
Tidak terasa hari berlalu dengan cepatnya dan sudah dua bulan Raka dan Nicole tinggal bersama Daddy Wijaya. Semua bodyguard milik Daddy Wijaya sudah di ganti dengan bodyguardnya milik Raka.
Raka sudah membuat Tuan Ferguson bangkrut dan entah kenapa Tuan Ferguson seperti menghilang dari muka bumi. Raka yang merasa kuatir dengan keselamatan istrinya terpaksa tinggal bersama Ayah mertuanya terlebih Ayah mertuanya sedang sakit.
Raka pulang pergi dari kantor ke mansion milik Ayah mertuanya lumayan jauh dibandingkan dengan mansion miliknya tapi demi istri tercintanya Raka tidak pernah mengeluh sama sekali.
"Sayang, besok pagi jadi pergi?" Tanya Nicole sambil memeluk tubuh polos suaminya setelah mereka melakukan kegiatan hubungan suami istri dan menatap wajah tampan suaminya dengan tatapan sendu.
"Maaf Sayang, sebenarnya Kakak tidak tega meninggalkan dirimu tapi Kakak tidak tahu di mana Tuan Ferguson berada. Jadi jalan satu-satunya adalah Kakak bersama anak buah mafia mencari keberadaan pria itu." Ucap Raka menjelaskan sambil membalas pelukan istrinya.
"Aku tahu, tapi masa selama satu minggu suamiku tidak pulang. Kalau aku kangen bagaimana?" Tanya Nicole dengan wajah di tekuk.
"Baiklah lima hari Kakak akan pulang." Ucap Raka yang memang tidak bisa pergi terlalu lama dengan istrinya.
"Tiga hari." Tawar Nicole.
"Baik tiga hari, dalam tiga hari kakak akan mencari nya siang dan malam sampai ketemu." Ucap Raka.
"Berarti suamiku tidak tidur?" Tanya Nicole.
"Betul sekali." Jawab Raka.
"Tidak perlu, lebih baik enam hari atau tujuh hari baru Suamiku pulang." Ucap Nicole akhirnya mengalah.
"Kenapa?" Tanya Raka sambil mencapit dagu istrinya.
"Aku tidak ingin suami tampanku sakit gara-gara pulang cepat." Ucap Nicole menjelaskan.
Cup
"Jika urusannya selesai Kakak langsung secepatnya pulang ke mansion." Ucap Raka sambil membuang selimutnya yang menutupi tubuh polos mereka dengan asal kemudian menaiki tubuh istrinya.
"Sayang, kan tadi sudah." Ucap Nicole yang merasa tubuhnya sangat lelah.
"Masih kurang sayang apalagi besok pagi Kakak akan pergi dan selama beberapa hari Kakak tidak bisa menyentuh tubuhmu." Ucap Raka.
Nicole hanya menganggukkan kepalanya karena dirinya tidak tega untuk menolak permintaan suaminya. Raka memberikan pemanasan terlebih dahulu hingga lima belas menit kemudian Raka menuntun tombak saktinya ke arah goa milik Nicole.
Tok
Tok
Tok
__ADS_1
"Tuan .... Nyonya ..." Panggil kepala pelayan sambil mengetuk pintu sebanyak tiga kali.
Raka memejamkan matanya sambil menahan amarahnya karena dirinya ingin menuntaskan ha x srat x nya yang sudah diujung tanduk.
"Ada apa Paman?" Tanya Nicole sambil mengusap punggung suaminya agar amarahnya berkurang tanpa membuka pintu kamarnya.
"Maaf Tuan dan Nyonya, di bawah Tuan besar bertengkar dengan Tuan besar Donald bersama Nyonya besar Donald." Ucap Kepala pelayan melaporkan apa yang telah terjadi.
"Apa? Baik kami akan ke bawah." Jawab Nicole sambil mendorong tubuh suaminya ke arah samping membuat Raka mendengus.
"Baik Nyonya." Jawab Kepala pelayan kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Paman Donald, kenapa bertengkar dengan Daddy?" Tanya Nicole sambil memakai celana segi tiga bermuda kemudian berlanjut bungkusan yang menutupi dua gunung kembarnya.
"Kakak juga tidak tahu, Kakak akan turun duluan." Ucap Raka sambil masih menahan amarahnya.
Awalnya Raka mau marah dengan kepala pelayan karena telah mengganggu aktivitas yang paling di sukai terlebih besok dirinya hanya bisa melakukan dua kali sebelum berangkat.
Tapi kini amarahnya pindah ke Paman Donald selain mengganggu kesenangannya juga telah mengusik Ayah mertuanya yang sangat dihormatinya sekaligus sangat disayanginya.
