Ranjang Panas Sang CEO

Ranjang Panas Sang CEO
Bersembunyi


__ADS_3

Malam berganti pagi perlahan Nicole membuka matanya dan melihat wajah tampan suaminya masih tidur dengan pulas membuat Nicole tersenyum.


"Suamiku sangat tampan dan siapa saja pasti akan tergila-gila dengan suamiku termasuk aku. Aku harap aku segera hamil dan ketika sudah melahirkan anak kami wajahnya mirip dengan Suamiku." Ucap Nicole sambil membelai mata, hidung, pipi dan terakhir bibir.


Grep


"Sayang, apakah semalam masih kurang?" Tanya Raka sambil menahan tangan istrinya.


"Cukup Sayang, sangat cukup." Jawab Nicole dengan cepat dengan wajah memerah sambil menarik tangannya yang di genggam oleh suaminya.


"Aku mau mandi dulu." Ucap Nicole sambil turun dari ranjang.


Nicole berjalan ke arah kamar mandi tanpa menyadari kalau tubuhnya polos tanpa sehelai benangpun karena semalam mereka kembali melakukan hubungan suami istri.


"Sayang, kamu menggodaku?" Tanya Raka yang sangat suka menggoda istrinya.


"Aduh sayang, aku sangat lelah karena hari ini kita kan mau ke mansion Daddy dan aku tidak mau aku kelelahan." Ucap Nicole beralasan sambil menutup pintu kamar mandi.


"Pffftttt hahahaha.... " Tawa Raka pecah.


"Istriku sangat menggemaskan dan entah kenapa aku sangat suka menggodanya." Ucap Raka sambil tersenyum bahagia.


"Semoga saja istriku segera hamil dan wajah anak kita mirip denganku seperti yang tadi kamu katakan. Maaf aku melakukan ini agar kamu tidak bersedih lagi." Ucap Raka dengan nada lirih.


Wajah yang semula tersenyum bahagia kini mendadak berubah ketika Raka mengingat perkataan istrinya yang menginginkan wajah anaknya seperti Raka.


"Oh ya aku belum buat buat perhitungan dengan Tuan Ferguson. Dia harus ma ti agar tidak ada lagi orang yang ingin mencelakai ku atau pun mencelakai istri kecilku." Ucap Raka sambil menahan amarahnya.


Raka mengambil ponselnya untuk menghubungi anak buahnya setelah selesai Raka meletakkan ponselnya ke atas meja dekat ranjangnya.


Raka turun dari ranjang dan berjalan ke arah kamar mandi dengan tubuh polos tanpa sehelai benangpun.


Ceklek


Raka membuka pintu kamar mandi dan melihat istrinya sedang mandi menggunakan shower. Raka dengan perlahan berjalan ke arah istrinya kemudian memeluknya dari arah belakang dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya memainkan salah satu pucuk gunung himalaya milik istrinya.


"Sayang ... Ahhhhhhh.. " Ucap Nicole sambil mengeluarkan suara merdunya sambil mematikan kran shower.


"Hmmm..." Jawab Raka berupa deheman kemudian mencium leher istrinya dan meninggal jejak kemerahan.


"Sayang, jangan ditambahkan lagi nanti aku jadi macan tutul." Ucap Nicole dengan nada kesal.


"Pffftttt .... Hahaha..." Tawa Raka ketika mendengar ucapan Nicole.


"Tawanya jelek." Ucap Nicole dengan nada masih kesal.


"Tapi sukakan?" Tanya Raka kemudian mencium punggung istrinya.


"Ahhhhhhh..." Desah Nicole.


Raka tersenyum dirinya tahu titik sensitif istrinya dan Raka sengaja melakukannya hingga akhirnya Nicole menyerah.


"Sayang masukkin." Rengek Nicole.


"Masukkin apa?" Tanya Raka pura - pura tidak tahu.


Tanpa menjawab Nicole mengarahkan ke dua tangannya ke arah dinding kamar mandi sambil menurunkan setengah tubuhnya seperti orang membungkuk.


Jleb


"Ahhhhhhh..."


Raka yang melihat posisi istrinya tersebut tidak bisa menahannya dan langsung menuntun tombak saktinya ke dalam goa milik istrinya kemudian menggoyangkan pinggulnya secara berulang-ulang.


Setengah jam kemudian Raka mempercepat gerakannya hingga akhirnya keluar lahar miliknya dan sengaja dimasukkan ke dalam rahim istrinya.


