Ranjang Panas Sang CEO

Ranjang Panas Sang CEO
Gawat


__ADS_3

("Halo Tuan." Panggil pria di sebrang).


("Ya." Jawab pria tersebut dengan singkat).


("Tuan, misi sudah selesai rumah menantu Tuan besar Raka sudah kami bakar dan kami bisa memastikan adik kesayangannya juga ikut ma ti terbakar." Ucap pria yang berada di sebrang melaporkan apa yang telah dilakukannya).


("Bagus, oh ya apakah kalian tidak lupa merusak cctv yang ada di sana agar aksi kalian tidak ada yang mengetahuinya?" Tanya pria tersebut).


("Maaf Tuan, saya tidak mengecek apakah di sana ada cctv atau tidak." Ucap pria yang berada di sebrang).


("Dasar bo x doh, balik dan hancurkan semua cctv yang ada di sana!" Perintah pria tersebut dengan nada setengah oktaf).


Tut Tut Tut Tut


Tanpa menunggu jawaban pria tersebut memutuskan sambungan komunikasi langsung secara sepihak.


("Akhhhhhhhh ... Kenapa punya anak buahnya bo x doh banget!" Teriak pria tersebut dengan nada frustrasi).


Lima menit kemudian ponselnya berdering kembali membuat pria tersebut menggeser tombol berwarna hijau kemudian menempelkan ponselnya ke telinganya.


("Hallo Tuan." Panggil pria yang berada di sebrang).


("Bagaimana? Apakah kalian sudah merusak cctv nya?" Tanya pria tersebut).


("Maaf Tuan, semua penduduk pada keluar rumah dan rumah dokter Adrian kini banyak orang jadi kami tidak berani mendekatinya." Lapor pria yang berada di sebrang).


("Ya sudah kalian balik ke markas dan laporkan semua yang telah kalian lakukan." Ucap pria tersebut).


("Baik Tuan." Jawab pria yang berada di sebrang).


Tut Tut Tut Tut


Tanpa menjawab pria tersebut memutuskan sambungan komunikasi langsung secara sepihak.


("Semoga saja tidak ada masalah." Ucap pria tersebut penuh harap).


("Semoga saja Tuan." Ucap pria yang berada di hadapannya).


Setelah itu mereka terdiam hingga setengah jam kemudian ke enam pria berseragam hitam-hitam berjalan mendekati ke dua pria tersebut.


("Bagaimana tugas kalian?" Tanya pria tersebut).


("Ruang cctv sudah kami rusak jadi tidak akan ada yang mengetahui semua aksi kita." Ucap salah satu pria).


("Bagus pekerjaan kalian berdua karena Ketua pasti akan senang dengan pekerjaan kalian." Ucap pria tersebut).


Ke dua pria tersebut hanya tersenyum bahagia karena di puji oleh pemimpin mereka.


("Bagaimana dengan kalian?" Tanya pria tersebut sambil menatap satu persatu secara bergantian yang berjumlah empat orang).


("Maaf Tuan, mereka tidak ada di kamarnya." Jawab mereka bersamaan).


("Maksudnya?" Tanya pria tersebut dengan nada kesal).


("Waktu kami berdua ke kamar Tuan Besar Raka, kami tidak menemukannya begitu pula dengan istrinya. Sama seperi ketika kami berempat ke kamar putri bungsunya mereka tidak ada baik Nyonya muda Rani dan Tuan Muda Adrian." Jawab pria pertama).


("Betul Tuan, waktu kami berdua ke kamar Tuan muda Rico, Tuan Rico bersama istrinya juga tidak ada akhirnya kami berdua keluar kamar dan kami berempat masuk ke dalam kamar Nyonya muda Rani bersama suaminya juga tidak ada." Sambung pria ke tiga).


("Kenapa mereka tidak ada?" Tanya pria tersebut dengan wajah terkejut).


("Kami kurang tahu Tuan, mungkin Nona Ririn telah membohongi kita kalau keluarga besar Raka menginap di hotel ini." Ucap pria ke dua).


("Ya sudah kita pergi saja dari sini sekalian aku akan menghubungi Nona Ririn untuk menanyakan kenapa membohongiku. Aku akan menghubunginya di dalam mobil." Ucap pria tersebut sambil berjalan ke arah mobil).


