Ranjang Panas Sang CEO

Ranjang Panas Sang CEO
Penyerangan 2


__ADS_3

"Ada apa?" Tanya mereka bersamaan sambil menatap ke arah Adriana.


"Itu lihat." Ucap Adriana sambil menunjuk ke layar laptopnya.


Serempak mereka menatap ke arah laptop  dan mereka sangat terkejut ketika melihat dua puluh lima pria berpakaian serba hitam menembak para bodyguard yang berjaga di luar pintu utama.


"Aku akan menghubungi Sandra dan Kasandra untuk berjaga-jaga dekat pintu utama." Ucap Karen sambil mengambil ponselnya untuk menghubungi salah satu sahabatnya karena berada di lantai atas sedangkan saat ini mereka berada di lantai bawah.


"Aku tahu tempat penyimpanan pistol, kita ke ruang kerja milik Daddy." Ucap Rani.


"Daddy menyimpan pistol di ruang kerja, aku akan mengambilnya." Sambung Rani.


"Baik." Jawab mereka bersamaan.


Kini Karen, Rani, dokter Adrian dan Adriana masing-masing sudah memegang pistol kemudian mulai menembak para musuhnya begitupula dengan para musuhnya juga menembak mereka berempat.


'Aduh perutku kram.' ucap Karen dalam hati sambil membelai perutnya dengan menggunakan satu tangannya karena tangan satunya memegang pistol.


'Anak-anak Daddy dan Mommy kalian harus kuat karena saat ini Mommy sedang melawan para musuh Mommy dan Daddy.' Ucap Karen dalam hati sambil sesekali menembak.


Hingga akhirnya Rani, Leonard, Nicole, dokter Kasandra dan Sandra terkena luka tembak dari para musuhnya karena banyaknya musuh yang menyerang mereka.


Para musuh mengarahkan pistol ke arah mereka yang sudah terluka terkena luka tembak sambil tersenyum menyeringai.


'Maafkan Mommy yang tidak bisa menjaga kalian.' Ucap Nicole dalam hati.


"Matilah kalian." Ucap para penjahat bersamaan.


"Kak Rico!" Teriak Nicole.


"Berteriak lah sekeras-kerasnya Nicole suamimu tidak akan mendengarnya." Ucap salah satu pria tersebut.


Ke sepuluh pria tersebut menarik pelatuk sedangkan Nicole tanpa putus asa memanggil nama suaminya.


"Kak Rico tolong aku!" Teriak Nicole sambil masih mengusap perutnya Nicole perutnya kram hingga darah segar keluar dari sela-sela pahanya.


Dor                         Dor                  Dor


Dor                         Dor


"Akhhhhhhhh...." Teriak ke lima pria tersebut secara bersamaan.


Bruk                        Bruk                Bruk


Bruk                        Bruk


Di saat kritis datang Daddy Raka, Mommy Nicole, Rico, Marcel dan Ronald kemudian menembak kening ke lima musuhnya membuat ke lima pria tersebut berteriak kesakitan bersamaan tubuhnya ambruk dan meninggal di tempat.


Ke lima penjahat serempak membalikkan badannya dan menatap Daddy Raka, Mommy Nicole, Rico, Marcel dan Ronald yang sedang mengarahkan pistolnya ke arah mereka.


Dor                         Dor                  Dor


Dor                         Dor


"Akhhhhhhhh...." Teriak ke lima pria tersebut bersamaan.


Bruk                        Bruk                Bruk


Bruk                        Bruk


Daddy Raka, Mommy Nicole, Rico, dokter Kennath dan Ronald berhasil menembak ke lima pria tersebut tepat di keningnya hal itu membuat ke lima pria tersebut berteriak kesakitan bersamaan tubuhnya ambruk dan meninggal di tempat.


"Karen." Panggil Rico dengan wajah kuatir sambil berlari ke arah istrinya kemudian memeluknya.


"Daddy, aku tidak kuat jaga diri Daddy." Ucap Karen sambil membalas pelukan suaminya.


Namun tidak berapa lama Karen melepaskan pelukannya bersamaan Karen tidak sadarkan diri.


