Ranjang Panas Sang CEO

Ranjang Panas Sang CEO
Apa Yang Sebenarnya Terjadi?


__ADS_3

"Meretas cctv hotel ini, Mom. " Jawab Karen sambil masih mengotak atik laptopnya.


Nicole, Rani dan dokter Adrian hanya menatap ke arah layar laptop hingga lima belas menit kemudian Karen sudah berhasil meretas cctv hotel tersebut.


"Berhasil." Ucap Karen.


Karen sengaja meretas cctv bukan di dalam kamar melainkan di luar pintu kamar karena kalau di dalam pintu akan ketahuan kalau dirinya melakukan hubungan suami istri bersama suaminya yang bernama Rico.


Serempak mereka melihat di mana Rico berada di depan pintu lalu berjalan hingga Rico masuk ke dalam ruangan tersebut dan tidak berapa lama datang Ronald dan Marcel. Selang dua menit datang Raka dan juga ikut masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Daddy, Kak Rico, Marcel dan Ronald  ngapain ya, di dalam sana?" Tanya dokter Adrian.


Deg


Jantung Nicole berdetak kencang dirinya baru tersadar kalau dirinya selama ini dibohongi oleh suaminya yang bernama Raka. Membuat mata Nicole berkaca-kaca dan tanpa sepengetahuan Nicole kalau Karen melihatnya dan langsung menyentuh tangannya.


"Ada apa Mommy?" Tanya Karen.


"Tidak ada apa-apa." Jawab Nicole sambil membalas menggenggam tangan menantunya dan tersenyum namun tersirat wajah penuh kecewa.


Rani dan dokter Adrian langsung menatap ke arah Nicole dan mereka tahu kalau Nicole berbohong.


"Apakah ada sesuatu yang Mommy sembunyikan dari kami Mom?" Tanya Rani.


Nicole menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian menatap ke Rani putri ke duanya dan berlanjut ke Karen terakhir dokter Adrian.


"Mommy ingin bertanya sama Karen dan Adrian, jika seandainya ternyata pasangan kalian ternyata keturunan mafia apakah kalian tetap mencintai pasangan kalian atau memilih untuk berpisah?" Tanya Nicole tanpa menjawab pertanyaan Rani.


"Kalau Karen pribadi, seandainya kak Rico ternyata seorang mafia, Karen akan menerimanya. Karen akan menanyakan apakah Mafia nya melakukan pekerjaan kotor atau tidak? Jika melakukan pekerjaan kotor maka Karen akan berusaha untuk menasehatinya untuk tidak melakukannya." Jawab Karen sambil tersenyum menatap Ibu mertuanya.


"Jika tidak melakukan pekerjaan kotor kamu tetap menerimanya? Tanpa menasehatinya?" Tanya Nicole sambil melepaskan genggaman tangannya begitu pula dengan Karen.


"Tentu saja." Jawab Karen dengan nada yakin.


"Maksud dari tidak melakukan pekerjaan kotor dan pekerjaan kotor itu apa?" Tanya Rani dengan wajah bingung.


"Contoh dari pekerjaan yang tidak kotor jika ada orang yang berani mengusik salah satu keluarganya maka memberikan pelajaran ke mereka." Jawab Karen menjelaskan.


"Sedangkan pekerjaan kotor itu di antaranya : merampas milik orang lain, memperkaya diri sendiri, menjual narkoba, menjual senjata api, senjata tajam, menjual organ tubuh manusia dan lain sebagainya. Intinya pekerjaan yang merugikan orang lain." Sambung Karen.


"Bagaimana denganmu Adrian?" Tanya Nicole.


Grep


"Jika ternyata istriku ada keturunan mafia maka Adrian tetap menerimanya karena Adrian sangat tulus mencintai Rani dan juga menyayangi keluarga Rani. Karena bagaimanapun aku sudah menjadi salah satu bagian dari keluarga ini." Jawab dokter Adrian sambil menggenggam tangan istrinya.


"Jika seandainya Daddy dan kak Rico seorang mafia, Adrian percaya kalau Daddy dan Kak Rico adalah mafia yang baik dan tidak merugikan orang lain." Sambung dokter Adrian.


"Darimana kamu tahu?" Tanya Nicole.


"Daddy dan Kak Rico sangat perhatian dengan Mommy, Rani, Kak Karen dan aku. Jika seandainya aku menjadi mafia tentunya akan melindungi orang - orang yang Adrian sayangi termasuk istriku, keluarga istriku dan juga adikku." Jawab dokter Adrian.


"Terima kasih atas jawabannya." Ucap Nicole sambil bernafas lega karena ke dua menantunya tidak mengajukan berpisah dengan ke dua anak kembarnya.


"Apakah Daddy dan Kak Rico seorang mafia lebih tepatnya ketua Mafia?" Tanya Karen asal tebak.


