
"YANG MULIA! YANG MULIA!"
Seorang pria tua dengan pakaian sederhana berjalan dengan tergopoh-gopoh. Di hadapannya, sosok pria beraura agung dengan busananya yang mewah pun menatapnya dengan tajam.
"Lancang! Siapa yang memberimu hak untuk berlaku seperti ini di hadapan Yang Mulia Kaisar Weiyan?" Seorang pria berjanggut perak panjang yang berada di samping pria beraura agung tadi pun menyentak.
"Perdana Menteri, tak perlu memarahinya. Apa yang membuatmu kepanikan seperti itu, Kasim Zhongcheng?" Sang Kaisar bertanya dengan tenang. Namun, ekspresinya yang dingin terasa benar-benar menusuk.
"H—hamba membawa kabar dari beberapa kesatria yang baru saja kembali dari pertempuran," katanya. Suara dan tubuhnya, tampak gemetaran. Dalam hati, ia terus bergumam mengenai kematiannya.
"Apa itu? Bukankah tak ada yang lebih penting dari kemenangan kita? Jika bukan informasi berharga, tak perlu memberitahuku," sahut Kaisar Weiyan Young. Ia menyipitkan matanya, menatap penuh selidik ke sang Kasim.
"Ampun, T—Tianzi ...! Tapi, yang hamba bawa ialah kabar mengenai ..., m—mengenai ke—matian Pangeran Ketiga, Youli Young," katanya, terbata-bata.
Semua orang yang berada di Aula Istana Da Long itu pun terkesiap oleh kabar tersebut. Sang Kaisar pun, bahkan tampak menggeram dan menonjolkan urat-urat di lehernya. Melihat itu, Zhongcheng pun jadi ketakutan setengah mati.
"Omong kosong apa yang kaubawa, wahai Nansheng ...!" desis Weiyan. Suaranya yang terdengar serak, menambah kesan mengerikan. "Putraku ..., tak mungkin kalah semudah itu!" sambungnya.
"Aku memberi titah—penggal kepala Nansheng Zhongcheng sekarang juga!" Mendengar perintah sang penguasa, beberapa kesatria di sana pun mulai berjaga. Mereka semua menatap tajam ke arah kasim yang tampak lemah itu.
"Tak perlu berlebihan, Yang Mulia ...! Yang dibawa Nansheng ini adalah sebuah kebenaran."
__ADS_1
Seorang wanita yang memiliki aura tak kalah mulia pun memasuki aula. Wajah yang dulunya selalu menjadi primadona itu, kini telah termakan oleh usia. Meski begitu, pesonanya tetap tak terelakkan. Para kesatria pun menunduk akan kedatangannya.
"Matriark .... Jangan bilang kalau kaubersekongkol dengannya," kata sang Perdana Menteri, cepat. Keningnya berkerut dalam.
"Kalau tak percaya, kaubisa menunggu beberapa saat lagi. Jasad Pangeran Ketiga akan segera dibawa ke sini," sahut Molihua dengan dingin. Ia, lalu membawa sosok Nansheng Zhongcheng ke balik tubuhnya agar bisa berlindung di sana.
Tak perlu menunggu waktu lama, beberapa tangisan wanita dan anak-anak pun, kini terdengar. Seusainya, beberapa kesatria datang dengan membawa sebuah peti kayu yang terkombinasi dengan emas ke dalam aula. Mereka terkesiap oleh itu.
"Putraku .... Tidak! Putraku yang malang! Kenapa bisa seperti ini?"
"Kakak! Kakak! Kausudah berjanji mau membelikanku pakaian dan perhiasan baru sehabis pertempuran—tapi kenapa malah pergi?"
"Youli Young ..., kaumungkin bukan putraku, tapi aku sungguh menyayangimu."
"Pangeran, bagaimana nasib anak kita yang sedang kukandung nanti, jika kaupergi?"
"Sungguh ..., aku tak apa jika kau memiliki seribu selir sekali pun, asal kaujangan mati seperti ini!"
"Ayah! Ayah! Ibu, apa yang terjadi kepada Ayah?!"
Suara tangisan saling bersahutan. Mendengar itu, Sang Kaisar pun memijat pelipisnya yang terasa pening. Dilepaskannya mahkota di kepalanya itu untuk diletakkan ke sebuah meja, lalu disandarkannya kepalanya di kursi kebesarannya.
__ADS_1
"Yang Mulia ..., Anda baik-baik saja? Hey, hey ... DIAAAM!" Sang Penasihat Kaisar pun berteriak dengan lantang. "Di mana letak rasa malu kalian? Menangis di hadapan Kaisar sungguh perbuatan yang tidak sopan. Diam atau menyingkirlah! Kalian menganggu pendengaran dan pemandangan Yang Mulia," bentaknya.
Tampak, Weiyan Young pun menundukkan kepalanya dan menuruni tangga yang di puncaknya terdapat singgananya. Ditatapnyalah peti tersebut dalam-dalam, lalu dibuka beberapa detik kemudian. Seketika, ia pun mundur beberapa langkah.
"I—ini ..., siapa yang melakukannya? Jingguo Li? Atau ... adakah pengkhianat di antara kita?" lirih Sang Kaisar, bertanya sambil menatap salah seorang jenderal yang ikut membawa jasad Youli Young.
"B—bukan, Yang Mulia ...! Dia ... An Yang, seorang Jenderal Wanita. Tapi, Yang Mulia ..., kita tak boleh terlalu panik. Kami memang mengaku bahwa wanita ini sungguh memiliki kekuatan yang luar biasa. Namun, dia sangat mencintai rakyat dan kerajaannya yang telah berada di bawah kuasa kita. Jadi, bisa dikatakan kita aman meski harus kehilangan seorang pangeran dan beberapa tokoh-tokoh penting," ungkapnya.
"Lalu? Kita tak mungkin membiarkannya, kan?" Sang Kaisar menatap tajam ke sang Jenderal. Ia, kemudian menunduk dan disorotnya dengan nanar jasad Youli Young yang telah terpisah kepala dan badannya itu.
"Ini keinginan Pangeran Ketiga. Beliau ingin menjadikan An Yang sebagai selirnya untuk menambah kekuatan. Menurutnya, bakat seperti yang dimiliki wanita itu, sungguh tak boleh disia-siakan," jawabnya. "Yang Mulia ..., jika hamba boleh memberi saran, alangkah lebih baiknya, kita memasangkan An Yang ini dengan salah satu pangeran. Lagi pula, bukankah ia harus bertanggung jawab atas kematian Pangeran Ketiga?" tambahnya.
"Memelihara duri di dalam daging, maksudmu?" tanya sang Penasihat Kaisar sambil mengelus janggutnya. Raut mukanya tampak sangat serius.
"Bukan ide yang buruk pula. Seperti yang Jenderal katakan—An Yang sangat mencintai kerajaan dan rakyatnya, sedang mereka telah berada di bawah kendali kita," tutur Weiyang. Orang-orang yang mendengar itu pun mengangguk, meski banyak yang merasa janggal akan pernyataan itu.
"Ceritakan lebih, nanti ...!"
"Baik, Yang Mulia ...!"
Di sisi lain, Molihua memalingkan mukanya yang ekspresinya menjadi masam. Ia tak menyangka, gadis yang dikaguminya itu, setelah lepas dari kandang yang berisi seekor hewan buas, kini malah harus masuk ke dalam kandang yang berisi banyak hewan buas.
__ADS_1
Sungguh sial. Bisakah ia tak hanya diam saja kali ini?