'Semoga istriku segera hamil agar istriku tidak sedih lagi." Ucap Raka dalam hati.


'Aku sangat berharap agar aku cepat hamil." Ucap Nicole dalam hati.


Setelah beberapa saat Raka menarik tombak saktinya kemudian Raka memeluk tubuh polos istrinya dengan menggunakan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya memutar kran shower.


Hingga lima belas menit kemudian mereka sudah selesai mandi dan memakai jubah handuk.


"Sayang, pakaian kita ada di mansion Daddy jadi kita tidak usah membawa pakaian." Ucap Nicole sambil membuka lemari pakaian.


"Ok." Jawab Raka singkat sambil duduk di sisi ranjang dan menatap punggung istrinya.


"Aku semalam telepon Daddy katanya kita makan di rumah Daddy saja karena sudah lama Daddy ingin kita makan bersama." Ucap Nicole sambil memberikan satu stell pakaian santai untuk suaminya.


"Ok." Jawab Raka singkat kembali sambil menerima satu stell pakaiannya.


Nicole mengambil satu stell pakaiannya kemudian memakainya di depan suaminya begitu pula sebaliknya.


Lima belas menit kemudian mereka sudah selesai memakai pakaian kemudian mereka keluar dari kamarnya menuju ke arah pintu utama.


Skip


Kini mereka sudah sampai di mansion milik orang tua Nicole. Daddynya Nicole yang bernama Daddy Wijaya langsung mengajaknya makan bersama hingga lima belas menit kemudian mereka sudah selesai makan dan minum.


Mereka berjalan ke arah ruang keluarga dan duduk saling berhadapan yang hanya dibatasi oleh meja. Nicole duduk bersebelahan dengan Raka sedangkan Daddy Wijaya duduk di seberangnya yang hanya dibatasi oleh meja.


"Apakah Nicole ada tanda-tanda hamil?" Tanya Daddy Wijaya yang tidak tahu apa yang terjadi karena baik Raka dan Nicole saling menutupinya.


"Belum Dad, doa kan saja agar Nicole cepat hamil." Jawab Nicole sambil tersenyum walau dalam hatinya sangat sedih.


Daddy Wijaya tahu kalau putrinya menyembunyikan sesuatu namun dirinya tidak ingin membuat putrinya bersedih.

__ADS_1


"Oh ya Raka, Daddy bertambah tua bagaimana kalau perusahaan milik Daddy kamu yang mengurus?" Tanya Daddy Wijaya mengalihkan pembicaraan.


"Jika kamu setuju nanti Daddy akan hubungi pengacara Daddy untuk mengurus semua dokumen agar semua aset milik Daddy termasuk perusahaan atas namamu." Sambung Daddy Wijaya.


"Apa Daddy serius? Maksud Raka kenapa tidak atas nama Nicole?" Tanya Raka.


"Daddy percaya sama kamu karena itulah Daddy mempercayakan semuanya ke kamu." Jawab Daddy Wijaya.


"Lebih baik atas nama Nicole dan mengenai perusahaan biar Raka yang mengurus semuanya." Jawab Raka.


"Kalau perusahaan atas nama Nicole pasti membutuhkan tanda tangan jadi lebih baik atas namamu saja." Ucap Daddy Wijaya yang percaya dengan menantunya.


"Tapi Dad ...." Ucapan Raka terpotong oleh Nicole.


"Benar kata Daddy lebih baik perusahaan itu atas nama Kak Raka." Ucap Nicole.


Raka menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian menganggukkan kepalanya tanda setuju.


"Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusan Daddy dan istriku." Jawab Raka.


"Tapi hasil keuntungan perusahaan tetap aku berikan ke Istriku karena aku tidak berhak sama sekali." Ucap Raka.


"Kalau mengenai hal itu terserah apa yang kamu inginkan karena Daddy tidak akan ikut campur." Ucap Daddy Wijaya.


"Daddy, selama tiga hari aku ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan, bolehkah aku menitip istriku?" Tanya Raka.


"Pffftttt... Kenapa minta ijin? Tentu saja boleh apalagi kan istrimu adalah putriku." Jawab Daddy Wijaya sambil terkekeh-kekeh dengan ucapan Raka.


"Kok tidak bilang? Berarti selama tiga hari kita tidak bertemu?" Tanya Nicole dengan wajah sedih.


