Ranjang Panas Sang CEO

Ranjang Panas Sang CEO
Penyerangan


__ADS_3

Hingga dua jam setengah kemudian Daddy Raka, Mommy, Rico, Ronald dan Marcel bersama para anak buah Daddy Raka akhirnya sudah sampai di tempat tujuan. Di mana mansion tersebut terletak di pinggiran kota yang jauh dari pemukiman penduduk.


("Daddy." Panggil Karen lewat headset).


("Ada apa Karen?" Tanya Daddy Raka).


("Daddy, Mommy dan Kak Rico ke arah barat sedangkan Ronald dan Marcel ke arah Tenggara. Di bagi dua kelompok Dad termasuk para anak buah Daddy dan Kak Rico." Ucap Karen).


("Ok." Jawab mereka bersamaan).


Daddy Raka membagi dua kelompok begitu pula dengan para anak buah Daddy Raka dan Rico. Selesai di bagi menjadi dua kelompok, mereka berjalan sesuai apa yang dikatakan oleh Karen.


Daddy Raka, Mommy Nicole dan Rico berjalan ke arah barat hingga mereka mendengar suara Karen.


("Daddy ada musuh di jam enam, Mommy di jam sembilan dan Kak Rico di jam dua belas." Ucap Karen).


("Untuk para anak buahnya bersiap-siap karena akan datang musuh di jam dua, jam empat dan jam sepuluh dan langsung berpisah agar musuh tidak bisa menyerang satu titik." Sambung Karen).


("Ok." Jawab Daddy Raka singkat).


Dor


Dor


Dor


Daddy Raka, Mommy Nicole dan Rico menembak musuh mereka tepat di keningnya dan langsung mati di tempat.


"Kalian semua berjaga-jaga akan datang musuh di jam dua, jam empat dan jam sepuluh. Mommy ikut Daddy, Rico bawa dua anak buahmu dan yang lainnya berpisah masing-masing satu kelompok dua atau tiga orang." Ucap Daddy Raka ketika ke tiga musuhnya mati seketika.


"Ok." Jawab mereka bersamaan sambil bersiap-siap masing-masing ke arah jam dua, jam empat dan jam sepuluh.


Hingga terdengar suara langkah kaki dari mereka tanda mereka datang dan langsung di sambut dengan tembakan beruntun. Suara tembakan saling bersahutan hingga jerit kematian dari para musuh ikut saling bersahutan.


("Mommy, di jam sembilan." Ucap Karen).


("Ok." Jawab Mommy Nicole singkat).


Dor


"Akhhhhhhhh..." Teriak pria tersebut.


Bruk


Mommy Nicole berhasil menembak musuhnya yang ingin menembak dirinya hingga pria tersebut berteriak kesakitan dan langsung mati seketika.


("Gerbang utama tidak ada yang menjaga tapi dari dalam mansion ada yang mengamati gerbang utamanya. Aku akan membuka gerbangnya agar semua bisa masuk dan Daddy bersiap menembak di jam dua belas." Ucap Karen).


("Ok." Jawab Daddy Raka).


Karen mulai mengutak atik laptopnya hingga lima menit kemudian Karen berhasil membuka gerbangnya.


("Daddy dan semuanya stop jangan masuk!" Teriak Karen dengan wajah terkejut dengan apa yang dilihatnya di laptop).


("Ada apa Karen?" Tanya Daddy Raka dengan wajah bingung).


("Pria yang berada di mansion paling atas adalah pria yang telah membuat ke dua orang tuaku meninggal." Jawab Karen sambil menahan amarahnya).


("Pria itu menggunakan pagar listrik tegangan tinggi di seluruh mansionnya dan itu bisa membahayakan nyawa Daddy, Mommy, suamiku dan semuanya." sambung Karen).

__ADS_1


("Tapi listriknya tidak terlihat jelas." Ucap Rico sambil menyoroti tempat tersebut dengan menggunakan senter pada ponselnya setelah beberapa saat senter tersebut dimatikan).


("Memang benar tidak terlihat jelas karena Tuan Ferguson sengaja melakukan hal itu agar mansionnya aman tidak di serang musuh." Ucap Karen).


