Ranjang Panas Sang CEO

Ranjang Panas Sang CEO
Hamil


__ADS_3

1


2


3


"Ternyata Paman Donald dan Tante tidak mau pergi? Baiklah kalau begitu jangan salahkan Raka kalau membuat tangan Tante dan Paman Donald patah begitu pula dengan ke enam bodyguard milik Paman Donald." Ucap Raka dengan nada dingin.


Selesai mengatakan hal itu Raka menjentikkan jarinya begitu pula dengan Paman Donald.


"Patahkan satu tangan mereka termasuk wanita itu!" Perintah Raka dengan nada dingin dan wajah datar.


"Baik Tuan." Jawab ke delapan bodyguard bersamaan.


Raka hanya melihat apa yang dilakukan oleh ke delapan anak buahnya yang berjalan mendekati ke enam bodyguard milik Paman Donald serta Paman Donald bersama istrinya. Hingga tidak membutuhkan waktu lama terdengar suara jeritan kesakitan dan retakan tulang yang patah secara bersamaan.


"Apakah masih kurang?" Tanya Raka yang melihat mereka tergeletak di lantai sambil meringis menahan rasa sakit yang teramat sangat pada tangan mereka.


"Kamu sangat kejam, aku akan mengatakan ke Nicole untuk menceraikan mu." Ucap Tantenya Nicole sambil menatap tajam ke arah Raka.


"Silahkan saja aku tidak takut karena Istriku dan Ayah mertuaku sangat percaya padaku." Jawab Raka sambil tersenyum menyeringai.


"Kalian pergi sekarang atau aku tambahkan tangan satunya agar ke dua tangan kalian tidak bisa digunakan lagi!" Ancam Raka.


"Baik kami akan pergi, hari ini kami kalah tapi tidak untuk lain kali." Ucap Paman Donald.


"Jika kalian berani menyentuh istri dan Ayah mertuaku seujung kuku sekalipun aku tidak akan segan-segan membunuh kalian." Ucap Raka sambil menatap tajam ke arah sepasang suami istri yang tidak punya rasa malu sedikitpun.


Mereka hanya diam namun dalam hatinya menahan amarahnya karena rencananya untuk mempengaruhi kakaknya tidak berhasil. Sedangkan Raka menghembuskan nafasnya dengan perlahan.


Raka berjalan ke arah kamar Ayah mertuanya karena dirinya sangat yakin kalau istrinya berada di kamar orang tuanya.


Tok tok tok


"Masuk." Jawab Daddy Wijaya.


Ceklek


Raka membuka pintu dan melihat istrinya sedang duduk di sisi ranjang sambil memijat kaki Daddy Wijaya. Raka berjalan ke arah ranjang sambil tersenyum berbeda dengan yang tadi menampilkan senyum yang membuat orang siapa saja takut.


Raka duduk di samping sisinya satunya lagi untuk memijat kaki kanan Ayah mertuanya sedangkan kaki kiri Ayah mertuanya di pijat oleh istrinya.


"Mereka sudah pergi?" Tanya Daddy Wijaya.


"Sudah Dad." Jawab Raka.


"Daddy sudah bisa menebak kalau mereka pasti tidak akan terima kalau semua harta milik Daddy jatuh ke tanganmu." Ucap Daddy Wijaya.


"Apakah Daddy menyesal memindahkan semua hartanya untuk Raka? Kalau iya, Raka akan mengembalikan semuanya." Ucap Raka yang tidak tergila akan harta.


Walau Raka terkenal dengan kekejamannya tapi Raka tidak pernah merampas milik orang lain. Raka hanya akan membunuh dan bersikap kejam jika ada orang yang berani mengusik dirinya, keluarganya dan kini di tambah lagi dengan istri serta Ayah mertuanya.


Seperti yang tadi dikatakan oleh Paman dan Tantenya untuk tidak mengusik dua orang yang sangat berarti buat dirinya.