Nicole hanya menganggukkan kepalanya dengan perlahan membuat Karen dan dokter Adrian masing-masing menggenggam tangan Nicole diikuti oleh Rani.


"Mommy, jangan bersedih mungkin ada sesuatu yang dikerjakan oleh Daddy dan Kak Rico jadi percayalah kalau Daddy dan Kak Rico tidak merugikan orang lain." Ucap Karen sambil tersenyum.

__ADS_1


"Apa yang dikatakan kak Karen benar Mom, kita mendoakan saja semoga Daddy, Kak Rico, Kak Ronald dan Kak Marcel baik - baik saja." Sambung Rani.


"Terima kasih, Mommy sangat bahagia bisa memiliki kalian sebagai anak dan menantu Mommy." Ucap Nicole.


"Sama-sama Mom." Jawab ke tiganya secara bersamaan sambil masing-masing melepaskan genggaman tangannya.


"Sekarang sudah malam, Mommy mau istirahat dan kamu juga Karen." Ucap Nicole.


"Bagaimana kalau kita mengusili Daddy dan Kak Rico?" Tanya Karen sambil tersenyum devil.


"Maksudnya?" Tanya mereka bersamaan dengan wajah bingung.


"Daddy dan Kak Rico tega meninggalkan Mommy dan aku tidur sendirian sampai tidak bisa tidur. Jadi bagaimana kalau kita membalasnya?" Tanya Karen.


"Caranya?" Tanya Nicole yang menyetujui usulan menantunya karena dirinya masih kesal sama suaminya.


Karen menceritakan idenya untuk membalas dendam ke Raka dan Rico sedangkan Nicole, Rani dan dokter Adrian hanya mendengarkan apa yang Karen katakan.


"Bagaimana Mom? Setuju tidak Mom memberikan pelajaran ke Daddy dan Kak Rico?" Tanya Karen.


"Aduh cucu Oma dan Opa, ingin memberikan pelajaran ke Opa dan Daddy kalian ya?" Tanya Nicole sambil membelai perut Karen tanpa menjawab ucapan Karen.


"Sepertinya begitu Oma." Jawab Karen sambil menirukan suara anak kecil.


"Pffftttt ... Hahahaha ..." Tawa pecah Nicole, Rani dan dokter Adrian bersamaan.


"Kalau begitu kita tinggal di kamar yang kosong karena hotel ini milik Daddy kalian jadi kita tinggal pilih yang mana." Ucap Nicole.


"Karen ingin tidur sama Mommy, Mommy maukan tidur bersama Karen?" Tanya Karen penuh harap.


"Tentu saja mau, kalau begitu kita istirahat saja karena Mommy sangat mengantuk." Ucap Nicole dan dikuti oleh yang lainnya.


"Baik Mom." Jawab Karen.


"Mommy baru ingat tiap kamar memiliki kartu akses dan pin untuk membuka pintu sedangkan Mommy tidak ingat semua nomer pin pintu yang ada di lantai atas." Ucap Nicole yang kini berada di luar kamar putri dan menantunya.


"Jadi kita ke lantai satu ke bagian yang menerima tamu hotel untuk meminta kartu akses." Sambung Nicole.


"Tidak usah Mom, Karen bisa tahu kok nomer pin pintu. Kita tinggal pilih mau tinggal di kamar yang mana." Ucap Karen.


"Kok bisa tahu?" Tanya Nicole.


"Karen kan sedikit bisa menguasai program IT." Jawab Karen sambil tersenyum.


"Baiklah, kalau begitu kita ke kamar itu aja." Jawab Nicole sambil menunjuk ke arah kamar.


"Ok." Jawab Karen singkat.


Karen mengutak-atik pin pintu tersebut hingga dua menit kemudian terdengar suara klik tanda pintu kamar sudah terbuka. Karen mendorong pintu tersebut dengan lebar agar Nicole bisa masuk ke dalam kamar dan diikuti oleh Karen.


Tubuh mereka sama-sama lelah membuat mereka berbaring di ranjang dan tidak membutuhkan waktu lama mereka tidur dengan pulas.


Tiga Jam Kemudian


Kamar milik Raka dengan Nicole tiba-tiba terbuka kemudian seorang pria masuk ke dalam kamar tersebut. Pria tersebut berjalan dengan perlahan agar penghuni kamar tersebut tidak mendengarnya.


"Si*l, kenapa kamar ini kosong? Apakah Tuan Raka dan istrinya tahu kalau kami akan menyerangnya secara diam-diam?" Tanya pria berpakaian serba hitam tersebut sambil menarik sprei tersebut hingga berantakan.


"Apa mereka tahu kalau kita akan menyerang keluarga Raka?" Tanya salah satu pria tersebut bersamaan hanya beda kalimat.