Entah kenapa dirinya tidak bisa jauh dari suaminya.


"Maaf Sayang kalau Kakak tidak bilang, iya benar selama tiga hari kita tidak bertemu dulu." Jawab Raka.


Walau sangat berat tapi Raka ingin menyelesaikan urusannya yaitu membuat perhitungan dengan Tuan Ferguson.


"Memang mau kemana? Kalau aku kangen bagaimana?" Tanya Nicole dengan wajah sendu.


"Ada masalah di kantor dan Kakak usahakan secepatnya selesai. Kalau kangen kan kita bisa video call." Ucap Raka sambil mengusap rambut Nicole sambil tersenyum.


"Memang tidak bisa pulang?" Tanya Nicole.


Raka menghembuskan nafasnya dengan perlahan dan sesungguhnya dirinya sebenarnya tidak tega melihat wajah sedih istrinya.


"Kakak usahakan untuk pulang tapi malam dan besok pagi - pagi sekali Kakak akan pergi lagi." Ucap Raka akhirnya.


"Memangnya kamu tidak kangen sama Daddy?" Tanya Daddy Wijaya sambil tersenyum melihat putrinya sangat manja dengan suaminya sekaligus menantunya.


"Kangen Dad, tapi kalau Kak Raka pergi lama Nicole kangen juga." Jawab Nicole.


"Aish Daddy, jangan di ungkit masa lalu." Ucap Nicole sambil memeluk suaminya agar tidak melihat wajahnya yang memerah karena malu.


"Pffftttt ... hahahaha... " Tawa pecah Daddy Wijaya dan Raka bersamaan.


"Aish, Daddy sama Kak Raka nyebelin." Ucap Nicole sambil melepaskan pelukannya kemudian turun dari sofa.


Grep


"Mau kemana?" Goda Raka sambil menggenggam tangan istrinya.


"Tidur." Jawab Nicole sambil menarik tangan nya yang digenggam oleh suaminya.


"Cieee ... Ada yang ngambek." Goda Daddy Wijaya.


"Daddy nyebelin." Ucap Nicole sambil berjalan ke arah tangga.


Sayang, nanti aku menyusul." Ucap Raka yang melihat istrinya sedang merajuk.


Nicole hanya menganggukkan kepalanya kemudian berjalan menaiki anak tangga satu demi satu menuju ke arah kamarnya.


Entah kenapa Daddy Wijaya dan Raka sangat senang menggoda Nicole yang terlihat sangat menggemaskan.


"Apa ada masalah?" Tanya Daddy Wijaya dengan wajah serius ketika Nicole sudah pergi sambil menatap ke arah Raka berbeda ketika bersama Nicole.


Raka menghembuskan nafasnya dengan perlahan, dirinya tahu kalau Ayah mertuanya sudah bisa menebak ada sesuatu yang mereka sembunyikan.


"Maaf Dad, orang kepercayaan Raka mengkhianati Raka dengan memberikan obat penggugur kandungan ke istriku." Ucap Raka dengan jujur.


"Kenapa bisa?" Tanya Daddynya Nicole dengan wajah terkejut.


"Raka sedih ketika istriku mengatakan kenapa tidak hamil-hamil karena itulah Raka berinisiatif menyuruh orang kepercayaan Raka untuk membeli obat penyubur kandungan dan vitamin tapi ternyata orang kepercayaan Raka menukarnya dengan obat penggugur kandungan karena itulah istriku tidak bisa hamil." Jawab Raka menjelaskan.


"Kurang ajar! Apakah kamu sudah menghukumnya dengan berat? Daddy ingin dia di siksa dan mati dengan mengenaskan." Ucap Daddy Wijaya sambil menahan amarahnya.


"Sudah Dad." Jawab Raka.


"Berarti putriku tidak bisa hamil?" Tanya  Daddy Wijaya dengan wajah sedih karena dirinya ingin sekali menggendong cucu.


Raka tidak menjawab hanya anggukan kepala yang membuat Daddy Wijaya terdiam sambil menghembuskan nafasnya dengan berat.


"Putriku tidak bisa hamil, apakah kamu ada rencana untuk bercerai?" Tanya Daddy Wijaya dengan wajah sendu karena dirinya tidak ingin putri kesayangannya sedih jika bercerai.


"Maksud Daddy?" Tanya Raka dengan wajah terkejut dengan apa yang ditanyakan oleh Ayah mertuanya.