"Mommy harus kuat karena Daddy tidak sanggup kehilangan Mommy." Ucap Rico sambil masih memeluk Karen.


Hening


Hening


Rico mendorongnya perlahan tubuh istrinya dan terlihat wajahnya sangat pucat seperti kapas.


"Rico, bawa Karen ke rumah sakit karena di sela-sela pahanya keluar darah segar." Ucap Mommy Nicole.


Rico langsung menatap ke arah ke dua paha milik istrinya dan benar saja apa yang dikatakan oleh Mommy Nicole membuat Rico menggendong istrinya dan membawanya ke rumah sakit dengan ditemani Daddy Raka.


Dokter Kasandra di gendong oleh Ronald, Untuk Sandra di gendong oleh Marcel, Rani di gendong oleh suaminya yang bernama dokter Adrian dengan ditemani Mommy Nicole sedangkan untuk Leonard di gendong oleh salah satu anak buah Daddy Raka.


Mereka masuk ke dalam mobil masing-masing dengan ditemani para bodyguard milik Daddy Raka dan juga Rico. Hingga lima belas menit kemudian mereka sudah sampai di rumah sakit.


Karen, dokter Kasandra, Sandra, Rani dan Leonard langsung di bawa ke ruang UGD sedangkan yang lainnya menunggu di depan pintu UGD dengan perasaan kuatir.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Daddy Raka sambil menahan amarahnya karena putrinya dan menantu kesayangannya terluka.


Dokter Adrian menceritakan apa yang telah terjadi sedangkan Daddy Raka, Mommy Nicole, Rico, Ronald dan Marcel mendengarkan cerita dokter Adrian.


"Itulah yang terjadi." Ucap dokter Adrian mengakhiri ceritanya.


"Seandainya saja Rani tidak menjadikan tubuhnya sebagai tamengnya maka akulah yang terkena luka tembak." Ucap dokter Adrian sambil mengusap wajahnya dengan kasar karena dirinya merasa bersalah.

__ADS_1


"Sstttttt.... Sudah jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri. Rani melakukan itu pasti tidak tega melihat orang yang dicintainya terluka." Ucap Daddy Raka.


"Tapi Dad, Adrian tidak tega melihat istriku terluka." Ucap dokter Adrian.


"Daddy tahu perasaanmu karena dulu Mommy mu seperti itu. Tidak memikirkan dirinya sendiri karena Mommy selalu menjadikan tubuhnya sebagai tamengnya agar Daddy tidak terluka padahal ketika Mommy terluka membuat separuh jiwa Daddy hilang." Ucap Daddy Raka.


Dokter Adrian hanya diam begitu pula dengan yang lainnya. Setelah beberapa saat kemudian terdengar suara dari mulut Rico.


"Kenapa aku tidak tahu kalau Karen terkena luka tembak?" Tanya Rico merutuki kebodohannya sambil mengingat apa yang terjadi sebelumnya.


xxxxxxx Flash Back On xxxxxxx 


Daddy Raka, Mommy Nicole, Rico, Ronald dan Marcel sudah sampai di mansion namun mereka sangat terkejut karena melihat pintu gerbang terbuka dengan lebar membuat mereka menghentikan mobilnya di depan gerbang.


"Kenapa pintu gerbang terbuka?" Tanya Daddy Raka dengan wajah kuatir begitu pula dengan yang lainnya.


"Kita turun dan masuk ke dalam gerbang." Ucap Rico sambil menghentikan mobilnya begitu pula dengan yang lainnya.


Mereka keluar dari mobil kemudian masing-masing mengeluarkan pistol sambil berjalan masuk ke dalam gerbang hingga mereka melihat para bodyguard milik Daddy Raka meninggal dunia terkena luka tembak.


Mereka langsung melangkahkan kakinya dengan cepat ke arah pintu utama yang sudah terbuka hingga mereka mendengar teriakan Karen memanggil nama Rico.


Mereka semakin mempercepat langkahnya dengan secepat kilat hingga akhirnya mereka melihat sepuluh pria berpakaian serba hitam bersiap menembak Karen dan yang lainnya.


