Ranjang Panas Sang CEO

Ranjang Panas Sang CEO
Dokter Adrian


__ADS_3

Nicole dan Raka langsung berdiri dan berjalan ke arah Karen membuat Karen dan Rico ikut berdiri namun tiba-tiba perut Karen terasa kram membuat Karen mencengkram erat lengan Rico.


"Ada apa?" Tanya Rico sambil memalingkan wajahnya ke arah Karen.


"Kenapa wajahmu pucat, apa ada yang sakit?" Tanya Rico dengan wajah kuatir.


"Perutku kram." Jawab Karen sambil tangan kanannya membelai perutnya sedangkan tangan kirinya memeluk erat lengan Rico.


Whushh


Tanpa menjawab Rico menggendong tubuh Karen dan berjalan ke arah parkiran mobil dengan diikuti oleh Nicole dan Raka.


"Lebih baik kamu duduk di belakang biar Daddy yang menyetir mobil." Ucap Raka yang sangat kuatir dengan keadaan calon menantu dan ke empat cucunya sambil membuka pintu belakang pengemudi.


"Baik Dad." Jawab Rico sambil masuk ke dalam sedangkan Nicole duduk di samping pengemudi.


"Kak Rico sakit." Ucap Karen dengan wajah meringis menahan rasa sakit teramat sangat.


"Mommy harus bertahan kita pergi ke rumah sakit." Ucap Rico sambil mengusap rambut Karen dengan lembut.


Tiba-tiba kepala Karen terasa pusing dan pandangan matanya mulai kabur membuat Karen mengarahkan tangannya ke arah wajah tampan Rico.


"Aku tidak kuat Kak, sakit banget." Ucap Karen sambil memegang pipi suaminya.


Grep


"Mommy harus kuat, Daddy tidak sanggup kehilangan Mommy." Ucap Rico dengan mata berkaca-kaca.


Karen memaksakan untuk tersenyum dan perlahan Karen menutup matanya bersamaan darah segar keluar dari sela-sela pahanya.


"Mommy ..." Panggil Rico.


Hening


"Tidak ... Tidak ... Daddy tolong dipercepat mobilnya." Pinta Rico dengan nada histeris


"Ok." Jawab Raka sambil menambah kecepatan mobilnya.


"Darah ... Mommy kenapa Karen keluar darah dari sela-sela pahanya?" Tanya Rico dengan wajah kuatir.


"Apakah kandungan Karen lemah?" Tanya Nicole tanpa menjawab pertanyaan Rico.


"Kata Karen seperti itu, memangnya kenapa Mom?" Tanya Rico balik.


"Semoga saja calon menantuku dan ke empat cucu kami baik-baik saja." Ucap Nicole tanpa menjawab pertanyaan Rico.


Raka yang mengerti arti ucapan istrinya menambah kecepatan mobilnya tanpa memperdulikan umpatan dan bunyi klakson yang saling bersahutan.


Hingga akhirnya mereka sudah sampai di parkiran rumah sakit, Nicole langsung membuka pintu mobil belakang pengemudi dengan lebar agar Rico bisa keluar sambil berteriak memanggil sekuriti untuk memanggil perawat.


Tidak berapa lama datang dua perawat sambil membawa brangkar. Dengan perlahan Rico meletakkan tubuh Karen yang sudah mulai dingin kemudian dua perawat mendorong brangkar tersebut ke ruang UGD.


Kini ke dua orang tua Rico dan Rico duduk menunggu dengan perasaan campur aduk hingga satu jam kemudian pintu UGD terbuka membuat mereka bertiga berdiri dan berjalan ke arah pintu UGD di mana seorang dokter menunggu mereka.


"Bagaimana keadaan istri dan ke empat anak kami, Dok?" Tanya Rico yang tidak mungkin mengatakan calon istrinya.


"Untung di bawa tepat waktu lain kali jangan membuat istrinya kelelahan ataupun banyak pikiran karena bisa mempengaruhi janinnya karena kandungannya sangat lemah." Jawab dokter tersebut.


"Baik Dok, boleh aku melihatnya?" Tanya Rico.


"Sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang perawatan dan Tuan bisa melihatnya." Jawab dokter tersebut.

__ADS_1


"Maaf, saya ingin mengecek pasien lainnya." Pamit dokter tersebut.


"Terima kasih Dok." Ucap Nicole yang sejak tadi terdiam.