("Baik Tuan." Jawab mereka bersamaan).


Mereka pun meninggalkan area parkiran hotel hingga bayangan mobil tidak terlihat.


Rekaman CCTV Off


"Ririn? Siapa Ririn?" Tanya Karen tiba-tiba ketika rekaman cctv sudah selesai.


"Ririn adalah gadis yang akan Mommy jodohkan dengan Rico. Mommy tidak menyangka ternyata Ririn sangat jahat karena ingin menghancurkan keluarga kita." Ucap Mommy Nicole.


"Rico juga tidak menyangka Mom karena Ririn teman masa kecilku. Rico bersyukur tidak jadi menikah dengan wanita jahat itu." Ucap Rico sambil menggenggam tangan istrinya.


"Mommy sangat menyesal ketika orang tua Ririn datang dan memohon sama Mommy agar menjodohkan putrinya karena putrinya sangat mencintai Rico dan membuatnya tergila-gila." Ucap Mommy Nicole.


"Awalnya Mommy dan Daddy tidak setuju tapi dengan alasan teman masa kecil dan Ririn ingin bunuh diri jika tidak menikah dengan Rico karena itulah kami terpaksa menerimanya." Ucap Daddy Raka yang juga ikut merasa bersalah karena menyetujui permintaan orang tua Ririn.


"Mommy dan Daddy jangan merasa bersalah karena kita tidak pernah tahu kalau mereka bisa melakukan tindakan keji ingin menghancurkan keluarga kita." Ucap Rico yang tidak ingin ke dua orang tuanya merasa bersalah.


"Apa yang dikatakan kak Rico benar, kita tidak pernah tahu isi hati orang jadi Mommy dan Daddy jangan merasa sedih ataupun merasa bersalah. Kita masih patut bersyukur karena kita semua masih diberikan kesempatan untuk hidup." sambung Karen.


"Karen, Mommy secara pribadi terima kasih karena ide jahil mu kami semua masih hidup." Ucap Mommy Nicole sambil tersenyum dan menggenggam tangan menantunya.

__ADS_1


"Ide jahil?" Tanya para pria bersamaan.


Mommy Nicole menceritakan ide jahil Karen sedangkan para pria mendengarkan apa yang diceritakan oleh Mommy Nicole. Mereka bersyukur karena ide jahil Karen membuat nyawa Mommy Nicole, Karen, Rani dan dokter Adrian selamat dari pembunuhan.


"Oh ya Karen dan Adrian, nyawa kalian sangat bahaya jika menikah dengan ke dua anak kembarku Rico dan Rani. Jika kalian ingin berpisah dengan pasangan masing-masing agar nyawa kalian selamat maka kami sebagai orang tuanya tidak marah dan akan mengurus surat perceraian kalian." Ucap Daddy Raka.


'Aku ingin tahu apa kalian tulus mencintai ke dua anak kembarku atau tidak.' Sambung Daddy Raka.


"Jujur, memang ini sangat berat buat ke dua anak kembar kami terlebih kami sebagai orang tuanya tapi demi keselamatan kalian kami tidak melarang jika kalian ingin berpisah." Sambung Mommy Nicole yang ingin menguji ke dua menantunya.


"Apa yang dikatakan Daddy dan Mommy benar, jika istriku ingin meninggalkan aku maka aku akan melepaskannya walau jujur ini sangat berat buatku tapi demi keselamatan istri dan ke empat anak kita aku rela." Sambung Rico pada istrinya yang bertentangan dengan hatinya tapi ingin tahu seberapa dalamnya Karen mencintai dirinya.


"Sayang, apa yang dikatakan oleh Mommy dan Daddy ada benarnya aku tidak ingin orang yang aku cintai terluka terlebih adik ipar ku karena itu aku rela jika suamiku memintaku untuk berpisah." Sambung Rani dengan mata berkaca-kaca.


Karen dan dokter Adrian berjalan ke arah pasangan masing - masing kemudian menggenggam ke dua tangannya.


