Ranjang Panas Sang CEO

Ranjang Panas Sang CEO
Mommy, kenapa Mommy menangis?


__ADS_3

Suara teriakan Raka membuat kepala pelayan membuka pintu dengan lebar dan matanya membulat sempurna melihat pakaian Nicole terkena noda darah.


"Tuan Wijaya sudah meninggal tolong kamu dan para bodyguard mengurus semuanya nanti aku ke sini lagi." Ucap Raka dengan wajah yang terlihat sangat terpukul.


"Apa? Baik Tuan." Jawab kepala pelayan dengan nada terkejut sambil memiringkan tubuhnya ke samping agar Raka bisa keluar.


Setelah Raka keluar, kepala pelayan memanggil pelayan lainnya untuk membantunya mengurus jenasah Daddy Wijaya.


Raka berjalan dengan langkah cepat dengan diikuti oleh salah satu bodyguard yang berjaga di dalam mansion. Bodyguard tersebut membuka pintu utama dengan lebar kemudian Raka keluar dari mansion tersebut.


Raka duduk di kursi belakang dan menyandarkan kepala istrinya di ke dua pahanya sambil membelai rambut istrinya dengan lembut sedangkan bodyguard yang merangkap sebagai sopir mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.


"Sayang, kamu harus kuat. Aku tidak sanggup kehilanganmu sudah cukup aku kehilangan Daddy." Ucap Raka dengan mata berkaca-kaca.


Tes


Tes


Raka yang tidak bisa menahan kesedihannya dan akhirnya Raka mengeluarkan air matanya ketika melihat istrinya yang sangat dicintainya tidak sadarkan diri. Raka mengambil ponselnya untuk menghubungi ke dua orang tuanya untuk membantu mengurus jenasah besannya setelah selesai Raka menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku kemejanya.


Dirinya sangat takut kehilangan orang-orang yang dicintainya. Raka tiba-tiba teringat dengan Paman Donald membuat Raka menahan amarahnya karena gara-gara kehadirannya membuat dirinya kehilangan Ayah mertuanya yang sudah di anggap Ayahnya.


'Jika terjadi sesuatu dengan istriku maka kalian berdua akan menyusulnya untuk menemaninya." Ucap Raka dalam hati.


Lima belas menit kemudian mobil mereka sudah sampai dan bodyguard yang duduk di samping pengemudi membuka pintu mobilnya dengan cepat agar Raka bisa keluar dari mobil.


Raka keluar sambil menggendong istrinya sedangkan bodyguard yang tadi membuka pintu mobil memanggil perawat untuk membawakan brangkar.


Tidak berapa lama datang perawat sambil mendorong brangkar kemudian Raka dengan perlahan meletakkan tubuh istrinya yang masih setia memejamkan matanya.


Raka duduk di ruang UGD dengan pandangan matanya menatap ke arah pintu. Sedangkan sopir yang merangkap sebagai bodyguard dan bodyguard satunya lagi berdiri menunggu perintah selanjut nya.


"Kalian berdua pulanglah dulu dan jika terjadi sesuatu kabarin aku!" Perintah Raka.


"Baik Tuan." Jawab ke dua bodyguard tersebut.


Ke dua bodyguard tersebut pergi meninggalkan Raka sendirian hingga dua jam kemudian ponselnya berdering membuat Raka mengambil ponselnya dari saku jasnya untuk melihat siapa yang menghubungi dirinya.


Raka menatap ke layar ponselnya dan melihat anak buahnya menghubungi dirinya. Raka menekan tombol hijau kemudian menempelkan ponselnya ke telinganya.


("Hallo Tuan." Panggil anak buahnya).


("Ada apa?" Tanya Raka yang tidak suka basa basi).


("Maaf Tuan, di mansion ada Tuan Donald bersama istri dan para bodyguard ingin masuk ke dalam mansion." Jawab anak buahnya).


("Suruh masuk saja tapi jika mereka berbuat yang aneh-aneh tembak saja." Ucap Raka dengan nada dingin dan wajah datar).


("Termasuk Tuan Donald dan keluarganya?" Tanya anak buahnya untuk memastikan).


("Termasuk semuanya yang ingin mengusik keluargaku dan langsung dikubur bersebelahan dengan Tuan Wijaya." Jawab Raka tanpa memperdulikan mereka masih kerabat istrinya).


("Baik Tuan." Jawab anak buahnya).


("Apakah orang tuaku sudah datang?" Tanya Raka).


("Sudah Tuan, sekarang lagi mengurus jenasah Tuan Wijaya." Jawab anak buahnya).


("Bagus, aku akan menghubungi orang tuaku." Ucap Raka).


