Reflection

Reflection
Chapter 9 (Katherine)


__ADS_3

Ini adalah sebuah kenangan yang aku harap bisa aku lupakan. Mungkin aku harus jujur, meskipun itu tidak akan


mengubah kenyataan...Ya, aku dulu membully Rico. Dulu, ketika kami masih di SMP, aku adalah salah satu penyebab sengsara dalam hidupnya.


Kehidupan di SMP seolah-olah berpusat pada prestasi, dan itu membuatku merasa bersemangat. Aku ingin menjadi yang terbaik di mata semua orang.


Pertama kali aku bertemu Rico, aku tak begitu memperhatikannya. Kami satu kelas, tetapi dia adalah salah satu  siswa yang cukup pendiam. Rambutnya yang selalu tak rapi, baju yang agak kusut, dan jarangnya dia berbicara dengan siapapun menjadikannya seperti tembus pandang.



Waktu itu, suasana ruang kelas sangat hening, dengan papan tulis berisi soal-soal pelajaran matematika yang baru saja diselesaikan. Suasana kelas begitu damai, yang lain sedang sibuk mengerjakan tugas-tugas mereka.


Ketika aku melihat Rico dari bangkunya yang berjarak beberapa kursi di depanku, pikiranku mulai teralihkan. Dia duduk sendiri, seperti biasanya. Wajahnya yang pemalu selalu menarik perhatianku, dan aku merasa ada sebuah ide yang muncul di benakku, harusnya gak kuikuti.


"Rico, kenapa kamu selalu sendirian? Apa kamu gak punya teman?" ucapku dengan nada mengejek, memecah keheningan di kelas.


Dia menoleh padaku, wajahnya memerah. "Aku punya teman," jawabnya dengan gemetar.


"Sungguh? Siapa teman-temanmu?" godaku lebih jauh.


Dia merasa sangat tersudut, seperti seekor kelinci yang terkepung oleh serigala. "Beberapa teman sekelas," katanya pelan.


"Oh ya? Aku bahkan gak tahu siapa mereka. Aku pikir kamu gak punya teman," timpalku dengan nada merendahkan.


Rico tampak semakin tertekan. Aku bisa melihat betapa rendahnya rasa percaya dirinya. Tindakan menggoda seperti ini memberiku kepuasan tersendiri.


"Ayo, katakan pada semua orang siapa teman-temanmu. Jangan malu-malu, karena kamu harus bisa bersosialisasi. Ini buat masa depanmu sendiri lo." ejekku sambil tertawa.



Suatu hari, di tengah pelajaran matematika. Aku melihat Rico sedang berkonsentrasi pada soal yang diberikan oleh guru. Ia tenggelam dalam dunianya sendiri, sepertinya aku tahu apa yang akan aku lakukan.


"Sst, lihat dia," kataku pada temanku, Lisa, yang duduk di sebelahku. "Lihat Rico di sana. Dia itu emang aneh ya?"


Lisa menatapku heran. "Apa yang kau rencanakan?"


Dengan senyuman bodoh, aku menjawab, "Aku akan memberinya kesempatan untuk menjadi lebih populer."


Dengan perlahan, aku mengeluarkan kalkulator dari tas dan melemparkannya tepat ke meja Rico. Kalkulator itu mengenai meja dengan keras dan menciptakan bunyi yang cukup keras untuk menarik perhatian teman-teman sekelas kami.


Rico langsung mengangkat kepalanya, merasa tidak nyaman dengan semua pandangan yang tertuju padanya. Tangannya gemetar saat ia meraih kalkulator dan memandang sekeliling, mencoba mencari tahu siapa yang melakukannya.


Teman-temanku dan aku berpura-pura tidak tahu apa-apa, kami berusaha tampil polos.


"Siapa yang melakukannya?" tanya Rico pada siapa pun yang mendengar.


Beberapa teman sekelas tertawa dan mengisyaratkan padaku dengan jari telunjuk mereka.


Aku berkata dengan nada sinis, "Mungkin kamu gak harus menyendiri terlalu sering, Rico. Kamu perlu belajar bersosialisasi."


Semua orang tertawa, termasuk Lisa yang sebenarnya tidak setuju dengan apa yang kulakukan. Rico tampak sangat malu, wajahnya memerah, dan dia kembali tenggelam dalam buku pelajarannya.