Rico yang melihat istrinya dalam bahaya membuat Rico menembak pria tersebut begitu pula dengan kedua orang tuanya dan ke dua sahabatnya juga ikut menembak para penjahat lainnya. Hingga akhirnya para penjahat mati di tempat.


Hingga Rico dan yang lainnya berlari hingga di depan Karen, Rico memeluk istrinya tanpa menyadari kalau Karen terkena luka tembak dan di sela-sela pahanya keluar darah segar hingga Mommy Nicole memberitahukan apa yang terjadi.


xxxxxxx Flash Back Off xxxxxxxx 


"Itu karena kamu panik dan sangat takut terjadi sesuatu dengan istrimu makanya kamu tidak memperhatikannya." Ucap Daddy Raka.


"Apa yang dikatakan oleh Daddy benar tadi Rico sangat panik hingga tidak memperhatikan kalau istriku terluka." Ucap Rico yang masih merutuki kebodohannya.


"Sudahlah, jangan menyalahkan dirimu sendiri dan anggap saja itu pelajaran buatmu untuk lebih peka terhadap apa yang terjadi." Ucap Mommy Nicole sambil mengusap punggung putra sulungnya.


Ceklek


Tiba - tiba pintu ruang UGD terbuka membuat mereka berjalan ke arah pintu tersebut.


"Bagaimana keadaan putriku Rani dan menantuku Karen serta Kasandra, Sandra dan Leonard?" Tanya Daddy Raka.


"Semuanya baik-baik saja dan pelurunya sudah di ambil hanya saja lain kali khusus untuk Nyonya Rico harus istirahat total karena janinnya lemah dan bisa membahayakan nyawa Ibunya dan anaknya." Jawab dokter tersebut.


"Baik Dok." Jawab Rico dengan patuh.


"Sebentar lagi mereka akan dipindahkan ke ruang perawatan." Ucap dokter tersebut.


"Terima kasih Dok." Ucap mereka bersamaan.


"Baik Dok." Jawab mereka bersamaan.


Dokter tersebut hanya menganggukkan kepalanya kemudian pergi meninggalkan mereka. Tidak berapa lama pintu UGD terbuka dengan lebar kemudian keluarlah dua perawat mendorong brangkar di mana Karen berbaring menuju ke arah ruang perawatan dan di susul oleh dokter Kasandra, Sandra, Rani dan Leonard.


Kini Rico berada di ruang perawatan di mana Nicole sedang berbaring sedangkan ke dua orang tuanya saat ini bersama Rani yang terkena luka tembak dengan di temani oleh suaminya yang bernama dokter Adrian.


"Sayang, Kakak janji untuk selalu melindungi dan menjaga dirimu dari orang yang berniat berbuat jahat." Ucap Rico sambil menggenggam tangan istrinya yang tidak terkena jarum suntik.


Rico menatap wajah cantik istrinya walau terlihat pucat tapi Rico tidak pernah bosan untuk melihatnya hingga Rico mulai menguap beberapa kali karena dirinya sangat lelah.


Rico meletakkan kepalanya di ranjang dengan menggunakan ke dua tangannya dan tangan istrinya yang tidak ada infusnya sebagai bantalannya.


Ceklek


Tanpa sepengetahuan oleh Rico pintu ruang perawatan terbuka dengan perlahan kemudian berjalan ke arah ranjang.


'Kamu harus ma ti di tanganku.' ucap wanita itu dalam hati sambil menarik perlahan bantal yang dikenakan oleh Karen untuk menutupi wajah milik Karen.


Selesai mengatakannya wanita itu meletakkan bantalnya ke arah wajah Karen tanpa mengetahui kalau Rico ada di sisi kanan Karen saat ini dirinya berada di sisi kiri terlebih Rico yang terbiasa tidur dengan gelap mematikan lampu ruang perawatan.


Wanita itu menggunakan cahaya dari luar karena itulah dirinya tidak melihat keberadaan Rico. Karen yang tidak bisa bernafas menggerakkan tangannya yang dipegang oleh Rico.


Walau Rico tidur dengan pulas namun karena Rico yang mempunyai sikap waspada dapat merasakan ada pergerakan di tangannya membuat Rico memaksakan membuka matanya dan matanya membulat sempurna dengan apa yang baru dilihatnya.


