
"SERANGAN! PASUKAN MUSUH MENYERANG!"
Constantine Yang bersama ketiga jenderal lain pun langsung beranjak dari posisi duduknya ketika mendengar seruan itu. Semua kesatria, secara refleks mengikutinya. Tak lama, beberapa prajurit tumbang begitu saja oleh anak panah yang datang melalui kegelapan.
"Kita kehilangan kewaspadaan. BERSIAP SEMUA!" teriak Constantine. Gadis itu bersiap dengan kuda-kudanya.
Tak lama, beberapa orang yang tubuhnya terselimuti oleh baju besi hingga menutupi sebagian wajahnya pun berdatangan. Mereka menyerang dalam jarak dekat. Shi Jian yang mendapati posisi itu pun bergegas mengambil pedang dari salah satu mayat kesatria yang tergeletak di atas pasir.
'Bagus! Sudah lama aku tak mengasah kemampuan ini,' batin Jenderal Tiga.
Kesatria musuh itu berjumlah 55 orang. Para jenderal berhasil melakukan duel dengan seimbang, meski para kesatria tampak kewalahan.
Dalam kegelapan, kemudian muncul tiga orang berpakaian serba hitam yang menyatu dengan malam. Mereka pun melemparkam jarum-jarum ke arah Constantine yang tengah disibukkan dengan pertempuran.
Constantine Yang yang merasakan tusukan-tusukan kecil ditubuhnya pun menggeram, lalu memutar tubuhnya dan mendapati beberapa musuh yang telah menyerangnya secara diam-diam. Perempuan tersebut mengubah sasarannya ke tiga orang itu, yang menurutnya, jika dibiarkan bisa menjadi ancaman.
Sebenarnya, bukannya Constantine tak bisa menyadari kehadiran orang-orang tersebut. Hanya saja, ia sedang disibukkan dengan pertempuran yang harus ia lakukan sambil melindungi para rekan seperjuangannya.
Sebagai Wakil Jenderal Besar, tentu saja, tanpa adanya Jingguo Li, Constantine lah yang memegang jabatan sebagai pemimpin tertinggi pasukan. Maka dari itu, ia pun memiliki kewajiban untuk melindungi para Kesatria Anming tersebut.
__ADS_1
"Merepotkan!" desis Constantine Yang. Ia meregangkan tubuhnya yang tiba-tiba terasa pegal. Energinya pun, tiba-tiba menjadi agak berkurang.
Menyadari ada yang aneh, Constantine pun mengerutkan keningnya. Sejak kemarin, dalam setiap serangan musuh, rasa-rasanya, tenaganya pun ikut tertarik. "Ada sesuatu di serangan kalian," katanya, sambil menatap tajam.
Constantine pun mulai menyerang dengan pedangnya. Tiga orang berpakaian hitam kembali menyerang dengan jarum-jarum mereka sambil sesekali menghindari serangan sang Jenderal Satu Anming. Tiba-tiba, putri Irene itu, merasa kekuatannya terkuras habis. Ia terkulai lemas dalam keadaan berlutut.
"Sulit juga menaklukanmu, Nona ...! Tubuhmu punya ketahanan. Tapi sekarang, kami berhasil melemahkanmu," ucap salah satu dari mereka.
Constantine menatap ketiga orang yang menghilang dalam kegelapan itu. Kemudian, ia terjatuh dalam posisi telungkup. Tubuhnya terasa kelu dan lemas.
Di sisi lain, pasukan lawan yang mundur secara tiba-tiba—mengejutkan para pahlawan Anming itu. Namun, menyadari ketidakhadiran sang Wakil Jenderal Besar, mereka pun langsung panik. Salah seorang kesatria berhasil menemukan keberatan Constantine di belakang salah satu tenda.
"JENDERAL AN DITEMUKAN!"
"JENDERAL SATU!"
Shi Jian yang pertama kali berhasil mendekati posisi Constantine pun segera menggapai tubuh yang tampak lemah itu. Ia bergegas membawa Constantine ke dalam tenda dan memanggil kesatria yang memiliki tugas khusus di dalam masalah kesehatan.
"Ada apa dengannya?"
__ADS_1
"Jenderal Satu baik-baik saja. Mungkin saja, beliau hanya pingsan karena mengalami kelelahan," ujar sang kesatria, dengan sopan.
"APA-APAAN?! MEMANGNYA SEKUAT ITU MUSUH KITA! Constantine sangat kuat—akan sulit menemukan saingan untuknya. Tak mungkin juga ia tumbang semudah ini," tukas Ma Zhengyi dengan suaranya yang berat. Ia memukul kendi dengan kuat, hingga pecah dan mengalir keluarlah air dari dalamnya yang merembes ke pijakan mereka.
"Hey—jangan membuang persediaan air kita!" tegur Xingxing Tang.
"Jenderal Satu juga manusia, Yi'er," sahut Shi Jian. Lelaki itu memandang tubuh Constantine dengan cemas. "Berapa lama dia akan seperti itu?"
"Jika pingsan karena kelelahan, maksimal dua hari, Jenderal ...!"
"DUA HARI?! Kita akan kalah jika seperti itu! Apa tidak ada cara membangunkannya secara cepat?" Ma Zhengyi mengembuskan napasnya panjang.
"Rasanya bukan hal baik. An'er juga butuh beristirahat, bukan?" kata Shi Jian.
"Tapi dia satu-satunya harapan kita," sanggah Xingxing Tang.
"J—jenderal ..., sebenarnya ada kemungkinan lebih buruk lagi." Petugas tersebut meneguk salivanya. "Jika Jenderal Satu terus menjadi incaran para musuh, ada kemungkinan ia terkena racun atau obat bius yang sulit dideteksi keberadaannya. Mengingat tak ada kerusakan apa pun yang dapat saya deteksi pada organ dalam Jenderal Satu, maka, jika dugaan saya benar, kemungkinan Jenderal Satu terkena obat bius lebih besar."
"Obat bius? Mereka melumpuhkannya dengan cara itu? Apakah ini bagian rencana si Pangeran Mesum? Jangan bilang ia tak ingin membunuh Constantine karena ingin menjadikannya selir?!" seru Ma Zhengyi, tak percaya.
__ADS_1
"Tapi itu hanya kemungkinan, kan?" tanya Xingxing Tang dengan raut cemas. Sang kesatria pun menjawab itu dengan sebuah anggukan.
"Semoga, semuanya berjalan baik-baik saja. Percayalah—Jenderal Satu akan segera sadar dan kita akan memenangkan peperangan ini," lirih Shi Jian, dengan optimis. Kepalanya tertunduk sambil menatap wajah Constantine yang pucat pasi.