Ranjang Panas Sang CEO

Ranjang Panas Sang CEO
Karen dan Tio


__ADS_3

"Ada apa?" Tanya mereka bersamaan.


"Lihat ada dua mobil hitam parkir dan delapan orang keluar sambil membawa koper dan sepertinya isinya bom." Ucap Adriana yang mengira-ngira.


"Coba Kakak cek." Ucap Karen sambil mengotak atik laptopnya.


Karen yang awalnya ingin meretas data Vino tidak jadi dan lebih memilih untuk melihat isi koper tersebut hingga lima menit kemudian Karen sudah tahu isi koper tersebut.


"Benar isinya bom di dalam koper yang di bawa oleh mereka dan bom waktunya belum di stell." Ucap Karen sambil masih mengotak atik laptopnya.


"Apa? Kakak akan ke sana untuk menangkap mereka." Ucap Rico sambil berjalan ke arah pintu.


"Aku ikut." Ucap Marcel dan Ronald bersamaan sambil berjalan mengikuti Rico.


"Aku juga." Sambung dokter Kasandra dan Sandra bersamaan sambil berjalan mengikuti langkah kekasih mereka.


"Aku akan kasih tahu posisi mereka ke kalian semuanya lewat wa." ucap Karen sebelum mereka keluar dari pintu.


"Ok." Jawab Rico, Marcel, Ronald, dokter


Kasandra dan Sandra bersamaan.


"Adriana tolong panggilkan Mommy, Daddy, Adrian dan Rani.'' Ucap Karen.


"Baik Kak." Jawab Adriana sambil berjalan ke arah pintu.


"Aku ikut kamu." Ucap Leonard yang entah kenapa takut kalau terjadi sesuatu dengan Adriana.


"Lebih baik temani Kak Karen." Ucap Adriana.


"Aku tidak apa-apa di tinggal sendirian, lebih baik kamu pergi ke kamar kak Adrian sedangkan Kak Leonard ke kamar ke dua mertuaku nanti aku kasih tahu kemana mereka pergi lewat pesan wa." Ucap Karen.


"Ok." Jawab ke duanya bersamaan.


Leonard dan Adriana berjalan meninggalkan Karen sendirian yang masih sibuk mengotak atik laptopnya.


Brak

__ADS_1


Adriana berlari ke arah kamar kakaknya dan tanpa mengetuk pintu Adriana membuka pintu kamar Kakaknya dengan kasar.


Adriana tanpa sengaja melihat Kakak nya sedang berciuman dan langsung menghentikan ciumannya ketika adiknya tiba-tiba membuka pintu kamarnya secara tiba-tiba.


"Adriana." Ucap dokter Adrian dengan nada kesal sedangkan wajah Rani memerah menahan malu.


"Maaf Kak Adrian dan Kak Rani, ada delapan orang datang sambil membawa koper yang berisi bom." Jawab Adriana yang memberikan alasan kenapa dirinya membuka pintu tanpa mengetuk pintu.


"Apa? Dimana mereka?" Tanya dokter Adrian dan Rani dengan nada terkejut sambil berjalan ke arah lemari pakaian.


"Di parkiran mobil." Jawab Adriana.


"Apakah mereka sudah ke parkiran mobil?" Tanya Rani sambil mengambil tas ransel.


"Sudah." Jawab Adriana.


"Baik, kalau begitu aku akan membantu menangkap mereka." Ucap Rani sambil keluar dari kamarnya.


"Aku ikut." Jawab dokter Adrian dan Adriana bersamaan juga ikut keluar dari kamarnya.


"Kak Adrian dan Adriana bisa menggunakan senjata?" Tanya Rani.


"Bagus, kalau begitu ambillah pistol ini." Ucap Rani sambil memberikan dua pistol ke mereka berdua.


"Ok." Jawab ke duanya bersamaan sambil menerima pistol tersebut.


"Kalian mau kemana?" Tanya Leonard yang sedang berjalan ke arah lift.


"Mau membantu mereka." Jawab ke tiganya bersamaan.


"Aku ikut." Jawab Leonard sambil jalan mengikuti langkah mereka.


"Daddy dan Mommy sudah tahu?" Tanya Rani sambil memberikan pistol ke Leonard.


"Sudah katanya mereka juga akan bersiap sebentar lagi keluar dari kamar." Jawab Leonard.


Ceklek

__ADS_1


Tiba-tiba pintu kamar Daddy Raka dan Mommy Nicole terbuka dan sepasang suami istri tersebut sudah siap sambil membawa pistol dan jaket anti peluru.


"Kalian juga ingin menyerang?" Tanya Daddy Raka.


"Ya." Jawab mereka bersamaan.


Ting


Tiba-tiba ponsel milik Daddy Raka berdering sekali tanda ada pesan masuk membuat Daddy Raka mengambil ponselnya yang di simpan di saku kemejanya kemudian membuka isi pesan tersebut.


"Adrian, Adriana dan Kak Leonard kalian pergi ke lantai tiga sedangkan Daddy, Mommy dan Rani ke lantai empat."


"Pesan dari Karen buat Adrian, Adriana dan Kak Leonard untuk masuk ke lift sebelah kiri sedangkan yang lainnya masuk lift sebelah kanan." Ucap Daddy Raka.


"Baik." Jawab mereka bersamaan.


Sebenarnya dokter Adrian ingin agar bisa pergi bersama istrinya namun karena permintaan Ayah mertuanya membuat dokter Adrian patuh. Mereka masuk ke dalam lift di mana mereka di bagi dalam dua kelompok.


Di tempat yang berbeda di mana kelompok Rico, Marcel, Ronald, dokter Kasandra dan Sandra sedang menatap enam pria sambil berjalan ke arah mereka.


'Jika aku bilang serang maka serang mereka.' ucap Rico dengan suara pelan agar mereka tidak mendengar.


Marcel, Ronald, dokter Kasandra dan Sandra yang mengerti langsung menganggukkan kepalanya.


Di tempat yang sama hanya berbeda ruangan, Karen melihat cctv pergerakan musuh, suaminya, keluarga suaminya, ke dua sahabatnya dan juga teman-temannya hingga Karen melihat salah satu musuh berjalan ke arah kamar milik ke dua mertuanya.


'Apa yang harus aku lakukan?' Tanya Karen dalam hati sambil berpikir.


Karen masih mengamati pria tersebut hingga pria tersebut membuka kopernya kemudian menekan tombol dan otomatis jam, menit dan detik langsung menyala.


"Ternyata bom waktu dan waktunya hanya tiga puluh lima menit. Siapa yang bisa menonaktifkan bom ya?" Tanya Karen sambil berpikir.


Karen tiba-tiba teringat dengan guru yang dulu mengajari dirinya tentang program IT membuat Karen menghubungi gurunya dan sambungan telepon langsung di angkat.


Karen menceritakan maksud tujuan dirinya menghubungi gurunya dan gurunya dengan senang hati memberitahukan cara menonaktifkan bom. Setelah Karen mengerti Karen mengucapkan terima kasih dan tidak berapa lama sambungan komunikasi langsung terputus.


Karen mulai mengotak atik laptopnya bersamaan pintu ruangan tersebut terbuka membuat Karen menatap ke arah pintu tersebut. Karen sangat terkejut ketika melihat seorang pria yang sangat dikenalnya menodongkan pistol ke arah dirinya.

__ADS_1


"Tio?" Ucap Karen dengan wajah terkejut.


__ADS_2