Tut Tut Tut Tut


Sambungan komunikasi langsung diputuskan secara sepihak oleh Raka kemudian Raka menghubungi orang tuanya untuk mengurus jenasah besannya dan menceritakan apa yang telah terjadi.


Raka memberi tahukan jika Paman Donald dan keluarganya mencari masalah agar orang tuanya mengambil tindakan untuk menghukum Paman Donald dan keluarganya. Setelah selesai telepon Raka menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya.


Raka menghembuskan nafasnya dengan perlahan sambil memejamkan matanya. Raka berharap semoga istrinya baik-baik saja hingga satu jam kemudian pintu UGD dibuka. Raka turun dari bangku kemudian berjalan mendekati dokter tersebut.


"Dokter, bagaimana keadaan istriku? Anak kami dan istriku dalam kondisi baik-baik sajakan Dok? "Tanya Raka dengan wajah kuatir.


"Untunglah nyonya dibawa dengan cepat jika tidak bisa membahayakan semuanya baik janinnya maupun nyawa nyonya."Jawab dokter.


"Syukurlah, bolehkah aku melihatnya?" Tanya Raka.


"Sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang perawatan dan saya minta jangan membuatnya memikirkan yang berat - berat karena bisa membahayakan janinnya." Ucap dokter tersebut.


"Baik Dok, aku akan mengingatnya." Jawab Raka.


"Kalau begitu saya permisi dulu mau mengecek pasien lainnya." Ucap dokter tersebut.


Raka hanya menganggukkan kepalanya dan tidak berapa lama pintu UGD terbuka dengan lebar dan dua perawat mendorong brangkar di mana istrinya sedang berbaring dengan mata masih terpejam.


Kini Raka duduk di kursi dekat ranjang istrinya dan menatap wajah pucat istrinya namun masih terlihat sangat cantik sambil menggenggam tangan istrinya yang tidak ada infusnya.

__ADS_1


"Eugghhhh ..."


Nicole menggeliatkan tubuhnya dan tidak berapa lama Nicole membuka matanya. Nicole menatap wajah tampan suaminya dengan tatapan sendu dan tidak berapa lama air matanya keluar.


"Sayang, Daddy hiks ... hiks ... " Ucap Nicole sambil terisak.


"Ssssttt ... Kakak tahu kamu sangat sedih begitu pula dengan Kakak tapi ingat ada anak kita di dalam kandungan. Apakah istriku tidak sayang dengan anak kita?" Tanya Raka dengan wajah sendu.


Nicole langsung membelai perutnya sedangkan Raka menghapus air mata istrinya dengan menggunakan ke dua ibu jarinya.


"Aku di mana Kak?" Tanya Nicole.


"Di rumah sakit, tadi kamu sempat pendarahan untunglah kamu dan anak kita tidak apa-apa." Ucap Raka sambil ikut membelai perut istrinya.


"Maafkan Mommy." Ucap Nicole yang sudah mengubah panggilan untuk dirinya sendiri sambil membelai perutnya yang masih rata.


"Mommy, harus kuat karena Daddy tidak sanggup kehilangan orang yang Daddy sayangi." Ucap Raka yang juga mengubah nama panggilan.


"Daddy hanya memiliki orang tua Daddy dan Mommy serta anak kita. Separuh jiwaku sudah aku berikan untuk orang tua Daddy dan separuhnya lagi untuk Mommy dan anak kita jadi jika Daddy kehilangan Mommy dan anak kita bagaimana Daddy bisa hidup jika separuh nafas Daddy hilang? Apakah Mommy tidak mencintai Daddy?" Tanya Raka dengan mata berkaca-kaca.


Di dunia mafia, Raka terkenal dengan kekejamannya dan tidak pernah memandang musuhnya. Apakah dia laki-laki atau perempuan semua di sama ratakan namun di depan istrinya Raka sangat beda. Raka sangat menyayangi istrinya dengan sepenuh hatinya dan rela melakukan apapun asalkan bisa membahagiakan istrinya.


"Tentu saja Mommy sangat mencintai Daddy." Jawab Nicole tanpa banyak berpikir.


"Kalau begitu Mommy harus kuat demi Daddy dan juga demi anak kita." Ucap Raka.


Nicole hanya menganggukkan kepalanya walau dalam hati yang paling dalam dirinya belum bisa menerima kenyataan kalau Ayah kandungnya pergi meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.


"Daddy sudah bahagia dan bisa bertemu kembali dengan Mommy, seperti harapan Daddy yang ingin bertemu dengan Mommy." Ucap Raka yang tiba-tiba teringat dengan perkataan Ayah mertuanya yang ingin menemui istrinya.


Nicole hanya terdiam namun air matanya kembali keluar membuat Raka menghapus air matanya.


