Reflection

Reflection
Chapter 6


__ADS_3

Aku dan hantu berjalan bersama, mengangkat payungku yang berwarna abu-abu, terlihat usang akibat cuaca yang seringkali tidak bersahabat. Kami melangkah perlahan-lahan melewati lorong yang dipagari oleh berderetan rumah. Langit mendung di atas kami, dan hujan turun dengan cukup deras, menjadikan suasana semakin mencekam.


"Kau memang bilang begitu, tapi apa kau punya rencana?" tanya si hantu dengan wajah skeptis.


Tentu aja, pertama aku akan bersembunyi di sekitar rumahnya, lalu aku akan sergap dia waktu pulang. Akhirnya aku mencekik dia sampai mampus.


"Gak, gak, kau benar-benar berpikir rencanamu akan berhasil? Dan kenapa kau selalu terobsesi dengan mencekik orang?" ucap si hantu dengan nada getir.


Tapi bagaimanapun, rencanaku sekarang pergi ke rumah Rico, untuk mencari tahu kelemahannya. Mungkin dia punya ketakutan terhadap kecoak, atau semacamnya.


"Kau yakin dia tipe orang seperti itu?" tanya si hantu.



Aku sampai di depan rumah Rico. Kalau alamat yang diberikan oleh guru bener, ini seharusnya tempat yang tepat. Aku berjalan, untuk menyelinap dan bersembunyi di balik semak-semak dan meneduh di bawah pohon yang ada.


Kau sembunyi sana.


"Kau lupa aku tidak terlihat oleh orang?" ujarnya dengan nada menggoda.


Bukan, sebenarnya aku hanya gak pingin melihat wajahmu.

__ADS_1


Tiba-tiba, seorang wanita muncul, mungkin berusia pertengahan tiga puluh tahun. Suaranya lembut saat dia berbicara, "Cari apa dek?”


Oh sial. Ketahuan.


“Kau tau, kalau kamu gak mencoba sembunyi, mungkin gak bakal diperhatiin,” ucap si hantu.


“Ah, jangan-jangan kau teman Rico ya? Dia sedang les sekarang, tapi seharusnya dia pulang sebentar lagi," ucapnya.


Ini ibunya Rico, tampaknya…Jadi, dia ikut les ya?


“Kalau boleh tau, dia les dimana ya tante?” tanyaku sambil mencoba tersenyum.


“Oh, dia masuk di FR dekat alun – alun, ”jawabnya.


"Haha, maaf tante. Saya hanya sedang lewat. Lain kali, saya akan mampir lagi," kataku dengan sopan.


"Oh, ya sudah," jawab ibu Rico.


“Rumahmu dimana? Tunggu bentar, tante anterin dulu,” tawarnya sambil mengambil langkah ke dalam rumah untuk mengambil kunci mobil.


"Ah, gak perlu repot-repot tante," tolakku, sambil mengambil langkah untuk pergi dari rumah itu.

__ADS_1


Oke, sekarang saatnya untuk kabur. Namun sebelum aku bisa pergi, dia berkata lagi.


"Rico adalah anak yang pemalu, jadi agak sulit baginya untuk mencari teman." Ibu Rico tersenyum dengan penuh kebaikan. "Tetaplah baik baik sama Rico ya."


Entah apa yang sedang terjadi. Apakah aku harus merasa simpati?


"Yang benar saja," gumamku dalam hati. Bagaimana bisa Rico menjadi seperti itu? Di manakah letak kesalahannya? Aku merasa semakin bingung.



Langit mulai menurunkan hujan dengan gerimis halus, tapi aku sudah lama pergi dari rumahnya. Tetesan air jatuh di atap-atap bangunan, mengisi udara dengan harum tanah basah.


Tadi kamu tanya rencanaku? Mungkin mind readingmu tidak sedalam itu, huh?


"Bajingan sialan, kamu mau ngincar ibunya?" ucap si hantu dengan sedikit ketus, matanya memandangku dengan tajam.


Kalau gak bisa ngincar anaknya, cari orang terdekatnya. Bukankah dah wajar? …Untungnya aku sudah gak punya, dia gak akan bisa balas.


Terkadang, kenyataan memang tidak menyenangkan. Aku merasa seperti terperangkap dalam lingkaran. Aku tidak ingin menjadi bagian dari siklus tersebut, tapi rasanya sulit untuk keluar dari lingkaran itu.


Kamu gak perlu melototku kejam seperti itu, aku punya sedikit rencana, walaupun aku gak yakin bisa berhasil baik. Rasa gugup menggelitik perutku saat aku menyampaikan maksudku.

__ADS_1


“Yeah? Kasih tau aku,” ucapnya dengan nada penasaran. Wajahnya yang tadinya serius, sedikit lebih ramah kali ini.


__ADS_2