"Daddy tidak akan pernah menyesal malah Daddy sangat bersyukur karena putriku bisa mendapatkan pria sebaik dirimu. Kini Daddy sudah tenang karena bisa menitipkan Nicole ke tanganmu dan kini Daddy bisa bertemu kembali dengan Mommy karena Daddy sangat merindukannya." Ucap Daddy Wijaya dengan nada lirih.


"Kok Daddy, bicaranya seperti itu?" Tanya Nicole dengan mata berkaca-kaca.


"Nicole sayang, kini kamu sudah menjadi seorang istri, jadi Daddy minta sayangi dan hormati suamimu selain itu jangan suka melawan." Ucap Daddy Wijaya yang tidak menjawab ucapan Nicole.


"Baik Dad." Jawab Nicole patuh.


"Raka." Panggil Daddy Wijaya sambil menggenggam tangan Raka.


"Iya Dad." Jawab Raka sambil membalas genggaman tangannya.


"Daddy minta tolong jagalah putriku dan jangan sakiti putriku karena Nicole adalah harta yang paling berharga buat Daddy." Pinta Daddy nya Nicole.


"Raka akan selalu menjaga istriku dan juga Daddy walau nyawaku menjadi taruhannya. Raka sangat mencintai Nicole dan mempercayai apapun yang dikatakannya jadi mana mungkin Raka menyakiti istriku." Ucap Raka.


"Raka sangat bersyukur bisa menikah dengan Nicole karena hidup Raka lebih berarti terlebih Raka bisa merasakan kembali kasih sayang orang tua yang sudah lama tidak aku rasakan." Ucap Raka dengan nada tulus sambil tersenyum ke arah Daddy Wijaya.


"Daddy juga sangat senang mempunyai menantu yang sudah Daddy anggap sebagai anak sendiri." Ucap Daddy Wijaya sambil membalas senyuman Raka.


Raka hanya menganggukkan kepalanya sedangkan Daddy Wijaya memejamkan ke dua matanya menikmati pijatan putri kandungnya dan menantunya.


"Jika kalian mengantuk, tidurlah di kamar." Ucap Daddy Wijaya.


"Baik Dad, nanti kalau sudah mengantuk kami istirahat." jawab mereka bersamaan.


Setelah hampir setengah jam memijat mereka mulai mengantuk membuat Nicole dan Raka keluar dari kamarnya. Mereka berjalan ke arah tangga sambil berpelukan.


"Sayang, kita lanjutkan yang tadi tertunda." Ucap Raka.


Nicole hanya menganggukkan kepalanya hingga mereka sampai di depan pintu Raka membuka pintu kamar mereka dengan lebar kemudian mereka masuk ke dalam kamarnya.


Mereka pun melakukan hubungan suami istri yang tadi sempat tertunda. Hingga setengah jam kemudian mereka sudah selesai melakukan hubungan suami istri.


"Sayang, kita mandi dulu setelah itu baru kita istirahat." Ucap Raka.


"Gendong." Ucap Nicole dengan manja.


"Istriku tambah manja dan tambah ..." Ucap Raka menggantungkan kalimatnya sambil menggendong istrinya ala bridal style.


'Mulai agak berat.' sambung Raka dalam hati.


Raka tidak mungkin mengatakannya hal itu karena jika dirinya mengatakan sudah bisa dipastikan istrinya akan marah.


"Tambah apa?" Tanya Nicole penasaran sambil membuka pintu kamar mandi.


"Tambah seksi." Bisik Raka sambil mendorong pintu kamar mandi dengan menggunakan kakinya.


Raka menurunkan tubuh istrinya perlahan kemudian Raka menyalakan air shower.


'Aku baru sadar kalau dua mainanku juga bertambah besar.' Ucap Raka dalam hati ketika memainkan dua gunung kembar milik Nicole.


'Bokongnya juga agak besar, kalau aku suruh diet marah tidak ya?' Tanya Raka dalam hati.

__ADS_1


"Sayang aku sangat lelah nanti malam main lagi ya." Pinta Nicole.


"Tapi dua ronde ya." Pinta Raka.


