap Raka yang tidak ingin mertua dan istrinya terluka.
"Raka juga menambahkan beberapa anak buah Raka karena entah mengapa perasaan Raka tidak enak." Sambung Raka.
"Daddy serahkan semuanya sama kamu karena mulai sekarang kamu yang berkuasa di mansion ini." Ucap Daddy Wijaya.
"Jangan begitu Dad, Raka tidak mau karena bagaimanapun Daddy yang berkuasa di mansion ini." Jawab Raka.
Raka sangat terharu dan sangat bahagia karena Ayah mertuanya dan istri yang sangat dicintainya mempercayakan dirinya untuk dijadikan ahli waris. Bukannya dirinya gila harta tapi kepercayaan yang diberikannya karena bagaimanapun hartanya Raka juga sangat banyak dan tidak akan habis tujuh keturunan.
Dirinya berjanji untuk selalu melindungi orang-orang yang disayanginya walau nyawa menjadi taruhannya.
'Maaf Sayang sepertinya Kakak saat ini tidak bisa menepati janji untuk melepaskan mafia karena banyak musuh yang ingin mencelakai Ayahmu dan juga kamu. Kakak berjanji setelah ini selesai Kakak akan membubarkan mafia dan melepaskan jabatan ketua Mafia.' ucap Raka dalam hati.
'Aku tidak salah memilih menantu karena aku percaya Raka adalah pria yang tepat melindungi dan menyayangi putri kesayangan ku. Mommy, bisa melihat putri kita selalu tersenyum bahagia sejak menikah dengan Raka menantu kita. Sebentar lagi kita akan bertemu Mom karena Daddy sangat merindukan Mommy.' Ucap Daddy Wijaya dalam hati.
'Daddy, di usia Daddy menua Nicole sangat sedih karena sampai sekarang Nicole belum memberikan cucu untuk Daddy. Doakan anakmu ini Dad semoga Nicole bisa hamil.' Ucap Nicole dalam hati.
'Kak Raka aku bahagia bisa menikah dengan mu dan aku sangat bahagia lagi jika aku bisa hamil. Tuhan, aku ingin bisa hamil agar aku bisa membahagiakan orang-orang yang aku sayangi.' Sambung Nicole dalam hati.
"Kalau begitu Raka akan menghubungi anak buah Raka untuk menggantikan bodyguard yang berada di mansion." Ucap Raka.
"Bagaimana kalau semuanya?" Tanya Nicole memberikan usulan.
"Kenapa semuanya?" Tanya Daddy Wijaya.
"Karena Nicole merasa tatapan bodyguard Daddy agak berbeda seperti menyimpan dendam." Ucap Nicole.
"Lakukan saja Daddy tidak masalah." Jawab Daddy Wijaya.
"Lalu mereka dikemanakan?" Tanya Raka.
'Haruskah aku membunuh mereka semua karena belum ada bukti.' sambung Raka.
"Bagaimana kalau dipindahkan ke markas Kak Raka dengan mengatakan ada pertukaran bodyguard dalam arti di rolling." Usul Nicole.
"Kalau dipindahkan ke markas milik Kakak bisa membahayakan nyawa anggota Kakak." Ucap Raka menolak usulan Nicole.
"Begini saja mengenai para bodyguard biar Raka yang memikirkannya. Raka akan menghubungi anak buah Raka untuk datang ke sini untuk menggantikan pekerjaan mereka." Ucap Raka.
'Mereka akan aku suruh menjaga mansion milikku yang berada di pinggir hutan di mana banyak cctv agar Kakak bisa tahu apakah mereka setia atau tidak.' Sambung Raka dalam hati.
"Daddy setuju, kamu aturlah semuanya." Jawab Daddy Wijaya.
"Terima kasih Dad, Raka akan menghubungi mereka sekarang." Ucap Raka sambil mengeluarkan ponselnya.
__ADS_1
Bukan kenapa-kenapa tapi dikarenakan dirinya ingin menyelesaikan masalah dengan Tuan Ferguson dengan segera sehingga dirinya bisa merasakan tenang jika meninggalkan istrinya dan Ayah mertuanya di mansion.
Tanpa sepengetahuan mereka ada seseorang yang mendengarkan percakapan mereka membuat orang tersebut menggenggam ke dua tangannya dengan erat kemudian pergi meninggalkan ruangan tersebut.