Reflection

Reflection
Memori yang Tersimpan


__ADS_3

Ingatan belasan tahun lalu itu, rasanya masih segar di memoriku. Ini adalah awalnya, mengenai bagaimana aku bisa tertarik kepadanya. Padahal, saat itu, aku sendiri baru berusia empat tahun; dan kami satu usia.


Ketika itu, aku sedang menikmati waktuku dengan menyendiri. Ah—menikmati? Ini bahkan sudah menjadi kebiasaanku yang memang selalu dikucilkan ini.


Aku menyorot langit biru dengan dalam. Kedua kakiku kubiarkan tenggelam di kolam dangkal yang ditinggali oleh banyak ikan-ikan kecil, juga tanaman teratai. Saat itu, aku benar-benar tenggelam dalam lamunanku sendiri.


"Kenapa menyendiri di sini?" Pertanyaan itu mengejutkanku.


Aku menoleh ke belakang, lalu mendapati keberadaan seorang gadis yang seumuran denganku. Aku terpana, sebab ... ini pertama kalinya ada seseorang yang menyapaku.


"Kenapa? Aku suka seperti ini," jawabku. Ia, kemudian beranjak dari tempatnya berpijak, lalu mengambil posisi duduk di samping kananku.


Ia tersenyum dengan sangat manis. Aku yang melihat itu pun tak bisa berkata-kata dan hanya bisa menyorotnya lekat-lekat. Ini ... pertama kalinya ada seorang anak yang mau bermain dengan anak terkutuk sepertiku.


"Aku hanya mengkhawatirkanmu. Aku lihat, pangeran-pangeran dan putri-putri di sana mengabaikanmu. Kauterlihat murung dalam kesendirianmu," katanya.


"Aku hanya ingin menyendiri," ucapku, sambil menggeleng.


"Kaumemiliki teman?" Pertanyaan itu, sungguh membuatku tertegun. Kenapa dia menanyakan itu?


"Tidak," jawabku, tanpa ragu.


"Aku juga tidak memiliki teman dari kalangan bangsawan. Mereka sangat palsu. Di istana, kakak-kakak dan adik-adikku, bahkan menjulukiku gadis aneh karena tingkahku yang berbeda dengan anak pada umumnya," ungkapnya. "Memangnya kenapa jika aku suka membaca? Bilang saja mereka iri dengan kegeniusanku yang sudah lancar membaca di usia tiga tahun. Bahkan, aku sudah bisa mencerna bacaanku dengan baik ketika putri-putri dan pangeran-pangeran lain baru bisa mengeceh tidak jelas seperti itu," keluhnya.


Kali ini, aku menggaruk tengkukku yang tak gatal. Baru kali ini aku merasa memiliki teman yang memiliki hobi yang sama denganku.


Jika diingat-ingat, semua orang di istana pun tahu mengenai kecerdasanku yang luar biasa. Namun mereka menutup mata karena statusku yang mereka anggap rendah; juga kelainan fisik yang aku punya.

__ADS_1


"Menjauhlah ...!" kataku.


"Kenapa?" tanyanya


"Aku membawa kutukan."


"Kutukan? Apa maksudmu?" Ia mengerutkan keningnya dan menatapku dengan bingung.


"Kaulihat wajahku?"


"Tertutup topengnya sebagian? Memangnya kenapa?" Ia menggerakkan tangannya, mencoba menyentuh topengku, namun aku segera menepisnya dengan kasar.


"Itu karena aku buruk rupa. Ada sisik di sebagian wajahku. Orang-orang jijik melihatnya—karena itu aku menutupinya dengan topeng," tukasku.


"Aku pikir karena kauseorang pemalu," ujarnya. "Tapi, menurutku kausangat tampan meski wajahmu hanya sebagian saja yang terlihat," sambungnya. Ia menatapku dengan sepasang matanya yang berbinar.


"Wajahmu memerah. Apakah kausedang sakit?" tanyanya. Aku pun menanggapi itu dengan sebuah gelengan. "Apa kaumalu karena perkataanku? Ah, iya! Kaupasti salah tingkah karena aku memujimu tampan!" katanya, tepat sasaran.


