Reflection

Reflection
Orang yang Sama


__ADS_3

Selama ini, aku yakin bahwa menjadi seorang pangeran memang bukanlah hal yang mudah. Bisa kaubayangkan bagaimana rasanya ketika ada banyak orang yang menaruh kepercayaan kepadamu, bahkan menggantungkan nasibnya kepadamu juga. Bukankah itu sangat berat?


Namun aku, Faramir Young, meski terlahir sebagai anak seorang Kaisar dan memiliki status sebagai Pangeran, aku tak pernah dianggap demikian. Aku berbeda; aku dibedakan.


Sebagai anak yang terlahir dari wanita yang di istana, bahkan memiliki status lebih rendah dari selir, aku selalu dikucilkan. Sejak dulu sekali, mereka membenciku dengan alasan yang ketika itu belum bisa kumengerti.


Meski secara resmi aku menyandang gelar sebagai Pangeran, namun itu hanya omong kosong belaka. Karena aku sama sekali tak melakukan apa pun untuk rakyatku; atau lebih tepatnya, mereka sengaja membuatku menjadi sosok yang tidak berguna. Aku pangeran yang dibenci oleh rakyatnya sendiri. Bukankah itu sebuah ironi?


Aku terlahir buruk rupa—ya, meski Mère selalu bilang, bahwa sebenarnya, aku sangatlah tampan, namun tetap saja, aku tak berpikir demikian. Bagaimanapun juga, aku akan tetap memakai topeng itu untuk menutupi separuh wajahku yang entah kenapa memiliki sisik. Karena itu pula ada yang menyebutku sebagai siluman.


Tapi, apakah semua itu pantas untuk dijadikan alasan mereka membenciku?


Apakah salahku jika aku terlahir dari seorang wanita yang ditiduri secara paksa oleh seorang penguasa?


Apakah salahku jika aku terlahir dengan anomali di wajahku ini?


Seburuk apa aku di mata mereka?


"Ayahanda, apa maksudnya?" Pertanyaan yang diajukan oleh Pangeran Mahkota, berhasil menyadarkanku dari lamunan.


Aku ikut menyorot penuh tanya ke Ayahanda. Kuteguk ludahku dengan perlahan. Meski tadi ia mengatakannya dengan jelas dan tegas, namun aku masih berharap ia salah ucap, meralat ucapannya, atau ini hanya sebuah kesalahpahaman.


"Faramir Young, engkau kuberi tugas untuk menikahi wanita itu."

__ADS_1


Pernyataan itu, sungguh menamparku. Mudah sekali dia mengatakannya. Meski aku tahu hal seperti ini biasa terjadi di lingkungan bangsawan, namun tetap saja aku berharap memiliki kesempatan untuk menolaknya.


Biar bagaimanapun, hatiku ini sudah ada yang punya. Aku jatuh cinta pada seorang gadis dan aku pun telah berjanji kepada diriku sendiri untuk menikah hanya dengan dirinya—dia satu-satunya.


"Ayahanda ..., kenapa aku?" tanyaku.


Kuangkat kepalaku untuk menatap kedua netranya. Ia pun ikut memandangku. Selama beberapa detik, ia hanya terdiam sebelum pada akhirnya, ia pun menjawab pertanyaanku.


"Usiamu sudah matang."


"Bisakah aku menolaknya?" Suaraku bergetar. Sulit sekali mengatakannya. Ini adalah penolakan pertamaku, mengingat selama ini, aku dikenal sebagai seorang anak yang selalu menuruti perintah Ayahanda.


"Apa alasannya?"


"Kaubisa mencintai seorang gadis, namun gadis mana yang mau mencintaimu? Seharusnya, kauterima saja, Ami ...! Ayahanda sudah berbaik hati. Aku tak masalah jika harus mengalah. Lagi pula, wanita yang diberikan Ayahanda itu hanya seorang perempuan rendahan yang keberadaannya di sini hanya untuk menebus kesalahannya dan sebagai alat tukar dengan kemerdekaan bangsanya."


Aku menggeram rendah ketika Pangeran Mahkota Wang Xiao Young mengatakannya. Mulutnya itu, sungguh berbisa sekali. Jika ada kesempatan, aku sangat ingin memberinya pelajaran.


"Kaubisa menikahi keduanya."


"Aku hanya mau satu wanita yang akan menemaniku seumur hidupku." Mendengar jawabanku, Ayahanda justru menarik kedua sudut bibirnya dengan lebar. Aku merinding melihatnya. Entah ada apa di balik senyumnya itu.


"Semuanya, tinggalkan aku berdua dengan Faramir Young. Ada hal penting yang harus kami berdua bicarakan," titahnya.

__ADS_1


Aku pun hanya bisa menekuk dalam-dalam alisku. Aku tak mengerti apa tujuannya. Namun, ayahandaku ini, benar-benar misterius. Bahkan, meski ia selalu berusaha melindungi anak-anaknya, tapi aku, bukannya merasa dilindungi, malah kerap merasa bahwa ia yang sesungguhnya, sangatlah berbahaya.


Aku pun tak mengerti mengapa firasat semacam itu bisa muncul ....


"Kautak akan menolak jika tahu siapa gadisnya."


Apa maksudnya? Kenapa ia terlihat yakin ketika mengatakan itu?


Oh, aku baru sadar jika hanya tinggal aku berdua dengan Ayahanda di ruangan yang sangat megah ini.


"Gadis yang kumaksud adalah orang yang sama dengan gadis yang kaucintai," katanya.


Aku bergeming. Orang yang sama dengan gadis yang aku cintai?


Seketika, pikiranku langsung terfokus ke satu nama.


Constantine Yang, dialah gadis yang aku cintai. Ya, dia—hanya dia selama belasan tahun ini.


"Ya—kauakan menikahi Constantine Yang," ucapnya lagi. Tapi sungguh, aku tak mengerti bagaimana bisa Ayahanda mengetahui perasaan yang kusimpan rapat-rapat ini.


"Mudah mengetahuinya. Ketika seorang pemuda yang dingin pada setiap perempuan memfokuskan perhatiannya pada seorang gadis, apa lagi artinya jika bukan tertarik? Aku tahu, kauselalu memperhatikannya dalam setiap pertemuan antarkerajaan," tutur Ayahanda, seolah ia bisa membaca pikiranku. Kini, ia menatapku dengan wajah yang amat cerah.


"Jadi, apa kaumasih ingin menolaknya, Putraku?" tanyanya.

__ADS_1


Aku pun sudah membulatkan tekad. Sepertinya, aku memang ditakdirkan untuk menjadi anak yang selalu menurut. Ah, lagi pula ..., bagaimana bisa aku menolak permintaan yang ikut menguntungkanku seperti itu?


__ADS_2