__ADS_1


"Mungkin saja." Jawab pria ke dua.


"Pasti ada pengkhianat di antara kita karena informasi yang aku dapatkan kalau Tuan Raka dan istrinya menginap di kamar ini tapi mereka tidak ada." Jawab pria pertama.


"Kalau gitu kita keluar dari kamar ini dan semoga saja teman kita mendapatkan kabar gembira." Ucap pria ke dua.


"Ok." Jawab pria pertama dengan singkat.


Mereka keluar dari kamar milik Raka bersama istrinya yang bernama Nicole bersamaan ke dua temannya juga keluar dari kamar milik Rico bersama istrinya yang bernama Karen.


"Bagaimana, ada tidak?" Tanya pria pertama.


"Kosong, apa ada pengkhianat di antara kita?" Tanya pria ke tiga.


"Bisa jadi, lebih baik kita periksa kamar satunya siapa tahu kita bisa menculik putri Tuan Raka bersama menantunya." Usul pria pertama.


"Ok." Jawab mereka serempak.


Mereka pun berjalan ke kamar Rani bersama suaminya yang bernama dokter Adrian. Mereka yang tidak tahu nomer pin kamar menembak pintu tersebut dengan tembakan perendam peluru begitu pula dengan pintu kamar Raka dan pintu kamar Rico.


Hal tersebut dilakukan agar orang tidak mendengar kalau mereka menjebol pintu tersebut. Hingga pintu tersebut terbuka barulah mereka mendorong pintu tersebut dan langsung masuk ke dalam sambil mengarahkan pistolnya ke arah depan mencari Rani bersama suaminya.


"Coba, cek kamar mandi dan balkon!" Perintah pria pertama sambil mengacak-acak sprei tersebut hingga berantakan.


"Ok." Jawab mereka bersamaan.


Sebagian berjalan ke arah kamar mandi dan sebagian lagi berjalan ke arah balkon untuk memeriksa apakah ada Rani dan suaminya atau tidak. Setelah beberapa saat memeriksa mereka kembali ke tempat semula dimana mereka berkumpul di ranjang pengantin.


"Tidak ada." Jawab mereka bersamaan.


"Si*l." Teriak pria pertama yang merupakan orang kepercayaan bosnya.


"Kita rusak kamar ini dengan cara di tembak!" Ucap pernah kepercayaan bosnya.


"Baik." Jawab mereka bersamaan.


Mereka menembak kamar tersebut untuk melampiaskan kemarahannya hingga kamar tersebut hancur berantakan.


Setelah puas barulah mereka pergi dari tempat tersebut menuju ke markas mereka untuk melaporkan apa yang telah terjadi.


Tanpa mereka ketahui kalau Nicole, Karen, Rani dan dokter Adrian sudah pindah kamar lain. Keisengan Karen membuat Karen dan keluarga suaminya selamat. Mungkin ke empat bayi kembar 👯 👯 nya tahu kalau Mommynya dan keluarganya dalam bahaya karena itulah Karen mengajaknya pindah.


xxxxxxx


Tiga jam kemudian pintu lift terbuka dan keluarlah empat pria tampan siapa lagi kalau bukan Raka, Rico, Ronald dan Marcel.


"Sebentar lagi pagi, kalian menginaplah di hotel ini." Ucap Raka sambil menguap karena tubuhnya sangat lelah sambil berjalan ke arah kamarnya.


"Baik Dad." Jawab Marcel dan Ronald bersamaan sambil berjalan ke arah kamar yang kosong karena lantai paling atas adalah kamar paling banyak.


Rico hanya terdiam karena tubuhnya juga sangat lelah hingga mata Rico membulat sempurna dan rasa lelah dan mengantuk yang teramat sangat hilang entah kemana.


"Daddy! kenapa kamarku terbuka lebar? Dan ada bekas tembakan!" Pekik Rico dengan perasaan takut yang teramat sangat jika istrinya kenapa-kenapa sambil berlari ke arah kamarnya.


Serempak ke tiga pria tampan tersebut menatap ke arah kamar Rico dan berlanjut menatap ke arah kamar Raka dan Rani.


Rico yang berlari ke arah kamarnya membuat Daddy Raka juga ikut berlari ke arah kamarnya sedangkan Ronald dan Marcel berlari ke kamar Rani.


Mereka masing-masing sangat terkejut karena kamar tersebut sangat berantakan terlebih kamar di mana kamar Rani dan dokter Adrian yang paling parah karena banyak bekas tembakan.

__ADS_1


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Ronald dan Marcel bersamaan sambil melihat sekeliling ruangan kamar tersebut.


"Kita keluar dan kita laporkan ke Daddy Raka dan ke Tuan Rico." Ucap Ronald.


__ADS_2