"Biasanya jika wanita tidak bisa hamil maka akan menceraikan istrinya dan mencari wanita lain untuk bisa hamil anaknya. Daddy tidak akan menyalahkan mu jika kamu ingin menikah lagi tapi sebelumnya ceraikan putriku terlebih dahulu dan kembalikan Nicole ke Daddy." Jawab Daddy Wijaya.


"Sampai kapanpun Raka tidak akan menceraikan istriku karena Raka sangat mencintainya selain itu Raka tidak perduli jika istriku tidak bisa hamil." Jawab Raka dengan tegas.

__ADS_1


"Itulah mengapa Daddy mempercayakan mu untuk menikahi putriku karena kamu pria bertanggung jawab dan mencintai putriku dengan tulus." Ucap Daddy Wijaya.


"Jika suatu saat nanti Daddy meninggal Daddy sudah tenang karena ada kamu yang menjaga putriku." Sambung Daddy Wijaya.


"Daddy jangan bicara seperti itu, kami sangat menyayangi Daddy terlebih Nicole pasti akan sedih jika Daddy bicara seperti itu." Jawab Raka.


"Raka sangat yakin suatu saat nanti Nicole akan hamil dan memberikan cucu untuk Daddy." Sambung Raka.


"Amin." Jawab Daddy Wijaya.


"Oh ya mengenai kepergian mu selama tiga hari, apakah ada masalah besar?" Tanya Daddy Wijaya.


"Daddy kenal dengan Tuan Ferguson?" Tanya Raka balik bertanya.


"Tuan Ferguson? Sebentar sepertinya Daddy pernah dengar ... (Sambil berpikir) ... Oh ya waktu itu Tuan Ferguson pernah melamar putriku tapi Daddy tolak." Jawab Daddy Wijaya.


"Kenapa di tolak Dad?" Tanya Raka dengan nada cemburu sekaligus senang karena  Daddynya Nicole menolak permintaannya.


"Tuan Ferguson sangat licik, dia melakukan itu untuk menguasai harta Daddy dengan cara menikah dengan putriku selain itu Tuan Ferguson terkenal dengan playboy suka mempermainkan perasaan wanita dan sudah tidak terhitung berapa banyak wanita yang sudah ditiduri." Jawab Daddy Wijaya.


"Makanya ketika kamu datang untuk melamar putriku, Daddy langsung menyetujuinya karena Daddy mengenal Ayahmu dengan sangat baik selain itu Daddy tahu kalau kamu ketua mafia yang sangat kejam dan tidak pernah menyentuh wanita manapun dalam arti tidak pernah meniduri wanita." Ucap Daddy Wijaya.


"Daddy tahu kalau aku ketua Mafia? Apakah saat itu Daddy tidak takut kalau Raka bisa saja menyakiti Nicole?" Tanya Raka dengan wajah terkejut.


"Tentu saja tidak takut karena Daddy percaya kalau kamu tidak akan menyakiti putriku. Terbukti putriku sangat manja denganmu karena selama ini putriku tidak pernah manja dengan pria lain selain hanya sama Daddy." Ucap Daddynya Nicole.


"Terima kasih karena percaya sama Raka." Ucap Raka sambil tersenyum bahagia.


" Terima kasih juga karena telah menjaga harta berharga milik Daddy. Daddy hanya minta jangan pernah menyakiti hatinya karena kesedihan putri ku merupakan dua kali kesedihan Daddy begitu pula jika putri ku bahagia maka Daddy dua kali lebih bahagia." Ucap Daddy Wijaya.


"Raka berjanji akan selalu membahagiakan Nicole dan melindungi Nicole dari orang jahat walau nyawa menjadi taruhannya." Ucap Raka dengan nada tegas.


"Daddy percaya, oh ya mengenai Tuan Ferguson ... Ada apa dengan pria itu?" Tanya  Daddy Wijaya penasaran.


"Tuan Ferguson telah berani mengusikku dengan mengirimkan mata-mata nya melalui sekretaris pribadiku untuk mencuri data perusahaan." Jawab Raka sambil menahan amarahnya.


"Pria itu sangat licik makanya Daddy tidak menyukai pria itu." Ucap Daddy Wijaya yang juga menahan amarahnya.


"Betul Dad, selain itu sekretaris itu juga berkerja sama dengan orang kepercayaan ku untuk membelikan obat penggugur kandungan untuk istriku." Ucap Raka.


