Reflection

Reflection
Chapter 1


__ADS_3

Samar - samar, aku melihatnya. "Aku benar-benar membencimu," dia bilang, wajahnya dipenuhi kemarahan. sambil menunjuk-nunjuk ke arahku dengan jari-jarinya. Tatapan matanya penuh kebencian, Wajahnya semakin terdistorsi. Aku merasa sesuatu memegang dadaku, membuatku sulit bernapas. Ini hanya sebuah mimpi buruk kan? Aku berharap bisa segera bangun.


Akhirnya, aku terbangun dengan pakaian basah. Jantungku berdetak kencang, dan denyut nadi di pelipisku terasa keras. "Lagi-lagi," bisikku dalam hati. Aku meraih jam dinding dan melihat angka yang menunjukkan pukul 05:40. Butuh sekitar sepuluh menit bagi tubuhku untuk akhirnya bangkit dari tempat tidur.



Aku melangkah ke lapangan olahraga, merasakan hembusan angin pagi yang segar membelai wajahku. Rumput hijau yang rapi terhampar di hadapanku. Sorakan riuh rendah dari siswa-siswa yang tengah berlatih mengisi udara, menciptakan suasana hidup di sekitar.


Hari ini adalah hari Selasa, mungkin hari terburuk dari tujuh hari yang ada. Karena, hari ini adalah waktu pelajaran olahraga. Aku bukanlah orang yang memiliki badan atletik maupun orang yang pandai dalam olahraga, bahkan aku kaget badanku bisa bertahan hingga saat ini. Dengan langkah ragu, aku mulai berjalan menuju guru olahragaku.


Sudah terdengar helaan napasnya sebelum aku sampai di dekatnya. "Lagi-lagi kau sama bapak," ucapnya sambil mencoba mengatur napasnya.


"Walaupun kelas ini jumlahnya ganjil, seenggaknya cobalah untuk mencari partner biar gak selalu bersama bapak terus," katanya lagi, menciptakan tekanan baru bagiku. Olahraga selalu memaksaku untuk mencari pasangan. Aku bingunng, dari ribuan jenis yang ada dia selalu memilih olahraga yang sama.


"Mungkin, aku gak akan terlalu membencinya kalau dia berhenti membuuat pasangan," gumamku dalam hati, tetapi tentu saja aku tidak berani mengatakannya padanya. Aku penasaran, sudah berapa kali aku mendengar kalimat itu? Aku sudah mulai bosan dengan situasi ini.


"Baik pak," kataku dengan suara lirih, mencoba untuk menutupi kekesalanku. Namun, sebenarnya aku juga


penasaran, berapa banyak aku sudah berbohong?



Dapat terlihat warna merah jambu di tingginya langit, menandakan akan bergantinya sesi aktivitas. Sungguh,


bagaimana aku bisa menjelaskan kenapa aku benci orang yang memakai wajah bahagia?


Oke, aku mengaku, mungkin semua yang kukatakan hanyalah kebohongan. Mungkin, ini hanyalah kompleks inferioritas yang menghantui pikiranku seperti hantu. Mereka hanya mengingatkan aku bahwa aku


tidak akan bisa menjadi seperti itu, bahagia dan bersemangat tanpa beban.


Aku penasaran, apa yang mereka rasakan? Multiverse theory, katanya ada berbagai macam versi diriku di


alam semesta lain. Aku penasaran, apakah ada semesta di mana aku tidak perlu merasakan ini? Semesta di mana aku benar-benar bisa merasa bebas dari ketidaknyamanan ini.


Terkadang, aku penasaran apa yang akan terjadi kalau aku tidak lahir seperti ini. Jika pengalaman yang membentuk seseorang, akankah aku bisa menjadi lebih baik dan bahagia jika aku lahir berbeda?


Entahlah, pikiran-pikiran ini seringkali menghantuiku di tengah malam. Aku mencoba mencari jawaban, mencari makna dari semua yang kurasakan, tapi terkadang semuanya terasa begitu rumit dan membingungkan. Aku terjebak, hanya terus berputar-putar.



Dan lagi-lagi, aku mengulangi kegiatanku seperti kemarin. Aku sudah cukup muak dengan semua ini. Lagi-lagi,


aku duduk di tempat yang sama, pada waktu yang sama, di sekitar orang yang sama juga. Hidup itu aneh, apa gunanya? Apakah kita harus makan, tidur, sekolah setiap hari hingga kita mati? Apakah ini tidak akan berbeda ketika dewasa nanti? Kalau benar begitu, bukankah itu cukup menyedihkan?