Grep


"Akhhhhhhhh!" Teriak wanita tersebut.


"Siapa kamu!" Bentak Rico sambil tangan kanannya mencengkram tangan kanan wanita itu dengan erat kemudian menekuknya membuat wanita itu meringis menahan rasa sakit sedangkan tangan kirinya membuang bantal tersebut dengan asal.


Teriakan Rico terdengar oleh Daddy Raka dan Mommy Nicole yang kebetulan ingin melihat keadaan menantunya yang bernama Karen langsung berlari ke ruang perawatan.


Ctak


Anggap saja bunyi saklar


Daddy Raka menekan saklar lampu dan matanya membulat sempurna karena melihat wanita yang dikenalnya begitu pula dengan Mommy Nicole dan Rico.


"Ririn." Panggil Daddy Raka, Mommy Nicole dan Rico bersamaan.


"Kenapa kamu ingin membunuh istriku? Hah!" Bentak Rico.


Rico berdiri kemudian berjalan ke arah Ririn sambil masih menahan tangan Ririn membuat Ririn meringis menahan rasa sakit karena Rico masih menekuk tangannya.

__ADS_1


"Daddy." Panggil Karen tiba-tiba sambil perlahan membuka matanya.


"Mommy maafkan Daddy karena telah mengganggu tidur Mommy." Ucap Rico merasa bersalah sambil masih menggenggam tangan Ririn.


Ririn yang mendengarnya sangat membenci Karen membuat Ririn mengarahkan tangan satunya ke arah saku belakang celana panjangnya untuk mengambil pisau lipat namun tanpa sepengetahuan Ririn kalau pergerakan Ririn diketahui oleh Daddy Raka.


Daddy Raka yang melihat menantunya dalam bahaya langsung melangkahkan kakinya dengan lebar ke arah Ririn.


Grep


"Jangan pernah menyakiti menantu kesayanganku." Ucap Daddy Raka dengan nada dingin sambil menahan tangan Ririn kemudian menariknya.


Rico yang melihat Daddy Raka menahan tangan Ririn membuat Rico melepaskan tangan Ririn.


"Kamu temani Karen biarkan Daddy yang mengurus wanita yang tidak tahu diri ini." Ucap Daddy Raka.


Selesai mengatakan hal itu Daddy Raka menarik tangan Ririn tanpa memperdulikan Ririn yang berusaha melepaskan tangannya. Daddy Raka yang mencengkram tangannya dengan erat membuat Ririn meringis menahan rasa sakit.


"Baik Dad." Jawab Rico patuh.


Plak


Plak


Tiba-tiba Mommy Nicole menampar pipi mulus Ririn kanan dan kiri sambil menatapnya dengan tatapan tajam hingga sudut bibir Ririn mengeluarkan darah segar.


Apa yang dilakukan oleh Mommy Nicole membuat Ririn marah dan ingin membalas tamparannya dengan menggunakan tangan satunya tapi Daddy Raka langsung menahan tangannya.


"Tante bersyukur kamu tidak menjadi menantu Tante, dasar wanita gi*a." Umpat Mommy Nicole.


"Hahahaha... Aku memang gi*a ... Aku tergila-gila dengan anak Tante tapi sayang wanita yang tidak punya rasa malu sedikitpun mendekati calon suamiku." Ucap Ririn sambil menatap Karen dengan tatapan tajam dan ingin sekali membunuhnya.


"Justru kamulah wanita yang tidak punya rasa malu sedikitpun mendekati putraku yang sudah menikah dan ingin mencelakai istrinya yang sekaligus menantuku." Ucap Mommy Nicole sambil menatap tajam dan menghalangi Ririn untuk menatap tajam ke arah Karen.


"Bukan itu saja kami tahu kalau kamu adalah dalang dari kejadian di hotel dan di mansion." Ucap Mommy Nicole.


Ririn sangat terkejut karena mereka tahu akan semua kejahatannya namun dirinya langsung merubah ekspresi wajahnya.


"Daddy, bawa wanita yang tidak tahu malu ini keluar dan jangan sampai Mommy melihatnya lagi." Sambung Mommy Nicole.