"Apa? Kurang ajar mereka berdua, mereka harus di hukum mati. Apakah mereka orang yang sama?" Tanya Daddy Wijaya.


"Tidak Dad, mereka orang yang berbeda dan mereka semua mati mengenaskan." Jawab Raka dengan jujur.


"Bagus, tidak usah membela mereka karena mereka sangat kejam dengan membuat putri kesayanganku tidak bisa hamil." ucap Daddy Wijaya.


"Benar Dad, Raka tidak akan mengampuni orang-orang yang telah berani mengusik kesayangan Raka." Jawab Raka.


"Bagus, apakah kamu perlu bantuan Daddy untuk mengurus Tuan Ferguson?" Tanya Daddy Wijaya.


"Saat ini belum Dad," jawab Raka sambil sekali-sekali menguap.


"Baiklah, sekarang kamu istirahat kasihan istrimu sudah lama menunggu." Ucap Daddy Wijaya.


"Baik Dad." Jawab Raka sambil turun dari sofa begitu pula dengan Daddy Wijaya.


Raka berjalan ke arah tangga sedangkan  Daddy Wijaya berjalan ke arah kamarnya yang berada di lantai satu mengingat usia nya yang sudah menua.


Di tempat yang sama namun di ruangan yang berbeda Nicole berdiri di balkon dengan wajah kesal karena dirinya di goda oleh Daddynya dan juga suaminya.


"Ih nyebelin." Gerutu Nicole sambil menatap ke sekeliling pemandangan yang berada di depan mata.


"Aha ... aku ada ide." Ucap Nicole sambil tersenyum devil.


Nicole menaiki tembok pembatas balkon hingga Nicole berdiri di tembok balkon. Dengan lincah Nicole meloncat ke arah pohon yang terdekat kemudian meloncat kembali ke pohon berikutnya.


"Lebih baik aku bersembunyi di sini dan ingin tahu apakah suamiku mencari ku atau tidak." Ucap Nicole usil sambil bersembunyi di rimbunan pohon.


Sambil menunggu suaminya masuk ke dalam kamarnya Nicole menatap ke arah sekeliling pemandangan. Hingga dirinya melihat ada dua pria berpakaian serba hitam sedang memantau mansion milik Daddynya dengan menggunakan teleskop membuat Nicole menatapnya untuk melihat apa yang dilakukan oleh mereka berdua.


'Siapa mereka? Kenapa mereka melihat mansion milik Daddy?' Tanya Nicole dalam hati sambil matanya masih menatap ke arah ke dua pria tersebut.


Di tempat yang sama hanya berbeda ruangan Raka membuka pintu kamar milik istrinya dan melihat sekeliling ruangan tidak ada istri nya.


"Istriku kemana?" Tanya Raka dengan wajah bingung.


Raka berjalan ke arah kamar mandi kemudian membuka pintu kamar mandi namun istrinya tidak ada juga.


"Kemana istriku?" Tanya Raka lagi pada dirinya sendiri.


Raka menatap sekeliling ruangan hingga dirinya melihat pintu balkon terbuka lebar dan Raka berjalan ke arah balkon.


Raka melihat sekeliling pohon yang rimbun hingga mata elangnya melihat Nicole sedang bersembunyi di rimbunan pohon membuat Raka menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Pantas saja aku cari tidak ada ternyata bersembunyi di pohon. Sudah menikah tapi sikapnya seperti anak kecil." Ucap Raka sambil menaiki pembatas balkon kemudian melompat ke arah pohon.


Hap


Raka berhasil melompat ke pohon satunya kemudian melompat kembali ke pohon satunya di mana Nicole bersembunyi di batang pohon tersebut.


Hal itu membuat Nicole yang bersembunyi sangat kaget ketika ada seseorang yang melompat ke arah sampingnya dan hampir saja terjatuh jika saja suaminya tidak menahan tubuhnya.


Grep


"Sayang bikin aku kaget," ucap Nicole sambil memeluk tubuh suaminya dengan jantung berdetak kencang bukan karena jatuh cinta melainkan dirinya nyaris terjatuh dari pohon.


"Hehehehe... Kenapa bersembunyi di rimbunan pohon?" Tanya Raka sambil tertawa terkekeh-kekeh melihat wajah pucat istrinya.

__ADS_1


__ADS_2