Nicole hanya menganggukkan kepalanya kemudian mereka pun mandi bersama tanpa melakukan hubungan suami istri hingga dua puluh menit kemudian mereka sudah selesai mandi dan memakai jubah handuk.


Raka dan Nicole berbaring di ranjang sambil berpelukan namun tiba-tiba Nicole menurunkan tangannya yang tadi awalnya memeluk pinggang suaminya kini pindah ke arah tombak sakti milik suaminya.


Nicole memasukkan tangannya ke dalam jubah handuk milik suaminya kemudian menggenggam tombak sakti milik suaminya.


"Apa yang sayangku lakukan?" Tanya Raka sambil mencapit dagu istrinya yang membaringkan kepalanya di dada bidangnya agar menatap dirinya.


"Aku ingin menggenggamnya sambil tidur." Ucap Nicole dengan wajah polos tanpa dosa.


"Nanti kalau aku pengen bagaimana?" Tanya Raka yang mulai merasakan tombak saktinya mulai menegang.


"Ya di tahan, aku hanya ingin memegang doang tanpa melakukan hubungan suami istri." Ucap Nicole dengan polos.


"Sayang, kamu tega banget." Ucap Raka yang memiliki hasrat tinggi.


"Ssttttttttt ... Jangan protes aku ingin tidur." Ucap Nicole sambil membaringkan kepalanya di dada bidang suaminya dan masih memegang tombak sakti milik suaminya.


"Kalau begitu jangan di pegang." Ucap Raka yang tidak bisa menahan hasratnya yang tinggi sambil menarik tangan istrinya.


"Hiks ... Hiks ... hiks ..." Tangis Nicole tiba-tiba sambil melepaskan pelukannya kemudian membalikkan badannya memunggungi Raka.


"Kenapa istriku menangis dan marah?" Tanya Raka dengan wajah bingung karena tidak biasanya istrinya seperti itu.


"Pikir saja sendiri." Ucap Nicole dengan nada kesal sambil turun dari ranjang.


Grep


"Mau kemana?" Tanya Raka sambil menahan tangan istrinya.


"Aku ingin memegang adik kecil milik anak buah suamiku." Jawab Nicole.


"Nicole!" Bentak Raka untuk pertama kalinya.


Nicole sangat terkejut dengan suara bentakan suaminya membuat Nicole menarik tangannya kemudian berlari meninggalkan kamarnya sambil mengeluarkan air matanya.


Raka menghembuskan nafasnya dengan perlahan untuk mengatur emosinya setelah sudah tenang Raka berjalan menyusul istrinya.


Nicole berjalan menuruni anak tangga namun baru beberapa langkah kepala Nicole tiba - tiba sangat pusing dan ruangan yang dilihatnya seperti sedang berputar-putar membuat kesadaran Nicole mulai berkurang.


Grep


"Apa yang sayang lakukan?" Tanya Raka sambil menahan tangan Nicole.


Raka melihat istrinya hampir jatuh dari tangga membuat Raka sangat terkejut karena mengira istrinya ingin melakukan bu x nuh diri dan dengan cepat mengejar Nicole dan menahan tangannya.


"Sayang, kepalaku sangat pu .... " Ucapan Nicole terputus bersamaan dirinya tidak sadarkan diri.


Raka langsung menggendong istrinya ala bridal style kemudian membalikkan badannya dan berjalan ke arah kamarnya.


"Pelayan!" Teriak Raka sambil melangkahkan kakinya menaiki anak tangga.


"Hubungi dokter!" Perintah Raka.


"Baik Tuan." Jawab kepala pelayan.


Raka hanya menganggukkan kepalanya kemudian berjalan dengan langkah cepat menuju ke arah kamarnya.


Raka meletakkan perlahan tubuh istrinya ke ranjang seakan takut terluka. Raka mengusap wajah istrinya yang pucat dan setia memejamkan matanya.