"Apakah Mommy ingin melihat kondisi anak kita?" Tanya Raka mengalihkan pembicaraan.


"Maksud Daddy?" Tanya Nicole dengan wajah bingung.


"Maksud Daddy, Daddy akan meminta dokter kandungan untuk USG agar kita tahu perkembangan anak kita." Ucap Raka.


"Mommy mau Dad, tolong panggilkan dokter kandungan dan alat USG." Pinta Nicole.


"Baik, Daddy akan memanggil dokter." Ucap Raka sambil menekan tombol yang menempel di dinding di atas kepala istrinya.


"Kamu pasti mengira Daddy meminta untuk melakukan hubungan suami istri." Ucap Raka sambil mengusap rambut istrinya.


Nicole hanya tersenyum malu karena apa yang dikatakan oleh suaminya benar adanya. Tidak berapa lama datang dokter dan perawat kemudian Raka menceritakan kalau dirinya dan istrinya ingin melihat anak mereka dengan memanggil dokter kandungan dan alat USG.


Kini dokter kandungan dan perawat sudah berada di ruang perawatan bersama alat USG dan layar monitor. Perawat tersebut menaikkan perlahan pakaian pasien rumah sakit karena dress milik Nicole terkena noda darah.


Perawat itu mengambil botol plastik yang berisi gel dingin kemudian diarahkan ke perut Nicole. Setelah selesai dokter mengambil stik dan diletakkan di perut Nicole.


"Usia kandungan Nyonya sekarang baru empat Minggu atau satu bulan dan selamat untuk Tuan dan Nyonya, anaknya kembar dua." Ucap dokter kandungan tersebut.


"Kembar dua Dok?" Tanya Nicole dan Raka bersamaan sambil saling menatap dan masih saling menggenggam tangan.


Raka dan Nicole tersenyum bahagia ketika mereka dikaruniai dua bayi kembar dan tidak sabar untuk melihatnya.


"Benar Tuan dan Nyonya, lihat dua bulatan ini." Ucap dokter kandungan tersebut.


Raka dan Nicole menatap ke layar monitor dan melihat dua bulatan yang masih kecil.


"Tapi kenapa bentuknya seperti itu Dok?" Tanya Raka dengan wajah bingung.


"Memang seperti itu Tuan, seiring berjalannya waktu nanti berubah menjadi bayi mungil." Jawab dokter tersebut.


"Anak kami laki - laki atau perempuan Dok?" Tanya Raka.


"Belum ketahuan Tuan karena Alat genital janin baru dapat dilihat dengan jelas di usia kehamilan enam belas minggu, sehingga waktu yang disarankan bagi Nyonya untuk memeriksakan jenis kelaminnya adalah di usia kehamilan delapan belas sampai dua puluh minggu atau sekitar empat sampai lima bulan." Jawab dokter kandungan tersebut sambil meletakkan kembali stik ke tempat semula.


Perawat yang berdiri di samping dokter mengambil tissue kemudian men lap perut Nicole setelah selesai menurunkan kembali pakaian pasien milik Nicole.


"Lama juga ya, kalau melahirkan?" Tanya Raka dengan wajah polos.


Selama ini Raka tidak pernah perduli tentang hamil atau berapa lama melahirkan karena dirinya hanya berpikir untuk mem bu nuh orang-orang yang mencari masalah dengan dirinya.


"Sekitar tiga puluh enam Minggu atau sembilan bulan." Jawab dokter kandungan tersebut.


"Kenapa lebih lama lagi? Apakah tidak bisa dipercepat?" Tanya Raka.


Bugh


"Sayang, mana bisa dipercepat." Ucap Nicole dengan wajah kesal sambil memukul bahu suaminya.


Raka menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian menatap tajam ke arah dokter kandungan tersebut.

__ADS_1


"Oh ya, apakah selama istriku hamil kami boleh melakukan hubungan suami istri?" Tanya Raka.


"Untuk ini jangan dulu Tuan." Jawab dokter kandungan tersebut.


"Lalu kapan aku boleh melakukannya?" Tanya Raka dengan nada frustrasi mengingat dirinya tidak bisa untuk tidak menyentuh istrinya.


"Waktu yang tepat untuk berhubungan intim yaitu pada saat usia kandungan sudah enam belas minggu atau trimester kedua. Hal ini disarankan karena berhubungan intim pada usia kehamilan yang rentan atau di kenal dengan sebutan trimester pertama karena  dikhawatirkan dapat mengganggu perkembangan pada janin." Jawab dokter tersebut dengan panjang lebar.


Raka menghembuskan nafasnya dengan perlahan sambil memejamkan matanya sedangkan Nicole hanya mengusap bahu suaminya.