__ADS_1



Suatu hari, seperti biasa, aku terlibat dalam tindakan tidak pantas. Rico, seperti biasa, adalah korban utama dari perbuatanku. Pagi itu, suasana hati aku begitu buruk, dan aku merasa perlu melepaskan frustrasi itu pada seseorang. Dan Rico adalah seorang sasaran empuk.


Kami duduk tidak terlalu jauh satu sama lain. Aku memutuskan untuk memulai permainan ini dengan menjatuhkan buku-bukunya yang telah dia susun rapi di meja. Buku-bukunya berserakan di lantai, dia tampak terkejut.


"Hey, kenapa kamu lakukan itu?" Rico bertanya dengan wajah terkejut, mencoba mengumpulkan buku-bukunya.


Aku tersenyum, merasa senang melihat ketidaknyamanan di wajahnya. "Mungkin karena aku bosan dengan orang-orang seperti kamu yang selalu bersikap pendiam dan pasif. Kamu pikir, dengan menjadi kutu buku dan selalu duduk di pojok kelas, kamu bisa jadi sesuatu?"


Rico, masih terkejut oleh tindakanku yang tiba-tiba ini, mencoba menjelaskan, "Aku hanya suka belajar dan tidak suka masalah."


"Kamu tidak tahu apa-apa tentang kehidupan nyata, Rico. Kamu harus tahu cara beradaptasi. Mungkin jika kamu berhenti menjadi kutu buku dan mencoba sesuatu yang berbeda, hidupmu bisa lebih berwarna."


Aku melanjutkan untuk menggoda Rico, sementara dia hanya bisa merenung dengan ekspresi bingung. Teman-teman sekelas kami mulai memperhatikan apa yang terjadi.


Saat itu, aku merasa seolah-olah kekuasaan ada dalam genggaman aku, dan aku terus membully Rico tanpa rasa bersalah. Sementara itu, Rico hanya bisa merasakan rasa malu dan ketidakpastian. Mungkin dia tidak tahu


apa yang telah memicu perubahan drastis dalam diri aku, tetapi saat itu, aku hanyalah seorang siswi SMP yang menyia-nyiakan semuanya dengan melakukan tindakan yang sangat bodoh.



Kelas sudah berakhir, mataku tertuju pada Rico. Ini adalah kesempatan bagus untuk menggodanya. Kucibir pelan, menunggu dia menyadari perhatianku. Ketika matanya akhirnya melirik ke arahku, aku tersenyum manis.


"Pernahkah kamu merasa bahwa semua itu sia-sia? Membaca buku setiap waktu, seperti otakmu ini


adalah sumber segala pengetahuan?" Kata-kataku sambil mengedipkan mata dengan penuh provokasi.


Aku tidak memberinya kesempatan untuk menjawab, "Kamu tahu, ada lebih banyak hal dalam hidup selain buku teks dan lomba olimpiade. Seharusnya kamu mencoba bersenang-senang."


Tentu saja, aku mengejeknya.


"Kenapa kamu selalu serius seperti ini, Rico? Coba deh, untuk satu hari saja, lupakan buku-buku itu dan ayo kita bersenang-senang!" ujarku.


Dia masih terlihat bingung dan ragu-ragu. Tapi aku tahu, aku tidak akan berhenti.


"Kamu tahu, Rico, hidup hanya sekali. Kamu gak ingin menyesalinya ketika kamu tua nanti karena kamu terlalu serius di masa muda, bukan?" lanjutku dengan nada menggoda.


Dia menggeleng pelan. "Aku hanya ingin mencapai impianku..."


"Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, Rico. Kita masih muda, jadi nikmatilah hidupmu." Aku berhenti sejenak, kemudian menambahkan, "Tapi mungkin kamu hanya terlalu bodoh untuk itu, ya?"


Aku tersenyum puas melihat wajah Rico yang berubah merah. Itu adalah kepuasan kecil di hatiku.



Itu terjadi di dalam kelas yang berderet dengan bangku-bangku kayu. Hari itu, seperti biasa, Rico duduk sendirian di salah satu sudut kelas, sementara aku bersama dengan teman-temanku berkerumun di sebelah meja guru, sambil


menertawakan teman yang menjadi sasaran lelucon kami.