"Sama-sama Nyonya dan sudah menjadi tugas saya, permisi." Pamit dokter tersebut.


Dokter itupun pergi meninggalkan mereka dan tidak berapa lama pintu UGD terbuka lebar kemudian dua perawat mendorong brangkar tersebut ke arah ruang perawatan VVIP.


Kini mereka berada di ruang perawatan di mana Karen masih setia memejamkan matanya sedangkan Rico duduk di kursi dekat ranjang sambil menggenggam tangan Karen.


"Rico." Panggil Nicole.


"Iya Mom." Jawab Rico.


"Setelah Karen sembuh kalian berdua menikah tapi secara sederhana." Ucap Nicole.


"Kenapa Mom?" Tanya Raka dan Rico bersamaan dengan wajah terkejut.


"Kandungan Karen lemah dan Mommy tidak ingin terjadi sesuatu dengan ke empat cucu Mommy dan juga calon menantuku Karen jadi lebih baik kalian menikah secara sederhana. Jika sudah melahirkan barulah mengadakan resepsi pernikahan secara mewah sekalian mengumumkan ke empat anak kalian." Jawab Nicole menjelaskan.


"Apa yang mommy katakan betul, lebih baik secara sederhana demi keselamatan Karen dan ke empat cucu kita." Sambung Raka.


"Rico nurut kata Mommy dan Daddy." Jawab Rico karena apa yang dikatakan oleh ke dua orang tuanya benar adanya.


"Setelah kalian menikah tinggallah bersama kami agar mansion kami menjadi ramai jadi kami tidak lagi kesepian." Usul Raka yang sangat menyukai anak kecil.


"Mommy juga setuju usul Daddy." Ucap Nicole.


"Eugghhhh."


Ketika Rico ingin mengatakan sesuatu tiba-tiba Karen melenguh membuat Rico menatap ke arah Karen begitu pula dengan Nicole dan Raka.


"Apakah ada yang sakit?" Tanya Rico dengan wajah kuatir.


"Di rumah sakit." Jawab Rico.


"Nyonya, Tuan." Panggil Karen.


"Kok Nyonya, Tuan? Panggil kami Mommy dan Daddy." Ucap Nicole sambil tersenyum dan mengusap rambut Karen dengan lembut.


"Mommy, Daddy?" Tanya ulang Karen.


"Ya Mommy dan Daddy karena setelah kamu sembuh, kalian menikah secara sederhana karena kandunganmu sangat lemah dan jika sudah melahirkan barulah merayakan resepsi pernikahan yang mewah." Jawab Nicole.


"Mommy dan Daddy merestui hubungan kami?" Tanya Karen terkejut dengan apa yang didengarnya.


"Tentu saja setuju terlebih sebentar lagi kami akan mendapatkan empat cucu dari kalian." Jawab Nicole sambil masih tersenyum dan mengusap rambut Karen.


Karen tersenyum bahagia karena ke dua orang tua Rico merestui hubungannya dengan putra sulungnya. Mereka pun mengobrol bersama terkadang tertawa dan terkadang serius membuat Karen merasakan kembali kehangatan keluarga.


"Mommy dan Daddy pulang dulu ke mansion, nanti kalau ada apa-apa kabarin kami." Ucap Nicole setelah hampir satu jam lebih berada di dalam rumah sakit sambil mengobrol dengan putra sulungnya dan Karen.


"Besok kami ke sini lagi." Sambung Raka.


"Baik Mom, hati - hati di jalan." Ucap Karen.


"Terima kasih." Jawab Nicole.


Nicole dan Karen saling cipika cipiki sedangkan dengan Raka, Nicole mencium punggung tangannya. Untuk Rico, Rico mencium punggung tangan ke dua tangan orang tuanya bergantian kemudian ke dua orang tua Rico pergi meninggalkan mereka berdua.


"Kak Rico, aku ingin minum." Pinta Karen.

__ADS_1


Rico hanya menganggukkan kepalanya sambil mengambil gelas yang sudah ada sedotannya kemudian diberikan ke Karen. Karen meminum setengah gelas kemudian Rico meletakkan kembali gelas tersebut.


Ceklek


Tiba - tiba pintu ruang perawatan Karen terbuka membuat Karen dan Rico menatap ke arah pintu.