"Maafkan Kakak sayang, bukan maksud Kakak membentak mu tapi perkataan mu membuat Kakak marah. Kakak janji apapun yang kamu inginkan Kakak akan melakukannya seperti memegang adik kecilku dan Kakak tidak akan protes dan menolak permintaan mu." Ucap Raka sambil menggenggam tangan istrinya dengan wajah penuh penyesalan.


Tok


Tok


Tok


"Masuk." Jawab Raka.


Ceklek


"Maaf Tuan, dokternya sudah datang." Ucap kepala pelayan.


"Baik, suruh masuk untuk mengecek kondisi istriku." Jawab Raka.


"Baik Tuan." Jawab kepala pelayan dengan sopan.


Kepala pelayan mempersilahkan dokter untuk masuk ke dalam kemudian barulah kepala pelayan pergi meninggalkan mereka. Dokter tersebut berjalan ke arah ranjang sedangkan Raka masih setia duduk di sisi ranjang.


"Maaf Tuan, bisakah menunggu di luar?" Tanya dokter tersebut.


"Aku suaminya jadi periksalah istriku." Ucap Raka dengan nada tegas.


"Tapi Tuan ..." Ucapan dokter tersebut terpotong oleh Raka.


"Cek sekarang atau kamu aku tembak!" Ancam Raka sambil mengeluarkan pistolnya dari saku jasnya.


"Ba ... Baik ... Tuan." Jawab dokter tersebut dengan nada gugup dan wajah ketakutan.


'Sangat menakutkan.' Sambung dokter tersebut dalam hati.


Dokter tersebut dengan tangan gemetar mengeluarkan stetoskop kemudian mulai mengecek kondisi Nicole setelah beberapa saat dokter tersebut sudah selesai mengecek kondisi Nicole.


"Istriku sakit apa? Kenapa istriku pingsan?" Tanya Raka dengan nada dingin sambil menatap wajah cantik istrinya dengan tatapan kuatir.


"Selamat Tuan, Nyonya hamil dan untuk memastikan usia kandungannya silahkan di cek di dokter kandungan." Ucap dokter tersebut.


"Apa dok hamil?" Tanya Raka dengan wajah terkejut sekaligus tersenyum bahagia karena akhirnya dirinya sebentar lagi menjadi Daddy.


"Benar Tuan." Jawab dokter tersebut.


"Tapi kenapa istriku bisa pingsan?" Tanya Raka.

__ADS_1


"Perubahan hormon Tuan." Jawab dokter tersebut.


"Perubahan hormon? Maksudnya?" Tanya Raka dengan wajah bingung.


"Bila Bumil mengubah posisi secara tiba-tiba, tekanan darah Bumil juga akan menurun dengan cepat. Secara bersamaan, aliran darah ke otak pun akan mendadak berkurang dan pada akhirnya membuat Bumil jatuh pingsan." Jawab dokter tersebut menjelaskan.


"Eugghhhh ..."


Perlahan Nicole menggeliatkan tubuhnya dan tidak berapa lama Nicole membuka matanya dan menatap ke sekeliling kamarnya.


"Sayang, sudah sadar." Ucap Raka sambil tersenyum bahagia.


"Kenapa aku bisa ada di kamar?" Tanya Nicole dengan bingung.


"Tadi kamu tidak sadarkan diri." Jawab Raka.


"Kalau begitu saya permisi dulu Nyonya dan Tuan." Ucap dokter tersebut setelah selesai membereskan perlengkapan dokternya.


"Aku sakit apa Dok?" Tanya Nicole dengan wajah kuatir.


"Nyonya tidak sakit tapi Nyonya hamil dan untuk mengetahui usia kandungannya, Nyonya bisa datang ke dokter kandungan." Jawab dokter tersebut.


"Apa Dok? Aku hamil?" Tanya Nicole sambil mengusap perutnya yang masih rata.


"Benar sayang, kamu hamil dan sebentar lagi kita akan menjadi orang tua." Jawab Raka sambil ikut mengusap perut istrinya yang masih rata.