"Selain itu, ibu hamil juga tidak dianjurkan melakukan hubungan intim di usia kehamilan sekitar tiga puluh tujuh sampai empat puluh dua minggu. Alasannya, kepala janin sudah memasuki rongga panggul, sehingga berhubungan intim dikhawatirkan menyebabkan pendarahan atau persalinan dini." Ucap dokter kandungan tersebut menjelaskan.


"Kenapa berat sekali?" Tanya Raka sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


"Memang seperti itu Tuan," jawab dokter kandungan.


"Nanti saya buatkan vitamin dan penguat kandungan." Sambung dokter tersebut.


"Baik Dokter." Jawab Nicole.


"Ada yang ditanyakan lagi Tuan dan Nyonya?" Tanya dokter kandungan.


"Tidak ada Dok." Jawab Nicole.


"Kalau begitu kami permisi dulu." Ucap dokter tersebut.


"Baik Dok dan terima kasih banyak Dok." Ucap Nicole.


"Sama-sama Nyonya." Jawab dokter kandungan tersebut.


Dokter kandungan dan perawat pergi meninggalkan ruang perawatan di mana Raka masih terdiam.


"Sayang." Panggil Nicole kembali mengubah panggilan dari Daddy dan kembali lagi menjadi Sayang.


"Hmmm... " Jawab Raka berupa deheman.


"Apakah suamiku tidak menyukai anak kita?" Tanya Nicole dengan wajah sendu dengan matanya berkaca-kaca.


"Kenapa kamu bilang begitu? Tentu saja aku sangat menyukai anak kita." Jawab Raka dengan wajah bingung.


"Aku mengatakan itu karena berulang kali suamiku menghembuskan nafasnya dengan perlahan ketika dokter mengatakan untuk tidak melakukan hubungan suami istri." Ucap Nicole.


"Aku tidak melarang atau pun marah jika seandainya Suamiku mencari wanita lain tapi ceraikan lah aku lebih dulu." Sambung Nicole.


Tes


Tes


Raka yang melihat istrinya menangis langsung menghapus air mata istrinya dengan menggunakan ke dua ibu jarinya kemudian menghembuskan nafasnya dengan perlahan.


"Mommy ku sayang, Daddy sangat bahagia menikah dengan Mommy di tambah ada anak kita yang berada di perut Mommy. Anak yang selalu kita nantikan jadi mana mungkin Daddy menceraikan Mommy? Apalagi ketika Daddy mendengar ucapan dokter kalau anak kita kembar membuat Daddy sangat bahagia karena selama ini Daddy anak tunggal." Ucap Raka panjang lebar.


Nicole tersenyum mendengar ucapan suaminya dan suaminya membalas senyuman istrinya.


"Aku ingin pulang." Ucap Nicole mengingat kalau Daddynya sudah meninggal dan dirinya ingin melihat pemakamannya.


"Daddy, akan tanya dokter dulu apakah kamu boleh pulang atau tidak." Ucap Raka yang mengerti kenapa istrinya ingin pulang.


Raka kembali menekan tombol dan tidak berapa lama dokter dan perawat kembali datang.


"Ada yang bisa kami bantu Tuan dan Nyonya?" Tanya dokter tersebut.


"Istriku ingin pulang, apakah boleh?" Tanya Raka.


"Saya akan mengecek kondisi Nyonya dulu." Ucap dokter tersebut.


Raka hanya menganggukkan kepalanya kemudian dokter itupun  mulai memeriksa keadaan Nicole hingga beberapa saat kemudian dokter itupun selesai mengecek kondisi Nicole.


"Keadaan Nyonya masih lemah lebih baik Nyonya di rawat dan besok siang Nyonya bisa pulang." Ucap dokter tersebut.


"Mommy dengarkan apa kata Dokter?" Tanya Raka.


Nicole hanya menghembuskan nafasnya dengan perlahan tanpa menjawab pertanyaan suaminya.


"Kalau begitu kami permisi dulu Tuan dan Nyonya." Pamit dokter tersebut.


"Terima kasih Dok." Jawab Nicole yang tahu suaminya tidak akan menjawabnya.


"Sama-sama Nyonya dan sudah menjadi tugas kami." Ucap dokter tersebut.


Dokter dan perawat itu pun pergi meninggalkan ruang perawatan sedangkan Nicole memejamkan matanya namun dalam hatinya dirinya sangat merindukan Ayah kandungnya.


Perasaan menyesal yang teramat sangat karena selama ini dirinya belum membahagiakan Ayah kandungnya membuat Nicole terisak.

__ADS_1


Raka yang baru saja duduk di kursi dekat ranjang istrinya sangat terkejut membuat Raka mengusap rambut istrinya dengan lembut.


"Mommy, kenapa Mommy menangis?" Tanya Raka.


__ADS_2