
"Jenderal, Anda mau ke mana?"
Anak laki-laki tersebut bertanya kepada wanita yang rambutnya tergerai itu. Wajahnya yang polos pun tampak kebingungan. Ia mengikuti langkah si perempuan.
"Raja memanggilku. Sepertinya, dia ingin mengatakan hal penting," jawab Constantine Yang. Ia mengembuskan napasnya panjang sambil mengenakan jubahnya hijaunya, melirik sekilas ke sang penanya.
"Jian Bi sudah menjadi pengabdimu dan aku tidak memiliki siapa pun lagi sekarang. Jadi, saya ingin ikut ke mana pun Anda pergi," katanya.
Constantine tersenyum. Ia menatap Jian Bi dengan sorot yang tulus. Dielusnya surai remaja itu yang kemudian menjadi memerah setelah diperlakukan seperti itu.
"Aku akan mengajakmu, tapi tidak untuk kali ini karena Raja sendiri yang memanggilku. Dalam beberapa waktu ini, aku tidak mau kauterlibat masalah dengan orang-orang kerajaan. Mereka belum tentu bisa dipercaya," tutur Constantine. Ia menatap wajah Jian Bi, remaja 13 tahun yang tampak kebingungan. Namun ia tak mencoba menjelaskan.
"Jika sudah kembali, aku akan memberimu alasan lebih jelasnya. Selagi menunggu, carilah Kapten Han—dia akan membawamu berkeliling markas ini. Kaubisa melihat kesatria-kesatria yang sedang berlatih nanti. Ikutlah belajar dari sana. Aku ... tak membutuhkan orang yang lemah dan tak bisa melindungi dirinya sendiri di sisiku." Constantine menjelaskan. Setelah itu, ia berlalu pergi dan meninggalkan Jian Bi yang terlarut dalam lamunannya. Berkat perkataan sang Jenderal Satu, ia meras mendapatkan motivasinya. Ia ... tak boleh lemah!
__ADS_1
Dalam langkahnya yang baru lima meter, Constantine sempat menoleh sekilas ke arah pengabdi barunya itu. Ia, kemudian tersenyum ketika menemukan raut muka yang dipenuhi semangat itu. Dengan perasaan yang lebih mantap dari sebelumnya, gadis itu pun kembali mengerakkan tungkainya.
Constantine tak mengerti, ayahnya sekaligus rajanya, Luo Yang memanggilnya entah untuk urusan apa. Bahkan untuk kekalahan dalam perang pun, rasanya tak mungkin ia akan dipanggil seorang diri, tanpa Jenderal Besar dan jenderal-jenderal lain yang ikut bersamanya. Ia menduga, bahwa Luo Yang, mungkin memanggilnya untuk urusan kerajaan atau ... urusan ayah dan anak.
"Tidak mungkin dia mau menikahkanku, kan? Karena aku telah kalah dalam perang." Ia bermonolog. "Pernikahan politik ... aku membencinya, tapi aku merasa tak bisa menolaknya," sambungnya, lalu berdecak sebal.
.........
"Jenderal Satu, Constantine Yang menghadap Yang Mulia ...!" Ia menunduk, menyampaikan salam penghormatannya kepada Sang Raja, meski kekuasaan penguasa tersebut, kini tak lagi bersifat absolut seperti sebelumnya.
"Jenderal Satu sekaligus Putri Ketujuh memberi salam kepada Yang Mulia," ucapnya kembali, formal. Sang Raja mengangguk, lalu menyuruh Constantine untuk duduk bersamanya pada ruangan pribadi yang hanya ada mereka berdua itu.
"Kautahu untuk apa aku memanggilmu ke sini?" tanya Luo Yang, memberi tebakan kepada putrinya yang secara spontan pun menggeleng. "Sudah saatnya kaukembali ke istana, Putriku ...! Sudah tak ada gunanya lagi kauberada di markas kemiliteran itu," tuturnya, kemudian.
__ADS_1
Constantine menatap ayahnya dengan tak suka. "Apa maksud Anda? Saya adalah seorang jenderal, wajar jika saya berada di markas kemiliteran," sanggahnya.
"Kaumemang seorang jenderal. Tapi hal yang lebih besar lagi, kaujuga seorang putri. Kau ... tentu harus tahu mana yang menjadi prioritasmu. Lagi pula, setelah kalah dalam perang—"
"Jangan katakan apa pun! Jangan katakan bahwa Anda menyerah! Persetan dengan itu, karena kami, para kesatria akan tetap berjuang demi Anming kami! Selagi masih ada tekad, maka harapan juga masih ada! Tak akan kami biarkan perjuangan teman-teman seperjuangan kami di medan perang menjadi tak dihargai oleh kebodohan rajanya sendiri. Apa pun yang terjadi, kami akan merebut kembali kerajaan ini dari tangan musuh!" seru Constantine, menyela. Ia menatap tajam pada Luo Yang, hal yang bahkan tak akan berani dilakukan oleh seisi kerajaan sekalipun—termasuk gurunya sendiri, Jingguo Li.
"Kauharus belajar bersikap lebih realistis .... Kautahu apa, Nak? Di sini, aku juga ingin melakukan sesuatu untuk rakyatku—bukan hanya kalian, para kesatria. Bukan hal mudah bagi seorang pemimpin untuk melihat rakyatnya dalam keputusasaan; bagiku, itu lebih menyakitkan daripada ketika melihat rakyatku menatapku penuh kebencian dan menganggapku lalai dalam tanggung jawab, meski aku telah berusaha semampuku."
Constantine pun tertegun mendengarnya. Ia melihat mata sang ayah yang telah berkaca-kaca. Hal itu, mau tak mau membuat perasaannya menjadi lebih sensitif juga. Gadis itu merasa sesak di dadanya.
"Aku juga tak akan menyerah semudah itu. Sebagai Raja, itu adalah hal yang memalukan mengingat harga diriku—dan aku juga adalah panutan bagi masyarakat. Tak bisa dipungkiri, aku juga ingin merebut kembali kemerdekaan bangsaku. Tapi, tentunya aku tak bisa melakukan ini sendiri. Karena itu ... secara resmi, aku ingin meminta pertolonganmu." Luo Yang menyerahkan gulungan kertas yang Constantine duga sebagai dekret.
"Aku tahu, Anda tidak mungkin memanggilku hanya untuk menyuruhku kembali. Katakan Ayah, apa yang kauinginkan? Kauingin aku melakukan sebuah pengorbanan?" tanyanya, tegas. Luo Yang mengangkat kedua sudut bibirnya, lalu meraih tangan putrinya itu untuk dikecupnya.
__ADS_1
'Kaubahkan menyimpan banyak rahasia dariku, persis seperti Irene,' batin Luo Yang. "Ini sebuah titah resmi dariku. Bacalah ...!" perintahnya, sambil melirik kertas di tangan putrinya.