Daddy Raka hanya menganggukkan kepalanya kemudian menarik tangan Ririn untuk di bawa keluar dari ruang perawatan bersamaan keluar Ronald dari ruang perawatan di mana dokter Kasandra di rawat.


"Ririn." Ucap Ronald dengan wajah terkejut.


"Wanita yang tidak punya malu ini hampir saja membuat nyawa menantu kesayanganku meninggal." Jawab Daddy Raka sambil memberikan kode ke arah salah satu anak buahnya.


Tanpa menjawab Ronald mengarahkan tangannya ke arah leher Ririn kemudian mencekiknya.


"Dasar wanita tidak tahu malu, sudah tahu Tuan Rico sudah menikah tapi kamu malah ingin mencelakai istrinya." Maki Ronald.


"Bukan itu saja kamu telah membuat orang-orang yang aku sayangi nyaris celaka." Sambung Ronald.


Ririn berusaha memukul lengan Ronald dengan tangan kirinya karena tangan kanannya dipegang oleh Daddy Raka namun pukulan itu tidak terasa untuk Ronald.


Wajah Ririn mulai memutih karena kekurangan pasakon oksigen membuat Ronald melepaskan cekikannya.


"Uhuk Uhuk Uhuk Uhuk ..."


Ririn terbatuk-batuk kemudian mengambil nafas dan mengeluarkan dengan cepat hingga tiba-tiba terdengar suara seorang pria yang menatap Ririn dengan wajah penuh kebencian.


"Gara-gara ulah dirimu membuat istriku, Kak Karen dan yang lainnya terluka." Ucap pria tersebut sambil mengangkat tangannya ke atas.


Plak


Plak


"Adrian." Panggil Daddy Raka yang terkejut dengan apa yang dilakukan oleh dokter Adrian.


Ya pria itu adalah dokter Adrian, ketika dirinya ingin pergi ke kantin untuk membeli kopi karena saat ini istrinya sedang tidur. Dokter Adrian menampar pipi kanan dan kiri hingga ke dua pipinya langsung bengkak karena tadi sempat di tampar oleh Mommy Karen.


"Daddy akan membawanya ke markas, Adrian temani istrimu dan juga kamu Ronald temani kekasihmu Kasandra kita tidak tahu siapa musuh kita." Ucap Daddy Raka.


"Baik Dad." Jawab dokter Adrian dan Ronald bersamaan.


Salah satu bodyguard milik Daddy Raka menarik tangan Ririn membuat Daddy Raka melepaskan tangannya. Daddy Raka dan bodyguard tersebut membawa Ririn ke parkiran mobil di mana sebagian bodyguard berjaga di parkiran mobil.


"Kenapa kalian bisa kecolongan?" Tanya Daddy Raka dengan nada kesal sambil menatap tajam ke arah satu persatu bodyguardnya ketika sudah sampai di parkiran mobil.


Daddy Raka sangat kesal karena Ririn bisa berhasil masuk ke rumah sakit dan hampir mencelakai Karen di ruang perawatan.


"Maaf Tuan, lain kali kejadian ini tidak akan terulang lagi." Ucap salah satu bodyguard kepercayaannya.


"Baik, jika sampai terulang lagi maka aku tidak segan-segan untuk menghukum kalian." Ucap Daddy Raka sambil masuk ke dalam mobil.


"Baik Tuan." Jawab mereka bersamaan.


Daddy Raka hanya menganggukkan kepalanya bersamaan bodyguard yang merangkap sebagai sopir mengendarai mobil dengan kecepatan sedang menuju ke arah markas milik Daddy Raka yang sudah di serahkan ke putranya.


Daddy Raka akan menggunakan markas tersebut jika dalam kondisi seperti yang terjadi saat ini di mana putra kesayangannya tidak bisa pergi ke markas.


Daddy Raka mengetik sesuatu di ponselnya setelah selesai mengetik Daddy Raka menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya.


"Tunggulah kematianmu, dasar wanita ular." Ucap Daddy Raka sambil menahan amarahnya.

__ADS_1


Kematian Ririn sudah diujung tanduk karena setelah sampai markas maka Ririn akan di siksa dan berakhir dengan kematian.


__ADS_2