
Malam telah melintang. Kegelapan telah meliputi seluruh langit hingga ke pengujung cakrawala. Suhu dingin yang menusuk, nyatanya tak mampu menghentikan tekad sekelompok orang yang sedang berdiskusi itu.
"Gadis itu sangat berbahaya! Kita harus menyingkirkannya," kata salah seorang pria berusia 40-an, dengan sorot mata penuh kemarahan. Urat-uratnya pun menonjol keluar.
"Benar! Jika ingin menang, kita harus menyingkirkannya dulu," sahut salah seorang pria lagi.
Semua orang, kini menatap Youli Young, sang Jenderal Besar yang menjadi penanggung jawab utama dalam perang kekaisaran ini. Pemuda itu tampak menimang-nimang, sebelum beberapa saat kemudian, ia menyeringai.
"Kita harus menaklukannya. Tapi kita tak boleh membunuhnya. Kita harus menjadikan dia sebagai kekuatan kita," ujar Youli, membuat orang-orangnya pun jadi tersentak.
"Menjadikan gadis itu sebagai kekuatan kita? Bagaimana jika dia menjadi duri di dalam daging, Pangeran?"
Semuanya tampak risau. Sebenarnya, tanpa diberitahu pun, mereka semua mengerti akan ke arah mana pembicaraan ini berlanjut.
Youli Young ingin menjadikan Jenderal Wanita Anming sebagai selirnya. Dengan begitu pula, kekuatan serta kekuasaannya pun akan menguat, sehingga ia bisa menyingkirkan Pangeran Mahkota Kekaisaran Xingzuo yang sekarang.
__ADS_1
Sayang sekali, Youli Young terlalu memikirkan keinginannya. Wanita seperti Constantine Yang, tentu saja tak akan mudah ditaklukkan. Jika gadis itu sampai terikat dengan mereka dan lalu berkhianat, mereka bisa hancur.
"Kalian pikir, sekuat apa dia? Dia hanya wanita. Jadi tak mungkin dia bisa lebih kuat daripada kita." Youli Young berkata dengan nada yang mencemooh. "Aku akan 'mengikat'-nya dan menjadikannya sebagai selirku. Bukankah gadis sepertinya sangat menarik? Dia menantang jiwa petualangku," sambungnya, sambil menjilat ujung bibirnya.
Hal-hal dewasa mulai memenuhi pikiran Youli Young. Lelaki itu benar-benar telah terpikat dengan kecantikan Constantine Yang. Namun tentu saja, terpikat yang dimaksud bukanlah jatuh cinta. Nyatanya, laki-laki itu hanya tengah bernafsu semata.
"Jenderal Besar, kauharus memikirkan sesuatu dengan matang." Salah seorang sepuh di sana pun memberi nasihat, namun sang Pangeran malah mendengus.
"Pak Tua, kautak memiliki hak untuk mengaturku. Di sini, aku penguasanya. Aku yang dipercayai oleh Kaisar, ayahku sendiri, untuk memimpin kalian. Kalian harus mendengarkan ucapanku," bentak Youli. Lelaki itu menatap semua orang dengan tajam.
"Lalu, apa rencana Anda, Jenderal Besar?" Seorang lelaki bertanya dengan nada yang sopan.
"Tapi Pangeran, bagaimana jika gagal?" tanya seseorang dengan wajah yang cemas. Sebagai manusia biasa, terlibat dalam masalah bersama kultivator, tentu saja menjadikan ia merasa gamang. Jangankan sang Jenderal Wanita, para kesatria-kesatria wanitanya saja sudah bisa dikatakan sangat merepotkan.
"Jika kita gagal dengan rencana itu, kalian harus bekerja sama denganku untuk membiusnya. Setelah itu, kita kalahkan pasukannya. Lalu, aku akan menggunakan cara kasar untuk memilikinya. Jadi, apa yang perlu kaukhawatirkan? Lagi pula, rencanaku itu tak mungkin gagal," sahut Sang Jenderal Besar, dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
"Tapi Jenderal Besar Jingguo Li, pasti akan melindunginya, bukan?"
"Hanya lelaki tua itu. Kita menang jumlah. Mengalahkannya adalah hal mudah. Tak mungkin dia bisa terus bertahan melawan beberapa kultivator sekaligus," jelas Youli Young. Lelaki itu, kemudian meneguk segelas araknya hingga tandas. "Aku mau wanita untuk menemaniku malam ini," pintanya, yang telah hilang kesadaran.
Melihat Youli Young, orang-orang pun saling menatap, kemudian menggeleng pasrah. Satu-satunya wanita di sana, hanya menyorot dengan dingin pemandangan itu. Dialah Molihua, sang Matriark Ordo Sheng Guang. Mendengar kata-kata Jenderal Besar yang menghina Constantine Yang, sebagai sesama perempuan, ia jadi ikut merasa direndahkan.
"Matriark, apa pendapat Anda?" tanya salah seorang pria, namun Molihua hanya menggeleng dalam diamnya. Wanita itu memang tak banyak bicara, kecuali untuk hal-hal yang sangat mendesak.
"Tapi Matriark, pendapat Anda sangat diperlukan. Bukankah dulunya, Anda adalah guru Jenderal Besar Jingguo Li? Anda pasti tahu banyak tentangnya!" Mereka memaksa.
"DIAMLAH! BERISIK!" Molihua mendesis lalu memalingkan wajahnya. Wanita itu, kemudian beranjak pergi untuk menyendiri. Setelah menemukan tempatnya, ia hanya bisa menatap langit dengan ekspresi datar, namun dengan perasaan yang amat kacau.
Ordo Sheng Guang, ada di bawah naungan kekaisaran. Sebagai warga yang baik, ia pun harus menurut kepada Sang Kaisar. Apalagi, lelaki itu menekannya. Ia tak bisa berbuat apa-apa, sebab nasib sekte dan orang-orang terdekatnya pun berada di bawah kendali sang penguasa.
Pada dasarnya, ikut dalam peperangan bukanlah keinginan seorang Molihua. Ia pencinta kedamaian. Ia pun amat menyayangi Jingguo Li yang dulunya berstatus sebagai muridnya. Bagaimana pun, meski ia sangat kuat, namun ada beberapa orang yang lebih kuat darinya di Kekaisaran Xingzuo, dan mereka semua berada di bawah naungan kekaisaran.
__ADS_1
Molihua lebih menegaskan sikap pendiamnya, sebenarnya bukan tanpa alasan. Faktanya, ia tak sungguh-sungguh ingin membantu pihak kekaisaran. Ia pun tak ingin berkonstribusi dengan memberikan ide-ide cemerlangnya. Apalagi, kini, ia pun telah menemukan harapannya untuk memperoleh kebebasan melalui seorang gadis luar biasa bernama Constantine Yang yang merupakan murid dari muridnya sendiri, Jingguo Li.
'Aku tak akan melakukan apa pun. Aku hanya ingin melihat seberapa kuat gadis yang telah memberiku harapan baru itu. Tapi, kuharap ..., rencana licik si Hidung Belang itu tak akan berjalan dengan lancar,' batin Molihua.