Reflection

Reflection
Chapter 5


__ADS_3

Ini memalukan, hanya karena ngobrol sedikit kemarin, aku tidak bisa tidur semalaman. Rasanya seperti semut-semut berlarian di dalam kepala dan mataku terasa seperti dibuka paksa dengan lempengan besi.


Tidak ada yang bisa menggantikan tidur malam yang nyenyak, dan saat ini, aku sangat ngantuk. Aku melihat jam dinding, dan pikiranku mulai melayang pada ide untuk tidak pergi sekolah hari ini.


“Ciee, ngehalu…yang lagi kasmaran…” kata si hantu, menggoda dengan senyumnya yang menyebalkan.


Aku menggelengkan kepala, mencoba untuk tidak tersenyum.


"Tapi yang lebih penting, selalu tenang sebelum badai kan? Ini hanya perasaanku saja, tapi sepertinya akan ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi," lanjutnya, kali ini dengan ekspresi yang jauh lebih serius.


Aku mendongak, sedikit terkejut dengan pernyataannya. "Ha? Kamu lagi ngehalu?"


Si hantu hanya tersenyum, "Kamu yang ngehalu."


Aku merasa ada sesuatu yang meremas dadaku, perasaan cemas tiba-tiba melanda. Aduh, duh.


"Ok-ok," aku mencoba untuk tetap tenang. "Kau tahu, ini penyalahgunaan kekuatanmu."


Si hantu hanya tersenyum lebih lebar, seolah menikmati kebingunganku. "Diam."


Waktu itu, harusnya aku tidak masuk sekolah.



Hari ini, pagi terlihat begitu suram ketika aku memasuki kelas. Melihat meja tempatku biasanya berada, hatiku  mendadak berdebar. Sudah terlihat jelas, mejaku hilang. Aku berusaha memeriksa sekeliling, mencari-cari tanda-tanda meja itu, tetapi tanpa hasil.


"Sepertinya hari ini juga akan menjadi hari yang buruk," gumamku dalam hati.


Tiba-tiba, Katherine muncul dengan membawa sebuah meja. Dengan senyumannya yang khas, dia berkata, "Ah, selamat pagi! Haha, barusan aku minta bangku baru. Toh, mejamu juga sudah mulai rusak kan?"


Tanpa sengaja, aku sedikit tersentak ketika ia berbicara. Aku menjawab pelan, hampir tidak terdengar olehnya, "Thank you."


"Santai-santai." jawab Katherine dengan seyum yang terlukis di wajahnya.


"Sini, kubantu," ucapku dengan sedikit lebih keras, sambil mengangguk pada meja yang ia bawa. Mungkin hari ini gak akan seburuk yang kupikirkan…Seenggaknya, sampai itu terjadi



Taman yang sama seperti sebelumnya menjadi saksi bisu atas peristiwa yang terjadi. Aku duduk dalam barisan bersama korban-korban lainnya, tak menduga bahwa senyum senang di wajah salah satu komplotan Rico akan segera berubah menjadi ketakutan. Adit, salah satu dari korban, merasa sedikit gugup. Dia melihat rekan Rico merogoh sesuatu dalam tasnya dan mengeluarkan gantungan kuncinya. Namun, rekan Rico, Dani Setyawan, tampak bersorak, "Haha, kalian coba lihat ini."


Bambang Suparno, yang aku kenal dari nametagnya, dengan santainya menyambung, "Haha, kamu sudah SMA lo."


Adit terlihat terkejut, bergemetar saat ia berkata, "I-itukan..."


Adit tampak mencoba untuk meredakan situasi, "Haha, kau benar, aku sangat kekanakan ya, haha."


Rico, yang kini hadir, melihat Adit dan meminta agar gantungan kunci yang berbentuk boneka itu diberikan padanya. Dia berkata dengan sinis, "Sini, berikan."


"Kenapa kau gak bilang, kau punya barang seperti ini?" tanya Rico, merendahkan.


Aku bisa melihat kebingungan dan ketidaknyamanan di wajah Adit, dan perasaanku terasa canggung.

__ADS_1


"Aku kan jadi iri," lanjut Rico dengan cemoohan.


"Hei, kau punya korek?" tanyanya kepada Dani.


Adit tampak gugup, dan saat mulai terlihat jelas bahwa dia dalam tekanan, dia berkata dengan gemetar, “P-plis..."