"Sebelum aku menjawab, apakah Suamiku mencintai ku dan juga ke empat anak kita?" Tanya Karen sambil menatap mata suaminya dan masih menggenggam ke dua tangannya.


"Tentu saja aku sangat mencintaimu dan juga anak kita." Jawab Raka tanpa banyak berpikir.


"Aku pun juga sama sangat mencintaimu dan juga sangat menyayangi ke dua orang tuamu yang sudah aku anggap sebagai orang tua kandungku. Betapa jahatnya aku dan egoisnya aku jika aku membiarkan orang yang aku cintai dan ke dua orang tuaku dalam bahaya." Ucap Karen.


Grep


"Aku sangat pintar meretas data, suamiku, Daddy Raka, Ronald dan Marcel pintar bela diri karena itu mari kita sama-sama melawan para musuh kita." Sambung Karen sambil memeluk suaminya dan Riko pun membalas pelukan istrinya.


Tidak berapa lama mereka melepaskan pelukannya kemudian mereka saling menatap.


"Sayang, Kakak sangat mencintaimu setulus hati, alangkah pengecutnya Kakak jika orang yang Kakak cintai dalam bahaya. Apalagi baru kali ini Kakak merasakan kasih sayang orang tua yang tidak pernah kami rasakan sejak ke dua orang tua kami pergi selama - lamanya waktu usia Kakak lima belas tahun." Ucap dokter Adrian.


"Bagi Kakak orang tuamu sudah aku anggap sebagai orang tuaku dan kamu adalah istriku jadi alangkah egoisnya Kakak dan pengecutnya Kakak jika istri dan keluarga Kakak dalam bahaya sedangkan Kakak pergi meninggalkan kalian." Sambung dokter Adrian.


"Seperti apa yang dikatakan oleh Kak Karen yaitu Daddy, Kak Rico, Ronald dan Marcel bisa bela diri, Kak Karen bisa program IT sedangkan Kakak juga bisa bela diri dan bisa mengobati orang yang terluka. Karena itu mari kita sama-sama melawan para musuh." Ucap dokter Adrian.


"Aku juga bisa bela diri dan bisa meretas data serta cctv jadi aku bisa membantu melawan para musuh." Sambung Adriana.


"Aku juga bisa bela diri." Ucap dokter kasandra dan Sandra bersamaan.


Tiba - tiba Daddy Raka, Mommy Nicole, Rico dan Rani bertepuk tangan membuat Karen, dokter Adrian dan Adriana menatap ke arah mereka dengan tatapan bingung.


"Kenapa bertepuk tangan?" Tanya Karen, dokter Adrian dan Adriana bersamaan.


"Maaf sebenarnya Daddy hanya mengetes apakah kalian hanya memikirkan diri sendiri atau tetap bertahan bersama pasangan kalian. Ternyata pilihan ke dua anak kami tidak salah, kalian ternyata saling perduli dan hal ini membuat Daddy sangat bahagia." Ucap Daddy Raka menjelaskan.


"Awalnya Mommy ingin protes namun Daddy memberikan kode membuat Mommy pura-pura mendukung rencana Daddy. Terima kasih karena kalian sangat tulus mencintai anak kami dan terima kasih juga karena telah menganggap kami sebagai orang tua kalian." Sambung Mommy Nicole menjelaskan.


" Maaf Kak Adrian, sebenarnya aku tidak bisa pisah dengan Kak Adrian tapi aku tidak ingin Kakak ipar dan adik ipar ku terluka karena itulah ketika Daddy, Mommy dan Kak Rico mengatakan itu membuatku tidak ingin egois. Terima kasih mau membantu keluargaku." Ucap Rani.


Ketika Karen dan dokter Adrian ingin bicara bersamaan pintu ruangan tersebut di ketuk oleh seseorang membuat Karen dan dokter Adrian tidak jadi bicara.


"Masuk." Ucap Daddy Raka.


Ceklek


Pintu ruangan cctv tersebut di buka membuat semua orang menatap ke arah pintu tersebut dan melihat pria tampan masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Kak Leonard." Panggil Karen, Sandra dan dokter Kasandra bersamaan sambil berjalan ke arah Leonard.


