Reflection

Reflection
Harapan yang Tersisa


__ADS_3

Constantine Yang menghentikan langkah kudanya. Ia, kemudian turun dari tunggangannya itu dan menuntunnya pelan untuk memasuki gerbang kerajaannya.


Constantine mengembuskan napasnya panjang. Gadis itu memejamkan matanya, mengingat saat-saat seusai pertempuran di masa lalu.


Dahulu, mereka selalu meraih kemenangan dan pulang dengan kebanggaan. Rakyat pun bersorak penuh kebahagiaan. Suasana haru menenggelamkan. Setelahnya, mereka akan berpesta tiga hari tiga malam dan semua rakyat akan diliburkan.


Namun, pemandangan kini, jelas terlalu kontras dengan pemandangan masa itu. Atmosfer ini ... terlalu sunyi. Constantine sendiri hanya bisa mendengarkan suara langkah kaki dari kuda dan para kesatria di belakangnya.


Constantine bisa mendengarkan detak jantungnya sendiri—dadanya bergemuruh di balik balutan baju logam itu. Suasana yang ada, sungguh membuatnya merasa tertekan. Sesak dirasakannya.


Suram. Ini sungguh terlalu suram.


Setelah memasuki gerbang, para rakyat banyak yang menunggu. Mereka hanya diam dan terlarut dalam pikiran masing-masing. Constantine merasa kalut menyadarinya.


"Apa ini yang kalian berikan pada orang-orang yang telah berjuang demi bangsamu? Bangsa kita?!" Suara Ma Zhengyi terdengar. Jelas, ia terlihat sangat kesal. Pasukannya memang kalah, namun ia masih belum sepenuhnya menerima kenyataan itu. "KEKAISARAN SIALAN! KAISAR BODOH! PERANG SIALAN! KALIAN BERMAIN LICIK UNTUK MENGALAHKAN KAMI! DASAR PENAKUT! PENGECUT! LIHATLAH BAGAIMANA KAMI AKAN MEREBUT KEMERDEKAAN KAMI KEMBALI!" laungnya.


"TUTUP MULUTMU, BAJING^N!" Salah seorang kesatria musuh yang berjaga pun angkat suara dan mengarahkan pedangnya ke leher Ma Zhengyi, sedang Ma Zhengyi yang kaget dengan amcaman tiba-tiba itu bergerak refleks menggeser tubuhnya dan kemudian berdecih.

__ADS_1


Di sisi lain, jenderal-jenderal dan kesatria-kesatria lain hanya dapat menundukkan kepalanya. Mereka merasa malu karena telah gagal hingga membuat rakyat merasa kecewa.


"Ibu, mana Ayah? Bukankah seharusnya Ayah pulang bersama rombongan ini?"


Pertanyaan itu samar terdengar. Seorang anak laki-laki berkepala plontoslah yang menanyakannya. Namun, meski ia berkata dengan sangat pelan, Constantine tetap bisa mendengarnya dengan jelas.


"Diamlah! Jangan tanyakan itu di sini?" Sang Ibu pun menjawab dengan nada yang terdengar bergetar. Entah karena marah atau ingin menangis.


Constantine Yang menatap keduanya, lalu berjalan menghampiri. Ia, kemudian berlutut di hadapan si anak kecil. Si Ibu sudah ketakutan, sedang yang anak tampak kebingungan. Akan tetapi, raut wajah orang-orang pun berubah menjadi terkejut ketika melihat sang Jenderal malah membelai kepala anak itu.


"Kaumencari ayahmu?" tanya Constantine dengan senyumnya yang teramat tipis. Bibirnya pun terlihat pucat dan kering. Si anak kecil tadi hanya menanggapi dengan sebuah anggukan kecil.


"Zhanshi. Bukankah ayahku seorang kapten yang berada di bawah komandomu, Nona Jenderal?"


"Benar. Lalu, siapa namamu?"


"Yingxiong. Ayah yang memberiku nama itu!" jawabnya dengan semangat.

__ADS_1


Constantine pun menepuk-nepuk pelan bahu anak lelaki tersebut. "Nama yang bagus. Ayahmu adalah seorang pejuang dan dia mengharapkan kaumenjadi seorang pahlawan. Kaumau mewujudkan harapan itu, Xiong'er?" tanyanya, sedang Yingxiong pun menjawabnya dengan sebuah anggukan yang berapi-api.


"Mau kuceritakan sedikit tentang ayahmu?"


"Tentu! Aku sangat, sangat, dan sangat ingin mendengar langsung cerita tentang ayahku dari Nona Jenderal yang aku kagumi ini!"


Mendengar itu, Constantine terdiam sejenak dan mengalihkan sorotnya sekilas ke arah ibu Yingxiong. Wanita itu berpaling, dan Constantine mengerti alasannya. Ia seorang ibu yang tak mau terlihat lemah di hadapan anaknya; yang mau terlihat tegar dengan tidak menunjukkan air mata dan kesedihannya dari batinnya yang terluka.


"Ayahmu seorang kapten yang hebat. Dia berjuang bersama kami di medan perang; menumpas banyak musuh untuk memperjuangkan bangsanya. Dia adalah pahlawan bagi kita dan tentu saja panutan bagi Xiong'er," tutur Constantine Yang. "Dengarlah ..., mungkin, ini terdengar menyakitkan. Tapi, kaumemang harus mengetahuinya."


Constantine meneguk ludahnya dan memejamkan matanya sejenak. Ia menatap dalam wajah penuh kepolosan itu. "Ayahmu bersama teman-teman seperjuangannya, sebagian telah gugur. Mereka ... gugur sebagai pahlawan. Kita akan mengenangnya. Jika kaumenyayanginya, tentu kautak akan menyia-nyiakan perjuangannya itu, kan, Xiong'er?"


Yingxiong mengerjapkan matanya beberapa kali, terlihat terkejut. Semua orang kira, anak itu akan menangis, namun tanpa diduga, ia malah memeluk sang Jenderal Satu dengan erat. "Terima kasih sudah menceritakan kehebatan ayahku, Nona Jenderal ...! Itu membuatku semakin menyayanginya dan aku akan mengagumimu seperti mendiang ayahku yang mengagumimu. Kata Ayah, Nona Jenderal adalah seorang pemimpin yang hebat. Suatu hari nanti, aku ingin berada di sisi Nona Jenderal untuk menjadi orang kepercayaan," katanya.


"Buktikanlah!" Constantine tersenyum tipis dan membalas pelukan anak itu. Tampak, ibu Yingxiong pun menampakkan ekspresi penuh rasa terima kasih kepadanya karena telah membantu menjelaskan kepada anaknya mengenai kematian suaminya.


"JENDERAL AN, BAWA AKU BERSAMAMU! JIAN BI, KAUMENGINGAT NAMA ITU?!"

__ADS_1


Mendengar seruan yang tiba-tiba terdengar itu, sontak, semua orang pun menoleh ke sumber suara dan menatap keberadaan seorang remaja laki-laki berambut gondrong tersebut.


__ADS_2