Daddy Raka membalikkan badannya dan berjalan dengan menggunakan senter dari ponselnya membuat Mommy Nicole dan Rico mengikuti langkah Daddy Raka sambil ikut menyalakan senter dari layar ponselnya.


"Ada apa Dad?" Tanya Rico penasaran begitu pula dengan Mommy Nicole.


"Daddy mencari salah satu mayat untuk di lempar agar kita bisa tahu dimana kabel listriknya." Jawab Daddy Raka sambil mencari mayat.


Mommy Nicole dan Rico ikut mencari hingga Mommy Nicole melihat ada mayat dengan mata melotot membuat bulu kuduk Mommy Nicole berdiri.


"Daddy, itu ada mayat." Ucap Mommy Nicole sambil mengarahkan ponselnya ke arah mayat tersebut.


Daddy Raka dan Rico melihat ada mayat yang tergeletak dimana keningnya tertembak dan pria tersebut menatapnya dengan tatapan melotot.


Rico mematikan senternya kemudian menyimpan kembali ponselnya di dalam saku jasnya kemudian membantu Daddy Raka menggotong mayat tersebut sedangkan Mommy Nicole berjalan mendahului mereka dengan menggunakan senter.


("Ide bagus Dad, lempar mayat tersebut di depan gerbang setelah itu Daddy dan semuanya pergi menjauh." Ucap Karen).


("Ok." Jawab Daddy Raka singkat).


"Daddy hitung sampai tiga dan dihitungan ketiga kita lempar sama-sama." Ucap Daddy Raka.


"Baik Dad." Jawab Rico.


1


2


3


Duarr


Duarr


("Karen, terima kasih." Ucap Daddy Raka dan Mommy Nicole bersamaan).


("Terima kasih sayang." Ucap Rico).


("Terima kasih." Ucap Marcel, Ronald dan bersama anak buah Daddy Raka dan Rico).


("Sama-sama." Jawab Karen).


("Sekarang musuh ada di jam satu, jam tiga, jam lima, jam delapan dan jam dua belas." Ucap Karen).


("Ok." Jawab Daddy Raka, Mommy Nicole, Rico, Marcel dan Ronald secara bersamaan).


Dor          Dor          Dor        Dor              Dor


Daddy Raka, Mommy Nicolr, Rico, Marcel dan Ronald langsung menembak secara bersamaan setelah Daddy Raka memberikan kode ke mereka agar menembak ke target masing-masing secara bersamaan.


"Akhhhhhhhh..." Teriak ke lima pria tersebut secara bersamaan.


Bruk        Bruk          Bruk       Bruk           Bruk


Bersamaan terdengar suara kematian saling bersahutan dan langsung ambruk karena tepat mengenai keningnya.


Mereka masuk ke dalam mansion tersebut sedangkan Karen memberitahukan posisi para penjahat hingga mereka melihat Tuan Ferguson duduk di kursi roda sambil menatap tajam ke arah mereka dengan tatapan tajam sedangkan para anak buahnya sudah meninggal di tempat.

__ADS_1


"Akhirnya setelah bertahun - tahun kita bertemu lagi Tuan Ferguson." Ucap Daddy Raka sambil menatap tajam ke arah Tuan Ferguson.


"Aku tidak menyangka selama bertahun-tahun tempat persembunyianku ketahuan juga olehmu Tuan Raka." Ucap Tuan Ferguson kemudian menatap ke arah wanita yang dicintainya dalam diam.


"Nicole, kamu semakin cantik dan seksi." Puji Tuan Ferguson.


"Simpan pujianmu Tuan Ferguson, aku datang ke sini untuk membalaskan dendam karena ulahmu membuat Daddy meninggal selain itu kamu juga telah membuat besanku meninggal." Ucap Mommy Nicole sambil mengarahkan pistolnya ke arah Tuan Ferguson.


"Silahkan kamu menembakku dan setelah itu kita akan mati bersama karena mansion ini sudah di pasang bom." Ucap Tuan Ferguson sambil tersenyum menyeringai.