Tampak dokter Adrian masuk ke dalam ruang perawatan dan di susul oleh perawat hal itu membuat Rico yang awalnya tersenyum menatap wajah cantik calon istrinya mendadak berubah menyeramkan karena entah kenapa Rico sangat takut jika calon istrinya dan dokter Adrian saling suka.


"Selamat malam Tuan dan Nyonya." Sapa dokter Adrian sambil menatap ke arah Karen.


"Kok Nyonya? Biasanya memanggilku dengan sebutan Karen." Ucap Karen sambil tersenyum.


"Kalau di luar panggilnya nama tapi kalau di tempat kerja panggilannya langsung berubah." Jawab dokter Adrian sambil membalas senyuman Karen.


"Bisakah langsung mengecek kondisi istriku tanpa mengobrol?" Tanya Rico dengan nada kesal.


"Maaf." Jawab dokter Adrian sambil menatap ke arah Rico.


'Wajahnya serem banget, semoga temanku baikku bahagia dengan pria itu kalau tidak aku akan melawan pria itu karena Karen adalah teman terbaik begitu pula dengan ke dua sahabatku yang lainnya yaitu Sandra dan Kasandra.' Sambung dokter Adrian dalam hati.


Dokter Adrian mulai mengecek kondisi Karen setelah beberapa saat dokter Adrian sudah selesai kemudian berpamitan dengan Karen dan Rico lalu meninggalkan ruang perawatan dengan diikuti oleh perawatnya.


"Sayang, kenapa sih sayangku marah-marah sama Kak Adrian?" Tanya Karen.


"Kakak kesal kan dia dokter kenapa sih bukannya langsung mengecek malah mengobrol." Omel Rico dengan nada cemburu.


"Sayang kan namanya dokter harus ramah sama orang jangankan dokter, aku saja yang bekerja sebagai seorang sekretaris juga ramah sama orang apalagi dokter Adrian adalah temanku." Ucap Karen dengan nada lembut.


"Ramah terus lama-lama pasti jatuh cinta apalagi kalau teman dari teman menjadi pasangan kekasih,betulkan?" Tanya Rico dengan nada masih cemburu.


"Tergantung apa yang di gantung." Jawab Karen.


"Maksudnya?" Tanya Rico sambil menatap kesal ke arah Karen.


"Kalau aku masih sendiri mungkin iya tapi kalau sudah ada calonnya ya harus setia." Jawab Karen.


"Siapa calonnya?" Tanya Rico dengan nada masih cemburu.


"Di depanku yang lagi cemburuan." Jawab Karen dengan nada kesal.


"Aku?" Tanya Rico.


"Iya SCM." Jawab Karen.


"Apa itu SCM?" Tanya Rico penasaran.


"Sayangku, Cintaku, Manisku." Jawab Karen sambil tersenyum manis walau sebenarnya agak kesal dengan sifat cemburu calon suaminya.


Cup


Rico hanya tersenyum kemudian mengusap wajah Karen membuat Karen ikut tersenyum dengan tulus.


"Daddy, Mommy itu sayang banget dan cinta mati sama Daddy jadi Mommy mohon agar Daddy mempercayai Mommy kalau Mommy itu tulus mencintai Daddy." Ucap Karen dengan nada lembut.


"Maafkan Daddy, kalau Daddy cemburu karena jujur Daddy takut kalau Mommy akan ninggalin Daddy seperti waktu itu." Ucap Rico menjelaskan kenapa dirinya seperti itu.


"Mommy tidak akan meninggalkan Daddy kecuali Daddy selingkuh atau meminta Mommy untuk meninggalkan Daddy maka Mommy akan pergi menjauh." Jawab Karen sambil matanya menatap ke mata Rico.


"Daddy tidak mungkin selingkuh atau pun meminta Mommy pergi karena Daddy sangat mencintai Mommy." Ucap Rico dengan nada tegas.


"Mommy percaya sama Daddy dan sekarang Mommy sangat mengantuk. Mommy ingin di peluk sama Daddy yang tampan." Ucap Karen sambil menggeser tubuhnya ke arah samping.

__ADS_1


Rico hanya menganggukkan kepalanya kemudian Rico berbaring di ranjang. Rico memeluk tubuh calon istrinya begitu pula dengan Karen memeluk tubuh calon suaminya hingga beberapa saat kemudian mereka tidur dengan pulasnya.


__ADS_2