Reflection

Reflection
Mabuk


__ADS_3

"Untuk?" Constantine menatap malas ayahnya. Ia melipat tangannya di depan dada dan dengan santainya mengangkat kakinya serta menaruhnya di atas meja.


"Beginikah adab dari seorang tuan putri?" Luo Yang berdecih. Kedua alisnya berkerut dalam. Ia menatap tajam sang putri yang tampak seenaknya itu.


"Kautahu, anak-anakmu sering membolos di pelajaran adab dulu. Lalu, kami juga mengancam guru agar tidak mengadukan itu kepadamu, menteri, ataupun pengurus-pengurus lain." Constantine memejamkan matanya, kemudian mengembuskan napasnya dengan panjang. Ia membenarkan posisinya dan kembali ke dalam mode serius. "Jadi, apa yang harus kulakukan?"


"Beberapa hari lalu, aku dan Kaisar melakukan pertemuan rahasia dan membuat kesepakatan. Mereka tak mau melepaskan Anming kita. Namun, jika tak ingin rakyat sengsara, maka kami harus menyerahkanmu. Dan Kaisar sempat menyebutkan pernikahan ...." Luo Yang menatap wajah sang Jenderal Wanita dengan ragu.


"Kaubahkan ingin membuat kesepakatan seperti itu tanpa sepengetahuanku. Jadi ..., kalian sungguh sepakat?"


"Ya. Jadi ..., An Yang, kauharus pergi ke istana kekaisaran. Karena mereka memintamu sebagai imbalan untuk kemerdekaan bangsa kita."


Constantine tertawa terbahak-bahak. Ia berdiri dari posisinya, berjalan menuju sudut ruangan, dan mengambil sebuah kendi yang penuh terisi oleh arak. Ia, kemudian meminumnya dengan asal hingga cairan itu bertumpahan dan membasahi pakaiannya.

__ADS_1


"Bukannya kaumembenci aroma menyengat dari arak?" Sang Raja menatap putrinya tak percaya. Pria itu mengangkat tangannya pada udara yang terasa hampa ~ ingin menghentikan, namun tak kuasa.


"Arak bisa mengurangi rasa sakitku." Constantine menjawab singkat. Ia menatap ayahnya dengan matanya yang memerah, entah karena mabuk atau karena ingin menangis.


"Kaubisa mabuk. Kadar alkoholnya tinggi. Berhenti menyia-nyiakannya! Itu arak mahal yang berusia puluhan tahun. Sebagai Raja, aku bahkan harus berusaha lebih keras untuk mendapatkannya," katanya, sambil membelalakkan mata. Namun, Constantine mengabaikan.


Putri dari Irene itu tersenyum bodoh, dan menatap sang ayah dengan pandangan penuh arti. Luo Yang bisa merasakan hal buruk yang akan terjadi; dan yang benar saja, karena selepas itu, Constantine malah menyiramkan arak itu ke seluruh tubuhnya hingga tandas tak tersisa.


"Tentu. Karena ... ayahku menggadaikanku?" Constantine meluruhkan tubuhnya di atas lantai pualam yang dingin itu.


Luo Yang menyorot anaknya tak percaya. Seumur hidupnya, setelah kematian Irene, ia tak pernah melihat putrinya yang tangguh itu menjadi sekuat dan selemah itu. Nuraninya tertampar, namun ia tak bisa melupakan kewajibannya sebagai seorang Raja.


"Kaumemang pemimpin yang baik, tapi sama sekali bukan lelaki yang baik. Kau ... mengecewakan dan melukai orang-orang yang seharusnya kausayangi. Bukankah itu juga kaulakukan pada Ibu dan Jenderal Besar, Ayah? Kaumerebutnya ...."

__ADS_1


Constantine sudah tak bisa mengontrol dirinya. Dunianya terasa berputar dan semua bayangan menjadi berlipat di matanya.


"Kau ..., kenapa menjadi lima? Tidak, dua ..., empat ..., tiga ..., dua ..., enam? Enam? Banyak sekali? Apa kaupunya ilmu menggandakan diri, Ayah?"


Luo Yang memijat pelipisnya. Ia memandang sang putri yang tampak konyol namun juga mengenaskan. Wanita itu merangkak perlahan seperti bayi, lalu dengan perlahan meraih sudut ranjang. Ia, kemudian merebahkan diri di atas kasur milik Sang Raja—mengotorinya dengan arak yang telah membuat menyelimuti tubuhnya hingga lengket.


"Kenapa mereka memintaku? Dan ... bagaimana jika aku menolaknya?" Ia memejamkan matanya, seolah tertidur.


"Jaga ucapanmu! Ini memang tugasmu sebagai seorang Tuan Putri. Berkorbanlah untuk rakyatmu dan keluargamu! Jangan terus menjadi sosok yang tidak berguna, An Yang!"


Luo Yang menatap sang putri dengen emosi. Ia, kemudian beranjak dari posisinya dan meninggalkan Constantine sendirian dalam kamar miliknya. Namun seusai itu, sang gadis pun membuka mata.


"Aku? Tidak berguna? Lantas kauanggap apa semua yang kulakukan selama ini? Bukankah aku juga telah berjuang demi Anming, meski dengan cara yang berbeda? Kau ... benar-benar masih Luo'er yang sama, seperti yang diceritakan Ibu. Kenapa ayahku harus orang yang mengesalkan sepertimu?"

__ADS_1


__ADS_2