Grep                Grep               Grep


Baru saja satu langkah tangan Karen di genggam oleh Rico begitu pula dengan Sandra dan dokter Kasandra tangannya di genggam oleh Marcel dan Ronald.


"Hai Karen, Sandra dan Kasandra." Panggil Leonard.


"Hai juga." Jawab Karen, Sandra dan Kasandra bersamaan.


"Oh ya tadi menghubungi ku ada apa?" Tanya Leonard yang merasakan suasana ruangan tersebut sangat dingin akibat tatapan Rico, Marcel dan Ronald.


"Aku minta bantuan untuk memperjelas gambar orangnya dari rekaman cctv." jawab dokter Kasandra.


"Bukankah Karen bisa?" Tanya Leonard sambil menatap Karen.


"Bisa tapi tadi aku sedang memperbaiki rekaman cctv yang rusak" Jawab Karen menjelaskan.


"Oh, mana rekaman cctv untuk memperjelas gambar orangnya?" Tanya Leonard.


"Ada di laptop Adriana, Adriana coba dikasih tahu." Pinta dokter Kasandra.


"Ok." Jawab Adriana sambil memperlihatkan laptopnya.


Leonard berjalan ke arah Adriana untuk melihat rekaman cctv tersebut.


"Duduk di sini Kak." Ucap Adriana sambil menunjuk kursi kosong di sebelahnya.


"Apakah ada yang marah?" Tanya Leonard.

__ADS_1


"Tidak ada Kak, tenang saja kalau mereka sudah ada yang punya sedangkan aku belum jadi aman." Jawab Adriana yang mengerti pertanyaan Leonard.


"Siapa bilang kamu aman? Ingat Adriana kamu masih tanggung jawab Kakak." Ucap dokter Adrian dengan nada dingin yang tidak menyukai Leonard karena musuhnya waktu mereka dulu kuliah.


Leonard sangat familiar dengan suara dokter Adrian membuat Leonard membalikkan badannya dan menatap ke arah dokter Adrian musuh lamanya.


"Hallo Adrian." Panggil Leonard sambil tersenyum devil.


"Kamu ..." Ucapan dokter Adrian terpotong oleh dokter Kasandra.


"Sudah ... sudah ... Kalian berdua seperti Tom dan Jerry setiap kali bertemu, bisakah kalian akur?" Tanya dokter Kasandra.


"Tidak." Jawab ke duanya bersamaan.


"Adrian dan Kak Leonard, aku tahu kalian masih menyimpan kekesalan tapi itu sudah masa lalu. Lupakanlah masa lalu karena menyimpan dendam akan merusak diri kita." Ucap Karen berusaha menasehati.


"Apa yang dikatakan Karen benar, lupakanlah masa lalu dan mari kita bersahabat lagi seperti dulu. Masa setiap kita bertemu aku hanya bisa mengajak salah satu dari kalian padahal aku ingin kita berempat selalu bersama dan berkumpul mengingat apa yang telah pernah kita lakukan." Sambung dokter Kasandra.


"Jika salah satu dari kita mengalami masalah maka kita bersama-sama membantu mengatasi masalah." Sambung Sandra.


Karen, dokter Kasandra dan Sandra berjalan kemudian menarik tangan dokter Adrian dan Leonard lalu ke dua tangan mereka di satukan.


"Kita berempat adalah sahabat sejati dan aku ingin persahabatan kita abadi." Ucap dokter Kasandra.


"Aku sudah menikah dan sudah hamil anak kembar, aku ingin kalian segera menyusul untuk menikah dan mempunyai anak dengan demikian kita bisa menjodohkan anak - anak kita nantinya agar persahabatan kita selalu abadi." Sambung Karen.


"Apa yang dikatakan oleh Karen benar menjodohkan anak-anak kita selain itu aku ingin persahabatan kita bisa di contoh oleh anak - anak kita." Sambung dokter Kasandra.


Ke dua pria tampan tersebut menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian menganggukkan kepalanya membuat Sandra, Karen dan dokter Kasandra tersenyum bahagia karena bisa membuat mereka tidak menyimpan dendam. Setelah beberapa saat mereka melepaskan tangannya kemudian Leonard duduk di sebelah Adriana.


