Reflection

Reflection
Target Utama


__ADS_3

Perang di hari kedua sudah berjalan dua jam lamanya. Namun kali ini, ada keanehan yang terjadi berkat dilaksanakannya rencana Youli Young.


Constantine Yang terus menangkis segala serangan yang diterimanya. Wajahnya tampak geram, sebab ia menyadari, bahwa ada suatu hal yang tengah direncanakan oleh musuhnya dengan menjadikan dirinya sebagai target utama.


Constantine sadar, di dalam pertempuran, perempuan memang selalu menjadi sasaran empuk, terutama bagi mereka-mereka yang memandang rendah kemampuan perempuan.


Di sini, meskipun Constantine Yang berperan sebagai jenderal dan telah menunjukkan eksistensi kekuatannya yang besar, namun tetap saja para musuh meremehkannya. Ia yang sering mengalami hal seperti ini di lingkup keluarga bangsawan pun sudah menjadi tak heran lagi.


"Nona, bukankah sudah kubilang untuk menyerah saja? Menjadi selirku lebih menyenangkan daripada berperang seperti ini."


Mendengar suara itu, Jenderal Satu Anming itu pun menggeram. Jelas, ia masih mengingat siapa sosok yang berani mengatakan hal-hal menjijikkan kepadanya kemarin—dan orang itu, kembali lagi hari ini. Oh, siapa lagi sosok itu jika bukan Youli Young, si Pangeran Hidung Belang?


"Kaubenar-benar menyulut emosiku, dasar sampah! Ingin aku mengamuk, HA?!" bentak Constantine, sambil mengarahkan pedangnya ke arah Youli.

__ADS_1


Youli Young mundur setengah meter dari tempatnya berdiri demi menghindari serangan Constantine. Meskipun sedang terancam, lelaki itu tetap menampakkan wajah menyebalkannya.


"Nona, tenanglah ...! Tapi, bukankah penawaranku itu menarik? Jika menjadi selirku, kautinggal harus melayaniku di ranjang untuk mendapatkan semua hal yang kaumau. Lelaki ahli nan berpengalaman sepertiku, tentu tak akan mengecewakanmu. Aku jamin, kauakan puas dalam setiap permainan kita," kata Youli Young, sambil menjilat bibirnya.


Constantine memandang Pangeran Kekaisaran itu dengan jijik. Namun, ketika ia akan menyerang, sebuah laungan mengejutkannya.


"HEY, CONSTANTINE—CEPAT BANTU AKU!"


"Cih!" Sebelum berlalu pergi untuk menolong rekannya, Constantine melayangkan tatapan tajamnya pada Chen Li.


Constantine Yang berlari cepat hanya dengan mengandalkan kekuatan fisiknya. Ia menyuruh Chen Li menjauh, lalu, dalam waktu lima belas detik, hanya dengan satu serangan, gadis itu berhasil menumbangkan dua kultivator yang memang memiliki tingkatan kultivasi rendah itu.


"Kaubaik-baik saja, Jenderal Empat?"

__ADS_1


"Heh! Harusnya, aku yang bertanya begitu kepadamu! Mereka semua—musuh kita memfokuskan serangan kepadamu! Mereka pasti punya rencana yang tentunya sangat tidak menguntungkan bagi pihak kita. Aku rasa, mereka ingin melemahkan kita dengan menargetkanmu," tutur Chen Li.


"Ternyata bukan hanya aku sendiri yang menyadarinya," lirih Constantine. Jenderal Empat yang mendengar itu pun tampak mendengus.


"Kaupikir hanya kausaja yang peka dan pintar? Aku dan yang lainnya itu lebih tua dan lebih berpengalaman darimu, Xiao Constantine ...!" Chen Li menepuk kepala Constantine beberapa kali, membuat gadis itu merasa kesal dan menepisnya dengan kasar.


"Aku baru saja menyelamatkan nyawamu dan harga dirimu. Tapi kaumalah memanggilku anak kecil. Aku sudah dewasa, Chen Li!" desis Constantine. Kali ini, ia mendapat reaksi yang tak terduga.


Chen Li mengamati Constantine dari atas ke bawah. Pandangannya tampak jeli. "Benar—kausudah menjadi wanita dewasa," katanya, yang mendapatkan hadiah sebuah pelototan tajam.


"Apa sekarang kaumau mengikuti jejak Pengeran Mesum itu?" tanyanya dengan nada tegas, sembari menunjuk sang Jenderal Empat.


Selama beberapa menit, Constantine Yang dan Chen Li terus berdebat akan hal-hal yang sebenarnya jauh melenceng dari topik yang pada awalnya ingin mereka bicarakan. Pada akhirnya, kewaspadaan mereka melemah. Namun, keduanya kembali tersadar setelah serangan besar-besaran gelombang kedua dimulai. Sekali lagi, Constantine pun menjadi target utama para musuh.

__ADS_1


__ADS_2