Aku sangat benci dengan rutinitas ini. Apakah hidup manusia…hidupku itu memang ada nilainya? Aku mengambil earphone untuk mencoba menghindari ramainya suasana, kondisi semacam ini selalu

__ADS_1


membuatku terganggu. Aku memegang nilai ulangan 82, kalau soal nilai tampaknya tidak masalah. Tiba-tiba, ada yang menepuk punggungku dan menyebabkan aku terkejut. "Hei, apa yang kau lakukan?" katanya, sambil  melepaskan earphoneku dan memakainya sendiri. Rico, akhir akhir ini dia selalu mencoba mendekatiku, dan aku tidak paham mengapa.


"Eh, kenapa gak ada musiknya?" dia terlihat bingung.


"Kembalikan," ucapku.


Aku mengambil kembali earphone yang diambilnya, mencoba menghindari percakapan lebih lanjut. "Saat ini aku


sedang sibuk, sekarang pergilah," ucapku, berharap dia akan mengerti.


Aku selalu menggunakan earphone agar orang-orang tidak perlu mendekatiku. Tapi ternyata ada juga orang yang seperti dia. Tiba-tiba, ada seseorang dari kelas lain yang menyapa Rico.


"Hai Ric," kata orang itu.


"Hai. Jadi, gimana?" jawab Rico.


"Kau benar, makanan di situ benar-benar enak," katanya.


"Makanya, bukannya sudah kubilang," jawab Rico.


Aku hanya bisa terdiam melihat itu. Entah mengapa hatiku begitu gelisah. Aku menghela napas, berusaha mencoba mengabaikan mereka.


"Sebaiknya, kau segera mengerjakan tugasmu. Aku tahu kau sedang sibuk dengan tugas OSIS kan?" ucapku berusaha dengan suara lembut. Pergilah, jangan berisik di sekitarku, begitu ingin kuucapkan, tapi aku hanya memendamnya dalam hati. Namun, Rico semakin mendekatkan kepalanya menuju telingaku dan mengubah raut wajahnya. Lalu dia mengingatkan aku, "Kau masih ingat janji kita kan? Jangan berani untuk dilanggar.". Kemudian Rico keluar kelas, meinggalkanku. “Dan jangan kembali lagi”, gumamku.


Yahh, bohong namanaya kalau aku pura-pura tidak tahu kenapa dia mencoba mendekatiku. Saat sore hari yang seharusnya biasa saja, aku menemukan sesuatu yang spesial. Aku menyesal, seharusnya waktu itu aku gak



Seorang remaja laki-laki yang berdiri tegak dengan wibawa dan sikap yang menarik perhatian. Dia mengenakan


seragam sekolah yang rapi dan tampak percaya diri dengan postur tubuhnya yang tegap.


Rambut hitamnya disisir rapi dan matanya terlihat tajam, memberi kesan kecerdasan dan kejelian. Senyuman muncul di wajahnya ketika dia berbicara dengan teman-temannya, menunjukkan sisi ramah dan menggemaskan dari karakternya.


Tapi siapa sangka, Si Rico, seorang wakil ketua OSIS yang tampaknya ramah dan baik, sedang membully seorang anak di sudut taman. Sebagai saksi bisu, aku hanya melihat si korban yang menoleh ke arahku dengan tatapan penuh harapan, seperti mencari pertolongan.


Namun, Rico dengan perlahan mengangkat telunjuknya ke depan mulutnya, memberiku isyarat untuk diam.


"Kau gak mau mengalami hal yang sama, bukan?" bisiknya padaku dengan tajam. "Ini adalah rahasia kita, kau paham?"


Aku terkejut dan bingung dengan situasi ini. Siapa sangka seorang wakil ketua OSIS yang terlihat begitu baik


dan ramah bisa melakukan hal seperti ini? Yahh, setiap orang memiliki rahasia masing-masing.


__ADS_1


Tentu saja, aku akan mengikutinya. Aku bukanlah seorang pahlawan atau sejenisnya. Aku tahu jika aku melaporkan perilakunya ini, tidak ada jaminan dia akan berhenti atau bahkan bisa saja dia akan semakin meningkat, bahkan mungkin melibatkan aku dalam masalah yang lebih besar. Terkadang, diam adalah keputusan terbaik yang bisa diambil. Dalam situasi ini, yang paling rasional adalah diam dan menjadi pengamat yang berhati-hati.