"Sudah lihat Rico?" kata Lisa, dengan nada meremehkan.

__ADS_1


Aku mengikuti pandangannya ke arah Rico, yang tengah fokus pada bukunya. Rambutnya yang hitam berantakan menutupi sebagian besar wajahnya, dan matanya yang selalu tertuju pada buku-buku tebalnya.


"Kita bisa melakukannya lagi, kamu tahu," ujar Lisa.


Aku tertawa mendengar saran Lisa. Dengan cepat, kami merencanakan cara untuk mengganggu Rico.


"Oke, kalian semua bisa mengira-ngira jawabannya untuk soal matematika itu," ucapku dengan nada menggoda.


“Rico, kalau diberikan √2010 + √2000 = a. Nilai √2010 - √2000 dalam bentuk a itu apa?”


Kami mulai membully Rico dengan pertanyaan-pertanyaan tentang matematika. Gimanapun, dia selalu membaca buku matematika. Rico mencoba menjawab dengan penuh usaha, tapi aku terus mengomentari jawabannya, menyuruhnya untuk mengulang jika salah, dan menertawakannya ketika dia keliru.


"Sungguh, Rico, kamu benar-benar bodoh," ujarku dengan nada rendah.


Aku hanya tertawa keras, masih tidak percaya bahwa orang itu aku. Kepintarannya dalam matematika memang biasa saja, tetapi dia adalah seorang anak yang baik. Dia tidak pantas diperlakukan seperti ini.



Suatu hari,saat Rico sedang duduk sendiri di kantin, aku melihat peluangku. Aku mendekatinya dengan langkah pasti.


"Hey, Rico," sapaku dengan nada sombong.


Dia mengangkat kepala dan menatapku dengan tatapan penuh kebingungan. Seperti biasa, dia tidak terbiasa diperhatikan olehku.


"Apa yang kamu lakukan sendirian di sini? Gak punya teman?" godaku sambil tertawa sinis.


Dia hanya diam, sepertinya tidak tahu harus menjawab apa.


Aku melanjutkan, "Kamu tahu, Rico, ada olimpiade matematika tingkat nasional minggu depan. Tentu saja, kamu gak akan pernah tahu tentang itu, kan?"


Dia masih hanya diam, wajahnya terlihat semakin murung.


Aku melanjutkan mempermainkannya, "Aku yakin kamu gak akan bisa menjawab soal-soal yang ada di sana. Matematika memang bukan untuk orang bodoh."


Rico akhirnya angkat bicara dengan lembut, "Maaf, aku gak sehebat itu dalam matematika."


Dia hanya menundukkan kepala dan tidak menjawab. Dan aku terus berbicara. "Kenapa kamu lakukan ini padaku?" katanya dengan suara rendah yang gemetar.



Suatu hari, di tengah kelas matematika, guru kami memberikan pertanyaan yang cukup sulit. Aku cepat-cepat menyelesaikannya dengan benar, seperti yang selalu kulakukan. Sementara Rico, yang duduk tepat di depanku, tampak bingung.


Aku tidak bisa menahan godaan untuk membully-nya. "Rico, ini begitu sederhana. Gimana caranya kamu bisa gak tau?" ucapku dengan nada yang menghina. "Ini adalah matematika dasar, bukan?"


Rico hanya merendahkan diri, memalingkan wajahnya dari pandanganku. Suaranya lemah saat dia menjawab, "Aku... Aku hanya butuh lebih banyak waktu."


Tawa-tawa pun meledak di kelas, semua orang menertawakan Rico. Tapi entah kenapa, saat aku melihat Rico yang tersungkur seperti itu, aku merasa ada yang salah.


Setelah pelajaran selesai, aku mendekati Rico, sambil masih bersikap merendahkan. "Rico, kamu tahu, seharusnya kamu lebih baik dalam matematika. Bukankah hampir setiap hari kamu membaca bukunya? Aku gak tahu gimana caranya kamu bisa jadi begitu tolol."


Tetapi, kali ini, aku merasa sesuatu yang berbeda dalam dirinya. Dia yang biasanya hanya menjawab dengan senyuman lemah, kali ini menatapku dengan mata yang penuh dengan amarah.

__ADS_1


Tentu saja, aku tidak berhenti. Tapi aku berharap waktu itu, aku melakukannya.


__ADS_2