"Maaf, saya permisi dulu Nyonya dan Tuan." Ucap dokter tersebut mengulangi perkataannya sambil turun dari ranjang karena dirinya tidak ingin melihat keromantisan mereka yang membuat siapa saja iri.


"Baik, terima kasih banyak dok." Ucap Nicole.


"Sama-sama Nyonya, permisi Tuan dan Nyonya." Pamit dokter tersebut kemudian membalikkan badannya meninggalkan mereka berdua di kamar mereka.


"Sayang, kita ke rumah sakit yuk." Ajak Nicole.


" Baik, kita ganti pakaian dulu." Jawab Raka.


"Ok." Jawab Nicole sambil turun dari ranjang namun di tahan oleh suaminya.


"Biar Kakak yang mengambil pakaian milikmu." Ucap Raka.


"Baik." Jawab Nicole singkat dan patuh dengan perkataan suaminya.


Raka berjalan ke arah lemari pakaian dan mengambil satu stell pakaian milik Nicole kemudian memakaikan ke tubuh Nicole.


Awalnya Nicole ingin protes tapi Raka memaksanya membuat Nicole pasrah dan membiarkan suaminya melakukannya. Raka berusaha menahan hasratnya untuk tidak memakan istrinya.


Dua puluh menit kemudian mereka sudah memakai pakaian dan mereka keluar dari kamarnya. Mereka menuruni anak tangga satu demi satu hingga mereka melihat kepala pelayan.


"Paman, Daddy masih di kamar?" Tanya Nicole.


"Masih Nyonya." Jawab Kepala pelayan.


"Baik." Jawab Nicole.


"Permisi Nyonya dan Tuan." Ucap kepala pelayan tersebut.


Nicole dan Raka hanya menganggukkan kepalanya kemudian Nicole menatap ke arah suaminya.


"Sayang, kita ke kamar Daddy dulu ya? Siapa tahu Daddy mau ikut ke rumah sakit." Ucap Nicole.


"Ok." Jawab Raka singkat.


Mereka berjalan sambil berpelukan hingga di depan pintu Raka membuka pintu kamar Ayah mertuanya dengan lebar.


Ceklek


Nicole masuk ke dalam kamarnya dan di susul oleh Raka. Mereka melihat Daddy Wijaya masih tidur dengan pulas membuat Nicole dan Raka berjalan ke arah ranjang.


Grep


"Daddy, sebentar lagi Daddy mempunyai cucu dan bisa Daddy gendong." Ucap Nicole sambil memeluk tubuh Daddy nya Nicole.


Hening


Hening


"Daddy." Panggil Nicole sambil melepaskan pelukannya kemudian menggoyangkan dada Daddy nya Nicole.


Raka sangat terkejut karena Ayah mertuanya hanya diam membuat Raka mengecek nadi kemudian hidung nya.


"Sayang, apa yang terjadi dengan Daddy?" Tanya Raka dengan mata berkaca-kaca.


"Daddy sudah meninggal." Jawab Raka dengan suara tercekat.


Grep


"Apa? Tidakkkk!" Teriak Nicole sambil memeluk tubuh Daddy nya.


"Sayang yang kuat ya." Ucap Raka sambil mengusap punggung istrinya dengan lembut.


"Daddy, Hiks ... Hiks ... Hiks ... Nicole sudah hamil tapi kenapa Daddy meninggalkan Nicole?" Tanya Nicole sambil terisak.


Nicole yang tidak bisa menahan kesedihannya membuat Nicole kembali tidak sadarkan diri.


"Sayang kamu harus kuat." Ucap Raka dengan mata berkaca-kaca.


Hening


Hening


"Sayang." Panggil Raka sambil menggoyangkan bahu istrinya.


Hening


Raka menggendong tubuh istrinya dan matanya membulat sempurna karena darah segar keluar dari sela-sela paha milik Nicole.


"Sayang! Bangun ... Jangan tinggalkan aku!" Teriak Raka sambil melangkahkan kakinya dengan langkah cepat menuju ke arah pintu.

__ADS_1


__ADS_2