"Kakak akan memakai laptop milik Kakak untuk memperjelas gambarnya." Ucap Leonard sambil mengeluarkan laptopnya.


Leonard mengotak atik laptopnya hingga lima belas menit kemudian Leonard berhasil memperjelas gambar para musuh yang membakar rumah dokter Adrian.


"Mereka ... " Ucap dokter Adrian dan Leonard bersamaan sambil saling menatap dan menyimpan amarah dalam waktu bersamaan.


"Bukankah dia Kak Vino?" Tanya Karen, dokter Kasandra dan Sandra bersamaan dengan wajah terkejut.


"Ya benar." Jawab dokter Adrian dan Leonard bersamaan.


"Siapa Vino?" Tanya Rico, Marcel dan Ronald bersamaan.


'Waduh saingan lagi, tadi Leonard dan sekarang Vino.' ucap Rico, Marcel dan Ronald bersamaan dalam hati.


"Sebenarnya kami berlima bersahabat Karen, Kasandra, Sandra, Kak Adrian, Kak Leonard dan Vina adiknya Vino. Vina menyukai Kak Adrian dan juga Kak Leonard ... " Ucapan dokter Kasandra terpotong oleh Ronald.


"Di mana-mana menyukai seseorang itu hanya satu tapi kenapa ini dua?" Tanya Ronald dengan wajah terkejut begitu pula dengan yang lainnya.


"Waktu aku tanyakan katanya buat cadangan dan tentu saja aku, Kasandra dan Sandra menasehati untuk pilih salah satu tapi Vina tidak mau, Vina menginginkan ke duanya." Jawab Karen yang menjawab pertanyaan Ronald.


"Sejak saat itu entah kenapa Kak Adrian dan Kak Leonard bermusuhan. Hingga kami menanyakan ke Vina dan katanya tidak tahu dan seminggu kejadian itu tiba-tiba Vina ditemukan meninggal dunia di sebuah danau tempat biasa kita kumpul." Sambung dokter Kasandra.


"Apa jangan-jangan Kak Vino mengira kita yang melakukannya dan karena itu menargetkan aku dan Adrian?" Tanya Karen sambil berfikir.


"Apa menargetkan kalian?" Tanya Leonard.


"Mungkin saja karena melihat rumah Adrian yang hancur dan menargetkan adiknya sedangkan ke dua mertuaku, aku, suamiku,Adrian dan Rani di serang di hotel pada malam hari, pada waktu bersamaan." Jawab Karen.


"Bisa jadi ada hubungannya." Jawab dokter Kasandra dan Sandra bersamaan.


"Kalau begitu kita cari alamat Vino." Ucap Rico tiba-tiba.


"Masalahnya rumah Vino sudah di sita oleh bank dan aku tidak tahu di mana dia tinggal." Jawab Leonard.


"Terakhir ketemu kapan?" Tanya Karen karena sudah lama hilang kontak.


"Dua bulan yang lalu di pemakaman Vina." Jawab Leonard.


"Coba aku retas data Kak Vino dan kak Leonard retas cctv dua bulan lalu di mana terakhir melihat Kak Vino karena siapa tahu bisa mengetahui alamatnya." Ucap Karen sambil mengotak atik laptopnya.


"Ok." Jawab Leonard singkat.


"Sambil menunggu Mommy dan Daddy ingin mandi dulu ya." Ucap Mommy Rico yang merasa tubuhnya lengket.


"Baik Mom." Jawab mereka bersamaan.


"Baik Tante." Jawab Leonard.


Mommy Nicole dan Daddy Raka meninggalkan tempat tersebut di susul dokter Adrian dan Rani sedangkan yang lainnya masih setia menunggu.


"Adriana coba kamu retas cctv hotel ini, apakah ada pergerakan musuh atau tidak." Ucap Karen tiba-tiba perasaannya tidak enak.


"Ok." Jawab Adriana singkat.


Adriana, Karen dan Leonard mengotak atik laptopnya hingga setengah jam lamanya Adriana berteriak membuat orang serempak menatap ke arah Adriana.

__ADS_1


"GAWAT!" Teriak Adriana.


__ADS_2