Aku mulai mengamati siswa-siswa di sekitar. Bukankah setiap orang memiliki peran dan lingkungan mereka


sendiri-sendiri? Aku sudah sadar untuk waktu yang lama, bahwa peranku adalah seorang pengamat di samping, seorang figuran.


Matahari terbenam, menandakan waktu sudah sore. Aku duduk sambil menggunakan earphone. Sudah waktunya pulang. Aku merapikan buku dan earphone, lalu memasukkannya ke dalam tas. Aku membawa tas di satu lengan dan berjalan melewati lorong sekolah yang sepi. Aku menghela napas. Aku merasa penasaran, kapan aku bisa berhenti melakukan semua ini? Saat ini, aku hanya tidak ingin melakukan apa pun.


 



Aku berdiri di atas tangga lantai sekolah. Ibu, apa aku boleh berhenti? Aku boleh berhenti sekarang kan? Apakah akan ada yang menggantikanku jika aku pergi? Aku berdiri di atas tangga lantai sekolah, berpikir sejenak. Jika aku menghilang sekarang, apakah akan ada orang lain yang menggantikanku? Bagaimana jika aku tergelincir di sini, apakah aku bisa terluka bahkan mungkin mati?


Tiba-tiba, ada seorang cewek yang muncul dari dinding. Dia mengatakan, "Meninggal dunia karena... pu ha ha, terpeleset di tangga."


"Sedikit lebih kreatiflah," sahut cewek tersebut.


Saat itulah, aku baru bisa melihatnya dengan benar. Seorang cewek yang terlihat sedikit tembus pandang.


Walau terlihat seperti seorang remaja, dia mengenakan seragam sekolah dasar. Rambutnya yang panjang dan berwarna cokelat muda tampak sehalus sutera, menyentuh bahunya dengan lembut. Matanya berkilauan, seakan menyimpan rahasia misterius di baliknya. Senyumnya yang lembut dan penuh rasa penasaran membuatnya terlihat anggun, seolah-olah dia adalah seorang peri kecil yang tersesat di dunia manusia. Uwaaa, cosplayer!


"Kau kira cosplayer itu apa?" tanyanya.


"Mana ada yang datang seperti ini?" ujarnya.


Eh, barusan dia membaca pikiranku? Si cewek hantu tersenyum, "Benar sekali, aku bisa mendengarkan pikiranmu."


"Benarkah?" tanyaku. Jadi untuk memastikan itu, aku memikirkan sesuatu. Aku bisa melihat wajahnya


yang berubah merah, "Jijik, mesum!"


Huh, sepertinya dia tidak bohong. "Bukannya sudah kubilang?" gerutunya.


Karena dia menjawab seperti itu, sepertinya dia cewek. Dia terlihat kesal, "Oi, sialan, memangnya aku kelihatan seperti laki-laki? Kamu bakal kaget kalau tau tentang crossdress."


Akhirnya dia ngaku cosplay? Yang lebih penting, siapa kamu? "Aku senang kau bertanya," ucapnya, tetapi saat aku berjalan, si cewek tiba-tiba muncul lagi dari bawah. "Jangan abaikan aku, sialan!"


Cih, aku kira bisa menglihkannya. Aku menghela napas dan bertanya, "Jadi, apa maumu?"


Si cewek tersenyum, dan melihat senyumannya, aku tahu itu bukan pertanda baik. "Aku sudah mengamatimu sejak lama. Selama ini, kau sepertinya hanya menghabiskan seluruh waktumu untuk merajuk sendiri. Kamu tidak pernah mencoba berubah atau peduli dengan sekitarmu."


"Dalam kata lain, jika kau terus seperti ini, hidupmu tidak akan memberi manfaat ke masyarakat," lanjutnya.


Wow, itu memang salah satu cara yang lugas untuk mengatakannya. Aku merasa kesal mendengarnya. "Ck, apakah kau cuma ingin mengejekku atau apa?"

__ADS_1


Dia tersenyum lembut, "Jika kau ingin aku menjauh dari sekitarmu, kau harus mulai mengubah sikapmu."


Sebenarnya, apa masalahnya?


__ADS_2