Aku mengembuskan napasku panjang. Gadis ini ... cerewet sekali. Aku baru pertama kali menghadap orang sepertinya.


"Jangan berisik!"


"Tersinggung? Ah—ini pertama kalinya aku merasa memiliki teman. Aku terlalu senang karenanya dan malah mengatakan banyak hal tak penting kepadamu. Oh, ya! Kita belum berkenalan. Namaku, Constantine Yang. Namamu?"


Aku tak mendengarnya dan langsung pergi. Waktu itu, entah kenapa aku merasa tak sanggup lagi menghadapinya. Jantungku ... rasanya berdebar dengan sangat kencang tanpa aku ketahui penyebabnya.


Sejak pertemuan itu, aku pun selalu mengamatinya diam-diam tiap kali ada kesempatan. Biasanya, pertemuan antarkerajaan dilakukan minimal sebulan sekali dan inilah saat-saat yang bisa kumanfaatkan.

__ADS_1


Waktu terus berlalu. Dia tumbuh menjadi gadis yang cantik. Aku mengamatinya. Semakin lama, dia pun menjadi sosok yang semakin irit bicara dan dominan. Selain itu, ia juga selalu terlihat menonjol dengan kecerdasan, pesona, dan kekuatannya yang berbeda dari gadis-gadis pada umumnya.


Namun di balik itu, aku tahu dia beberapa kali—atau mungkin sering—menangis sendirian sambil menatap langit malam. Aku tahu hal tersebut dan ketika itu, aku akan menatap langit yang sama dengannya.


Setidaknya, aku memahami bagaimana beban yang ia rasakan. Karena aku pun turut merasakannya. Sebab, meski aku tak benar-benar dianggap sebagai pangeran, namun nyatanya, aku tetap selalu terkekang oleh peraturan para bangsawan.


Aku juga memahami, kalau dia sering merasa kesepian.


Kemudian, pada akhirnya, aku mulai menyadari disebut apa hal yang sedang kurasakan ini. Jatuh cinta—ya, aku sungguh mencintainya. Tak peduli sudah berapa kali dan betapa kerasnya aku untuk menepis rasa itu, namun pada akhirnya, itu malah membuat perasaanku kepadanya tertanam dengan semakin dalam. Akarnya bukan melemah, tapi malah semakin kuat.


Sayangnya, setelah aku berhasil memahami perasaanku sendiri, aku tak dapat melihatnya lagi di pertemuan antarkerajaan.


Alasan pertama, karena dari apa yang kudengar, ibu Constantine meninggal. Dia ..., pasti sangat sedih, lalu memilih menghabiskan waktunya dengan menyendiri. Alasan kedua, karena ia bergabung dengan kemiliteran dan disibukkan oleh itu. Dia ..., pasti sangat ingin membuktikan kemampuannya dan tak ingin diremehkan.


Semua hal yang dilakukan Constantine, jujur saja, itu semakin membuatku mencintainya. Aku ... terjatuh ke dalam pesonanya.


Aku pun memutuskan untuk terus menjaga perasaan tersebut, meski terkadang, itu justru melukaiku sendiri.


Terakhir kali aku melihatnya adalah ketika itu, hari di mana konflik tersebut muncul. Pihak kekaisaran dan Kerajaan Anming pun berperang. Aku sendiri ... tak tahu jelas alasannya apa. Namun aku sangat yakin ada hal terselubung di balik ini. Ayahanda ..., pasti menyembunyikan sesuatu atau banyak hal di balik ini.


Ah, sudah lama juga aku tak bertemu dengannya.


Sudah terlalu sangat lama sejak perbincangan pertama kami itu.


Aku merindukannya dan menunggu saat-saat di mana kami bisa menjadi lebih dekat. Ya, meski kadang, aku merasa tak memiliki harapan untuk itu.


Tapi sekarang, aku merasa kalau semuanya akan segera berubah dan hal besar akan segera terjadi. Tidak ..., apa-apaan firasat ini?!

__ADS_1


__ADS_2