
Constantine Yang memacu Zilin-nya dengan sangat cepat ke arah paling belakang dari pasukan musuh. Sesuai dengan kecurigaannya tadi, di tempat itulah ia merasakan adanya aura sihir dan para penyihir.
Constantine tahu, mereka tak terlihat bukan berarti mereka tak ada. Namun mereka sedang bersembunyi dengan suatu perisai yang mereka—para penyihir—buat berdasarkan gabungan kekuatan mereka.
"Mereka lemah," gumam Jenderal Satu.
Constantine paham, selepas masa kejayaan mereka pada berabad-abad yang telah lalu, dari tahun ke tahun, kekuatan para penyihir semakin melemah. Makin jarang pula ditemukan anak yang memiliki sihir dan kemampuan menyerap mana alam secara alami. Bahkan, penyihir-penyihir yang akan berhadapan dengan Constantine ini, usianya pun sudah mencapai ratusan tahun.
Jika Constantine bukan seorang kultivator genius, maka ia, pasti akan mengalami kesulitan untuk menghadapi para penyihir. Namun sekarang, ia, bahkan sudah merasa sangat yakin bahwa mereka tak akan menjadi masalah besar, meski bagi Jingguo yang merupakan gurunya, hal ini bisa menjadi tantangan tersendiri.
Dalam Dunia Kultivator, seseorang yang telah mencapai ranah Alam Tercerahkan, mereka bisa menggunakan kekuatan alam secara terbatas. Di tingkat yang lebih tinggi lagi, yaitu Alam Suci, para kultivator bisa melakukan serangan tak terlihat yang pusat pengendaliannya di pikiran. Selanjutnya, di tingkat Alam Roh, kultivator mendapatkan kemampuan untuk memanggil mereka yang tak terlihat sebagai bala bantuan.
Terlepas dari apa pun tingkatannya, pada dasarnya, kemampuan kultivator diperhitungkan melalui bakatnya yang dalam hal ini terbagi dalam rentang bintang 1—12. Luo Yang sendiri, meski ia seorang Raja yang dianggap berbakat, namun ia hanya memiliki tiga bintang. Jingguo Li, sebagai sosok yang dianggap terkuat dan genius di Kerajaan Anming, memiliki tujuh bintang. Sedang Constantine sendiri yang menyembunyikan identitasnya sebagai kultivator murni, ia memiliki sepuluh bintang.
Kecepatan seorang kultivator untuk menerobos ke tingkat selanjutnya, selain ditentukan oleh identitasnya sebagai kultivator murni atau bukan, juga ditentukan oleh banyaknya bintang yang dimilikinya. Namun, penilaian seperti ini, pada dasarnya hanya penilaian buatan yang digunakan untuk mengukur tingkat kegeniusan seorang kultivator.
Selain perihal-perihal tersebut, jika seorang kultivator benar-benar berbakat, maka ia dapat memiliki kemampuan khusus yang tak dimiliki oleh para kultivator lain. Dalam hal ini, Constantine pun sebenarnya memiliki kemampuan sihir yang terpengaruh oleh lingkungan dan bakat alaminya sendiri. Inilah alasan mengapa Constantine bisa merasakan aura sihir dan aura para penyihir.
__ADS_1
"Aku tak menyangka mereka memiliki penyihir gelap di sini." Constantine mengembuskan napasnya pelan, lalu tersenyum tipis. Demikian, para penyihir yang berada di dalam perisai yang membuat mereka menjadi tak terlihat pun menjadi kebingungan ketika tahu ada seorang gadis muda yang sepertinya mengetahui posisi mereka.
"Gadis itu ..., aku rasa, dia seorang kultivator dengan bakat yang benar-benar langka. Dia bisa mencium keberadaan kita! Sungguh celaka!" seru salah seorang penyihir.
Tak lama, Constantine pun melakukan sesuatu yang benar-benar mengejutkan bagi para penyihir yang menjadi ketakutan itu. Gadis itu merapal untuk meminjam kekuatan alam demi menghancurkan perisai tak terlihat.
"Kepada alam yang menjadi denyut kehidupan.
Kepada alam yang menyediakan qi dan mana sebagai sumber kekuatan.
Demi kemerdekaan bangsaku yang dipertaruhkan.
Dengan bakat dan nurani yang kumiliki, maka nilailah aku pantas untuk ini atau tidak.
Jika memang pantas, maka bantulah aku untuk menghancurkan perisai para penyihir ini."
Setelah itu, para penyihir bisa merasakan tanah di sekitar mereka bergetar, lalu perisai yang melindungi mereka pun mengalami keretakan hingga akhirnya pecah berkeping-keping.
__ADS_1
"Kau—"
"Aku akan menjadi Dewi Kematian-mu," lirih Constantine. Namun, berkat aura sihir dan qi yang dimilikinya, vokal itu pun terdengar menjadi begitu tegas dan mengerikan.
"Apakah kalian merasakan aura kegelapan di dalam diriku? Aura yang keluar sebab banyaknya nyawa yang telah kuhabisi?" Demikian, suara Constantine terasa bagaikan melodi kematian bagi para penyihir.
"K—kau ..., k—kaupasti seorang penyihir dengan elemen dasar kegelapan," kata salah seorang penyihir dengan tergugu-gugu. Meski Constantine bisa menyembunyikan qi di tubuhnya dari para kultivator, namun ia tak bisa menyembunyikan mana-nya dari para penyihir.
"Elemen dasar kegelapan? Bukankah itu kalian? Aku lihat, di sini banyak dari kalian yang memiliki elemen itu." Constantine tampak sangat tenang ketika mengucapkan kalimat barusan. "Setelah berlalunya masa kejayaan klan para penyihir, klan kalian itu, rupanya semakin melemah. Tapi aku sangat tidak menyangka kalian sampai menggunakan jalur sesat untuk mengembalikan kekuatan itu," tuturnya.
Constantine mengeluarkan sebuah bola cahaya dari tangannya—membuat para penyihir pun tersentak dibuatnya. Ia pun menjadikan bola cahaya itu seperti mainan yang ia lempar-lemparkan.
"Elemen cahaya? Mustahil! Kautak mungkin memiliki dua elemen berlawanan itu!"
"Tak mungkin? Tentu saja mungkin. Elemen dasarku adalah cahaya. Lalu seperti yang kubilang tadi, kegelapan ini muncul setelah aku melenyapkan banyak nyawa," lugas Constantine. Para penyihir yang mendengar itu pun merasa bulu kuduknya berdiri.
"Siap menyambut kematian kalian, wahai para penyihir?" Constantine turun dari tunggangannya, lalu mengangkat pedangnya yang diselimuti aura kegelapan itu.
__ADS_1