Rico tersenyum, dan dengan tangan dingin, dia menyalakan korek api. Adit tampak ketakutan, "J-jangan, plis."


Rico dengan sinis berkata, "Jangan bilang begitu dong, aku kan jadi kelihatan jahat."


Dia semakin mendekatkan korek api pada gantungn kunci itu, dan aku bisa merasakan tegangan di udara.


"Siapa nama ibumu?" tanya Rico, suaranya terdengar lebih tajam.


Adit terdiam, seperti berjuang mencari kata-kata yang tepat. Bambang, yang sepertinya menikmati situasi ini,  berseru, "Ayo jawab."


Adit akhirnya menjawab, "Nama ibuku Desi."


"Sip. Okelah, ikuti aku," perintah Rico, dan aku bisa melihat ketegangan di mata Adit.


"Si jalang Desi itu benar-benar xxxxxx," lanjut Rico dengan kata-kata yang tidak pantas.


Aku melihat keringat dingin di dahi Adit, aku benci pada suasana ini. Namun, aku tahu aku tak bisa berbuat banyak, tak bisa mengambil resiko lebih jauh.


Diiringi dengan tertawa kecilnya, Dani berseru, “Ayo cepat!”


Dengan nada rendah, Adit mengikuti kalimat Rico, “Si ****** Desi itu benar - benar xxxxxx xxxx xxxxxxx xxxxx.”


Yang benar saja, mereka tidak ada habisnya. Kalian benar-benar bercanda? Gumamku dalam hati, merasa marah dan frustrasi atas apa yang terjadi di depan mataku.


"Anak durhaka ini harus dihukum kan ya?" lanjut Rico dengan wajah yang semakin terangkat tinggi.


Gantungan kunci itu terbakar, kemudian dijatuhkan di atas tanah. Sambil mencoba memadamkan api yang mulai berkobar, Adit mulai menangis. Namun, sebelum dia bisa menghentikannya, tampaknya takdir telah mengambil kendali. Bambang mulai memukulinya.


"Berisik, jangan bacot," kata Bambang dengan nada kasar.


Tiba-tiba, di tengah ketegangan yang menggelayuti udara, tangan Dani merogoh sakuku dengan tegas. Dalam sekejap, dia mengeluarkan ponselku yang sedang merekam momen itu. Tatapan mata kami bertemu, dan aku bisa melihat cemoohan di matanya.


"Ayolah, trik yang sama?" godanya terdengar tajam. "Bisa gak sih, lebih kreatif?"


Tanpa berkedip, dia membanting keras ponselku ke tanah, meninggalkan pecahan kaca yang berserakan. Oh, aku ngerti, jadi dialah yang merekam saat aku melapor kepada guru. Tangannya sudah diangkat, dan rasa takut  menggelegak di dalam diriku, bersiap untuk menerima pukulannya yang mungkin akan datang.


Tapi tiba-tiba, sosok Katherine muncul di tengah-tengah mereka, berusaha menghentikan kejadian yang semakin tak terkendali.


Idiot, apa yang kau lakukan? Pikirku panik melihat Katherine masuk ke dalam situasi berbahaya ini.


"Bukankah ini sudah cukup? Kenapa kalian gak berhenti?" ucap Katherine dengan suara datar namun penuh dengan ketegasan.


Bukankah dia sendiri yang bilang, jangan pernah membalas mereka? Jangan melawan mereka? Aku merasakan perasaan campur aduk dalam diriku, tak tahu harus berbuat apa.


"Tunggu, kau barusan bilang apa?" ucap Rico dengan suara penuh amarah, menunjukkan betapa marahnya dia atas campur tangan Katherine.

__ADS_1


"Sebaiknya, kalian berhenti," kata Katherine dengan nada tegas, berusaha untuk meredakan situasi yang berbahaya.


Rico mengerutkan keningnya, memandang Katherine dengan tatapan marah. "Kau bilang apa?" desaknya.


"Pegang dia," perintah Rico kepada Dani.


"Oh, benar juga. Bukannya tadi kau mau buat mie?" tanya Rico kepada Adit dengan nada merendahkan.


"Kasih aku," lanjutnya, menambahkan tekanan pada Adit.


Pertanyaan di benakku semakin kuat. Apa yang mereka rencanakan? Tapi sebelum bisa memikirkan lebih lanjut, tiba-tiba si hantu itu muncul dari kegelapan.


