Reflection

Reflection
Kontrak Darah


__ADS_3

"Kita sudah kalah," katanya.


Aku yang mendengar itu pun merasa tak begitu terkejut. Biar bagaimanapun, aku sudah bisa menduga ini. Namun tetap saja, aku selalu berharap bahwa kemenangan akan berada di pihak kami.


"Tapi jangan menyalahkan dirimu sendiri," sambungnya, menatapku dalam.


Aku tersenyum dingin menatap Chen Li, lalu mengangguk paham. Kutundukkan kepalaku sekilas, sebelum menyorotnya kembali.


"Sebenarnya, aku sedikit menyalahkan diriku sendiri. Tapi aku tahu, ini bukan sepenuhnya salahku; dan ini juga bukan salah kalian yang telah berjuang bersamaku. Biar bagaimanapun, kita telah berusaha. Aku yakin, apa yang kita lakukan tidaklah sia-sia, karena selagi kita terus berusaha, pasti akan ada hal berharga yang kita dapatkan," tuturku.


Chen Li menatapku serius dengan alis yang berkerut. Kulihat, ia menghela napas, lalu mendekat ke arahku.


"Aku pun merasakannya. Aku terlalu sombong. Aku merasa sangat kuat, sampai sedikit meremehkan musuh-musuhku. Padahal, kalau dipikir-pikir, meski di mata kalian aku memang sangat kuat, tapi aku lemah dalam beberapa hal. Setidaknya, karena kekalahan itu, aku jadi menyadari kesalahanku, sehingga bisa mengintrospeksi diriku, lalu mengobservasi, memperbaiki, dan merevisinya. Lagi pula, kekalahan tak selalu menjadi akhir dari segalanya," lanjutku.


Chen Li pun tersenyum. Ia menepuk kepalaku dengan perlahan, lalu mulai mengucapkan kata-kata yang terdengar menyebalkan sekali di telingaku. "Tak salah aku jatuh cinta kepadamu," ungkapnya.


Apa-apaan?!


Apakah mati juga membuat urat malunya putus?


"Sepertinya, kematian benar-benar mengubahmu," sindirku.


Aku menatap ke luar tenda, dari bagian yang terbuka. Di sana, panas matahari, terlihat sangat terik. Setidaknya, berkat warna putih yang memantulkan cahaya, aku jadi tak terlalu kepanasan di dalam tenda dalam keadaan tubuhku yang lemah begini.


"Lalu, kenapa kautak ada di tempatmu yang seharusnya?"

__ADS_1


"Aku sudah berjanji."


Kukerutkan kedua alisku. Ia menatapku dengan tajam. Bahkan setelah kematian pun, wajahnya tetap terlihat sangat angkuh.


"Janji? Kepada siapa?" tanyaku.


Aku kembali mengambil air dan meminumnya. Tubuhku sedikit bergetar ketika merasakan kesegaran air yang membasahi kerongkongan keringku ini.


"Kepada diriku sendiri. Aku berjanji untuk menjagamu sampai akhir hayatmu. Ketika sekarat, aku bersumpah ingin menjadi roh yang akan melindungimu," jawabnya.


Aku menaikkan alisku dan menatapnya dengan heran. Ia mengembuskan napas panjang. Bibir merah mudanya yang tipis itu, kemudian mengerucut—mengingatkanku pada ekspresi anak kecil yang tengah merajuk.


"Kem—"


"Jangan protes apa pun! Menyuruhku untuk pergi, sama saja kaumenyuruhku untuk mengkhianati diriku sendiri. Aku sudah berjanji, dan seorang kesatria akan selalu menepati janjinya," tukasnya.


"Jangan tanya alasannya! Intinya, aku melakukannya karena aku khawatir kepadamu. Kaujuga tahu bagaimana perasaanku kepadamu, kan?"


Mengesalkan sekali. Dia kembali memotong perkataanku.


Kemudian, aku hanya mengangguk dengan memasang ekspresi datar.