Nicole hanya menganggukkan kepalanya sedangkan Raka dengan cepat memakai celana boxer berlanjut celana panjang dan terakhir berjalan ke arah lemari untuk memakai kaos.
Raka berjalan ke arah pintu dan membukanya meninggalkan istrinya yang masih memakai pakaian. Raka dengan langkah cepat menuruni anak tangga menuju ke lantai dasar hingga Raka mendengar keributan.
"Kamu tidak berhak ikut campur urusan kami." Ucap Paman Donald dengan nada ketus.
"Apa maksudmu tidak boleh ikut campur? Dia menantuku dan sudah aku anggap sebagai anak kandungku." Ucap Daddy Wijaya dengan nada ikut ketus.
"Kak Wijaya, kenapa Kakak mempercayakan semua harta Kakak ke pria itu?" Tanya adik iparnya.
"Apa hakmu melarang ku? Terserah aku mau aku berikan ke siapa." Jawab Daddy Wijaya dengan nada masih ketus.
"Kak, kami ini keluargamu kenapa lebih percaya dengan orang asing?" Tanya Paman Donald sekaligus adik kandungnya.
"Justru orang asing itu kalian, yang bisanya meminta uang dan uang." Ucap Daddy Wijaya.
"Kakak!" Bentak Paman Donald sambil menjentikkan jarinya.
Grep
Grep
Dua bodyguard milik Paman Donald berjalan ke arah Daddy Wijaya sedangkan Raka yang sejak tadi diam dan melihat dua bodyguard tersebut ingin mencelakai Ayah mertuanya menahan ke dua tangan bodyguard tersebut yang ingin menyentuh Ayah mertuanya.
__ADS_1
Duag
Duag
Bruk
Bruk
Setelah menangkap ke dua tangan bodyguard tersebut Raka menendang tulang kering ke dua bodyguard tersebut secara bergantian. Gerakan yang tiba-tiba dan sangat cepat membuat mereka langsung terjatuh.
"Jangan pernah menyentuh ataupun membentak Daddy, lawan aku kalau berani!" Teriak Raka sambil menatap tajam ke arah Paman Donald.
Paman Donald sangat marah kemudian kembali menjentikkan jarinya membuat Raka ikut menjentikkan jarinya.
Empat bodyguard milik Paman Donald datang sambil membantu ke dua temannya yang tadi terjatuh akibat tendangan Raka. Delapan bodyguard milik Raka juga datang dan menjadikan tubuh mereka sebagai tamengnya Daddy Wijaya dan Raka.
"Daddy, temani Nicole saja biar Raka dan anak buah Raka membereskan mereka." Ucap Raka.
"Baik, berikan pelajaran saja tapi jangan melukainya." Ucap Daddy Wijaya.
"Baik Dad," Jawab Raka patuh walau dalam hati kecilnya tidak terima.
"Kamu dengar itu jangan berani melukai kami." Ucap Paman Donald dengan nada sombong.
"Pukul pria yang tidak tahu diri ini hingga sekarat!" Perintah Paman Donald.
"Jika kalian berani menyakiti menantu kesayanganku maka aku tidak akan segan untuk membuat kalian sekarat. Aku tidak perduli walau kamu adik kandungku." Ucap Daddy Wijaya sambil membalikkan badannya meninggalkan mereka.
"Apa? Kakak serius?" Tanya Paman Donaldd dengan wajah terkejut begitu pula dengan istrinya.
"Paman dan Tante dengar apa perkataan Daddy? Daddy akan membuat Paman, Tante dan anak buah Paman sekarat jika menyakiti menantu kesayangannya." Ucap Raka sambil tersenyum menyeringai.
"Aku beri dua pilihan pergi dari sini atau aku buat salah satu tulang tangan kalian patah jika tidak pergi dari sini." Sambung Raka dengan nada mengancam
Sepasang suami itu saling memandang antara melawan mereka atau tidak.
'Lebih baik lawan aja Dad, kan anak buah Daddy semuanya bisa bela diri." Bisik istrinya agar tidak terdengar oleh Raka.
'Daddy setuju.' jawab suaminya sambil ikut berbisik dan tersenyum menyeringai.
Tanpa mereka ketahui kalau pendengaran Raka sangat tajam dan mendengar percakapan mereka membuat Raka ikut tersenyum menyeringai.
"Aku hitung sampai tiga, jika hitungan ke tiga Paman dan Tante serta anak buah Paman tidak pergi dari sini maka jangan salahkan Raka untuk mematahkan salah satu tangan kalian." Ucap Raka dengan nada dingin dan wajah datar.
__ADS_1