"Hoi, apa yang sedang kalian lakukan? Cepat hentikan mereka," ucapnya, suara keras dan tegas.


Aku merasa seolah-olah jantungku berhenti sejenak. Ah, kenapa kau di sini-


"Yang benar saja, memangnya ini waktu yang pas untuk ngobrol. Cepat, hentikan mereka," perintahnya dengan suara yang tak bisa diabaikan.


Sesuatu meremas dadaku, seolah-olah semua energi dalam diriku terkuras. Aku memegang dadaku dengan erat, bisa merasakan adanya kekuatan yang tiba-tiba muncul dari si hantu.


Sial. Aku tidak mau mengambil risiko lebih lanjut, aku tak ingin menjadi korban mereka lagi. "Memangnya ini waktunya kau mementingkan diri sendiri? Sial, apa yang mereka lakukan, apakah mereka benar-benar akan menjadi kriminal? Mau masuk penjara?" kata si hantu dengan suara panik, membuatku semakin terkejut.


Aku merasa gugup. J-jangan berlebihan, mereka gak mungkin melakukan sesuatu seburuk itu. Ucapku dalam hati, mencoba untuk menenangkan diriku sendiri.


"Asal kau tahu, air itu air mendidih. Kalau dia sampai terkena air itu, paling nggak dia bisa mendapat luka bakar derajat dua," lanjut si hantu, dengan keringat dingin di wajahnya.


Tiba-tiba, kata-kata itu membuatku semakin terkunci dalam ketakutan. Tapi aku berusaha untuk tetap tenang. Mungkin airnya tidak terlalu panas seperti yang kaubayangkan. Aku mencoba untuk tidak berlebihan dalam berpikir.


Waktu itu aku gak terlalu ingat gimana ekspresi orang - orang saat itu, tapi aku masih bisa mendengar jelas jeritannya Katherine.


Si hantu menghela napas, "Terlambat, mereka sudah melakukannya."


Sementara itu, Dani melepaskan umpatan, "Bangsat, kenapa dia berisik sekali?" Suaranya terdengar frustasi, sebagai reaksi atas campur tangan yang tidak diinginkan dari Katherine.


Bambang, dengan nada marah, berusaha meredam situasi, "Ayo pergi."


Rico, memandang sekitar dengan pandangan tajamnya, menyampaikan ancamannya dengan jelas, "Kalian, kalau ada yang melapor, aku akan membunuh kalian dengan tanganku sendiri."


Kepalaku rasanya terasa pusing, dan sejujurnya, aku tidak terlalu ingat perkataan Rico dan komplotannya waktu itu. Terlalu banyak pikiran yang berkecamuk di dalam benakku. Mereka benar – benar melakukannya? Bahkan mereka melakukannya ke seorang cewek? Apakah ini semua salahku? Apa yang akan terjadi jika aku mencoba untuk menghentikan mereka? Apakah aku akan menggantikan posisi Katherine? Dia itu anak pintar, memiliki masa depan cerah. Aku merasa semakin tenggelam dalam rasa bersalah yang tak terkira. Dan bagaimana jika, aku yang mengambil peran ini? Apakah harusnya itu peranku? Pikiran-pikiran gelap itu semakin memenuhi pikiranku, menekan rasa takutku lebih dalam lagi.


Suasana semakin tegang dengan kedatangan para guru dari kejauhan. Wajah-wajah mereka terpancar dengan campuran keheranan dan keresahan melihat adegan yang terjadi di taman. Kami semua lari, sebelum para guru yang mendengar kerumunan datang. Seperti semut yang terganggu, mereka menyebar, meninggalkan Katherine yang masih terdiam dan guru-guru yang mendekatinya.


Di tengah keramaian guru yang datang untuk membantu Katherine, hujan mulai turun. Setiap tetesan hujan seakan mencerminkan pikiranku yang semakin kacau.


"Hoi, kau masih di sini?"Aku menoleh, dan mataku bertemu dengan hantu itu.


"Aku masih di sini," jawabnya dengan suara lembut.


“Bantu aku," pintaku, suara rendahku tertutup oleh gemuruh suara hujan.


Si hantu tersenyum dengan lembut, "Oke." Dan dalam sekali hembusan, seperti angin yang mendekat, aku merasakan sebuah dorongan.

__ADS_1


__ADS_2