"Tapi, aku tidak butuh perlindungan dari roh lemah sepertimu," kataku.


Kusorot raut wajahnya yang tampak jengkel itu. Hidungnya kembang kempis sembari beberapa kali mengembuskan napas yang kuat. Bibirnya tertekuk ke atas. Matanya menyipit, sedang alisnya yang tebal itu menukik ke dalam.

__ADS_1


"Biar bagaimanapun, sebagai roh, aku juga memiliki kekuatan supranaturalku sendiri. Seumur hidupku, aku adalah seorang jenderal—seorang pemimpin. Jadi aku yakin kalau aku juga bisa mengumpulkan pasukan rohku sendiri," tukas Chen Li.


Aku tersenyum lebar kepadanya. Lalu kurasakan sesuatu yang mengangguku—menyebabkan rasa gatal di wajahku.


Kini, rambutku yang terurai dan berantakan pun kuletakkan di belakang telinga. Aku membuka mulutku.


"Memangnya, kekuatan apa yang kaumiliki? Aku tak sudi memiliki roh yang kekuatan supranaturalnya lemah. Kautahu, sainganmu adalah sosok Kapten Roh yang memiliki banyak pasukan—kekuatannya adalah api dan tanah," kataku.


Kulihat, Chen Li semakin tajam menatapku. Sekali lagi, aku hanya menarik kedua sudut bibirku.


"Hanya kapten. Aku ini seorang jenderal. Aku bisa menjadikan banyak kapten sebagai bawahanku. Meski sebenarnya aku juga belum mengetahui apa elemen kekuatanku, tapi aku yakin aku akan menjadi sangat kuat, melebihi Kapten Roh itu. Pokoknya, apa pun yang terjadi, aku akan bersamamu. Aku memaksamu melakukan kontrak darah denganku."


Aku menatapnya tak percaya. Bagian atas bibirku berkedut setelah mendengar pernyataannya. Inilah dirinya yang selalu percaya diri. Lalu, bukankah sudah kubilang kalau ia juga mengesalkan sekali? Lagi pula, roh mana yang bersedia menyerahkan dirinya untuk melakukan kontrak darah secara sukarela?


Ah—tapi, dia ini juga sudah bersumpah. Mungkin, efeknya pun sama seperti ketika kita melakukan kontrak, di mana ketika tuannya mati, maka rohnya juga akan ikut mati. Jadi ...—


"Tak perlu banyak berpikir. Ayo berikan darahmu. Kaujuga mendapatkan keuntungan, kan? Bukankah jika kita melakukan kontrak, aku bisa membagikan kekuatanku kepadamu? Itu tak akan kaudapatkan jika kita tak melakukannya."


Aku menggaruk belakang kepalaku, lalu menghela napas.


Sebenarnya, masih sulit kupercaya, kalau sosok dihadapanku ini, benar-benar Chen Li—Jenderal Empat—rekanku yang telah tiada. Aku, bahkan tak percaya jika dia sudah benar-benar pergi, dan awalnya, aku tak menyangka bisa bertemu dengannya lagi seperti ini.


"Aku tak berharap kauakan menyesalinya."


Aku mengambil sebuah pisau yang terletak di samping tempatku berbaring tadi, yang mungkin sengaja diletakkan untuk berjaga-jaga. Tanpa takut, aku melukai ujung jari telunjukku.

__ADS_1


Ketika darahku akan menetes, Chen Li mendekatkam wajahnya ke sana hingga cairan merah itu, terjatuh di mulutnya. Tak lama, sebuah cahaya aneh menyelimuti kami, lalu muncullah simbol unik berukuran kecil di lenganku juga di leher Chen Li. Dengan begini, kontrak darah pun telah resmi dilakukan.


"Aku tak akan menyesali keputusanku sendiri. Camkan itu. Apalagi, itu untukmu—untuk orang yang aku cintai." Jantungku pun berdetak dengan aneh mendengar pernyataan itu.


__ADS_2