("Daddy dan semuanya keluar dari mansion itu karena sudah di pasang bom." Ucap Karen bersamaan dengan ucapan Tuan Ferguson).


"Dasar pria gi*a, semuanya keluar." Ucap Daddy Raka yang juga mengarahkan pistolnya ke arah pria tersebut.


"Memang aku pria gi*a yang mencintai seorang wanita tapi sayang sekali cinta tulusku tidak di balas oleh istrimu." Jawab Tuan Ferguson sambil bersiap menekan tombol remote bom.


Dor


Dor


Daddy Raka menembak tangan Tuan Ferguson sedangkan Mommy Nicole menembak dada Tuan Ferguson hingga tembus ke jantung.


"Akhhhhhhhh ...!" Teriak Tuan Ferguson.


Bruk


Tuan Ferguson berteriak kesakitan ketika tangannya yang memegang remote di tembak oleh Daddy Raka hingga remote tersebut jatuh bersamaan Mommy Nicole ikut menembak dadanya membuat Tuan Ferguson langsung ambruk dan mati seketika karena peluru tersebut mengenai dadanya dan tembus ke jantungnya.


Duarr                 Duarr                Duarr


Tidak berapa lama terdengar suara ledakan bom membuat Daddy Raka, Mommy Nicole, Rico, Marcel dan Ronald berserta anak buahnya pergi meninggalkan mansion tersebut dengan bantuan Karen dan Leonard lewat cctv yang belum meledak.


Di tempat yang berbeda tepatnya di mansion milik Daddy Raka di mana Karen dan Leonard serta Adriana tersenyum lega karena Daddy Raka, Mommy Nicole, Rico, Marcel dan Ronald selamat dan dalam perjalanan menuju ke mansion.


"Akhirnya musuh sudah tidak ada lagi dan orang yang telah membunuh ke dua orang tuaku juga sudah meninggal." Ucap Karen sambil mengusap perutnya yang mulai kram.


"Betul sekali musuh sudah tidak ada lagi, terlebih mereka telah membuat rumah milik kak Adrian rata dengan tanah." Ucap Adriana dengan wajah sedih.


"Sstttttt sudah jangan sedih, kamu bisa tinggal bersama kami di mansion." Ucap Rani yang tiba-tiba datang bersama dokter Adrian di mana pintu ruang kerja milik Daddy Raka terbuka.


"Tapi, akukan kepala keluarga masa numpang di mansion istri." Ucap dokter Adrian dengan wajah lesu.


"Siapa bilang menumpang? Nanti gajinya kak Adrian buat nyicil mansionku hingga lunas." Ucap Rani sambil tersenyum.


"Lunasnya kapan? Mansion milikmu kan mahal semua." Ucap dokter Adrian.


"Tidak juga ada yang murah kok dan mengenai kapan lunasnya pasti cepat kan di bantu sama Adriana." Ucap Rani yang berusaha agar suaminya tidak merasa menumpang di mansion miliknya.


'Aku akan membeli mansion yang harganya tidak terlalu mahal karena enam mansion milikku mahal semuanya. Maaf sayang aku terpaksa melakukan ini agar suamiku tidak merasa rendah diri.' sambung Rani dalam hati.


"Kakak ingin membeli rumah minimalis nanti kalau keuangan Kakak mencukupi baru beli mansion milikmu. Tapi untuk sementara kita mengontrak rumah dulu sampai uangku terkumpul." Ucap dokter Adrian yang tidak ingin hidup menumpang.


Rani menatap ke arah Karen untuk meminta bantuan sedangkan Karen yang mengerti menatap ke arah dokter Adrian.


"Atau gini saja bagaimana kalau Rani membeli rumah yang sesuai keinginan Adrian. Nanti Adrian nyicil ke Rani dan uang hasil penjualan rumah, terserah Rani pakai untuk apa." Ucap Karen memberikan usulan.


"Kalau begitu Kakak setuju, bagaimana menurutmu Rani?" Tanya dokter Adrian.


"Tidak masalah." Jawab Rani sambil masih tersenyum.

__ADS_1


"GAWAT!" Teriak Adriana tiba-tiba.


__ADS_2